
Pagi menyapa, Imanuel terbangun tanpa ada satu orangpun di kamar. Dirinya berjalan membuka mata kemudian menuju kamar mandi.
Beberapa menit berlalu segar rasanya, matanya menelisik mengamati Reina yang tengah mengemasi agar-agar, sedangkan Egie berbaring di kursi rotan panjang.
"Kapan kamu membuatnya?" tanya Imanuel.
"Tadi pagi jam 3, sekarang aku jadi ngantuk," jawab Reina menguap beberapa kali, sama dengan Egie yang perlahan mulai tertidur.
Hari masih terlalu pagi, tepat pukul 5. Imanuel menghela napas kasar."Kalau ngantuk seharusnya tidur, tidak usah bangun pagi."
"Iya, tapi setelah ini aku harus belanja di warung depan. Supaya kalau ibu bangun, bisa langsung masak." Ucap Reina terlihat lemas.
"Biar aku yang belanja, kamu tidur saja temani Egie. Apa saja yang harus dibeli?" tanyanya iba.
"Tahu, sayur bayam, ayam seperempat kilo, bawang merah. Itu saja, selebihnya masih ada di dapur. Nanti kembaliannya, jangan lupa!" peringatan dari Reina, memberikan uang 50 ribu rupiah.
Wanita yang tersenyum, mengangkat tubuh putranya untuk kembali ke kamar. Benar-benar lelah dan mengantuk. Tapi sebagi orang tua tunggal, dirinya harus mengumpulkan uang walaupun hanya sedikit.
"Ayam seperempat kilo? Apa cukup?" gumamnya mengingat bagaimana keluarga itu berbagi ayam dengan porsi potongan kecil. Pada akhirnya uang itu kembali diletakkannya di atas meja.
Hanya sedikit rasa terimakasih, dirinya tidak boleh pelit, agar kuburannya tidak sempit. Biarlah hanya Raka yang berselingkuh dengan Nadila, kuburannya menjadi sempit, seperti yang ada di FTV, tentang ganjaran orang-orang jahat. Mulai dari jenazah ketiban gas, jatuh ke penggilingan semen, hingga ketiban meteor.
Sang pemuda yang mengenakan pakaian jaket bekas Rian, berjalan menelusuri jalan yang sepi menunju ke sebuah warung yang menjual sayur sayuran. Tangannya masih memegang senter, segera dimatikan olehnya, setelah sampai di warung.
"Kamu warga baru ya?" tanya penjaga warung, mengamati wajah Imanuel.
"Saya adik almarhum Rian yang tinggal di Sulawesi. Menjenguk ibu dan keponakan saya," jawabnya sesuai skenario Reina.
Mata penjaga warung menelisik penampilan Imanuel dari atas sampai bawah, kemudian menghela napas kasar."Kamu masih bujang?"
__ADS_1
"Iya Bu, beli ayam dua kilo, telur, sayur kol, bawang setengah kilo dan udang." Ucap Imanuel, menginginkan makanan enak untuk hari ini.
Sang penjaga warung mengambil apa yang diminta Imanuel, terlihat tangannya yang cekatan masih sibuk.
Hingga seorang ibu-ibu berjaket merah yang dari tadi mengamati Imanuel berucap."Nikahi saja kakak iparmu! Sebagai menantu cekatan begitu mengurus ibu dan keponakanmu,"
"Nikahi? Tidak akan, aku tidak akan menyukai si buluk. Jodohku menanti setelah semua urusan selesai!" batinnya membayangkan berjodoh dengan seorang gadis cantik, minimal sekretaris atau putri dari pemilik perusahaan terkemuka.
Imanuel memaksakan dirinya tersenyum."Maaf tapi saya masih ingin sendiri. Setelah ini saya juga harus kembali pergi merantau," alasannya.
"Sayang sekali, yakin nanti tidak menyesal? Aslinya kalau Reina merawat diri cantik lho!" Ibu-ibu berjaket hitam ikut menimpali.
"Iya! Ingat tidak almarhum Rian dulunya sampai buat drama India, hujan-hujanan agar lamarannya mengajak nikah diterima." Ucap ibu berjaket merah antusias.
"Ingat! Dia sampai masuk rumah sakit. Setelah itu mereka langsung menikah." Sang ibu berjaket hitam tertawa mengingat drama anak muda.
"Segitunya?" gumam Imanuel ingin tertawa rasanya, mengingat wanita dengan kulit kecoklatan, juga tubuh dipenuhi bau keringat, setiap datang dari pabrik dan dapur.
"Lisa black pink!" jawab ibu berjaket merah.
"Iya! Tapi sekarang saja, satu setengah tahun ini dia jadi berubah. Setiap dibilangin, jawabannya selalu, nabung untuk anaknya sekolah, maklum janda, tidak ada suami," Ibu berjaket hitam menghela napas terlihat iba.
"Gimana!? Kamu tertarik tidak nikah sama kakak iparmu? Tinggal kasih uang untuk perawatan, nanti Reina jadi cantik." Sang penjaga warung ikut-ikutan nimbrung.
"Siapa yang percaya, kulit daki jadi darling. Aku lebih percaya fakta. Ingat! Aku tidak akan khilaf!" tegas papa dalam hati, bertekad tidak akan khilaf pada mama.
"Tidak, saya masih senang sendiri." Ucap Imanuel meraih belanjaannya."Berapa?" tanyanya pada penjaga warung.
"145 ribu." Jawaban dari sang penjaga warung. Sedangkan Imanuel merogoh sakunya sendiri.
__ADS_1
"Nak, kami hanya menasehati, supaya kamu tidak menyesal. Pak Basuki yang baru saja bercerai, berniat melamar Reina." Sang ibu berjaket merah berucap.
Seketika Imanuel terdiam, mengenyitkan keningnya. Merasa dirinya akan terusir, tersisihkan jika ada pria lain yang masuk. Membayangkan seorang pria tidur dengan Reina dan Egie.
"Anak pak Lurah yang masih jadi pegawai honorer juga datang. Mungkin sebentar lagi jadi PNS, dengar-dengar dia sudah suka Reina dari mereka sama-sama masih SMU. Tapi memang Rian saja yang bandel, datang setiap hari, sampai akhirnya Reina takluk. Tapi sekarang Rian sudah tidak ada, cepat atau lambat Reina akan dilamar." Sang ibu berjaket hitam terlihat gemas menjodohkan.
"Dilamar? Dia punya mantan dan akan menikah dengan mantannya? Wanita gatal satu ini..." geram Imanuel hanya dapat tersenyum sambil bicara dalam hati. Tangannya memegang erat jambu biji yang sudah masak, hingga hancur.
"Ini termasuk jambu bijinya ya?" Imanuel mengerikan uang 150 ribu pada penjaga warung, membuang jambu biji masak yang dihancurkan olehnya.
Dirinya tidak cemburu sama sekali. Benar-benar tidak cemburu, hanya tidak suka saja melihat janda genit itu dekat-dekat dengan pria lain. Betapa menyebalkan tingkahnya yang selalu mencari pria baik, dan mapan. Ternyata pria itu adalah anak pak Lurah.
"Saya pulang duluan!" ucapnya dengan raut wajah yang berubah masam.
Ibu-ibu dan penjaga warung hanya tersenyum. Kasak-kusuk kemudian menyindir dan tertawa.
"Ganteng! Cocok sama Reina, dasar anak muda, cinta bilang cinta. Jangan buah jambu jadi sasaran!" Suara tawa dari penjaga warung terdengar.
"Iya! Lebih baik nikah sama saudara suami kan? Egie juga jadi mudah beradaptasi, Bu Lastri juga tetap ada yang urus." Ibu berjaket merah menghela napas berkali-kali.
Satu? Tidak, ada beberapa bujang maupun duda yang melamar Reina. Tapi mereka di tolak dengan alasan Egie.
Tidak memandang rendah pada status janda. Malah mereka iba, namun Reina bagaikan menutup hatinya. Mungkin dengan kedatangan adik iparnya, Reina akan menikah.
"Saya bayar 20 ribu, sisanya ngutang ya?" pinta ibu berjaket hitam pada penjaga warung.
"Ngutang sama gosip saja cepat! Giliran ditagih, besok, besok, besok." Gerutu penjaga warung.
*
__ADS_1
Sedangkan di dalam rumah, pintu dibukanya dengan cepat. Pemuda yang benar-benar kesal 100% tidak cemburu. Papa benar-benar tidak cemburu jika mama dekat dengan pria lain. Karena papa tidak sayang mama, hanya saja mama yang terlalu gatal, kurang digaruk.