
Setelah pertengkarannya dengan sang karyawati baru, Fujiko melajukan motornya masih menggunakan jas hujan milik Raka. Tapi tunggu dulu, Raka hanya memiliki satu jas hujan. Jadi jika ini diberikan padanya, artinya Raka kehujanan saat mengantar jas hujan?
Entahlah, gadis itu menghela napasnya, mendatangi pasar tradisional guna membeli empat ekor ayam yang sudah dibersihkan. Pesan tiba-tiba masuk di phonecellnya.'Kapan ayamnya sampai?' itulah isi pesan yang tertulis dengan nama pengirim Raka.
"Dasar rakus!" cibir Fujiko, tersenyum simpul, membaca isi pesan.
Wanita yang mulai berjalan menuju tempat parkir. Kemudian melajukan motornya, beberapa bumbu juga sudah dibelinya."Hari ini memanggang ayam!" ucapnya penuh semangat.
Hujan masih gerimis hingga saat ini, motor-motor penghuni kost dipindahkan. Ditutupi dengan mantel hingga tidak kehujanan.
Sedangkan area parkir menjadi tempat bagi mereka untuk menyalakan api.
"Ayamnya datang!" ucap Fujiko memarkirkan kendaraannya.
Ragil langsung menyambarnya tanpa aba-aba."Raka! Istrimu benar-benar lelet! Di ranjang saja pasti cepat!" celetuknya.
Fujiko melepaskan jas hujan menahan malunya. Melirik ke arah Raka yang mungkin juga malu sepertinya.
"Ranjang? Selalu aku yang diatas. Dia tinggal menikmatinya saja," ucap Raka.
Brak!
Kepalanya dilempar menggunakan sepatu oleh Fujiko."Aku tidak seperti itu!" bentaknya.
"Iya! Aku berbohong selalu kamu yang diatas," ucap Raka menggosok-gosok kepalanya yang kebas terkena lemparan sepatu.
"Raka!" bentak Fujiko pada pemuda yang hanya memakai celana pendek dan kaos kutang.
Hingga satu motor lagi tiba diam-diam dua orang gadis membawa keresek hitam berisikan beberapa botol bir."Stt... jangan sampai ada yang tau. Kita minum di kamar siapa?" tanya Evi penuh semangat.
"Kalian membawa bir? Jika ketahuan maka---" Kata-kata Fujiko disela.
"Tidak akan ketahuan. Salah satu dari kita tidak boleh mabuk karena ada dua pria dan tiga wanita disini, untuk berjaga-jaga jika terjadi hal yang tidak diinginkan ketika mabuk." Ucap Cahaya membuat mereka saling melirik.
"Jadi siapa yang tidak akan ikut minum?" tanya Raka.
__ADS_1
"Aku saja," usulan dari Evi, penuh senyuman. Tugasnya adalah menjaga agar tidak ada keributan atau tindakan mesum. Mengapa dirinya tidak ingin minum? Benar-benar penasaran bagaimana para ber*ndal berwajah polos ini ketika mabuk.
*
Acara ini pun pada akhirnya dimulai. Setelah memakan ayam dilanjutkan dengan bermain kartu di kamar Raka yang minim barang hingga lebih luas untuk menggelar karpet. Permainan tanpa taruhan, hanya saja bagi yang menang dapat membutuhkan tepung ke wajah yang kalah.
Bau bir yang menyengat tercium. Memang memiliki kadar alkohol rendah. Tapi bagi keempat orang yang hanya mencoba-coba ini dalam satu atau dua gelas langsung tepar, tewas terkapar.
"Wah! Wah! Wah!" Evi bertepuk tangan melihat keempat sahabatnya.
"Ibu! Ibu! Ibu! Lampunya dimatikan Bu! Ragil mau tidur!" teriak Ragil meracau sambil memegangi kartu miliknya. Matanya sedikit terbuka, tapi juga hampir tertutup sempurna.
Cahaya bahkan lebih parah lagi duduk di pojok ruangan menjadi sinden. Menyanyikan tembang Lingsir wengi, membuat Evi berdidik ngeri.
Ditambah dengan Fujiko tiba-tiba mengucapkan kata-kata dengan bahasa Jepang yang fasih. Benar-benar keempat orang yang sok jago minum.
Hingga Raka mengebrak meja. Membuat Evi terkejut setengah mati, tatapan yang berbeda, mengeluarkan aura mendominasi yang aneh.
"Kamu itu lulusan S1 atau baru kelas satu SD! Semua laporanmu salah!" bentaknya meninggikan nada bicaranya.
"Membuat laporan saja kamu tidak becus? Kamu boleh ambil pesangon di bagian HRD." Pemuda yang masih dalam imajinasinya kembali ke situasi lima tahun lalu. Dimana dirinya harus bekerja lembur untuk mengembangkan usahanya.
"Kamu tidak dengar! Buat yang baru!" Ucap pemuda itu menunjuk-nunjuk.
Evi semakin tertarik saja melihat si pelit mabuk. Seseorang yang biasanya makan singkong rebus dan kuaci."Iya saya akan mengerjakannya. Tuan kalau boleh tau rumah anda dimana ya? Saya ingin mengantar berkas."
"Jalan Candra nomor 38," Ucapnya mengatakan alamat rumah utama.
Evi membulatkan matanya. Setahunya itu adalah kawasan kalangan atas. Bahkan untuk masuk ke kawasan tersebut tersedia portal khusus dengan pengamanan ketat.
"Kalau boleh tahu apa profesi orang tua anda?" tanya gadis itu bertambah penasaran.
"Dia? Ayahku hanya budak dari ibuku. Wanita memang makhluk paling mahal, ibu minta baju, ayah membuatkan butik untuk dikelolanya. Ibu ingin makan di restauran, restauran yang dibelinya untuk ibu. Jadi profesi ibuku hanya menjalankan usaha gila yang dibeli ayahku. Wanita benar-benar makhluk paling boros..." tawanya meracau dengan wajah memerah.
Evi terdiam sejenak jemari tangannya gemetar."Si...siapa nama ayahmu?"
__ADS_1
"Patra Galuh," jawaban dari Raka.
Gadis itu dengan cepat mencari di internet. Hingga nama putra pengusaha ditemukannya. Memiliki jabatan tinggi di perusahaan milik keluarga besarnya. Hingga menelan ludahnya kala melihat foto seorang remaja yang mirip dengan Raka.
Bayangannya kembali ke memori kemarin, kala ayah Raka berkunjung. Memang benar ini fotonya. Si kikir anak konglomerat? Kenapa bisa? Seketika wajahnya pucat pasi. Tidak tau harus bagaimana, meraih kripik singkong Kusuka sambil memakannya berusaha berfikir.
"Mana laporannya!" bentak Raka kembali.
Hingga Fujiko menghampirinya, memeluk sahabatnya dari samping."Jangan marah, sebagai teman aku akan menyembuhkanmu dari impoten," bisiknya di leher Raka.
Evi bertambah panik lagi, menatap Fujiko yang duduk di pangkuan Raka. Posisi yang benar-benar panas.
"Aku mencintaimu," ucap Raka membelai pipi wanita yang ada dalam pangkuannya. Saling berhadapan dengannya.
"Aku juga mencintaimu," bisik Fujiko, jemarinya membelai otot-otot pemuda yang memangkunya. Deru napas mereka terlihat tidak teratur.
"Seharusnya aku menghentikannya, karena itu tugasku. Tapi aku juga penasaran dengan kelanjutannya," gumam Evi masih memakan keripik singkongnya.
Uuueekk!
Ragil tiba-tiba muntah, mungkin karena perutnya tidak terisi terlalu banyak ketika mengkonsumsi alkohol.
"Sial!" ucap Evi, meletakkan kripiknya seketika napsu makannya menghilang. Tapi rasa penasarannya tidak hilang, ingin melihat adegan dewasa.
"Kita saling mencintai, lalu kenapa kamu lebih menyukai Nolan?" tanya Raka membelai bibir Fujiko.
"Karena dia kaya, dia dapat membahagiakanku nanti. Kita hanya sahabat bukan? Walaupun saling mencintai?" Fujiko balik bertanya.
"Aku belum dapat mengumpulkan uang untuk membahagiakanmu. Karena itu pergilah bersama Nolan," Kata-kata dari Raka, dengan air mata yang keluar.
"Jangan menjauhiku! Jangan menikah! Dasar kikir! Jangan pernah meninggalkanku seumur hidupmu!" teriak Fujiko memeluk erat tubuh Raka.
Tidak, ini bukan harapan Evi, harapannya melihat adegan panas tanpa sensor. Gadis itu kemudian bangkit."Tidak bisakah kalian celap-celup?!" bentaknya.
"Kamu kakakku?! Lihat Raka! Kakakku ingin memisahkan kita!" jerit Fujiko menangis semakin kencang.
__ADS_1
Sedangkan Evi hanya dapat memijit pelipisnya sendiri. Sepasang sahabat yang benar-benar aneh.