Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Just Dream


__ADS_3

"Aku mencintainya karena dia kaya, baik dan mapan," Kata-kata dari Reina membuat Imanuel tertegun.


"Ta...tapi dia hanya seorang asisten dari investor!" ucap papa tidak terima, jika mama menikah dengan pria lain.


Reina mengangguk."Kamu bilang sebagai janda buluk aku tidak seharusnya pilih-pilih kan? Dengar kami saling mencintai."


"Sayang," seorang pria yang wajahnya menyerupai boyband Asia timur terlihat, mengecup bibir Reina sekilas.


"Papa!" Egie berlari memeluk pria lain memanggilnya papa.


"E... Egie, aku papamu," Imanuel terbata-bata hampir menangis rasanya.


"Mama dan papa harus saling sayang, papa tidak sayang mama Egie. Tapi papa yang ini sayang mama Egie. Jadi papa Egie bukan paman Imanuel." Jawaban polos darinya.


Runtuh sudah dunianya istrinya berselingkuh, anaknya lebih menyukai pria lain. Tapi tunggu dulu mereka bukannya hanya pengontrak dan tuan rumah?


"Egie!" Jerit Imanuel dengan keringat mengucur deras. Benar, pemuda itu baru terbangun dari mimpinya. Itu hanyalah mimpi, dirinya tidak memiliki hubungan apapun dengan janda gatal.


Tapi malah membuatnya semakin cemas. Dengan cepat dirinya membersihkan diri, mencari mama. Maaf salah, mencari janda genit yang menggoda setiap pria.


Dengan cepat mengganti pakaiannya, tentu saja setelah bercukur. Pemuda dengan wajah putih bersih bahkan membuat wanita iri dengan kulitnya. Bagaimana tidak, keluarga konglomerat.


Matanya menelisik menatap ke arah Reina yang tengah sarapan. Wanita itu terlihat berbeda hari ini menghela napas berkali-kali seperti memendam beban.


"Ayo berangkat! Aku yang antar!" ucap Imanuel melirik ke arah jam.


"Iya," Reina bangkit entah apa yang ada di fikirannya.


Motor mulai melaju, menembus kebun pisang yang katanya sering ada Wewegombel terlihat disana. Tapi sayangnya dua orang itu tidak peduli. Reina menonggakkan kepalanya. Dirinya sudah mendengar semuanya, bahkan Lukman sendiri yang menemui putranya di rumah tetangga.


Anak pak lurah yang putus dengannya karena mengenyam pendidikan di kota. Kembali dengan status yang lebih mapan, bahkan sekarang menjadi PNS. Semua orang sudah membicarakannya, ada saatnya juga mereka tidak sengaja bertemu di warung pagi hari.

__ADS_1


Hanya berbincang, tapi mungkin tanggapan pemuda itu berbeda hingga menyebarkan desas-desus ingin melamarnya. Tapi apa benar? Entahlah.


Desas-desus yang beredar tiga hari lagi Lukman akan datang bersama pak Lurah yang notabene adalah ayahnya. Memiliki menantu janda? Mungkin pak Lurah akan memaklumi dirinya yang membawa Egie. Tapi membawa mantan ibu mertuanya? Jujur dirinya bingung saat ini, bagaimana caranya menolak lamaran Lukman, anak ke tiga pak Lurah tersebut.


"Aku galau..." gumamnya dilema.


"Galau?" Imanuel yang tengah mengemudikan motor tertawa kecil.


"Seharusnya jika dengan perwakilan investor semua akan lebih mudah. Janda bertemu duda, membawa dan dapat menafkahi keluarga masing-masing." Reina dengan khayalan tingkat tinggi. Berimajinasi jika Danu berjodoh dengan dirinya. Dirinya tidak ingin muluk-muluk hanya memerlukan pria dengan pemikiran yang lebih dewasa.


Tapi sayangnya papa tidak dewasa sama sekali. Komat-kamit pemuda itu menyumpahi pria yang katanya disukai mama di dalam hati."Semoga duda br*ngsek itu bertemu anak bau kencur!" kutukan darinya.


"Anak bau kencur? Kamu menyumpahi calon suami masa depanku?" geram Reina, mengalihkan pandangannya malas berdebat dengan papa.


Hingga motor pada akhirnya berhenti. Fujiko terlihat di sana, seperti biasanya Imanuel merapikan penampilannya. Benar-benar pria yang hanya memandang fisik.


"Kamu menyukai Fujiko?" tanya Reina pada Imanuel. Dengan cepat Imanuel mengangguk. Wanita yang menatapnya tersenyum ikhlas, apa yang diharapkan dari anak konglomerat? Dirinya akan mengenalnya sebagai orang yang mengontrak kamar. Hanya bagian dari masa lalu yang terlupakan.


Sudah saatnya Reina kembali ke dunia realistis. Perkenalannya dengan Imanuel hanya berdasar rasa kagum saja. Mungkin saat menikah nanti, dirinya dapat kembali menemukan tulang punggung seperti Rian yang mencintainya. Ingat, bukan pemuda ini.


"Saran dariku, cari yang masih gadis. Fujiko sudah menikah, anak Bu Erni yang baru lulus SMU lumayan cantik." Ucap sang janda gatal, wanita yang melenggang masuk membawa dua kotak bekal.


"Pak Danu!" ucapnya tiba-tiba, membuat Imanuel menoleh, nama yang dikenal olehnya. Asisten Raka, sang duda beranak satu, yang begitu bodoh hingga demi mempertahankan buah hatinya memberikan hampir seluruh asetnya pada mantan istrinya.


Dengan cepat Imanuel menyalakan mesin motornya. Mengapa Danu bisa ada di tempat ini? Apa pabrik ini merupakan salah satu tempat sepupunya berinvestasi? Entahlah, tapi fikirannya kacau saat ini, memikirkan janda gatal dan duda yang bucinnya bukan main.


Hingga pada akhirnya dirinya memarkirkan motornya setelah melewati area jalan yang membelah kebun pisang angker. Baru saja memasuki pekarangan rumah, entah kurang Aqua atau konsentrasinya yang terpecah karena satu alasan papa tidak cemburu, hanya memikirkan masa depan mama, membuat hati papa menjadi sakit.


Brak!


Pemuda itu terjatuh, Egie tidak sengaja menumpahkan air saat bermain pistol air di tangga.

__ADS_1


"Aggh!!" teriaknya tidak bisa bangkit.


"Papa kenapa!? Nenek! Papa jatuh!" teriak Egie, hingga Lastri datang dan memapahnya yang kesulitan berjalan.


*


Tidak seperti di kota, dimana pengobatan langsung ke rumah sakit. Dirinya menjerit berkali kala kakinya dipijit. Berteriak lebih heboh daripada wanita melahirkan. Kita maklumi saja, anak konglomerat yang diurut untuk pertama kalinya.


Dirinya dilarang banyak bergerak, bahkan mandi pun kesulitan. Saat itulah Reina pulang, kala hari menjelang sore. Dirinya sudah diceritakan segalanya oleh sang ibu mertua.


"Aku yang harus mengurusmu? Menyusahkan!" gerutu Reina, membawa makanan dan minuman.


"Mau bagaimana lagi. Dengar! Pelayan di rumahku bahkan lebih cantik darimu..Janda buluk." Kata-kata menusuk tidak berdarah dari Imanuel.


Wanita yang mendekat, menyodorkan piring padanya. Tidak ada keluhan atau omelan sama sekali khusus malam ini. Bahkan Reina membawa Egie tidur bersama di kamarnya, agar dapat memapah Imanuel ke kamar mandi.


Malam yang hangat. Suara nyanyian pelan lagu daerah terdengar menyambut Egie dalam mimpinya. Sedangkan Imanuel terdiam, menatap seseorang yang dianggapnya janda buluk bernyanyi pelan.


"Cantik," gumamnya keceplosan bicara. Segera menutup mulutnya sendiri menggunakan tangan.


"Aku memang cantik. Cepat sembuh, temukan jalan agar kamu bisa kembali pulang, karena aku tidak bisa menampungmu terlalu lama." Ucap Reina tiba-tiba.


"Ke... kenapa?" tanya Imanuel.


"Cepat atau lambat Egie harus beradaptasi tanpamu. Jika kamu terlalu lama tinggal di sini, dalam memorinya dapat tersimpan kamu adalah ayahnya. Dan aku tidak ingin itu. Bagaimana jika setelah Egie besar dia salah paham dan menemuimu, mengira kamu adalah ayah yang meninggalkan ibunya." Kalimat-kalimat yang tidak dapat dibantah oleh Imanuel. Tapi pria itu hanya terdiam entah apa yang ada di fikirannya saat ini.


Dirinya ingin tinggal tapi juga tidak. Benar juga cepat atau lambat kehidupannya akan kembali. Setelah menemukan jalan aman dirinya akan pulang.


Pemuda yang tidak mengetahui, sore ini salah seorang tetangganya memberikan titipan kebaya dari Lukman. Kebaya putih yang indah, Reina akan dilamar. Wanita yang bingung harus menolak atau menerima lamaran dari mantan kekasihnya.


Dirinya terlalu lelah merawat anak mencari nafkah, tapi juga iba pada mertuanya yang sakit-sakitan. Tidak memiliki jalan lain, apa keputusannya? Lusa seseorang bernama Lukman akan hadir.

__ADS_1


Imanuel akan melihat wajah curut yang sesungguhnya.


__ADS_2