
Hari sudah mulai siang, Fujiko membuka matanya. Merasakan bantal guling yang tidak begitu empuk. Menonggakkan kepalanya, Raka tengah tertidur memeluk dirinya.
Kamar Raka sudah kosong, ketiga muda-mudi itu mungkin sudah kembali ke kamar masing-masing. Perlahan Fujiko kembali menutup matanya. Lagipula ini hari minggu tidak ada yang perlu dicemaskannya.
Hingga suara gedoran pintu yang cukup kencang terdengar."Siapa?" teriak Fujiko masih memejamkan mata memeluk Raka.
"Fumiko! Br*ngsek! Kamu pacaran dengan orang miskin ya?!" sang kakak kedua menggedor pintu lebih kencang. Terdengar benar-benar murka.
Fujiko segera bangkit dari tempat tidur, bersamaan dengan Raka yang juga terbangun."Siapa yang ribut-ribut?" tanya Raka.
"Kakakku! Coba lihat tanda di leherku sudah hilang belum?" tanya Fujiko.
"Adik tidak berbakti! Keluar! Berapa kali kamu melakukan dengannya! Br*ngsek!" suara bentakan dari Fumiko terdengar lebih kencang lagi.
"Sudah menghilang," Raka memperhatikan leher Fujiko."Kenapa? Mau aku buat lagi?" tanyanya mencium leher sang gadis.
"Tidak! Kakakku akan mengamuk!" Fujiko terlihat benar-benar cemas saat ini. Turun dari tempat tidur dengan cepat, diikuti oleh Raka yang berjalan sambil menguap beberapa kali, menggaruk p*ntatnya sendiri.
Pintu mulai mereka buka. Dua orang yang tersenyum menampakan gigi putih berornamen sisa makanan kemarin.
Fumiko mengepalkan tangannya. Benar-benar adik yang tidak mendengarkan kata-kata kakaknya."Kamu hamil? Bulan ini datang bulan atau tidak?" tanyanya.
"Aku masih perawan! Mau aku bawakan hasil testnya! Orang ini hanya temanku," ucap Fujiko.
Fumiko menghela napas lega."Jadi hanya teman?" tanyanya menyakinkan.
Dua orang itu mengangguk terlihat lugu. Hingga Ragil tiba-tiba lewat dalam keadaan wajah yang pucat. Baru terbangun dari tidurnya."Teman tapi berbagi sabun, berbagi parfum, berbagi skin care. Berciuman, berpelukan, saling melindungi, bahkan membuat tanda kepemilikan. Benar-benar sahabat karib," celetuknya.
Kalimat yang sukses membuat Fumiko mengepalkan tangannya. Aura kemarahan jelas-jelas terlihat.
"Fujiko! Kamu sudah gila!? Kalau kamu hamil bagaimana?! Seharusnya aku saja yang mencarikanmu pacar! Jika ingin berhubungan di luar nikah fikirkan baik-baik! Setidaknya gajinya harus diatas 5 juta per bulan dan memiliki jaminan kenaikan gaji!" Kata-kata dari sang kakak materialistis. Dirinya hanya ingin adiknya bahagia tidak kekurangan materi sedikitpun. Ingat ini bukan untuk kepentingan pribadinya, karena Fumiko sendiri telah memiliki kekasih seorang bujang lapuk, berkepala botak, namun setia dan baik hati.
"Gajiku, sebenarnya---" Kata-kata Raka dipotong.
__ADS_1
"Meskipun pendapatannya di bawah dua juta per bulan tapi dia kikir! Selain itu kami murni hanya teman! Sudah aku bilang! Mau aku perlihatkan hasil tes keperawanan!?" bentak Fujiko pada kakaknya.
"Tidak perlu! Tapi aku harap kalian menjaga jarak." Fumiko menghela napas kasar, menarik tangan adiknya ke kamar milik Fujiko yang ada di sebelah kamar Raka.
Pintu ditutup oleh sang kakak, membawa beberapa kotak makanan pada adiknya. Kemudian duduk di tepi tempat tidur.
Fujiko membuka paperbag yang diberikan Fumiko, terlihat sekotak coklat mewah, serta kue kering dan minuman kesehatan.
"Itu pemberian pacarku. Satu tahun ini kamu tidak cuti. Bisa ambil cuti untuk tiga hari saja? Ayah ingin bertemu denganmu, sekalian menghadiri acara pertunanganku." Ucap Fumiko menghela napas kasar.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu terdengar, Fujiko berjalan cepat membukanya."Boleh aku pinjam kamar mandi? Sabunku habis." tanya Raka.
"Masuk!" ucap gadis itu memberi jalan. Raka segera masuk menatap ke arah Fumiko, wajah pemuda itu tersenyum. Namun respon Fumiko berbeda.
*
Fumiko menghela napas kasar, mengambil toples kacang dari atas meja belajar milik adiknya. Tingkat kecantikan sang kakak? Mungkin dapat dikatakan sama dengan adiknya. Di perumahan tempat mereka tinggal, sering disebut sebagai empat peri bersaudara.
"Ingat! Jaga batasanmu! Jangan cari pacar disini. Jika ingin cari pacar datang ke toko pakaian bermerek, showroom mobil, atau cafe dengan harga menu yang tinggi." Tegas sang kakak pada adiknya.
"Iya, aku bilang hanya teman." Fujiko menghela napas kasar, membuka coklat oleh-oleh dari kakaknya.
"Sebenarnya aku berencana ingin mengenalkanmu dengan beberapa pria kaya di acara pertunanganku. Ingat jika punya pasangan dengan gaji rendah kamu harus membantu menutupi kebutuhan rumah tangga. Ditambah lagi jika keluarga suami menuntut uang gaji suamimu. Mungkin kamu hanya akan jadi mesin pencetak anak, pembantu, sekaligus dianggap sebagai benalu." Saran tegas dari Fumiko.
"Aku mengerti! Seorang pacar! Suami kaya! Tapi aku juga harus bekerja walaupun memiliki gaji kecil, agar tidak direndahkan!" Fujiko menegaskan prinsip empat peri cantik.
"Iya! Ingat! Walaupun jelek, berprilaku aneh yang terpenting kaya dan sayang padamu," semangat dari sang Kakak.
__ADS_1
"Omong-ngomong kapan kakak bertunangan?" tanya Fujiko.
"Besok malam, tema pesta topeng. Tempat di Paris Hotel, nanti kita ke salon yang sama saat berdandan. Menginaplah tiga hari di rumah setelahnya. Ayah benar-benar merindukanmu," Fumiko tersenyum, mengacak-acak rambut adiknya.
Persetan orang-orang menyebut mereka berempat materialistis. Karena itu memang kenyataannya. Masa depan mereka yang tentukan, apa salahnya pemilih? Cinta dapat tumbuh seiring waktu. Seperti dirinya dan kekasihnya saat ini.
Sementara Raka terdiam sejenak. Tidak dapat menerima sama sekali. Fujiko akan berselingkuh?
Tunggu dulu, mereka hanya teman. Apa maksudnya dengan Fujiko berselingkuh?
Raka meraih phonecell di celana pendeknya. Menghubungi orang kepercayaannya."Danu, aku akan mengirim uang padamu. Belikan aku setelan tuxedo dan topeng,"
"Topeng apa? Yang mahal apa yang murah? Topeng Ultraman yang dijual 15.000 di jalan?" tanya Danu dari seberang sana mengetahui sifat pelit majikannya.
Raka menghela napas kasar."Tuxedo dan topeng dari desainer khusus. Usahakan yang akan membuat wanita materialistis menempel!" tegasnya.
"Akhirnya kamu waras!" ucap Danu di seberang sana terdengar terharu.
"Pesan dari butik milik ibu, minta diskon, untuk anak pemilik butik." Kelanjutan dari kata-kata Raka.
Seketika Danu mengenyitkan keningnya."Sekali terkena syndrom pelit, tidak akan bisa lepas. Entah apa yang dapat melepaskannya dari syndrom pelit," batinnya.
"Iya, cepat kirimkan uangnya, nanti aku kirim balik nota pembayarannya. Aku sedang sibuk." Ucap Danu mematikan panggilannya.
Pemuda yang menghela napas menyaksikan hujan yang turun berteduh di toko yang sedang tutup. Matanya menelisik, menatap orang-orang yang berlalu dengan pasangan mereka masing-masing. Berusaha tersenyum, di usianya yang sudah tidak lagi muda dirinya harus ditinggalkan seorang diri. Hanya ada anak dan ibunya, menatap ke arah langit entah kapan hujan akan reda.
Setengah lebih dari kerja kerasnya telah dibawa oleh mantan istrinya, sebagai syarat perebutan hak asuh. Kini pemuda itu hanya memiliki rumah sederhana dan mobil yang dibelikan Raka. Tidak akan membuka hatinya lagi, hanya fokus menyambung dan merawat putranya.
Segalanya masih diingat olehnya, berusaha tersenyum. Istri yang berselingkuh dengan pria kaya, meminta setengah lebih aset miliknya, sebagai harta gono-gini. Sudah 5 tahun, bahkan sang istri tidak menjenguk putra mereka."Ibu yang kejam, menjual anaknya sendiri," gumamnya.
Tidak ada wanita yang tidak materialistis itulah yang ada di benaknya hingga memutuskan untuk menutup hati.
Seorang wanita melewatinya memakai payung biru. Sedikit melirik ke arah perwakilan investor tempatnya kemarin bekerja.
__ADS_1
"Orang gila!" batinnya menatap ke arah Danu. Membawa dua kotak makanan untuk dirinya dan Nolan. Saat itu Tita belum mengerti rasanya dicampakkan dan ditinggalkan. Merasa termenung melihat hujan yang turun merupakan hal yang konyol.