
Alunan suara musik khas pesta resepsi pernikahan terdengar. Pramana sedikit melirik ke arah cucunya kala berjalan masuk bersama Nadila. Apa sebenarnya rencana Raka? Kenapa menyetujuinya begitu saja?
Sang kakek yang masih mengira cucunya menikah untuk kedua kalinya. Sedangkan Fujiko berdiri di sudut ruangan berbincang dengan saudara-saudaranya.
"Cheers!" Ucap sepasang pengantin, mengangkat gelas anggur mereka.
Pramana berpura-pura tersenyum, ikut mengangkat gelasnya. Ada apa sebenarnya? Seharusnya Raka membongkar segalanya sebelum pesta pernikahan berlangsung. Kemudian dirinya dapat segera menghubungi penegak hukum, mendepak Nadila setelah tidak berguna lagi.
Pintu depan yang terbuka menampakkan wajah seorang pria dengan dua pengawal berada di sampingnya. Pemuda dengan kulit sawo matang, dapat dikatakan rupawan. Mulai berbaur diantara para tamu.
Dialah Dwiguna, mantan kekasih Fujiko, sekaligus orang yang sudah menabrak Dahlan tanpa mendapatkan hukuman sedikitpun.
Jemari tangan Nadila mengepal. Pada akhirnya dirinya bertemu dengan pria yang selalu sibuk bersenang-senang serta trip untuk urusan bisnis ke beberapa negara itu. Wanita yang penuh dengan dendam, menatap tajam.
"Tenangkan dirimu. Saat kita berbaur nanti pura-pura lah tersenyum. Aku katakan padamu sesekali lagi, apa benar kamu ingin balas dendam? Itu akan menghancurkan hidupmu." Raka menghela napas kasar.
"10 tahun ini apa aku tidak terlihat serius? Aku bahkan membunuh saudara tiri ibumu. Apa aku terlihat sedang bercanda?" tanya Nadila pada pemuda yang berdiri di sampingnya.
"Intinya memaafkan. Apa kamu bisa memaafkan? Jika bisa hatimu akan terasa lebih tenang. Walaupun dosa tetaplah dosa, tidak akan terhapus. Suatu saat kamu harus menebusnya." Tanya Raka pada wanita di sampingnya.
Nadila hanya terdiam sejenak, dan tersenyum menatap ke arah Dwiguna yang berjalan mendekati Fujiko.
"Dia mendekat. Kamu tidak cemburu? Bagaimana jika dia berniat melecehkan Fujiko?" tanya Nadila membuat Raka membulatkan matanya.
Sedangkan Nadila sendiri sudah menyembunyikan senjata api di balik gaun panjangnya. Wajahnya tersenyum, pada akhirnya kematian Dahlan tidak akan sia-sia.
*
Mantan pacar yang tetap cantik. Walaupun mengeluarkan gas beracun. Tapi memiliki Fujiko? Dwiguna benar-benar penasaran dengan tubuh itu. Terlebih lagi, seorang wanita yang pernah terlihat di televisi. Puluhan ribu orang menginginkan untuk mempersuntingnya.
Menikmati one night stand saja sudah cukup. Mungkin itulah yang ada di fikirannya.
"Fujiko?" panggil Dwiguna.
__ADS_1
Wanita berdarah Jepang itu memaksakan dirinya untuk tersenyum, menoleh pada Dwiguna.
"Apa kentutku kurang bau?" batinnya mengingat bagaimana umpatan Dwiguna yang segera mengirimnya pulang beberapa tahun lalu menggunakan speed boat.
"Kamu masih cantik saja..." Ucapnya berjalan mendekat.
"Kamu masih gombal saja. Sudah berapa wanita yang party bersamamu beberapa tahun ini?" pertanyaan aneh dari Fujiko penuh senyuman. Wanita yang biasanya takluk pada status dan uang itu malah berani menolaknya.
Dwiguna mendekatinya."Hanya kamu yang tercantik."
"Juga terbau..." batin Dwiguna.
"Begitu ya? Untung aku kentut, jadi tidak akan menjadi salah satu dari mainan ranjangmu. Lagipula aku sudah berhasil menggaet pria kaya lainnya." Kata-kata telak dari mulut Fujiko, penuh senyuman.
"Tapi pria itu tidak dapat melebihiku kan?" senyuman terlihat di wajah Dwiguna menyentuh dagu Fujiko agar menatap matanya.
"Dia melebihimu! Dia berhemat untuk masa depan. Sedangkan kamu mengadakan pesta di pulau pribadi setiap minggunya kan?" Fujiko menepis tangan Dwiguna.
Mata Fujiko sedikit melirik ke arah Raka. Lagipula dirinya tidak berbohong kan? Jika menceritakan segalanya secara lengkap maka status Raka sebagai suaminya akan terungkap.
"Dia bekerja sebagai ghost writer, gajinya rata-rata 900.000 per bulan. Tinggal mengontrak denganku di kost-kostan yang harga sewa bulanannya sekitar 500.000 rupiah!" tegas Fujiko menjelaskan panjang lebar.
Dwiguna mulai tertawa."Aku kira anak sultan mana. Dengar! Aku bisa memberikanmu lebih daripada yang diberikannya. Asalkan kamu mau menjadi pacarku..." bisiknya, semakin dekat. Aroma khas r*kok elektrik tercium dari mulutnya.
Fujiko menghela napas kasar. Menatap tajam."Kalau pacarku tidak begitu kaya memangnya kenapa? Yang penting performanya di ranjang!" tegasnya tidak mau kalah. Tidak mungkin dirinya mengatakan Raka adalah suaminya.
Dwiguna kemudian sedikit berbisik."Aku dapat membuat tiga wanita terkapar tidak berdaya sekaligus."
"Orang ini sudah gila!" batin Fujiko, mengusap dadanya sendiri mencoba untuk bersabar, tidak ingin ketularan gila. Syukurlah kentutnya membuatnya putus dengan Dwiguna. Jika tidak, berbagi satu pria dengan tiga wanita di ranjang? Tidak dapat dibayangkan olehnya.
Sepasang pengantin berjalan turun berbaur dengan tamu undangan. Berjalan mendekati mereka, raut wajah tidak senang terlihat jelas dari pria yang cemburu. Kali ini tidak ada istilah untuk penolakan kata cemburu.
"Belum menikah juga?" cibir Raka tertawa kecil, mengejek musuh keluarganya.
__ADS_1
"Belum menikah, tapi pengalamanku lebih baik dari pengalamanmu." Sindir Dwiguna balik.
"Isi rekeningku lebih banyak dari isi rekeningmu. 1 berbanding 2, perlu aku ingatkan?" senyuman terlihat dari wajah Raka.
"Siapa peduli? Aku dapat melukaimu kapanpun. Lagipula pacarku lebih cantik dari istrimu." Tegas Dwiguna tiba-tiba menarik mantan pacarnya alias Fujiko, si kentut beracun.
"Aku sudah punya pacar! Kita putus bertahun-tahun lalu kamu tidak pikun kan!?" bentak Fujiko panik, melepaskan diri dari Dwiguna. Tidak ingin menerima hukuman dari suaminya.
"Pacarmu hanya orang miskin yang serba kekurangan. Berbeda denganku, matamu saat ini sedang tertutup. Lama kelamaan kamu akan menjadi cerdas seperti dulu..." Dwiguna ingin mencium pipi Fujiko tapi dengan cepat Raka mendorong istrinya, menggantikan posisi Fujiko. Hingga pada akhirnya ciuman mendarat salah sasaran.
Dwiguna mencium pipi musuh bebuyutannya, Raka.
"Aku merasa dilecehkan..." Raka berucap dengan nada datar. Dengan cepat juga Dwiguna mendorongnya, mengusap-usap bibirnya yang mendarat di pipi Raka.
"Aku akan membuat perhitungan!" bentak Dwiguna.
Sedangkan Raka menggerakkan tangannya, memberi isyarat pada Fujiko untuk mundur. Masuk kedalam kerumunan para tamu.
Pertengkaran mempelai pria dengan seorang tamu menjadi pusat perhatian semua orang. Raka tersenyum, para wartawan ada disini. Apa yang dilakukannya? Foto-foto dirinya dan Nadila pada layar berganti dengan bukti-bukti kejahatan Dwiguna.
Apa Dwiguna orang baik? Terjebak pergaulan bebas dan tanpa didikan membuat pemuda dari kalangan atas itu seringkali berbuat seenaknya.
Raka merogoh sakunya meraih mikrofon, suaranya terdengar di seluruh penjuru ruangan. Wajah pemuda itu tersenyum, saingan bisnisnya yang selalu menggunakan banyak cara licik untuk menjatuhkan lawan.
Dirinya bukan penegak kebenaran dan keadilan seperti Batman. Hanya pengusaha kikir biasa yang mencari keuntungan. Memukul mati kecoa pengganggu yang beberapa kali hampir mematikan usahanya.
Beberapa wartawan segera mengambilnya gambar bukti-bukti yang tertera, termasuk kecelakaan 10 tahun lalu dengan belasan korban tewas. Semuanya dikumpulkan secara detail seminggu ini. Hampir semuanya kurang tidur karenanya menggunakan seluruh relasinya untuk mencari bukti dan keterangan.
Apa yang dilakukan mereka seminggu ini? Adinda meminta informasi dari rekannya sesama sosialita, Patra bahkan membayar beberapa detektif, Raka meminta kenalannya sesama pengusaha yang sama kikirnya, pengusaha yang sering memakai kostum aneh, memiliki istri dengan usia jauh lebih tua.
Lalu apa yang dilakukan Fujiko? Tentu saja wanita yang memiliki banyak mantan itu, meminta tolong pada mantannya yang berprofesi sebagai anggota kepolisian.
"Maaf sudah membuat keributan, aku hanya ingin memberikan hadiah pada temanku. Kasus-kasus ini akan aku laporkan, prostitusi, penjualan obat-obatan terlarang, pembunuhan, bahkan kecelakaan mobil yang katanya dilakukan oleh supir tuan muda ini ..." seringai jahat terlihat di wajah Raka. Bersamaan dengan sekitar 8 orang anggota kepolisian yang bersembunyi, keluar dari tempat persembunyiannya, mengacungkan senjata pada Dwiguna dan pengawalnya.
__ADS_1