
Benar-benar aneh, satu persatu ruangan diperiksa petugas kepolisian. Tapi tidak ada jejak sama sekali. Semua ruangan berdebu seperti tidak pernah ditinggali bahkan ada satu ruangan dengan banyak tanah di dalamnya.
Benar-benar aneh. Apa yang sebenarnya terjadi? Cahaya masih saja menangis saat ini, memikirkan nasib Ragil yang belum ditemukan.
"Lain kali jangan membuat laporan palsu..." sang petugas menggeleng pelan, menghela napas kasar.
"Ta...tapi teman kami memang hilang. Namanya Ragil, kalian bisa menanyakan pada pelukis dengan nama Wiranto Mangun Sarkoro Wijaya Winata Kusuma Mangku Dirjo Sabto Winangun Karto Joyo. Kami berangkat kemari bertiga. Motor kami juga ada tiga." Ucap Evi masuk akal.
Sang petugas menghela napas kasar."Kami akan menghubungi tim SAR. Karena tidak ada bukti bekas penculikan. Mungkin teman kalian tidak sengaja bertemu dengan pemilik villa. Kemudian melarikan diri ke dalam hutan hingga tersesat." Sang petugas masih saja terlihat tidak percaya.
"Sebaiknya kalian segera pulang. Terlalu berbahaya bagi kalian, biar kami yang akan melakukan penyelidikan." Lanjut sang petugas.
"Ta...tapi..." Kata-kata Evi disela.
"Kalian mau ditangkap karena membuat laporan palsu?" tanya sang petugas kepolisian.
Pada akhirnya kedua mahasiswi itu menunduk. Kemudian melangkah pergi, mungkin setelah ini hanya dapat meminta bantuan dari Raka.
Kedua motor matic itu telah pergi. Sedangkan salah seorang petugas, membawa motor matic milik Ragil mengikuti mereka.
Hanya sampai gerbang, sang petugas kepolisian tersenyum. Tujuh orang yang kembali masuk ke dalam mobil. Melajukan mobilnya meninggalkan villa.
Tempat yang terpencil tanpa akses jalan yang memadai. Polisi akan sampai dalam waktu 35 menit. Itu adalah waktu tercepat.
Dua mobil yang segera meninggalkan tempat tersebut. Memasuki jalur tol, dari lajur berlawanan arah terlihat tiga mobil polisi asli menuju lokasi villa.
Tidak masalah bagi mereka, semua sudah dikemas. Mungkin saja setelah petugas kepolisian yang asli sampai, semuanya hanya akan menjadi kasus telepon iseng.
Apa yang sebenarnya terjadi?
*
Sekitar satu jam yang lalu.
__ADS_1
Ragil menatap wanita di hadapannya berusaha melawan. Berharap Cahaya memiliki waktu menyelamatkan diri yang cukup.
Melawan Nadila bukanlah sesuatu yang mudah. Wanita yang memiliki keberanian untuk membunuh.
Dor!
Suara letupan senjata terdengar, tepat mengenai lengan Ragil. Nadila tersenyum, wanita yang memakai mini dress itu, merenggangkan lehernya sendiri. Meletakkan senjata api miliknya di atas meja. Permainan yang menarik baginya.
Dengan cepat bergerak menyerang Ragil. Apa yang tidak dapat dilakukannya? Wanita yang pandai berkelahi, itulah Nadila sejatinya. Ambisi untuk membunuh ayah tirinya di masa muda penyebabnya. Mengikuti beberapa khusus kala menginjak sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas.
Lengan Ragil telah terluka. Tubuh itu ditendang Nadila hingga jatuh ke atas meja dekat tangga. Anggur yang ada di atas meja terjatuh, mengalir hingga lantai satu.
Senjata api diarahkan Nadila pada kepalanya. Namun pemuda itu masih berusaha melawan mengambil kayu hendak menyerang Nadila.
Wanita itu tersenyum, mencengkeram balok kayu yang hendak dilayangkan Ragil.
"Kamu orangnya Raka?" tanya Nadila, masih mengacungkan senjata apinya.
"A...aku..." Ragil terlihat gugup kala pelatuk senjata api itu ditarik tepat di dahinya.
Nadila mulai bangkit."Membunuhmu sekarang hanya akan meninggalkan banyak jejak darah."
"Bawa dia ke mobil! Pindahkan Barbara dan Sean! Ambil tanah kering dan debu sebarkan pada semua tempat! Satu lagi, gunakan identitas polisi palsu yang kita siapkan. Mengeksekusi teman-temannya selama petugas kepolisian asli dalam perjalanan terlalu beresiko!" perintah dari Nadila.
"Baik nona!" Orang-orangnya mulai menyebar berbagi tugas. Empat orang bersenjata bertugas membawa Ragil, Barbara dan Sean.
Satu orang membersihkan tempat perkelahian Nadila dan Ragil. Dua orang memenuhi tempat tersebut dengan tanah dan daun kering, seolah-olah tidak ada yang pernah menempati.
Sedangkan delapan orang lainnya bertugas menyamar menjadi petugas kepolisian palsu untuk mengecoh dua teman Ragil. Sejatinya cukup mudah untuk membunuh Cahaya dan Evi. Tapi sayangnya tidak ada cukup waktu, selain itu jika orang yang memberi laporan menghilang seluruh villa akan diperiksa total.
Karena itu jalan ini yang dipilih Nadila, menjadikan kasus ini seolah-olah tidak ada hanya laporan palsu bagi petugas kepolisian yang asli. Sedangkan untuk Cahaya dan Evi akan mengira kepolisian dan tim SAR akan mencari Ragil.
Aneh bukan? Tapi itulah kenyataannya. Segera setelah orang-orang Nadila yang memakai pakaian polisi pergi. Sekitar 15 menit kemudian petugas kepolisian yang asli datang ke villa. Tidak menemukan siapa pun disana, mungkin hanya telepon iseng, itulah yang ada di fikiran mereka meninggalkan villa.
__ADS_1
*
Terkadang rasa tertekan dan kehilangan dapat menjadikan manusia sebagai makhluk yang keji. Nadila terdiam menatap ke arah jendela mobil. Sewa villa itu masih atas namanya, dengan keperluan yang dipalsukan nya. Sebagai alasan membuat konten horor.
Cukup lelah dengan hidup ini bukan? Hidup untuk membalas dendam. Keinginan yang sederhana, andai saja waktu itu Dahlan tidak kecelakaan, dirinya sudah menikah. Mungkin belajar memasak untuk suami dan anaknya.
Pemuda yang tersenyum, menjadi karyawan di perusahaan milik Jovi. Berangkat ke kantor berdua, setelah mengantar Valentino. Kehidupan yang sempurna, tanpa rasa kesepian dan dendam. Tapi semua berubah, impiannya menghilang kala mobil mewah itu menabrak seorang pemuda yang masih berdiri di trotoar, memakai pakaian putih abu yang lusuh.
Andai waktu dapat di putar, dan pelaku penabrakan mendapatkan hukuman berat dirinya akan merelakan kematian Dahlan. Tapi dibebaskan setelah dipenjara selama sebulan? Siapa yang akan terima? Impiannya hancur dalam hitungan detik.
Menang menjadi arang kalah menjadi abu, itulah balas dendam tidak ada untungnya sama sekali. Tapi dirinya tetap menginginkannya, mati bersama Dwiguna. Pria mabuk yang malah memaki para korban yang tergerak bersimbah darah. Memaki mereka sebagai *njing jalanan yang pantas mati.
Rasa dendam tetap ada di hatinya. Kala mengetahui hidup pria itu baik-baik saja, malah bertambah banyak orang yang memujinya setiap hari sebagai pria dermawan.
Butterfly efect, itulah yang akan terjadi. Andai pria itu tidak mabuk. Andai hukum tidak tumpul ke atas, mungkin orang-orang yang dibunuh Nadila untuk memudahkan langkahnya tidak akan mati.
Wanita itu tersenyum, menjalankan misinya membunuh pria yang memiliki banyak bisnis gelap. Perjudian? Prostitusi? Bahkan bandar narkotika? Perlu kekuasaan yang besar untuk membunuhnya. Menempuh jalan yang salah, karena itulah dirinya tidak ingin tangannya yang berlumuran darah membesarkan Valentino.
*
Preet!
Suara seorang wanita mengeluarkan ingusnya di tissue terdengar. Menyesal tidak menghubungi polisi atau Raka dari awal.
Hanya dapat menangis, itulah yang dilakukan Cahaya. Gadis itu memegang foto Ragil berukuran 10R. Bagaikan wanita yang baru kehilangan suaminya.
"Kita harus memberi tau orang tua Ragil di kampung. Mempersiapkan pemakaman untuknya. Kamu yang tenang ya? Masih banyak pria tampan lainnya." Ucap Evi menenangkan sahabatnya.
"Aku ingin Ragil! Dia jelek, jadi kalau pacaran aku bisa menindas nya. Kalau punya pacar terlalu tampan malah aku nanti yang bucin. Aku ingin Ragil yang bucin! Ragil! Ragil!" teriaknya menangis terisak-isak.
"Tenang, Ragil akan hidup. Aku sudah menghubungi Raka. Katanya dia akan bicara dengan Nadila secara pribadi. Tapi kalau Nadila sudah terlanjur membunuhnya, sebaiknya kamu ikut bunuh diri ya?" pinta Evi.
Mata Cahaya langsung melotot."Ragil akan hidup! Menikah denganku dan mempunyai dua anak seperti program pemerintah. Setelah melahirkan dua anak, aku akan memakai KB,"
__ADS_1
Evi berpaling ke arah lain, membuat raut wajah anyep. Mengomel tanpa suara. Sejenak kemudian kembali menoleh ke arah Cahaya sembari tersenyum. Benar-benar menyebalkan bagi Evi temannya yang satu ini, benar-benar tidak peka.