Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Pilihan


__ADS_3

Ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai asisten Pramana. Suaminya tidak mengatakan apapun tentang sang kakek. Mungkin hanya sedikit yang dikatakannya semalam. Harus tulus, itulah yang terpenting jika ingin dekat dengannya.


Hati yang sekeras batu dan penuh tipu daya, tapi jika sudah menyayangi akan menjadi posesif itulah watak asli Pramana.


Hari ini dirinya melangkah dengan cepat. Sekretaris Pramana bernama Merald, pria tegap kaku dengan postur tubuh tinggi bagaikan pemain basket, mungkin lebih cocok menjadi tentara dibandingkan dengan menjadi sekretaris dari segi perawakannya.


Bug!


Pintu besar terbuka dibukakan oleh sang sekretaris. Posisi tertinggi sebagai komisaris dipegang oleh Pramana. Tidak hanya ini asetnya, ada beberapa aset lagi yang harus diatur oleh Merald dan Fujiko.


Ada tiga meja disana, tepat di dalam ruangan. Tidak seperti orang dengan jabatan tinggi di perusahaan lainnya, dimana meja sang sekretaris terletak di depan pintu. Meja sekretaris ada di dalam, alasannya? Karena menjadi sang sekretaris akan cukup sibuk.


"Fujiko, hubungi OB suruh dia mengcopy dokumen ini." Ucap Merald, masih dengan earphone di telinganya dan tangan yang mengetik dengan cepat.


Beradaptasi? Itulah yang dilakukan Fujiko, menghubungi pantry. Wanita itu tidak mengetahui tugasnya dimulai dari mana. Hanya ada tumpukan dokumen di atas meja, tablet dan laptop, serta printer, tidak lupa juga beberapa flashdisk.


Pramana juga terlihat sibuk, entah menghubungi siapa menggunakan bahasa asing.


Wanita itu menghela napas kasar, harus tulus. Itulah prinsip yang dikatakan oleh suaminya. Sesuatu yang tidak boleh dibuat-buat. Berbanding terbalik dengan dirinya selama ini yang menjadi wanita materialistis untuk menggoda pria kaya.


Pada akhirnya Fujiko mulai mengutak-atik tab. Mungkin ini jadwal yang disusun asisten sebelum dirinya. Sangat rinci, dirinya hanya harus menyesuaikan cara kerja. Tujuan? Tidak ada mungkin hanya untuk membatu sang kakek tidak kelelahan dan perusahaan tetap utuh.


Dokumen yang berantakan di atas meja dibacanya satu persatu. Diteliti olehnya tidak mungkin meminta bantuan Merald atau Pramana yang terlalu sibuk.


Tulus...


Kata-kata dari suaminya yang membuatnya lega, belajar pelan-pelan pada akhirnya menemukan celah tugas pertamanya. Rapat pukul satu siang di Emeral Green Hotel.


Satu persatu dokumen terkait di kumpulkannya. Termasuk data-data perusahaan yang akan bekerja sama. Dirinya mulai bangkit, berjalan melihat rak besar berisikan dokumen yang tersusun rapi.


Dokumen kerjasama tahun lalu diletakkannya. Kemudian di susun sebagai referensi. Jemari tangannya mulai mengetik bagaikan merangkum hasil rapat tahun kemarin dan resiko yang akan terjadi tahun ini. Ketika tulus, sebuah pekerjaan tidak akan menjadi tekanan. Namun, bagaikan suatu permainan yang menarik.


Mata Pramana sedikit melirik, apa dia sudah tahu? Wajahnya hanya tersenyum, menghela napas kasar. Apa yang ada di fikirannya saat ini? Apakah Anette? Salah satu dari putri keluarga kaya di Inggris?


Entahlah, tidak ada yang tau isi fikiran sang kakek. Ketika Fujiko merenggangkan otot-ototnya dirinya sedikit melirik ke arah Pramana. Saat itu juga Pramana mengalihkan pandangannya.


Batuk beberapa kali, menghilangkan ketegangan, karena ketahuan mengamati Fujiko.

__ADS_1


Tapi di luar dugaan Fujiko kembali menghubungi pantry."Bawa satu teh jahe hangat, dan dua lemon tea ke ruangan komisaris."


Wanita yang tidak menoleh lagi, kembali melanjutkan pekerjaannya. Bangga, itulah yang dirasakan Fujiko, pada akhirnya dirinya bekerja kantoran seperti Fumiko.


Mengapa begitu antusias? Tentunya bukan untuk merebut perhatian Pramana. Tapi menjadi wanita karier seperti di drama-drama Korea.


Sebenarnya Fujiko lulusan S1 bisnis dan manajemen. Tapi mencari pekerjaan tanpa relasi dan pengalaman itu sulit, dirinya melamar kerja dibeberapa perusahaan tapi dengan hasil nol besar. Menunggu panggilan kerja dengan menjadi penjaga toko elektronik ayahnya.


Hingga pada akhirnya salah satu lamarannya diterima menjadi buruh di pabrik pinggir kota. Ini tidak sesuai dengan bidangnya. Tapi dengan penuh semangat menjalani selama satu tahun, motonya yang penting kerja. Walaupun dengan hasil pas-pasan ditambah harus tinggal berdampingan dengan kutu penghisap darah (Raka).


Pada akhirnya kutu penghisap darah lah yang mengantarkannya pada impian terbesarnya. Menjadi wanita karier seperti di film-film Korea. Karena itu dirinya benar-benar harus belajar.


Hingga jam makan siang tiba.


"Tuan anda ingin, makan apa?" tanya Fujiko menghentikan gerakan tangannya.


"Makan disini saja, beef steak, minumannya mix juice." Jawaban dari Pramana, terlihat dingin, lebih sering menatap pada pekerjaannya.


"Merald kalau kamu?" Fujiko mengalihkan pandangannya.


"Sandwich dan cola," Merald menjawab.


Pramana sedikit melirik dari tadi benar-benar mengamati wanita ini. Begitu juga dengan Merald, pria yang telah berkeluarga itu sedikit melirik, kemudian kembali mengerjakan tugasnya.


"Merald, siapkan untuk rapat jam satu nanti," perintah Pramana.


Tiba-tiba Fujiko bangkit, mengambil setumpuk dokumen dan sebuah flashdisk."Sudah aku siapkan tuan, ini kelengkapannya, beserta kelemahan kerjasama tahun lalu. Agar tidak ada kesalahan yang sama seperti proyek sebelumnya."


Pramana mengenyitkan keningnya. Apa benar ini hari pertama Fujiko bekerja? Dirinya tidak mengharapkan lebih daripada wanita yang kikuk. Tapi ini? Terlihat profesional dengan persiapan yang detail dan matang, biasanya yang disiapkan hanya materi rapat, tapi kini termasuk evaluasi kerjasama sebelumnya.


Pramana melirik ke arah Merald, sedangkan Merald menaikan bahunya, pertanda dirinya juga tidak mengerti. Semua hal tentang Fujiko sudah diberikan pada Pramana. Wanita yang bekerja tanpa pengalaman.


"Saya permisi, akan menyiapkan data untuk penanaman saham jam 6 nanti," ucapnya sedikit menunduk sopan, kemudian kembali berjalan ke mejanya.


Tulus bekerja? Tentu saja, selama ini dirinya seperti ikan air asin yang dilepaskan ke sungai, baru sekarang dapat menghirup aroma garam samudra.


Melangkah kembali ke mejanya, kemudian kembali bekerja."Aku seperti wanita karier, seperti wanita karier sibuk di drama Korea. Aku terlihat cantik dan pintar," batinnya ingin rasanya berteriak. Tersenyum-senyum sendiri belajar lebih banyak.

__ADS_1


Matanya sedikit melirik, dokumen berbahasa asing."Mampus!" batin Fujiko lagi.


Dengan ragu wanita itu tertunduk dan berucap."Tuan, boleh aku pakai google translate? A...aku tidak bisa bahasa Inggris."


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


Pada akhirnya Pramana dan Merald tertawa bersamaan tidak dapat menahan diri lagi. Awalnya Pramana mengira biodata asli hasil penyelidikan Merald terdapat kesalahan atau sengaja ada yang memanipulasinya. Mencurigai Fujiko sebagai mata-mata perusahaan lain yang menjerat Raka beberapa detik yang lalu.


Tapi kini tidak, ternyata memang hanya anak polos yang tidak tahu apa-apa. Sakit perut? Kedua orang itu memegangi perutnya menatap Fujiko yang nyengir, bingung harus bagaimana.


"Jadi apa boleh?" tanyanya lagi.


"Boleh!" Merald kembali tertawa, tidak tahan lagi rasanya.


"Lain kali belajar bahasa Inggris. Suruh anak dari ipar bibimu itu untuk mengajari," ucap Pramana merapatkan bibirnya, tidak ingin tertawa lagi.


"Anak dari ipar bibi? Si... siapa?" tanya Fujiko bingung.


"Tidak tau? Tentu saja Raka..." Tidak dapat mengelak lagi, Pramana melanjutkan tawanya.


Fujiko menghela napas kasar."Entahlah," hanya itu yang ada di fikirannya saat ini. Benar-benar masa bodoh yang penting menjadi wanita karier cantik dan pintar seperti dalam drama Korea.


*


Sore mulai menjelang, pertemuan terakhir memang menggunakan pakaian casual. Fujiko mengenakan gaun yang tidak begitu terbuka, memakai sedikit riasan.


Hingga pada akhirnya rencana investasi dimulai. Dirinya, Pramana dan Merald di sambut baik oleh pihak perusahaan yang menginginkan suntikan dana.


Semuanya berjalan lancar, kecuali Fujiko yang hanya dapat tersenyum."Nasib orang yang tidak bisa bahasa Inggris," batinnya, hanya dapat menatap mereka berdiskusi.


Hingga ada satu pernyataan yang tidak diketahuinya. Pihak perwakilan perusahaan yang tertarik pada Fujiko, menginginkannya untuk menemani minum berdua, sebagai tanda kesepakatan.


Fujiko hanya diam tidak mengerti, seperti biasa menampakan senyuman ala iklan Peps*dentnya.

__ADS_1


"Bagaimana? Dia hanya seorang asisten. Tidak akan ada masalah. Bisa bahasa Inggris saja tidak, aku hanya ingin minum dan menghabiskan malam dengannya sebagai tanda kesepakatan." tanyanya dalam bahasa Inggris pada Pramana.


Pramana menatap pria berkebangsaan asing itu angkuh.


__ADS_2