Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Pemula Dan Profesional


__ADS_3

Wanita yang segera mematikan panggilan. Benar-benar kesal rasanya, benar-benar berbeda dengan Imanuel yang selalu memberikan waktu dan materi untuknya. Tapi tetap saja tidak pernah ada cinta di hatinya.


Dirinya melirik ke arah belakang. Saudara tiri Adinda berada di sana tengah terikat di atas kursi. Seorang pria paruh baya, satu ayah beda ibu dengan Adinda. Dapat dikatakan paman Raka dari pihak ibunya.


Wanita yang berjalan mendekatinya tersenyum bagaikan malaikat."Jadi tidak ada saudara yang tinggal di Singapura?" tanya Nadila, meragukan indentitas Fujiko.


"Da... dari pihak ayah tidak ada. Aku tidak tau saudara jauh dari pihak almarhum ibu Adinda." Jawabnya gelagapan.


"Keponakan dari ipar sepupunya, juga tidak ada yang bernama Fujiko?" Nadila mengulangi pertanyaannya.


Pria paruh baya itu menggeleng. Dirinya tidak mengerti apa yang terjadi dengan Adinda, adik tirinya yang menikah ke keluarga kaya. Tubuhnya gemetar saat ini, kepalanya terdapat noda darah, yang mengalir membasahi pakaiannya. Ditambah dengan beberapa luka lecet. Mungkin salah satu kakinya telah dipatahkan, hingga posisi duduk salah satu kakinya tidak normal.


"Sudah aku bilang berulang kali, dari pihak ayah tidak ada. Tapi aku tidak tau dari pihak ibunya." Pria itu tertunduk menangis pun percuma, tubuhnya benar-benar lemas setelah mengalirkan banyak darah.


Nadila tersenyum mengambil pisau buah."Aku ingin melihatmu mati perlahan. Aku ingin melihat makhluk ciptaan-Nya mati perlahan, jika Dia ada," ucapnya meraih pisau buah, menyayat nadi di pergelangan tangan pria paruh baya tersebut.


Bibir sang pria memutih, tubuhnya bertambah lemas dari detik ke detik. Kala darahnya terus mengalir. Menetes membasahi lantai.


"Aku bukan orang yang paham tentang Tuhan dan agama. Aku juga mempunyai banyak dosa. Tapi orang sekeji dirimu akan dibiarkan oleh-Nya bahagia? Tidak akan..." Kata-kata dari mulut sang pria dengan kesadaran yang mulai memudar.


"Apa yang kamu katakan? Tidak dibiarkan bahagia? Dia memang tidak pernah membiarkanku bahagia bukan? Karena itu aku juga tidak akan pernah membiarkan-Nya bahagia agar sama seperti yang ku alami." Kata-kata penuh senyuman dengan air mata mengalir.


"Hei... Bicaralah! Kamu sudah mati?" Tanya Nadila lagi, menepuk-nepuk pipi sang pria menggunakan pisau.


Wanita itu tertawa kecil, melirik dua orang yang ada di dekatnya."Tunggu napasnya berhenti. Kemudian kubur di tengah hutan dekat villa."


"Baik nona!" ucap salah seorang dari pria berbadan kekar.


Wanita yang melangkah keluar, menaiki mobil miliknya. Dirinya harus kembali ke kediaman utama, mengambil perhatian Adinda? Mungkin iya, hanya sampai menikah dengan Raka.


Didalam mobil sudah ada kue kering dan vitamin untuk Pramana. Bagaimana pun pria tua itu adalah kepala keluarga. Seseorang yang sudah seharusnya berpihak padanya. Wajahnya tanpa ekspresi, tetap fokus menatap ke arah jalan raya.


Hingga pada akhirnya sampai, pintu gerbang besar terbuka. Mobilnya terparkir di dalam garasi. Segera melangkah memasuki rumah kokoh berlantai tiga.


"Kakek!" Ucapnya berlari kecil, membawa kue kering dan vitamin.

__ADS_1


"Kamu dari mana saja, jangan diforsir kerja, fikirkan juga kandunganmu." Pramana menghela napas kasar.


"Iya! Kakek! Setelah ini aku buatkan teh jahe ya? Cuaca lumayan dingin. Sebenarnya aku juga ingin membuatkan untuk Raka. Tapi dia terlalu sibuk." Nadila tetap tersenyum, menghela napas berkali-kali.


"Tenang saja, hati batu itu perlahan juga akan menyukaimu." Ucap Pramana penuh senyuman. Pria tua yang baru datang dari mengontrol perusahaannya. Berjalan menuju lantai dua dibimbing oleh Nadila.


Wanita yang tersenyum ceria, secerah sinar matahari."Omong-ngomong aku baru saja, melakukan amal. Melepaskan seseorang dari penderitaan."


"Melepaskan orang dari penderitaan? Maksudnya kamu memberikan bantuan materi?" tanya Pramana.


"Sejenis itu, tapi tidak usah dilebih-lebihkan!" Nadila tersenyum canggung.


"Kamu memang terlalu baik. Jika orang lain, sedikit saja beramal maka akan digembor-gemborkan. Raka beruntung akan memiliki istri sepertimu."


*


Hari esok segera tiba. Hari ini Nadila telah mempersiapkan segalanya. Memiliki tas, sepatu dan baju dengan cermat. Beberapa hair stylist tengah menata rambutnya. Perlahan memoleskan make up pada wajahnya. Gaun putih yang indah menghiasi tubuhnya.


Bukan kesan pakaian yang terbuka terlihat. Namun, pakaian yang terlihat benar-benar sopan. Perhiasan berlian menghiasai tubuhnya. Bagaimana pun juga ini acara besar.


"Ka...kamu kenapa disini?" tanya Nadila yang sudah selesai di rias melihat kini giliran Fujiko yang tengah dipoles.


"Numpang tenar, kakek bilang aku harus seperti kak Nadila. Jadi aku minta ijin pada kak Raka dan kakek ikut di acara ini sebagai pengisi acara." Jawaban lugu dari Fujiko tanpa dosa.


"Ka...kamu memang ada bakat apa?" tanya Nadila geram, namun bibirnya berusaha tersenyum.


"Jual wajah! Kami memiliki kaki jenjang, bisa bernyanyi dan menari!" Jawaban dari seseorang yang berada di samping Fujiko. Juga kini tengah dirias.


Mata Nadila menelisik. Dirinya tidak sendiri, ada empat orang wanita yang mengalahkannya sekaligus. Kesal? Tentu saja, calon adik ipar yang ingin mengandalkan aji mumpung, karena memiliki kakak ipar selebgram terkenal.


"Memang kalian punya lagu sendiri? Kalau menggunakan lagu girl band luar atau dalam negeri, bisa kena royalti." tanya Nadila masih berusaha tersenyum ramah.


"Sudah! Kami bahkan sering latihan dari dulu. Ini sudah mendarah daging!" Kata-kata tegas dari Rosita, bagaikan pemimpin dari adik-adiknya.


Sejatinya ada yang pernah ingin mengajak mereka debut, kala ikut dalam pertunjukan panggung. Semacam audisi di mall, namun mereka tidak suka dan terbiasa dengan dunia hiburan. Gelar juara pertama saat itu hanya untuk mendapatkan tambahan biaya kuliah Fumiko dan Tari.

__ADS_1


"Omong-ngomong kamu selebriti ya?" tanya Tari.


"Iya, kalian pasti sering melihatku di YouTube, Instagram, atau Facebook. Aku juga sering ada di acara TV," Ucap Nadila menyombongkan diri.


"Kenapa jelek dan pendek?" celetuk Fumiko, membuat Nadila mengepalkan tangannya berusaha tersenyum.


"Di Instagram aku selalu dipuji seperti seorang dewi." Nadila kali ini benar-benar murka.


"Benarkah? Tapi aku sarankan untuk mengoperasi hidungmu. Terlalu melebar seperti jambu air, dan satu lagi untuk seukuran selebriti kamu terlalu pendek. Bahkan tubuh pramugari di pesawat lebih sempurna darimu. Ini hanya saran dariku." Kata-kata lebih menusuk lagi dari mulut Tari.


Dirinya memperhatikan deretan lima cermin di hadapannya. Yang memperlihatkan langsung wajah mereka masing-masing. Benar, dirinya yang terjelek diantara mereka.


"Aku---" Kalimat Nadila terpotong.


"Teman-temanku hanya asal ceplas-ceplos bicara saja. Tidak perlu ditanggapi." Fujiko tersenyum, menenangkan Nadila.


Wanita itu menghela napas berkali-kali, jemari tangannya mengepal. Masih berusaha tersenyum, Fujiko dan teman-temannya memang cantik, tapi itu tidak cukup, jika tidak memiliki bakat.


Dalam imajinasinya, keempat orang sombong ini akan mempermalukan diri mereka sendiri di siaran TV Nasional.


Tapi apa yang terjadi pada kenyataannya?


Beberapa menit berselang lampu panggung tiba-tiba mati. Acara dimulai dengan pertunjukan pembukaan.


Satu sorot lampu menyala, menampakan gadis yang tengah duduk di piano. Memainkan tutsnya dengan nada bagaikan kekecewaan.


"Bagaimana jika kamu merasakan yang aku rasakan?" tanyanya.


Tiba-tiba ritme musik sedikit lebih cepat, masih terkesan klasik. Dua wanita lagi menaiki panggung, melangkah sembari bernyanyi, diikuti dua lampu sorot yang berbeda.


Lagu mulai mereka nyanyikan dalam tempo yang lebih cepat. Suara merdu dari tiga orang wanita bersautan. Hingga pada jeda, musik klasik terhenti. Lampu mengarah pada wanita yang melayang di atas ayunan menggunakan tali pengaman tentunya. Menyanyikan lagu dengan tempo sedang.


Hingga kala dirinya mendarat di atas panggung. Tempo berubah menjadi cepat, masuk ke bagian reff. Empat gadis cantik yang menari dan bernyanyi sekaligus. Kostum yang mereka pakai memberikan kesan manis namun s*ksi.


Para penonton mulai berteriak, tidak mengenal group yang baru tampil. Terutama para pria, histeria dan teriakan terdengar.

__ADS_1


__ADS_2