
...Cinta itu bagaikan ayam...
...Menatap ke arah langit berharap bisa terbang seperti burung lainnya. Sama dengan ketika mengharapkan perasaan ini berbalas, entah itu kapan....
...Cinta itu bagaikan ayam...
...Tidak mengetahui dirinya akan disembelih, hanya menatap manusia yang memberinya makan, bagaikan kagum melihat pahlawannya....
...Cinta itu bagaikan ayam...
...Kala mengetahui dirinya akan disembelih, hanya dapat menerima kematiannya....
...Cinta itu bagaikan ayam...
...Makhluk paling bodoh, hanya memiliki otak yang kecil. Namun, mungkin dirinya akan bahagia ketika mati nanti dapat terbang ke surga seperti burung yang lainnya. Ikhlas menyerahkan nyawanya pada pahlawannya....
...Bodoh bagaikan ayam? Itulah ketulusanku karenamu......
Raka
Sesekali wanita berdarah blasteran Indo-jepang itu melirik ke arah Raka. Wajahnya tersenyum-senyum sendiri menghela napas kasar.
"Kalian menumpang di mobilku saja ya? Biar aku yang mengantar," ucap sang kepala pabrik menghentikan langkah mereka.
Fujiko mengenyitkan keningnya. Entah kenapa kepala pabrik terlihat bagaikan kedatangan CEO dari kantor pusat. Keringat dingin terlihat jelas di pelipisnya, senyuman yang terlihat dibuat-buat, pria paruh baya yang benar-benar aneh.
"Kami naik motornya Fujiko saja. Sebaiknya kamu naik ke mobilmu dan mulailah berfikir untuk mengatur moralitas karyawanmu. Mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan!? Atur bawahanmu." Nada bicara penuh ketegasan dan tekanan. Membuat pria itu tertunduk ketakutan, dirinya gemetaran saat ini. Bos dari bos memang berbeda, bahkan CEO pun pasti memiliki orang yang ditakutinya yaitu pemegang saham.
Bukan satu tapi kumpulan orang yang memiliki perusahaan. Semakin besar persentase jumlah sahamnya semakin ditakuti. Kumpulan orang yang dapat memecat CEO dengan mudah. Bisa dibilang dalam perusahaan pemegang saham adalah iblis sebenarnya. Dalam artian orang yang paling ditakuti dan berkuasa, sedangkan CEO hanya menjalankan perusahaan dengan mata para pemegang saham yang mengawasi.
__ADS_1
Fujiko membulatkan matanya, Raka benar-benar terlihat berbeda saat ini. Bahkan kepala pabrik juga mengikuti perintahnya tanpa membantah segera masuk ke dalam mobilnya sendiri.
Jujur saja gadis itu mati-matian menahan tawanya. Masih ingat dalam benaknya kala ada satu sampel produk reject yang tidak sengaja diloloskannya. Inikah yang namanya ikan kecil (Fujiko) dibunuh ikan besar (kepala pabrik) sedangkan ikan besar dibunuh ikan piranha (Raka).
Motor matic itu dinyalakan, meninggalkan area depan kedai.
"Sepedamu bagaimana?" tanya Fujiko, memeluk pemuda yang memboncengnya dari belakang.
"Besok aku jalan kaki kesini mengambil sepeda," jawaban dari Raka, sedangkan Fujiko hanya tersenyum mengeratkan pelukannya. Anak rambut yang sedikit menutupi wajahnya. Melewati hari yang hampir malam, entah kenapa seiiring tenggelamnya matahari dirinya ingin berlama-lama seperti ini. Menyandarkan kepalanya pada punggung Raka.
Sedangkan sang pemuda hanya tersenyum tipis melajukan motor milik Fujiko dengan kecepatan sedang."Jangan biarkan orang merendahkanmu," ucapnya tiba-tiba.
"Aku memang seperti yang dia katakan mencari pria kaya agar dapat hidup tenang. Tapi bedanya aku tidak menjual tubuhku, aku hanya ingin dinikahi secara resmi," Fujiko tersenyum, menghela napas kasar.
Dinikahi? Raka hanya terdiam, tetap saja dirinya belum siap. Mengingat bagaimana ayahnya memanjakan ibunya. Apa dirinya dapat membahagiakan istrinya nanti? Rasa cemas yang masih ada hingga kini.
"Bagaimana jika itu aku?" tanya Raka tiba-tiba.
"Tidak usah serius begitu! Aku hanya bercanda," Raka tertawa kecil mencairkan suasana tidak ingin persahabatan mereka terasa canggung.
"Raka, besok kamu akan mendapatkan uang 20 juta, apa mau mentraktirku makan sesuatu?" tanya Fujiko yang tidak yakin dengan perasaannya. Ikut-ikutan mengalihkan pembicaraan. Bisa dibilang, mereka teman yang bagaikan bebek, terlalu banyak bicara. Tidak mengenal istilah, tindakan dulu baru bicara.
"Kamu masih perawan?" tanya Raka menahan senyuman di bibirnya. Entah kenapa jiwa posesifnya keluar, lahan pertanian ini miliknya. Lahan pertanian yang bahkan tidak pernah digarap satu orangpun.
"Tentu saja masih! Jadi kamu membuat taruhan tanpa tahu?" tanya Fujiko, dijawab dengan anggukan oleh Raka.
"Lalu bagaimana jika kamu kalah, kamu akan membayar uang taruhan darimana?" Fujiko memincingkan matanya.
"Dari rekening tabunganku. Tidak ada orang yang boleh merendahkanmu, kamu dengar?" ucapnya lagi.
__ADS_1
Gadis itu tersenyum, mengeratkan pelukannya. Inilah yang namanya persahabatan saling mengerti, ada setiap sahabat membutuhkan, meskipun sering terjadi pertengkaran kecil tapi semuanya berakhir dengan tawa. Benar-benar persahabatan sejati yang berciuman tanpa status, berpelukan tanpa status bahkan membuat tanda keunguan juga tanpa status. Terlalu luar biasa.
Hingga Fujiko menyadari sesuatu."Kamu punya tabungan lebih dari 20 juta?" tanyanya mengingat penghasilan Raka.
Raka mengangguk."20 juta lebih sedikit, hasil kerja kerasku selama 10 tahun. Kenapa? Kamu jatuh cinta padaku karena saldo tabunganku mencapai 20 juta?"
Gadis itu kembali tersenyum, kemudian berteriak di dekat area jembatan gantung."Besok makan ayam bakar!"
Raka hanya tertawa kecil masih melajukan motor Fujiko. Berapa sebenarnya saldo tabungan Raka? Hanya 20 juta lebih sedikit. Sedikit dalam artian hitungan dollar. Itulah saldo rekeningnya. Dirinya jujur bukan? Tidak berbohong sama sekali? Pasangan harus dinilai dari keterbukaannya. Itulah saldo rekening banknya. Belum termasuk asetnya.
Kebahagiaan yang benar-benar sederhana, kala mereka sampai di tempat kost. Memarkirkan motor wanita itu perlahan, nama Raka menghentikan langkahnya kala menatap sepasang sandal jepit dengan tali hijau dan warna dasar putih yang biasa dibeli di warung-warung.
"Raka, ada orang masuk, sampai sekarang masih di dalam. Katanya ayahmu, omong-ngomong usia ayahmu berapa? Apa dia duda?" tanya Evi, tidak dapat anaknya ayahnya juga cukup tampan. Mungkin itulah yang ada dalam fikirannya.
"Ibuku masih hidup," hanya itulah jawaban Raka, berjalan masuk.
Dan benar saja ayahnya ada disana dengan kaos bergambar tokoh legislatif yang berbeda dengannya. Mungkin inilah yang namanya pemilu tanpa kericuhan.
"Ayah!" Raka menghampiri sang ayah kemudian memeluknya.
"Ada hal yang ingin ayah katakan. Ayah hanya mampir sebentar saja. Masih banyak pekerjaan di kantor," ucap Patra. Pria yang berbisik ke arah putranya. Sedangkan Raka mulai mengenyitkan keningnya, mendengar kata-kata ayahnya.
"Terimakasih," hanya itu jawaban dari Raka.
"Jaga pacarmu baik-baik." Itulah nasehat dari ayahnya.
Pemuda yang menghela napas kasar masih dengan sang ayah yang mungkin ada di sana selama beberapa belas menit lagi. Matanya menelisik, terlihat Fujiko yang sedikit mengintip dari depan pintu kamar yang terbuka. Hingga hanya meninggalkan paperbag berisikan papan catur kecil lengkap dengan magnet, untuk mempermudah memasang pion.
Wanita yang hanya ingin menunjukkan rasa terimakasihnya. Memberikan oleh-oleh dari Om Jo dari Singapura, mantan kekasih yang hanya berteman lewat WA dengannya. Seorang pemuda yang terlihat pria sejati dari luar. Namun, kenyataannya pecinta sesama jenis. Pada akhirnya setelah putus menjadi teman jarak jauhnya.
__ADS_1
*
Pagi menjelang, beberapa orang berkumpul di rumah sakit ingin mengetahui hasil tes Fujiko dan Tita. Dua orang yang telah menjalani pemeriksaan keperawanan.