
Nadila mengenyitkan keningnya, bahkan Heru tidak pernah seroyal ini padanya. Tapi wanita busuk ini seperti kelinci putih kecil yang melompat-lompat mencoba mencari perhatian semua orang.
"Nadila ayo duduk. Aku sudah membuatkan susu ibu hamil," Fujiko tersenyum, membimbing tangannya, bagaikan seorang anggota pramuka yang membimbing seorang nenek tua untuk menyebrang jalan.
Kursi Nadila bersebrangan dengan Raka. Sementara Fujiko sendiri duduk di samping Raka.
"Makan yang banyak." Ucap Raka pada Fujiko, meletakkan beberapa potong sushi ke piringnya.
"Iya jelek!" celetuk Fujiko tertawa, hingga wanita itu terlihat murung sejenak. Menghela napas kasar."Kak, boleh minta transfer uang? Aku kemari tidak membawa uang sama sekali. Hanya biaya makan bulan ini, aku akan mengembalikannya setelah aku bekerja. A...aku tidak memaksa, jika tidak bisa juga tidak apa-apa..." ucapnya, tertunduk ragu untuk berucap.
Semua orang menatap iba, hanya meminjam uang makan dari saudara. Tentunya kecuali Nadila, benar-benar jengkel rasanya, menatap wajah tidak bersalah wanita di hadapannya.
"Berapa?" tanya Raka mengeluarkan phonecellnya.
"Satu juta untuk sebulan, aku akan berhemat." Kata-kata dari mulut Fujiko.
Seluruh anggota keluarga itu menghela napas kasar. Tidak terkecuali Adinda, mengetahui perekonomian Fujiko yang berasal dari kelas menengah. Tidak akan meminta bantuan orang tuanya, mengingat dua dari tiga kakaknya tidak menyukai Raka.
Satu juta? Wanita yang katanya materialistis itu bahkan masih sungkan pada Raka. Tidak terlalu buruk, mungkin itulah yang ada di fikiran Adinda tentang menantunya.
"Tidak akan cukup, aku transfer 10 juta, kamu bisa membeli beberapa perabotan baru." Kata-kata dari Raka, mengeluarkan phonecellnya.
Brak!
Tiba-tiba Nadila yang polos dan baik hati menggebrak meja tidak terima. Fujiko tersenyum tipis saat menunduk, ini adalah tujuannya, menunjukkan wajah asli dari wanita busuk.
__ADS_1
"Semalam kamu sudah mengirim uang untuk biaya kostnya! Ditambah sekarang dengan biaya makannya? Bukan dia sendiri yang bilang kita harus hemat untuk biaya melahirkan! Kenapa malah dia yang menjadi benalu!?" bentak Nadila tidak terima, mengejutkan semua orang di meja makan.
Fujiko kembali tertunduk."Ka... karena itu aku ragu untuk meminjam uang. Tapi aku juga malu untuk tinggal disini lebih lama. Walau bagaimanapun aku hanya saudara jauh. Aku sadar diri," air matanya mengalir. Air mata yang selalu meluluhkan hati pria kaya, kecuali suaminya tentunya, yang telah memanfaatkannya numpang hidup selama setahun.
"Maaf," Fujiko bangkit, kemudian membungkuk 90 derajat, bagaikan merasa bersalah atas permintaannya.
Jangan lupa ini adalah keluarga konglomerat. Satu juta? Bahkan koleksi jam tangan mereka ada yang sampai berharga miliaran. Mungkin meminjam uang 1 juta bagaikan meminjam uang 10 ribu untuk mereka.
"Nadila!" bentak Pramana untuk pertama kalinya, pada calon cucu menantunya. Tidak terima Fujiko disudutkan hanya karena ingin meminjam uang untuk biaya makan."Kamu selalu dimanjakan oleh Imanuel dulu, bahkan sebelum kalian bertunangan! Fujiko adalah saudara dari Raka! Apa salahnya!? Dia tinggal seorang diri! Hanya 10 juta, tasmu saja bahkan harganya hingga ratusan juta!"
Nadila mengepalkan tangannya, menatap Raka yang terlihat kesal. Pramana juga membentak dirinya. Tidak, tidak boleh dirinya tidak boleh terprovokasi, menyadari dirinya salah langkah saat ini.
"Maaf, aku hanya terbawa emosi. Karena kemarin Fujiko tidak memperbolehkanku mengambil foto, mengabadikan momen kehamilan, dengan alasan harus berhemat, karena aku dan Raka akan memiliki anak. Jadi---" Kata-kata Nadila disela.
Fujiko menghapus air matanya sendiri."Aku tidak bermaksud seperti itu. A...aku pernah membaca, cukup mahal untuk mengambil foto-foto momen kehamilan. Aku sendiri walaupun tinggal di Singapura tapi hanya menjalani kehidupan seadanya. Jadi saat mendengar Nadila akan melakukan sesi pemotretan kehamilan. Aku tidak tau, jika itu tidak mahal baginya. Aku tidak tau, hanya asal mengucapkan dan memberi nasehat."
Adinda mengenyitkan keningnya, bukankah ini kesempatan untuk membuat Nadila lebih sungkan dan sulit mendekatinya? Dirinya tidak perlu berpura-pura baik. Pramana juga akan mengerti dan tidak berpihak pada Nadila, jika dirinya lebih memilih menjauh.
"Menantu yang pintar," batin Adinda penuh senyuman, melirik ke arah Fujiko.
"Fujiko adalah saudara jauhku! Ibunya sudah meninggal! Tidak bisakah kamu sedikit saja menaruh simpati pada orang yang tidak memiliki ibu!? Dia sama denganmu!" bentak Adinda terlihat emosi, merangkul bahu Fujiko yang tertunduk. Benar-benar perpaduan kelinci putih mematikan.
Lama-lama dirinya bisa terkena stroke jika benalu ini tetap tinggal. Mungkin kepergian Fujiko lebih baik, menghela napas berkali-kali agar tidak emosional, hanya itulah yang dapat dilakukan Nadila.
"Fujiko maaf," ucap Nadila, menegang tangannya."Aku terbawa emosi. Mungkin bawaan bayi."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku menyayangimu. Walau bagaimanapun kita akan menjadi saudara." Ucap Fujiko penuh senyuman dipaksakan.
"Untuk perabotannya paman akan membelikannya." Ucap Heru antusias.
"Tidak perlu, hanya kos-kosan kecil, ukuran kamarnya tiga kali tiga. Tidak perlu banyak barang," Fujiko menghela napas kasar.
"Sudah kami bilang pakai apartemen kami saja. Mobil di rumah juga ada yang menganggur kamu bisa menggunakannya." Tiara terlihat antusias. Tipikalnya tidak muluk-muluk hanya ingin wanita penurut untuk putranya. Tapi sayangnya Imanuel melarikan diri dengan Barbara.
Nadila pada awalnya prilakunya baik menurut Tiara, walaupun kerap menghambur-hamburkan uang putranya. Tapi hari ini? Tidak lagi, sifat serakahnya mulai terlihat. Fujiko yang lebih cantik saja tidak sesombong ini.
"Fujiko apa kamu sudah punya pacar?" tanya Tiara penasaran. Sekali lagi hanya saudara jauh, apapun dapat terjadi di masa depan.
"Sudah," Fujiko menunjukkan cincin di jari manisnya."Pekerjaannya sebagai ghost writer tidak terkenal."
Tiara berusaha tersenyum mengenyitkan keningnya."Kalau memilih pasangan lebih baik yang mapan. Agar dapat membahagiakanmu."
Sinyal WiFi kuat yang dikirimkan oleh Tiara bagaikan mempromosikan putranya yang telah menghamili Nadila dan melarikan diri dengan Barbara. Benar-benar membuat Adinda tersedak.
Sedangkan Nadila hanya menghela napas berkali-kali. Bagaikan latihan pernapasan, menetralkan emosinya. Sekali lagi, calon ibu mertua dan adik iparnya benar-benar menyebalkan.
"Bibi pacar Fujiko tinggal di Singapura, menitipkan padaku untuk menjaganya. Dia cukup baik, juga dari keluarga baik-baik. Bibi tidak perlu cemas, aku akan memilihkan pria yang baik untuk adikku." Ucap Raka tersenyum, mengacak-acak rambut Fujiko.
Dua orang yang tersenyum kecil, sembari tertawa. Gesture persahabatan atau hubungan saudara yang benar-benar kuat. Siapa yang menyangka mereka adalah pasangan kumpul kebo berkedok sahabat.
"Raka malam ini bagaimana jika kita dinner di restauran Itali? Maaf, mungkin bawaan bayi aku---" Kata-kata Nadila terhenti.
__ADS_1
"Kak Raka, akan menemaniku pindahan kan? Aku tidak kenal siapapun disini." Pinta Fujiko menampakan wajah tidak berdosa.
"Kampret! Kutu kupret! Wanita sialan! Cepat mati! Br*ngsek!" berbagai umpatan tersimpan di otak Nadila. Benar-benar wanita yang menyebalkan baginya.