
Beberapa petugas kepolisian keluar dari tempat persembunyiannya. Mengacungkan senjata hendak menangkap Dwiguna. Namun, pemuda itu hanya tersenyum tenang.
Dor!
Dor!
Dor!
Suara tembakan terdengar dengan peluru menembus jantung beberapa petugas kepolisian. Tamu undangan mulai panik, acara resepsi pernikahan yang hancur.
Salah seorang pengawal bergerak dengan cepat menodongkan senjatanya pada kepala Nadila.
"Beri aku jalan untuk pergi, maka pengantin wanitamu akan selamat." Kalimat dari mulut Dwiguna dengan seringai penuh senyuman.
Raka menghela napas kasar."Beri dia jalan..." perintahnya. Dirinya memang salah langkah, hanya dua orang pengawal? Tentu tidak, Dwiguna memiliki tim penembak jitu yang selalu melindunginya.
Wajah pemuda itu tersenyum. Berjalan dengan seorang pengawal membawa Nadila sebagai sanderanya.
Hingga sampai ke pintu utama ballroom. Sedikit menoleh ke arah Raka."Dor! Satu persatu anggota keluargamu akan mati..." senyuman menyeringai terlihat di wajah Dwiguna.
Bug!
Pintu ballroom tertutup, bersamaan juga dengan dimulainya terdengar suara tembakan.
Dor!
Dor!
Dor!
Diiringi dengan suara teriakan orang-orang yang ada di dalam sana. Seperti biasanya, seringai kemenangan yang begitu indah menghiasi wajah Dwiguna. Setelah ini tinggal di luar negeri dengan identitas baru, cara kabur yang mudah bukan?
Nadila masih tertunduk diam, dengan tubuh di seret, kepalanya ditodong menggunakan senjata api. mengikuti langkah Dwiguna yang entah akan membawanya kemana.
"Pada akhirnya Pramana dan keluarganya lenyap juga..." gumamnya merasa sudah berhasil menyingkirkan saingan bisnisnya.
Hingga pada akhirnya mobil melaju menuju pelabuhan. Menaiki kapal Ferry menuju pulau kecil kosong mungkin hanya mercusuar yang berdiri di sana.
Pegangan tangga yang berkarat terlihat di sana. Mungkin mercusuar yang sudah lama tidak dihuni. Namun anehnya ada landasan helikopter di sana.
Dwiguna duduk diam, menunggu helikopter yang akan menjemputnya menuju perbatasan negara lain. Matanya sedikit melirik ke arah Nadila yang masih diam tertunduk.
__ADS_1
Perlahan berjalan mendekatinya."Tidak disangka kamu wanita yang dicintai Raka. Standarnya lumayan rendah..." cibirnya, menyentuh dagu Nadila."Sayangnya kamu harus mati hari in..."
Cipratan darah menembus punggungnya dari bagian perut. Dwiguna membulatkan matanya, suara helikopter dan deru mesin dari beberapa speed boat terdengar.
"Mati? Kamu yang harus mati, karena aku hanya umpan..." Nadila tersenyum dengan tangan masih memegang senjata api.
Pemuda itu menunduk, menatap ke arah senjata api yang telah berhasil mengoyak dagingnya.
Suara tembakan juga terdengar dari luar sana, tempat tersebut telah dikepung petugas kepolisian.
"Wanita br*ngsek!" geram Dwiguna. Bersamaan dengan pengawalnya yang menembak Nadila beberapa kali.
Benar, wanita itu menyimpan alat pelacak di tubuhnya. Selalu berdiri di dekat Dwiguna dan pengawalnya. Berjaga-jaga jika rencana gagal dan mereka dapat melarikan diri, maka sandra terdekat yang dapat dimanfaatkan adalah dirinya. Wanita haus darah yang mencari kesempatan untuk membunuh Dwiguna.
Mulut Nadila mengeluarkan darah akibat tembakan bertubi-tubi yang mengenai tubuhnya. Anehnya wajah itu tersenyum, tidak menyalahkan Tuhan lagi. Kala menatap wajah pucat Dwiguna yang sepertinya mengeluarkan banyak darah segar dari satu tembakan jarak dekat pada bagian perutnya.
Pria angkuh yang memaki para korban yang ditabraknya itu kini terlihat gemetar. Kata-kata anj*ng, gelandangan, si*lan, penghalang jalan yang merusak mobilku, semuanya masih diingat oleh Nadila. Termasuk tubuh kekasihnya yang berlumuran darah segar, dengan mata terbuka, dan kaki terlepas.
Kini dirinya baru dapat merasa Tuhan itu adil. Pada akhirnya, bagaimana pun jalannya, yang salah harus dihukum, termasuk dirinya yang berlumuran berjuta dosa.
Tidak ada yang tersisa, kala derai hujan menerpa kelopak bunga dandelion yang entah kenapa dapat terjatuh di hadapannya. Apa bunga kecil itu tumbuh di pulau ini? Bunga kecil yang kini tidak dapat terbang lagi, bagaikan jemari tangan pemuda yang dicintainya meraihnya.
Bug!
Tubuh berlumuran darah itu terjatuh. Terbatuk-batuk dengan darah segar yang keluar.
Brug!
Bug!
Tubuh yang ditendang oleh orang-orang Dwiguna. Yang merasa dijebak oleh Nadila. Tatapan matanya kosong, terdiam tanpa nyawa. Aliran darah di tubuhnya menggapai bunga dandelion kecil, berpadu menjadi satu.
"Maaf tidak dapat menepati permintaan terakhir mu. Aku tidak dapat hidup dengan bahagia dan pura-pura baik-baik saja. Aku tidak dapat menutup mataku saat terukir jelas di memoriku tentang kematianmu. Aku tidak dapat menjadi ibu yang baik untuk anak kita. Percayalah hal yang aku lakukan, karena tidak ingin anak kita tumbuh sepertiku. Aku mencintaimu..." batinnya di sisa napas terakhir dengan mata yang masih terbuka.
Sedangkan Raka kini ada di atas salah satu speed boat. Menghela napas kasar, merutuki segalanya. Mengapa Nadila lebih memilih menjadi umpan? Mengapa Dwiguna tidak memilih menyerah, malah memilih melarikan diri dari kejaran polisi.
Sepasang suami-istri yang ada dalam satu speed boat, menatap helikopter milik kepolisian, serta beberapa speed boat milik kepolisian telah mengepung mercusuar.
"Aku kasihan padanya. Seharusnya aku tidak berbuat buruk padanya." Gumam Fujiko, menatap langit mendung dengan rintikan hujan yang mulai turun.
"Ini pilihannya. Setiap manusia memiliki pilihan dalam hidupnya." Ucap Raka mengelus rambut istrinya.
__ADS_1
"Jika itu terjadi padaku dan kamu yang mati. Aku akan menikah dengan orang kaya lainnya..." Kata-kata yang keluar dari mulut sang istri penuh senyuman.
"Matre..." Raka menoleh ke arah lain, terlihat raut wajah merajuk darinya.
Namun Fujiko tiba-tiba memeluknya."Bercanda! Jika aku mengalami hal seperti yang Nadila alami, aku akan menjadi ibu yang buruk, mendoktrin anakku untuk membalas dendam bersamaku ketika dia dewasa nanti."
"Tidak ada yang akan berakhir indah dalam dendam. Kalah menjadi abu, menang menjadi arang." Kalimat yang keluar dari mulut Raka. Tersenyum menatap wanita yang mencintainya dengan tulus.
"Ingat ini! Cintai dirimu! Tebarkan kasih sayang pada orang lain! Maka Tuhan akan mencintaimu." Satu-satunya kalimat bijak yang keluar dari mulut Raka.
*
Dwiguna melangkah tertatih, berusaha berjalan menaiki tangga mercusuar yang telah berkarat. Kekayaan, kekuasaan, wajah rupawan semuanya telah dimiliki olehnya. Bagaimana bisa dirinya di kalahkan oleh seorang selebriti lemah?
Tapi wanita s*alan itu sudah tidak bernapas. Dirinya memang! Tidak kalah oleh seorang wanita.
Memuntahkan darah, berusaha menaiki tangga dibantu dua orang pengawalnya, berharap helikopter yang dikirimkan ayahnya segera sampai untuk menjemputnya. Maka semua akan baik-baik saja.
Tidak pernah mencintai dia sendiri? Atau menebar kasih sayang pada orang lain? Itulah yang dilakukannya. Langkahnya menaiki tangga begitu berat, bagaikan kakinya ditarik oleh tangan-tangan berlumuran darah dari korban-korban yang ditabraknya.
"Ini hanya halusinasiku saja..." batinnya, masih dipapah seorang pengawal. Sementara satu pengawal lainnya tengah beradu tembak dengan petugas kepolisian yang mulai memasuki area mercusuar.
"Aku tidak pernah berbuat kesalahan apapun." Gumamnya tersenyum bagaikan tanpa dosa menatap sinar dari bagian atas mercusuar.
Dor!
Satu tembakan melumpuhkan orang yang memapahnya hingga dirinya kini sendiri. Menatap ke arah langit yang mendung.
Tatapan mata yang kosong, benar-benar aneh. Tubuhnya bagaikan bergerak sendiri, apa ini pengaruh narkotika yang sedikit dikonsumsinya beberapa menit lalu?
Entahlah!
"Aku tidak ingin mati! Hentikan!" Batinnya menjerit kala tidak dapat mengendalikan tubuhnya. Terhuyung menjatuhkan diri dari mercusuar.
Setiap perbuatan akan mendapatkan balasannya. Karena Tuhan itu ada, hanya perlu bersabar dan menunggunya memberikan kasih sayang atau penghukuman...
Note:
Cerita ini tamat sampai disini. Tapi akan ada bonus chapter. Tentang hal yang terjadi di ballroom dan bagaimana Imanuel meminta restu orang tuanya. Kalau aku tidak kelelahan update besok. Tentang Valentino, aku akan menulisnya dalam novel baru, sedikit bocoran. Ibu angkatnya meninggal, ayah angkatnya selama ini berselingkuh dan memiliki anak hasil perselingkuhannya. Anak laki-laki yang seusia dengan Valentino.
Saat itulah Valentino terusir, hidup seperti orang biasa. Jovi? Kakeknya tinggal di luar negeri, karena merasa kehidupan cucunya sudah bahagia. Mengumpulkan uang untuk diwariskan pada Valentino nanti, tapi saat Jovi kembali dan mengetahui segalanya.... Just info 🍀🍀🍀🍀
__ADS_1