Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Tertangkap


__ADS_3

Satu demi satu nominasi dibacakan. Mata Nadila menelisik mencari keberadaan Raka. Dirinya sudah mendapatkan bocoran akan mendapatkan penghargaan sebagai artis pendatang baru terfavorit, mengingat beberapa saat lalu ikut membintangi salah satu film inspiratif, tentang anak-anak terlantar. Dirinya berperan sebagai orang tua asuh yang miskin, membuat lebih banyak lagi citra baik untuknya.


Sesuai rencana Pramana, ketika dirinya menaiki panggung Raka akan ada bersamanya, mengumumkan pernikahan mereka yang akan diadakan dua minggu lagi.


Tapi pemuda itu belum datang juga. Apa dia singgah di warung uncle Muthu? Membeli ice kepal yang terkenal lezat itu? Entahlah.


Tapi sebentar lagi dirinya akan naik ke atas panggung.


Bug!


Pintu terbuka, menampilkan sosok Raka, semua kamera mengarah padanya. Mengambil gambar putra konglomerat yang baru saja masuk. Tidak banyak yang mengetahui identitasnya, mungkin hanya beberapa wartawan senior yang memberikan instruksi pada juniornya untuk mengambil gambar Raka.


Pemuda rupawan yang berjalan memakai setelan hitam, melangkah menuju panggung. Mengapa? Entahlah tapi dirinya diikuti oleh pemilik stasiun televisi.


Hingga pada akhirnya menginjakkan kakinya ke panggung."Malam, saya akan membacakan nominasi selanjutnya. Aktor pendatang baru terfavorit." Raka tertawa kecil sejenak, gambar pada layar besar berubah, dengan gambar dan rekaman suara yang memperkenalkan para aktor yang masuk nominasi.


"Mungkin tidak ada yang kenal dengan saya. Saya salah satu owner baru stasiun televisi, lumayan malu hadir di panggung seperti ini." Ucap Raka terkekeh, membuka amplop yang berisikan nama aktor."Saya lanjutkan saja, aktor pendatang baru terbaik, jatuh pada, Fero Dwi Nugraha,"


Kata-kata dari mulutnya, diiringi dengan tepukan tangan penonton. Seorang aktor naik ke atas panggung, tersenyum meraih piala yang diberikan Raka. Kemudian memberikan kata sambutan.


*


Senyuman terlihat di wajah Nadila, membeli saham di stasiun televisi? Mungkin ini demi dirinya. Ternyata Raka sejatinya lebih royal dibandingkan dengan Imanuel, namun dengan cara yang berbeda.


"Setelah ini aktris wanita pendatang baru terfavorit kan?" Tanya Fumiko.


"Iya, sebagai pendatang baru terfavorit seharusnya lebih cantik dari kita, yang hanya orang biasa. Jika tidak lebih cantik para netizen akan mencibir, seharusnya kita yang mendapatkan penghargaan. Apa artis yang menang tidak akan malu?" Kata-kata pedas dari mulut Rosita.


"Pasti benar-benar malu," Rosita terkekeh.

__ADS_1


"Nadila, kamu masuk nominasi kan? Tapi kakimu---" Kata-kata Tari terhenti. Nadila sudah tidak tahan lagi, dikelilingi oleh empat wanita yang sok kecantikan ini.


"Apa sebenarnya mau kalian! Memangnya kenapa dengan kakiku!? Kakiku pendek lalu kenapa!?" bentaknya berteriak, mendapatkan perhatian semua orang. Jemari tangannya mengepal, akan membongkar kebusukan empat orang ini di hadapan wartawan.


"Kak, hentikan. Kami hanya sedikit mengkritik. Tidak ada maksud menyulut pertengkaran. Semua wartawan melihat ke sini. Aku malu---" Fujiko menangis terisak, berucap pada Nadila.


"Kenapa kamu begitu sensitif. Kami hanya mengatakan tentang gaun putihmu. Kami tidak bermaksud---" Kata-kata mulut Rosita disela.


"Kalian tidak bermaksud seperti itu kan!? Kalian mengatakan aku pendek dan hidungku seperti jambu! Kalian memang cantik, tapi prilaku kalian buruk!" Nadila meninggikan nada bicaranya.


"Aku hanya mengatakan pendapatku. Agar penampilanmu lebih baik, itu hanya saran, mungkin kamu dapat memakai high heels atau memakai kontur dengan lebih baik, agar terlihat mancung. Maaf, tapi karena kamu kenal Fujiko, aku kira kami dapat memperlakukanmu sebagai teman. Kami tau kami hanya orang biasa, tidak pantas memberikan saran." Fumiko tertunduk, bahkan mulai menitikkan air matanya.


"Kalian! Kalian tidak memberikan saran! Kalian menghinaku karena kalian yang bukan artis, lebih cantik daripada aku! Artis juga perlu bakat, bukan hanya wajah. Kalian baru sekali tampil di panggung tapi berani menghina senior." Ucap Nadila lantang. Berharap mendapatkan pembelaan dari artis senior lainnya.


"A...aku tidak bermaksud menghina. Aku belum melanjutkan ucapanku, aku hanya mengatakan sepatumu bagian sampingnya sedikit baret," Tari menghela napas kasar, ikut-ikutan tertunduk.


Rosita mengenyitkan keningnya mulai bicara."Kami tidak menghinamu! Kami hanya mengatakan sambil bercanda, pemenang gelar artis pendatang baru terfavorit pastinya lebih cantik dari kami. Jika, tidak netizen mungkin akan compalain. Hanya itu, bahkan pemenang penerima penghargaan belum diumumkan! Kami tidak pernah menghinamu! Kami duduk di dekatmu karena hanya kamu yang kami kenal disini. Tapi aku menyesal duduk di sini!"


Rosita memeluk Fujiko yang tertunduk terlihat malu sambil menangis.


Hingga tiba-tiba Raka turun dari panggung. Menggeleng-gelengkan kepalanya heran, terlihat juga raut wajah kecewanya pada Nadila.


Sang pemuda yang merangkul bahu Fujiko berjalan pergi meninggalkan Nadila yang terpaku diam. Semua wartawan mengambil fotonya, juga rekaman pertengkaran mereka.


Sifat emosionalnya bagaikan diketahui semua orang. Matanya menelisik mengamati ketiga wanita cantik itu keluar diikuti sebagian besar wartawan. Begitu juga Raka yang bagaikan tidak peduli padanya, mengantar Fujiko pergi melalui pintu samping.


"Nadila! Apa yang menyulut kemarahanmu?"


"Apa benar kamu sering membully artis junior?"

__ADS_1


"Nadila, apa benar anda mengkonsumsi obat-obatan sebelum kemari!?"


Berbagai pertanyaan dari wartawan membuatnya melangkah pergi. Jemari tangannya mengepal, tidak pernah dipermalukan seperti ini. Semua akan mati dimulai dari Fujiko.


"Maaf aku terlalu lelah," hanya itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya, kala memasuki mobil. Wanita dengan tangan gemetaran mati-matian menahan emosinya. Pengumuman pernikahan, bahkan penghargaan yang seharusnya didapatkannya, menghilang begitu saja.


*


Raka yang telah pergi melalui pintu berbeda. Menyisakan tiga orang wanita cantik yang melangkah dikerumuni wartawan.


"Jika boleh tau siapa nama kalian? Dari perusahaan entertainment mana?" tanya seorang wartawan.


"Kami, orang biasa yang kebetulan diundang untuk mengisi acara, bukan penyanyi profesional atau selebriti." Jawaban dari Rosita tetap melangkah pergi diikuti adik-adiknya.


Benar-benar tidak ingin menjadi selebriti yang kehidupannya selalu di sorot media. Ketiga wanita yang berjalan menuju area parkir diikuti wartawan. Tapi dengan cepat bersembunyi kala tengah berada di dekat tikungan lorong.


"Kita selamat," Ucap Fumiko menatap rombongan wartawan yang sudah sampai area parkir. Mungkin mencari di mobil mana mereka masuk.


"Untung saja aku pintar," Rosita terkekeh.


"Pintar?" suara tegas seorang pria terdengar, membuat Rosita membulatkan matanya, sedikit berbalik.


"Sayang?" wanita itu menampakkan deretan gigi putihnya.


Seorang pria masih memakai pakaian pilot berada di sana bahkan masih menyeret kopernya."Mau tidak mau, kita menikah!" tegasnya mengangkat tubuh Rosita di bahu ala karung beras.


"Kalau mau melamar yang romantis! Turunkan aku!" teriaknya memukul-mukul punggung Anwar.


"Dasar nakal!" Ucap Anwar gemas, berjalan sambil memukul b*kong Rosita. Sementara Rosita hanya dapat diam, menahan malu di depan kedua adiknya. Benar-benar sang kapten yang menyebalkan.

__ADS_1


__ADS_2