
Raka menghela napas kasar membiarkannya masuk. Bagaimana pun, dirinya sering menumpang mandi di kamar Fujiko kan?
"Sore-sore jangan guncang kasur," celoteh Ragil lagi berlalu pergi, kala menatap Raka mengijinkan Fujiko masuk. Benar-benar sahabat karib yang saling berbagi bukan?
Raka menghela napas kasar, menutup pintu kamar. Mata Fujiko menelisik, kamar yang setahun terakhir hanya dilihatnya dari luar. Ada meja dan kursi, hanya beberapa flashdisk dan buku bekas yang ada di atas meja. Terlihat dari sampulnya seperti kitab kuno yang telah lapuk. Mungkin Raka membelinya dari pasar loak.
Lemari plastik bekas tetangga mereka yang pindah 10 bulan lalu juga ada. Dibeli oleh Raka seharga 98.000 rupiah, setelah penawaran alot, saat tetangga kost mereka pindah dulu. Lemari plastik empat susun, yang harga asli sekitar 800.000 rupiah, bergambar Doraemon.
Tidak ada yang aneh, tempat tidur sponge singel murah, ada di atas lantai, lengkap dengan sebuah bantal dan guling. Tidak banyak yang ada di kamar. Bahkan foto keluarga pun tidak ada sama sekali.
Raka terlihat kembali duduk, mengetik menggunakan laptop murah miliknya. Di samping laptopnya hanya terdapat air putih dan roti yang terlihat keras, mungkin sudah hampir memasuki tanggal kadaluwarsanya.
Sungguh memprihatinkan, tidak terasa setetes air matanya mengalir, membayangkan drama kehidupan Raka di kampung. Ingat ini hanya khayalan Fujiko, mengingat Raka tidak terlalu bercerita tentang keluarganya.
Mungkin ibu Raka sering mencari rumput di dekat jurang, memelihara kambing hanya untuk makan. Sedangkan ayah Raka mungkin buruh pemanjat pohon cengkeh, atau lebih buruk lagi pembuat anyaman keranjang dari bambu. Pasangan tua renta yang memiliki anak tunggal, bekerja di kota. Putra yang hanya mengirim uang beberapa ratus ribu untuk orang tuanya. Sudah berusaha hidup hemat, namun hanya merutuki kesendiriannya, tidak dapat mengirim lebih.
Itulah yang ada di benak Fujiko tentang kehidupan sahabatnya. Wajah Raka mungkin pura-pura ceria tapi menyimpan banyak beban. Dengan ragu Fujiko masuk ke kamar mandi.
Matanya menelisik terdapat beberapa sabun kecil yang ditumpuk menjadi satu, juga pasta gigi yang dilipat hingga habis. Fujiko menghela napas kasar sudah menduga ini akan terjadi hingga dirinya mengeluarkan sabun dan pasta gigi dari sakunya. Perlahan membasuh diri menggunakan gayung tapi lebih sialnya lagi shamponya habis.
"Raka shamponya habis!" teriak Fujiko dari dalam sana.
"Pakai ilmu kimia saja! masukkan air kemudian kocok, lalu pakai!" ucap Raka dari dalam kamar.
__ADS_1
Lagi-lagi Fujiko menghela napasnya. Yang menjadi istri dari sahabatnya pasti akan bernasib sial. Botol shampoo itu direndamnya. Hingga air masuk ke dalam botol, seperti perintah Raka, dengan semangat Fujiko mengocok-kocok...Botol shampoo hingga cairan putih keluar, walaupun encer tapi busa yang dihasilkan lumayan banyak untuk mencuci rambutnya.
Baru setelahnya kembali memakai pakaiannya. Setelah mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ada yang aneh dengan handuk Raka, tertulis hotel QR di bagian ujung.
Imajinasi tingkat tingginya kembali terbayang. Mungkin demi membatu pengobatan ibunya yang sakit Raka menjual diri pada Tante-tante.
Wanita yang kembali menangis kasihan pada nasib sahabatnya, tidak menyadari beberapa hari yang lalu dirinya hampir saja dinikahi Om-om.
Perlahan keluar dari kamar mandi. Menatap ke arah si pelit."Raka kalau butuh uang bilang padaku ya? Bisa aku bantu pinjamkan. Jangan tidur dengan Tante-tante! Kamu itu masih muda!" bentaknya.
Raka mengenyitkan keningnya, menatap ke arah handuk yang dibawa Fujiko keluar dari kamar mandi. Wanita galak yang bagaikan menemukan pakaian dalam wanita lain di koper suaminya. Benar-benar galak, mengalahkan galak anj*ng tetangga rumah mereka.
"Aku mendapatkan tawaran menginap gratis tiga malam. Tapi aku tidak mengambilnya, hanya tinggal disana selama setengah hari. Setelah itu aku membawa pulang beberapa handuk dan sabun. Mengatakan pada mereka di meja resepsionis, boleh aku minta. Karena mereka memperbolehkan aku bawa pulang." Jawaban darinya, tidak mengerti dengan sahabat terpisah oleh tembok.
Raka hanya mengangguk, hal yang terjadi sebenarnya, dirinya mendapatkan tawaran untuk mencoba hotel yang baru buka. Mungkin untuk menarik Raka melakukan investasi. Tapi pemuda itu malah hanya menginap setengah hari kemudian meminta handuk dan sabun pada resepsionis.
"Kamu bilang ada sabun juga kan? Lalu kenapa di kamar mandi sabunmu terlihat menyedihkan?" tanya Fujiko.
"Karena masih ada, jadi sabunnya aku simpan," jawab Raka polos.
"Lalu beberapa hari ini kenapa menumpang mandi di kamarku?" Wanita cerewet itu kembali bertanya.
"A...aku menyukaimu! Maksudku, menyukai bau sabunmu." Pemuda yang berusaha keras menstabilkan emosinya. Walaupun detak jantungnya sudah tidak beraturan, apalagi kala mengganti pakaian Fujiko.
__ADS_1
Tapi tetap saja tidak boleh, bagaimana jika wanita yang menjadi temannya ini, meminta pesawat jet pribadi, untuk berkeliling. Menyombong pada kakak-kakaknya.
Tidak! Tidak boleh, dirinya dan Fujiko adalah teman. Fujiko kini memiliki kekasih yang dapat membahagiakannya. Inilah saatnya Raka kembali ke status semula, hanya teman., bahkan harus menghindar.
"Raka kamu sedang apa?" tanya Fujiko, dengan posisi kepala di sebelah kepala Raka. Aroma shampoo tercium. Ini terjadi lagi, dirinya benar-benar sial.
"Menjauhlah," Pinta Raka, dengan keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Menjauh? Kita bahkan sering tidur satu ranjang. Jangan gugup begitu, kamu bahkan pernah melihatku hanya memakai handuk." Ucapnya masih mengira Raka memiliki kelainan hingga tidak bernapsu atau canggung padanya.
Fujiko mulai duduk di tempat tidur, kemudian merebahkan tubuhnya."Raka kenapa kamu tidak membuatkan sarapan untukku?"
"Aku sibuk," jawaban dari Raka, menelan ludahnya sendiri. Seorang gadis sedang terlentang di tempat tidurnya. Apa yang harus dilakukannya? Apa harus dieksekusi? Tidak uangnya belum cukup.
"Raka, kita ini sama-sama jauh dari orang tua. Saling mengandalkan satu tahun ini, sebenarnya aku dipecat dari pabrik. Bisa aku menumpang hidup darimu?" Dustanya, sejatinya hanya ingin Raka kembali menemaninya seperti dulu.
Pemuda itu sedikit ragu, menghela napas kasar. Bagaimana pun Fujiko juga sudah banyak membantunya. Terutama ada kalanya, memberikan dirinya entrostop kala mencoba membeli makanan kadaluwarsa.
Raka mengangguk."Datanglah setiap pagi dan sore untuk makan, kamu bisa numpang mandi disini. Tapi sebaiknya jangan pindah ke tempatku. Karena jika ada razia kita akan dinikahkan."
Fujiko mengangguk, kemudian tersenyum."Malam ini aku boleh menginap? Aku takut sendirian,"
Kata-kata tanpa dosa dari Fujiko yang masih berbaring di tempat tidur, membuat Raka menelan ludahnya sendiri.
__ADS_1