Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Etika


__ADS_3

Pagi sudah mulai menjelang, seorang pemuda keluar dari mobilnya. Masih memakai headset menghubungi seseorang.


"Kamu tau lawanku adalah pria idamanmu? Perlu modal yang banyak untuk menikah dengannya. Aku fikir gadis biasa yang gampang di dekati. Tapi pria idamanmu itu seperti hantu yang muncul dimanapun..." gerutu sang pemuda membawa paper bag yang entah apa isinya.


"Aku akan membayar lima kali lipat saat pesta resepsi pernikahan kalian. Lagipula kamu mendapatkan wanita cantik dari keluarga baik-baik. Dengan uang yang aku berikan, kamu juga bisa membuka cabang restauran baru." Suara Barbara terdengar dari seberang sana.


Pemuda itu tertawa kecil."Cabang restauran..." gumamnya."Lawanku adalah cucu kesayangan dari keluarga konglomerat. Salah sedikit maka aku tamat. Ini hanya karena aku tertarik pada Fujiko, aku mau bernegosiasi lagi. Tambahan satu juta dollar, jika kamu berhasil menikah dengan Raka."


"Deal," Barbara tersenyum menyanggupi."Aku punya informasi tambahan, Raka harus pergi ke luar negeri dua minggu lagi. Itulah saat-saat untukmu dapat menikah dengan Fujiko."


"Thanks infonya..." ucap Sean mematikan panggilannya. Pemuda itu menghela napas kasar. Selama ini tidak ada wanita yang menolaknya, namun gadis ini pura-pura tersenyum padanya? Tidak, ini adalah sebuah tantangan untuk memilikinya. Wanita, cantik, mandiri yang mungkin cocok dengan kepribadiannya. Jika untuk tipikal istri ideal dialah orangnya.


Apa sebenarnya profesi Sean? Pemuda itu memiliki dua restaurant, dan saham di club'malam. Menjual diri, hanya sebagai hobinya saja, berpetualang semasih lajang, mendapatkan uang dan kepuasan sekaligus. Namun, semua harus dipastikan aman olehnya, hanya menerima klien tertentu di sela waktunya saja.


Tidak menaruh perasaan pada satupun kliennya. Hanya berhubungan untuk kebutuhan biologis sekaligus menambah materi, dirinya tidak mau rugi bukan? Tapi kali ini berbeda. Awalnya Sean hanya ingin mencoba-coba dan bermain dengan pernikahan, mengingat nominal yang ditawarkan Barbara.


Tapi wanita yang begitu cantik, tipikal wanita idealnya. Dari bentuk tubuhnya terlihat, wanita yang belum dipermainkan pria. Ibarat sebuah phonecell masih tersegel rapi di rak kaca. Bukan berasal dari keluarga kaya, sama seperti dirinya dulu yang berjuang mati-matian dari nol. Tapi wanita itu hanya tersenyum, tepatnya pura-pura tersenyum, membuat dirinya semakin menginginkannya, mengetahui tidak ada ketulusan dimatanya, hanya sebuah penolakan.


Masalah pernikahan, mungkin akan menyenangkan memiliki istri seperti Fujiko, mandiri dan cantik alami tanpa perawatan.


Pintu gerbang rumah Firman diketuk olehnya. Rosita yang memang tengah libur, membukakan pintu."Kamu temannya Fujiko kan?" tanyanya pada Sean, mengingat pesta semalam.


Pemuda itu tersenyum."Apa Fujiko ada? Aku membawakan oleh-oleh untuknya."


Dengan cepat Rosita mempersilahkan masuk. Pada akhirnya adiknya mendapatkan jodoh yang sesuai juga. Dirinya tidak begitu berharap pada cucu kesayangan keluarga konglomerat (Raka), yang mencium paksa adiknya di hadapan umum. Tentu saja karena status yang terlalu tinggi dan tamparan Fujiko. Tapi, Sean tidak seperti cucu kesayangan keluarga konglomerat semalam, Sean bukan bintang yang tidak bisa digapai, hanya pemilik restauran cukup sesuai untuk membahagiakan adiknya.

__ADS_1


"Tari! Telefon Fujiko! Suruh dia cepat pulang!" teriak Rosita, berjalan ke dapur, pada adiknya yang tengah berada di kamar.


"Dia kembali ke tempat kostnya. Kemarin sempat mengirimkan pesan. Nanti sore baru akan kembali," ucap Tari dari dalam sana, tengah bersiap-siap pergi bekerja.


Rosita berlari membuatkan minuman, kemudian meletakkan di meja."Terimakasih oleh-olehnya. Tapi Fujiko sedang keluar, nanti sore baru akan pulang. Lebih baik kamu simpan dulu, berikan ini pada kami di hadapannya, agar dia terkesan,"


Sean hanya tersenyum simpul, keluarga yang tidak buruk, mengerti akan situasi. Entah kenapa, dirinya merasa nyaman. Tidak seperti bertemu dengan keluarga kliennya. Apa ini rasanya akan menjadi calon ipar?


*


Sedangkan di tempat lain, Fujiko terbangun, kepalanya terasa masih sedikit sakit. Matanya menelisik mengamati kekasihnya tengah duduk bersila sembari sarapan.


Tapi ada yang aneh, pemuda itu memakan nasi putih dan sayuran seperti biasanya. Namun, dihadapannya ada makanan kotak, dari cara pengemasannya yang menggunakan mika khusus, terlihat berasal dari restauran mahal.


Nasi hendak diambilnya. Tapi tanpa diduga Raka memukul jemari tangannya menggunakan sendok."Istriku tidak boleh hidup susah!" ucapnya dengan mulut penuh, meletakkan piringnya diatas lantai.


Pemuda yang membuka kotak mika tersebut, menyuapi Fujiko dengan potongan buah."Hentikan!" ucap gadis itu menarik kotak berisikan makanan.


"Kamu dapat dimana?" tanya Fujiko menatap tajam.


"Aku membelinya," Jawaban singkat dari Raka, memakan nasi dan sayuran hangat yang dibuatnya.


Fujiko mengepalkan tangannya, air matanya mengalir."Beginikah si kikir kalau sudah punya pacar?" itulah pertanyaan dalam hatinya.


"Aku lebih suka nasi hangat dan sayuran buatanmu. Jangan menghabiskan uang untuk hal semacam ini," tegas Fujiko, memegang jemari tangan Raka.

__ADS_1


Wanita yang mulai makan masakan kekasihnya yang hanya sup sayuran dicampur dengan potongan tahu. Kekasihnya hidup susah, dirinya juga harus hidup susah bukan?


Sedangkan Raka mengenyitkan keningnya. Tidak mengerti sama sekali, Imanuel dan Patra selalu memberikan makanan kelas tinggi untuk pasangan mereka.


Dirinya hanya memesan sarapan dari restauran terdekat, tapi Fujiko lebih menyukai sup sayur buatannya? Tidak, jika begini istrinya bisa mati. Pemuda aneh yang benar-benar selalu cemas dengan hal yang mustahil.


"Makan ini!" pintanya, menyodorkan kotak mika berisikan paket makanan American breakfast.


"Tidak mau! Sayuran dan tahu lebih sehat! Lagipula aku tidak akan kenyang jika tidak makan nasi!" Gadis tidak beretika itu duduk asal-asalan makan menggunakan sendok, sesekali bersendawa dan kentut, mungkin angin yang ada di tubuhnya mulai keluar.


Tidak ada gengsi sama sekali, Raka hanya dapat menghela napas kasar, bingung bagaimana seharusnya memperlakukan wanita ini. Dalam imajinasinya begitu mempunyai pacar, villa dan mobil harus sudah siap, seperti Imanuel memanjakan tunangannya.


"Bagaimana jika kita pindah tinggal di vil---" Kata-kata Raka yang akan mengatakan tentang kesiapan villa pribadi miliknya, disela.


"Pindah? Kamu ingin kita tinggal sekamar? Tapi bagaimana jika pemilik kos-kosan tau?" tanya Fujiko malu-malu.


"Kita bisa tinggal di villa, aku dan kamu. Seperti---" Lagi-lagi kata-kata pemuda itu diserobot.


"Tinggal di villa? Maksudnya penginapan? Disana terlalu mahal, juga harus membayar harian. Biarkan seperti ini dulu ya? Kita berusaha bersama mengumpulkan uang untuk menikah dan membeli rumah kecil," Fujiko tersenyum, kembali makan dengan lahap.


Kekasihnya benar-benar cantik, bahkan tunangan Imanuel tidak ada apa-apanya. Walaupun baru bangun, walaupun ada sedikit sisa kotoran kecil dimatanya, walaupun rambutnya belum di sisir rapi. Tapi terkesan natural, jika kotoran di matanya dibersihkan, kemudian berpose duduk di atas tempat tidur, bagaikan model pakaian casual.


Apa karena ini dirinya mencintai Fujiko? Tidak bukan karena kecantikannya, ini karena perasaan nyaman, saling membutuhkan tanpa memandang kelemahan masing-masing.


"Mau jalan-jalan ke Singapura?" tanya Raka tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2