
Apa sebenarnya yang terjadi di Singapura? Wanita yang pada awalnya bingung dan kikuk dengan status asli dari suaminya. Terkadang dirinya terbangun, menatap wajah Raka yang masih tertidur. Dua orang yang tidak mengenakan apapun, hanya selimut yang menutupi.
Hari masih terlalu pagi, ternyata dirinya menikah dengan putra konglomerat? Kenapa bisa? Sesuatu yang masih belum dapat diterima olehnya. Pemuda kikir yang tinggal di sebelah kamarnya adalah crazy rich.
Fujiko menghela napas kasar menatap langit-langit kamarnya. Apa ini mimpi? Segalanya masih diingat olehnya, hari pertemuannya dengan Raka. Suka duka yang mereka lewati bersama, tidak ada pria yang tulus padanya hanya menatap pada tubuhnya saja.
Betapa protektifnya Raka saat itu. Dengan alasan sabun, makan gratis, meminjam mie selalu menyusahkan dirinya. Ada apa dengan Raka? Apa dia berbohong.
Hingga sang pemuda, kembali membuka matanya, menatap ke arah Fujiko yang tertegun diam."Kenapa?" tanyanya memeluk tubuh istrinya.
"Ti... tidak," jawab Fujiko gugup.
"Ada yang ingin kamu tanyakan lagi?" Ucapnya dengan bibir tidak dapat dikondisikan, menyesap pelan leher istrinya.
"I... iya, Raka kenapa kamu tinggal di sana?" tanya wanita itu lagi.
"Karena murah dan lengkap nyaman," jawaban darinya, menyingkap sedikit selimut yang menutupi tubuh istrinya. Bibirnya menjilat, kemudian bagaikan mencari sumber nutrisi yang seharusnya ditemukan pada ibunya saat bayi. Pemuda yang bagaikan kehausan akan napsu, membuat Fujiko menjambak pelan rambutnya.
"Ra... Raka?" ucapnya lirih.
"Apa? Kamu menyukainya..." bisik Raka dengan suara berat, menatap wajah istrinya yang kemerahan.
"Agh..." teriakan dari Fujiko kala suaminya semakin beringas, memainkan tubuhnya, seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"Raka, tolong," pintanya, entah meminta apa.
"Tolong?" tanya Raka berpura-pura bodoh.
Dengan cepat Fujiko mendorong suaminya. Mencium bibirnya dengan bringas, entah apa tujuan Raka mempermainkannya. Namun, suara lenguhan dari keduanya terdengar, kala wanita itu menyatukan tubuh mereka.
Dirinya benar-benar merasa seperti wanita penghibur. Namun, masa bodoh! Raka adalah miliknya, seluruh tubuhnya adalah miliknya. Bergerak perlahan mengikuti napsu. Membuat tanda di tubuh suaminya.
"Aku menyukainya..." bisik Raka, pemuda yang dengan mudah mengendalikan istrinya.
__ADS_1
Tidak ada suara yang keluar dari mulut Fujiko selain lenguhan dan nama suaminya.
"Aku mencintaimu," ucap Raka kembali, kala Fujiko mencium bibirnya. Membiarkan sang istri menguasai tubuhnya sepenuhnya. Ini menyenangkan bukan? Memanipulasi segalanya, sang istri yang tidak akan dapat menolak dirinya.
*
Hari ini seperti biasanya. Fujiko sudah terlihat segar memakai kemeja suaminya yang kebesaran. Duduk di meja makan, mengamati Raka yang tengah serius memasak.
Wanita yang merindukan makanan yang dibuat oleh suaminya. Hingga beberapa jenis makanan terhidang, dua orang yang tertawa bersama, menyingkirkan peralatan makan mereka. Memutuskan untuk makan di lantai menggunakan tangan.
Ini aneh bukan? Tapi hal itulah yang membuat keduanya nyaman.
"Makan yang banyak..." Raka meletakkan lebih banyak lauk ke piring Fujiko.
Prot!
"Maaf," sang istri tersenyum tanpa dosa mengeluarkan zat beracun.
Raka menghela napasnya, kembali makan. Sudah terbiasa rasanya, sayup-sayup bau yang tidak mengenakkan. Bagaikan berada di tempat pembuangan sampah.
Fujiko yang menyusulnya, membawa piring, ikut mencuci piringnya sendiri di wastafel. Matanya sedikit melirik ke wajah suaminya yang gusar."Ada apa?"
Raka menghela napas."Begini mungkin untuk sementara waktu kita harus merahasiakan pernikahan kita dari keluarga besarku saat kita kembali."
"Kenapa? Apa mereka tidak setuju karena aku bukan dari keluarga kaya?" tanya Fujiko menangis terisak-isak. Imajinasinya tentang keluarga yang tinggal di kampung, sudah berubah menjadi imajinasi tentang keluarga suaminya yang tinggal di kota besar. Tapi imajinasi itu kembali berubah menjadi seorang istri miskin teraniaya.
Raka menggeleng, kemudian tersenyum memeluknya erat."Dengar, tidak ada orang di keluargaku yang dapat menentang keputusanku. Karena ancaman mereka untuk membuatku miskin tidak berlaku. Tapi ada satu masalah yang lebih besar, ayah dan sepupuku tiba-tiba menghilang. Ibuku curiga ini perbuatan tunangan sepupuku yang sedang hamil. Kakek memintaku menggantikan sepupuku, bertanggung jawab dan menikahinya."
"Jadi aku akan menjadi istri pertama? Kamu akan menikahinya?" tanya Fujiko menangis semakin kencang.
Raka menggeleng, melonggarkan pelukannya, kemudian menyeka air mata istrinya."Tidak, aku tidak akan menikahinya. Ini hanya untuk melindungimu, dan menemukan sepupu juga ayahku. Hanya dua bulan, selama dua bulan aku akan tinggal di rumah utama, menyelidiki segalanya dengan dalih mendekatkan diri sebelum pernikahan. Karena itu, mau membantuku?"
"Membantu?" tanya Fujiko.
__ADS_1
Raka mengangguk."Berpura-puralah menjadi saudara sepupu jauhku. Anak dari saudara sepupu ibuku. Tugasmu mudah, bantu aku agar dia tidak memiliki kesempatan memanfaatkanku."
"Tapi kamu tidak akan jatuh cinta padanya kan?" tanya Fujiko sedikit lebih tenang.
Raka menggeleng."Aku tidak begitu mengenalnya, tidak menyukai perangainya yang selalu bermanja-manja pada kakekku. Lagipula istriku lebih cantik darinya."
Gumam Raka dengan mata menelisik, perlahan matanya terpejam, memangut pelan bibir istrinya. Diselingi dengan beberapa kecukupan. Perlahan tubuh itu diangkatnya ke meja makan.
"Raka, jangan! Sebaiknya di kamar saja." pinta wanita dengan rambut yang masih setengah kering.
"Ingin mencobanya hal lain. Kamu dapat melawan?" tanya Raka, membuka paksa kancing kemeja. Hingga beberapa kancingnya terlepas.
Nafas mereka sama-sama tidak teratur, kembali saling memangut. Satu persatu pakaian tercecer. Tempat yang tidak nyaman? Tentu saja, tapi menciptakan sensasi aneh yang berbeda.
"Raka di kamar saja...aku..." Bibirnya di bungkam, wanita yang tidak dapat berbuat apapun jika sudah seperti ini. Hanya dapat menjerit dan menikmatinya saja.
"Dasar mesum!" batin dari seorang wanita yang sama mesumnya. Semua masalah seakan-akan diakhiri dengan ranjang, maaf salah, kali ini dengan meja makan.
Pengantin yang baru menikah memang begitu bukan? Baru mengetahui bagaimana hubungan suami-istri, ingin merasa lebih dalam lagi. Menanam jagung setiap hari, menggarap lahan kering, mengalirinya dengan air.
Tidak pernah puas rasanya, kala keringat bercucuran. Hanya rasa gemas dalam diri Raka, setiap istrinya meneriakkan namanya.
*
Kehidupan seperti apa yang akan dijalani Fujiko? Ini adalah hari kepulangan mereka, menaiki mobil berharga tinggi, dengan seorang supir yang menyetir menuju kediaman utama.
Seperti sebelumnya gerbang besar terbuka secara otomatis.
"Ini rumahmu? Ja...jadi sebelumnya kita menyusup masuk ke rumahmu?" tanya Fujiko dengan wajah pucat pasi.
Raka tersenyum, kemudian mengangguk."Iya, kita menyusup ke kamarku. Kenapa kamu merindukan pangeranmu? Bahkan menuliskan kata maaf di sprei yang telah kita kotori?"
Fujiko membulatkan matanya, menelan ludahnya sendiri."Aku malu!" batinnya, menoleh ke arah jendela mobil, menahan rasa malunya.
__ADS_1
"Bagaimana jika lain kali, kita melakukannya di kamar kakekku. Pasti lebih seru, dan mendebarkan..." usulan gila dari Raka.