Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Anak


__ADS_3

Terkadang apa yang diinginkan tidak selalu tercapai. Seperti hari ini, Raka menepati kata-katanya Dadang dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.


Sedangkan Wiwit? Wanita itu bersikukuh tidak mau pergi. Masih di sana makan tanpa tahu malu dengan anaknya Fadil.


Anak yang saat ini memegang alat pel, pakaiannya lusuh. Memunguti sisa sampah cemilan sang ibu yang tengah menonton televisi.


Ini sudah biasa baginya, tidak ada senyuman atau guratan air mata sama sekali. Perlahan tangan itu menyeka peluhnya. Hingga ada jemari tangan kecil yang terulur.


"Ini," ucap anak yang membawa mainan mobil-mobilan, menyodorkan sebungkus permen lollipop yang cukup besar.


"Te... terimakasih..." Air mata Fadil mengalir. Dirinya hanya anak adopsi dari Wiwit, karena Dadang tidak dapat memiliki keturunan.


Tapi setelah diadopsi hanya Lastri yang merawat dan menyayanginya.


"Sudah, biar nenek saja yang mengepel. Kalian bermain diluar ya?" kata-kata dari sang nenek membelai lembut pucuk kepala kedua cucunya.


"Baguslah kalau paham, setelah ini cucikan bajuku! Besok aku mau mengurus perceraian dengan Dadang!" perintah Wiwit seakan ini rumahnya.


Lastri hanya dapat menghela napas kasar. Entah darimana anak bungsunya mendapatkan pasangan yang sama ajaibnya. Matanya menelisik, yang dipakai Wiwit saat ini, adalah skincare milik Reina yang tengah pergi bekerja. Kalung itu juga, pemberian Rian pada istrinya.


"Jangan tidak tau diri! Kembalikan kalung Reina!" bentak Lastri tiba-tiba menyadari segalanya.


"Ini milikku! Jangan asal ngaku-ngaku ya!?" Ucap Wiwit tidak terima.


Kesal? Tentu saja."Pergi kamu dari sini!" Lastri menunjuk ke arah pintu keluar.


"Buat apa pergi, toh setengah rumah ini milik Dadang. Kalau aku bercerai dari Dadang setidaknya dapat harta gono-gini seperempat dari hasil jual rumah ini. Tidak seperti ibu yang numpang!" kata-kata darinya kembali menonton TV, benar-benar ajaib makhluk satu ini.


"Omong-ngomong, jam berapa Imanuel pulang?" tanyanya memiliki tujuan tertentu.


"Pergi! Dan kembalikan kalungnya!" Lastri meninggikan nada bicaranya. Dengan cepat kalung emas itu dirampasnya dari leher Wiwit. Segera berlari masuk ke kamar Reina menguncinya dari dalam.


"Buka! Dasar Mak Lampir! Nenek tua! Tukang jambret! Buka! Atau aku akan melaporkan ini pada polisi!" teriak Wiwit dari luar sana. Tapi siapa peduli.


Lastri menghela napas kasar hanya cincin pernikahan dan sebuah kalung yang pernah diberikan pada Rian untuk Reina. Wanita itu kembali menyimpan kalung dengan rantai yang tengah putus itu ke lemari.


Wajahnya tersenyum dengan air mata yang mengalir. Walaupun sedikit tapi setidaknya ada kenang-kenangan dari almarhum putranya untuk Reina yang telah mau merawat dirinya dan Egie.


Beberapa kali suara gedoran terdengar. Hingga gedoran tersebut terhenti. Lastri membuka pintu mengintip keadaan, pada akhirnya melihat Raka dan Imanuel sudah datang.

__ADS_1


Dengan cepat Wiwit berlari mengambilkan minuman. Kini dirinya tahu apa maksud dari menantunya itu.


"Ini untuk Raka. Ini untuk Imanuel. Maaf kemarin saya tidak sopan." Ucapnya tertunduk malu-malu.


"Tidak apa-apa, tapi aku mohon pengertiannya tinggalkan tempat ini." Ucap Imanuel tegas.


Pernyataan yang tidak digubris oleh Wiwit, mendekati Raka dengan cepat."Perkenalkan aku Wiwit."


"Raka," Ucap Raka acuh.


Byur!


Prang!


Wanita itu sengaja menumpahkan minuman ke pakaian Raka. Mengelap menggunakan tissue."Maaf..." ucapnya tersipu dengan mata bertemu.


"Trik lama," Entah darimana Fujiko yang memang memiliki janji temu dengan Raka dan Imanuel datang bersama Reina yang dijemputnya dari pabrik.


"Dengan tubuh seperti papan triplek dan wajah putih seperti makeup badut Ancol ingin mendekati suamiku? Jangan mimpi! Cara seperti itu tidak akan berhasil." Kata-kata yang keluar dari mulut wanita matre tingkat suhu.


Melangkah dengan cepat, mendorong Wiwit kasar. Kemudian naik ke atas pangkuan Raka."Aku merindukanmu."


Dua orang tidak tahu malu yang memejamkan mata mereka, menikmati serakahnya kala dua bibir bertemu. Gilanya lagi, mereka bermain lidah layaknya di kamar.


"Reina siapa dia?" tanya Fujiko kala ciuman tanpa sensornya terlepas.


"Adik ipar dari almarhum suamiku," Jawaban dari Reina.


Fujiko bangkit dari pangkuan Raka menatap tajam padanya."Lalu kenapa masih disini."


"Aku sudah mengusirnya dari semalam. Mungkin dia masuk saat aku pergi bekerja." Jawaban dari Reina, sudah lelah rasanya.


"Dia itu kacang lupa kulitnya! Lagipula seperempat rumah ini adalah hakku! Kalian tidak bisa apa-apa! Tidak bisa mengusirku dari rumah ini. Kata-kata dari Wiwit membenarkan teori aneh suaminya." Menghentakkan kaki, hendak melangkah.


Tapi tidak, Fujiko mengenyitkan keningnya berjalan mendahuluinya."Ajaran pertama dari ibu mertuaku tersayang adalah perlakuan istimewa bagi orang yang ingin menjadi madu."


"Apa maksudnya?" Wiwit mengenyitkan keningnya.


Fujiko berjalan beberapa langkah, mengambil air sisa pel, menyiramnya ke tubuh Wiwit."Tidak tau malu, rumah ini warisan dari almarhum orang tua Reina. Kamu fikir aku tidak tau!? Sudah setahun lebih aku berteman dengannya!"

__ADS_1


"Lalu memangnya kenapa? Harta suami adalah harta istri, harta istri artinya juga harta suami. Jadi suamiku berhak mendapatkan setengah rumah ini karena dia adik kandung Rian!" bentaknya murka, hendak menyerang Fujiko.


Tapi jangan dianggap remeh dulu. Fujiko tidak suka main jambak-jambakan atau cakar-cakaran. Wanita itu melempar ember, Memukul menggunakan tongkat pel berkali-kali.


"Raka kamu tidak memisahkan mereka?" tanya Reina.


"Fujiko sedang melampiaskan emosinya, setelah tersenyum seharian. Biarkan saja, jika emosinya terlepas dia akan sedikit lebih rileks." Jawaban aneh dari sang suami. Tersenyum-senyum sendiri.


"Reina ambil kopernya!" perintah Fujiko. Tapi yang berlari malah Lastri, mengambil baju milik Wiwit.


*


"Agghh!" wanita itu benar-benar diusir. Terjatuh di tanah, sedangkan Fadil menghampiri ibunya.


"Ibu tidak apa-apa?" tanyanya iba.


"Anak sialan! Walaupun kamu ada Dadang tetap berselingkuh! Ini!" Wiwit mengeluarkan dokumen adopsi dari dalam tasnya."Kamu kembali ke tempatmu berasal sana!" teriaknya menggema.


Toh Dadang yang awalnya antusias mengadopsi bayi lama kelamaan tidak peduli. Setidaknya setelah Dadang tidak memiliki apa-apa dirinya dapat bercerai, tanpa embel-embel anak adopsi.


Fadil menangis lirih, apa kesalahannya? Semenjak Lastri tinggal di tempat Rian dirinya yang menggantikan semua tugasnya. Anak sekecil itu harus belajar mencuci menggunakan tangan, membersihkan rumah. Jika lapar merebus singkong untuk mengisi perut agar sekedar kenyang.


"Ibu!" anak kurus itu menangis, mengejar Wiwit yang pergi penuh percaya diri. Reina saja yang janda satu anak dapat memiliki kekasih putra konglomerat. Apalagi dirinya yang tidak ada embel-embel anak. Setelah ini bercerai, kemudian meraih kehidupan yang baik, di kota nanti. Setidaknya itulah yang ada di imajinasinya. Menganggap kehidupan di tempat ini lebih mudah.


Fujiko menghela napas kasar memijit pelipisnya sendiri. Tangan Fadil yang hendak mengejar ibunya dihentikan olehnya, berkas-berkas adopsi dipungut olehnya, kemudian sang anak ditarik ke hadapan Raka.


"A...aku ingin ibu," ucapnya lirih tidak memiliki tujuan.


"Sayang, ayahku ingin memiliki anak laki-laki. Bisa kamu mengatur dokumen adopsinya. Hingga dia dapat menjadi adikku?" tanya Fujiko.


"Ta... tapi---" Kata-kata Lastri disela.


"Ibu, Fadil tidak ada yang merawat, berat badannya juga dibawah rata-rata anak seusianya. Aku mengenal pak Firman, dia memiliki 4 anak perempuan. Fujiko salah satunya. Ibu menyayangi Fadil kan? Kita bisa sering berkunjung. Rumahnya hanya satu jam perjalanan." Reina tersenyum, menatap Fadil yang masih murung.


"Kamu mau tinggal dengan teman bibi? Dia orangnya baik, tapi jika Fadil nanti merasa tidak nyaman, Fadil bisa tinggal kembali dengan bibi." Kata-kata dari mulut Reina. Anak penurut itu hanya mengangguk.


Sedangkan Lastri terdiam menitikkan air matanya. Dirinya tidak rela mengembalikan Fadil ke panti asuhan. Tapi juga tidak dapat membiarkannya tinggal di penjara dengan Dadang. Tinggal dengan dirinya bersama Reina? Cukup sulit, mengingat kehidupan Reina yang harus menanggung dirinya yang sakit-sakitan. Belum lagi kebutuhan Egie.


Ikhlas? Mungkin iya, pada akhirnya nanti akan merelakan cucunya pergi dengan Fujiko.

__ADS_1


__ADS_2