
Raka lebih banyak bekerja di ruang baca. Sedangkan Danu selalu datang membawa berkas untuknya. Cukup sibuk, sama seperti dulu, sesuatu yang tidak disadari Fujiko ketika dirinya berangkat bekerja, saat status merasa masih sebagai sahabat.
Wanita yang melangkah hendak berkemas, tidak begitu banyak orang yang ada di rumah. Hanya Adinda, Nadila dan para pelayan. selebihnya Heru dan Pramana mengurus perusahaan. Sedangkan Tiara pergi mengurus restauran miliknya.
"Kamu akan pergi?" tanya Nadila berdiri di ambang pintu.
Fujiko mengangguk kemudian tersenyum."Aku memang tidak berencana untuk tinggal. Tapi jika kamu merindukanku, aku akan sering berkunjung, menjenguk keponakanku tersayang."
"Jika tidak sempat datang juga tidak apa-apa." Nadila berusaha tersenyum ramah. Walau bagaimanapun salah satu kunci untuk mengendalikan perasaan Raka adalah wanita ini.
Wanita yang menghela napas kasar mendekat ke arah Fujiko."Apa kamu menyukaiku sebagai saudaramu?"
"Tentu saja," dustanya ingin rasanya mencabik-cabik orang yang ingin merebut suaminya.
"Kalau begitu, jika ada wanita yang mendekati Raka. Tolong laporkan padaku, aku tau ini aneh. Tapi Raka belum mencintaiku, mungkin karena dari awal aku adalah tunangan sepupunya. Tapi tetap saja, walaupun berawal dari rasa kasihan, aku tetap menginginkan dirinya. Aku benar-benar egois..." Kata-kata dari mulut Nadila, menitikkan air matanya.
Sedangkan Fujiko mengenyitkan keningnya. Taukah kalian butterfly efect? Kesalahan langkah kecil dapat membuat perbedaan besar. Sebagai contoh ada seorang tentara yang memiliki kesempatan membunuh Adolf Hitler, kala pemimpin Nazi itu masih menjadi sedadu. Tapi karena rasa kasihan dirinya melepaskan Adolf Hitler, setelahnya perang dunia kedua terjadi, menewaskan banyak korban.
Seperti efek kepakan sayap kupu-kupu, perbedaan tekanan udara kecil dapat menyebabkan badai di belahan dunia lain. Karena itulah tidak ada belas kasih darinya atau rasa iba.
Wanita cantik itu memeluk tubuh Nadila. Kemudian menepuk punggungnya pelan."Tenanglah aku akan menjaga Raka dari wanita murahan yang mengejarnya."
Kata-kata politik penuh diplomatik. Wanita murahan? Bukankah Nadila termasuk salah satu diantaranya.
"Terimakasih..." Hanya itulah jawaban dari Nadila, diam-diam tersenyum di belakang Fujiko.
"Fujiko kamu sudah mau pergi?" suara seseorang terdengar. Adinda berdiri di sana membawa sebuah paperbag besar.
"Iya, bibi, aku tidak ingin menyusahkan." Fujitsu tersenyum melepaskan pelukan Nadila, beralih memeluk Adinda.
"Jaga diri bibi ya? Jangan makan sembarangan." Nasehat darinya.
__ADS_1
"Jaga kesehatan! Hati-hati mengkonsumsi makanan dari Nadila mungkin saja beracun." Itulah yang sejatinya ada dalam fikiran Fujiko. Kata-kata yang tidak dapat diucapkan olehnya.
"Iya, kamu juga. Periksa keadaan sekitar tempat kost. Mungkin ada orang jahat." Nasehat dari sang mertua.
"Berhati-hatilah, mungkin Nadila akan mengirim orang-orangnya untuk melukaimu atau mungkin melecehkanmu." Batin Adinda.
Dua orang wanita yang bagaikan memiliki telepati. Menasehati dan memberi saran tanpa mengucapkan. Hanya menghela napas kasar, kemudian tersenyum.
Menyelidiki menghilangnya Patra, Imanuel dan Barbara adalah tujuan mereka. Sebuah benang tipis yang terikat pada Nadila. Tidak memiliki bukti, tapi tidak ada yang meminta tebusan setelah ketiga orang itu menghilang.
Karena itulah, menahan Nadila menjadi tujuan mereka. Tidak ingin gegabah, tidak ingin kehilangan Patra dalam kejadian ini.
"Sudah berpamitan?" tanya Raka penuh senyuman.
"Sudah! Kak Raka, boleh aku minta sosis bakar nanti?" tanya Fujiko, nyengir bagaikan kuda.
"Boleh, kita makan bersama malam ini. Juga berkeliling di sekitar area tempat tinggalmu nanti. Agar kamu lebih mengenal area sekitar." Jawaban dari Raka, mencubit pipi Fujiko.
"Tapi Raka, nanti malam kita akan pergi ke restauran Itali yang baru buka. Aku ingin membahasnya di blog-ku." Pinta Nadila penuh harap.
"Sudah aku duga kamu akan selalu iri. Mereka itu saudara jauh! Kamu tega melihat Fujiko yang tidak mengetahui lingkungan barunya tersesat!? Lagipula restaurant Itali? Aku punya dua restaurant yang aku kelola sendiri! Kamu malah ingin meliput restaurant milik orang lain yang baru buka. Mau ditaruh dimana mukaku! Aku muak mengetahui ada menantu durhaka sepertimu! Ingin merugikan bisnis mertuanya sendiri!" bentak Adinda tiba-tiba. Meraih sebuah gelas kemudian memecahkannya ke lantai.
Untuk pertama kalinya sang ibu bertindak kasar. Tentu saja untuk melindungi keluarganya.
Semua orang tertegun, termasuk kepala pelayan yang melihat dari jauh. Keributan yang sengaja Adinda ciptakan.
"Kamu! Apa tujuanmu masuk ke keluarga ini? Aku calon ibu mertuamu! Tapi setiap hari kamu dengan sengaja merekomendasikan restaurant milik saingan bisnisku. Kamu ingin bisnisku hancur!" bentak sang calon ibu mertua kejam.
"Bu...bukan begitu. Raka kamu pasti mengerti kan? Blogger memang harus mencari rekomendasi restaurant berbeda?" ucap Nadila, berharap mendapatkan pembelaan.
"Ibu, semua orang dapat berbuat kesalahan." Kata-kata cerah bagaikan malaikat dari mulut Raka.
__ADS_1
"Iya, bibi jaga kesehatan ya? Meskipun pengikutku di sosial media tidak banyak. Tapi aku akan merekomendasikan restaurant milik bibi..." Fujiko bergelayut manja, mengetahui tujuan mertuanya.
"Kamu memang anak baik. Seharusnya kamu yang memiliki status lebih tinggi. Tapi sayangnya kamu hanya keluarga jauh bibi. Tidak ada yang bisa bibi berikan padamu. Maaf..." Kata-kata dari mulut Adinda, sedikit melirik ke arah CCTV hidup yang ada di tangga, menguping segalanya.
Dialah kepala pelayan yang usianya sudah hampir 60 tahun. Pria yang terlihat mengambil phonecellnya menghubungi seseorang. Tentu saja Pramana, guna melaporkan semua hal yang terjadi di rumah ini.
Satunya wanita yang dibesarkan oleh tiga orang kakak materialistis, satunya lagi mertua yang sudah menelan asam pahit manis kehidupan. Seringai licik yang mereka miliki, tidak ada yang akan tenang jika berhadapan dengan mereka.
"Aku tidak bermaksud begitu. Lain kali aku akan mereview restaurant bibi." Ucap Nadila, bingung tidak mengerti.
"Tidak perlu! Cukup Fujiko saja." Adinda tersenyum, mengusap rambut Fujiko.
Nadila menghela napas kasar, dirinya merasa terasingkan untuk pertama kalinya. Raka adalah calon suaminya bukan? Mudah didekati tapi juga sulit. Begitu juga dengan Adinda, mungkin Adinda harus lenyap bersama Patra.
Dirinya benar-benar membenci calon mertua dan wanita yang bagikan adik ipar benalu. Adik ipar yang menarik perhatian semua orang. Berpura-pura menjadi orang baik.
Tapi cepat atau lambat Fujiko akan mati karena digerogoti oleh penyakitnya. Tapi jika tidak mati-mati juga, setelah dirinya menikah dengan Raka tinggal suntik mati.
Wajah Nadila tersenyum tapi jemari tangannya mengepal.
Sedangkan Raka terdiam, segera mendekat ke arah Nadila."Kamu harus beradaptasi pelan-pelan dengan keluargaku," senyuman ramah terlihat di wajahnya.
Pemuda yang bahkan pernah menembak mati seorang penculik di usia muda. Bagaimana sisi lain Raka sebenarnya? Mungkin dalam hatinya bagaikan tersimpan sebuah kotak, untuk menghabisi orang-orang yang dibencinya. Bersembunyi di balik wajah malaikat, dengan senyuman tenang.
*
Sedangkan di tempat lain, tiga orang yang menghela napas kasar. Dua kamar di lantai satu masih kosong hingga saat ini. Tidak dipungkiri mereka merindukan pertengkaran pasangan kumpul kebo berkedok teman.
"Kapan Raka pulang?" tanya Evi.
"Mungkin akan tinggal di Singapura. Atau mungkin saja dia berselingkuh. Kemudian mereka bercerai, Fujiko menjadi wanita sukses sementara Raka bangkrut." Cahaya berucap dengan nada yang polos, sembari memakan keripik singkong.
__ADS_1
"Aku janji tidak akan selingkuh setelah memilikimu," celetuk Ragil tiba-tiba pada Cahaya. Membuat kedua orang wanita itu ingin muntah.