
Suasana yang terlihat tidak kondusif, dirinya bingung harus bagaimana. Tidak memiliki cara yang dapat difikirkan olehnya.
"Orang ini penipu! Saya Dadang yang asli!" bentak Dadang, menunjuk-nunjuk.
Reina menghela napas kasar inilah adik iparnya yang benar-benar menyebalkan, bersama istri tersayang yang dimanjakan nya. Orang yang berani-beraninya meninggalkan sang ibu di rumah sakit selama dua hari sebelum pada akhirnya dirinya dan almarhum Rian menjemput Lastri. Wanita yang tinggal di rumah sakit karena tidak dapat melunasi biaya administrasi.
Padahal jika difikir-fikir lagi, warisan tanah, bahkan rumah, semuanya diserahkan pada Dadang. Sedangkan almarhum Rian lebih memilih merantau hingga akhirnya bertemu dengan Reina dan menikahinya. Mau warisannya tapi sang ibu dibuang. Benar-benar Malin Kundang jaman modern.
"Jangan bicara diluar, lebih baik masuk dulu. Biar aku jelaskan." Reina memijit pelipisnya sendiri menatap iparnya yang datang lengkap dengan tiga buah koper, mungkin sudah dapat menerka-nerka apa yang terjadi.
"Tidak, orang ini sudah pasti penipu! Lebih baik kita bawa saja dia ke kantor polisi." Lukman bersikeras, inilah tujuan aslinya. Mengusir Imanuel jauh-jauh dari hidup Reina.
"Masuk ke dalam! Atau aku menikah dengannya sekarang tanpa menjelaskan apapun!" bentak Reina benar-benar murka.
Lukman menelan ludahnya, pada akhirnya menurut mengikuti ayahnya masuk, seorang perwakilan warga juga ikut masuk mendengarkan penjelasan. Serta Dadang tidak lupa juga Wiwit(istri Dadang) berserta Fadil (anak Dadang).
Ruang tamu yang tidak begitu luas. Lastri yang sempat tertidur, kini telah bangun. Membutakan minuman, beberapa warga masih menunggu di luar entah apa yang diinginkan mereka. Ingin tau? Dan bersiap-siap menyebarkan gosip, beruntung jika ada yang harus dinikahkan, pasti kegemparan akan terjadi.
Reina meminum teh dari pucuk daun teh pilihan, dapat menenangkan fikiran, hingga dapat berbicara dengan lebih tenang."Ngeteh dulu yuk!" ucapnya tersenyum, berusaha setenang mungkin.
"Tidak ada yang perlu diperdebatkan saya hanya ingin mengambil hak almarhum kakak saya Rian!" Ucap Dadang menggebrak meja.
"Dadang hak apa ya kamu bilang? Malah kamu yang seharusnya memberikan bagian tanah warisan almarhum bapakmu pada Reina! Bagaimana pun dia istri almarhum kakakmu!" bentak Lastri tidak terima.
"Tenang Bu, jangan banyak berfikir nanti gula darah ibu naik. Biar aku yang bicara." Reina lagi-lagi menghela napasnya.
"Itu urusan nanti! Yang harus kita urus tentang penipu ini dulu! Sebaiknya segera hubungi polisi!" tegas Lukman, benar-benar antusias ingin menyingkirkan adik ipar palsu ini.
"Berarti aku juga harus masuk penjara. Begini, Imanuel memang bukan adik iparku dia mengontrak kamar kosong di rumah ini. Bayarannya satu setengah juta per bulan." Jelas Reina.
__ADS_1
"Tapi kenapa bayaran satu kamar semahal itu. Kamu pasti jual diri, atau mungkin Egie dari awal memang bukan anak Rian?" Wiwit memandang sinis.
"Masalahnya dia kabur dari rumah, jadi tidak membawa identitas sama sekali. Aku seorang janda perlu makan untuk anak dan ibu mertuaku. Satu setengah juta kan lumayan, cuma harus mengatakan dia adik iparku. Lagipula selama dia menumpang tidak pernah berbuat kejahatan, orangnya juga bersih." Kata-kata masuk akal dari Reina membuat seorang perwakilan warga mengangguk, tanda setuju dengan pendapat sang janda yang memiliki dua tanggungan.
"Begini, saya lahir dan tinggal di sini. Jadi apa pernah saya berbuat hal tidak senonoh!? Bahkan ketika status saya menjadi janda sekalipun?" tanya Reina.
"Iya, tapi saya sebagai perwakilan warga, tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan. Walaupun ada Bu Lastri dan Egie disini. Jadi---" Kata-kata perwakilan warga tersebut disela.
Papa sudah yakin papa sayang mama. Jadi untuk apa takut, papa kan juga suatu hari nanti ingin tidur berdua saja dengan mama."Saya akan menikahinya, tapi setelah mendapatkan restu dari orang tua saya. Jujur saja, di rumah saya memang sedang ada masalah. Jadi belum bisa untuk saat ini."
"Halah! Paling juga orang miskin seperti Rian yang numpang tempat tinggal ke istri," sindiran dari Lukman.
Imanuel hanya tersenyum, benar-benar pebinor tidak tahu malu. Namun dirinya tetap harus diam selama belum bertemu si kikir. Mengapa? Matanya melirik ke arah Dadang, bertubuh besar seperti Giant dalam animasi Doraemon. Sedangkan dirinya adalah Nobita si lemah yang menumpang tidur di rumah Shizuka.
Jadi untuk melawan Giant dirinya harus meminta bantuan pada Orochimaru yang memiliki perilaku aneh.
"Sudah! Bukan itu masalahnya sekarang! Ada masalah yang lebih penting! Saya minta rumah ini dijual, dan setengah dari hasil penjualan adalah hak saya!" bentak Dadang, menggebrak meja.
"Heh! Reina uang suami adalah uang istri, uang istri artinya juga uang suami! Rumah ini artinya juga milik Rian! Berikan bagian warisan kami!" Wiwit tidak terima.
"Kalau sesuai teori kalian, aku berikan seperempat bagian uang jika rumah ini dijual. Tapi berikan juga seperempat bagian tanah dan rumah milik almarhum ayah mertuaku. Itu bagian warisan Rian kan!? Aku perkirakan nilainya lebih dari satu miliar. Rumah kecilku ini tidak ada apa-apanya!" tegas Reina.
"Tidak bisa begitu! Rumah dan tanah di Sulawesi sudah kami jual! Uangnya juga sudah habis! Lagipula apa hakmu!? Jangan mentang-mentang kamu istri kakakku ya!" Dadang tidak terima menunjuk-nunjuk ke arah Reina.
"Jadi karena uangnya sudah habis kalian berharap aku mau menjual rumahku! Ini warisan bapakku! Mana ada teori seperti itu!" Reina bersungut-sungut tidak terima.
Mata Dadang menelisik, kakaknya memang pintar mencari istri. Cantik tanpa make up, apalagi jika di lihat-lihat bentuk badannya juga terjaga. Pintar mencari uang, jika menjadikan Reina istri kedua tidak ada yang perlu dicemaskan olehnya.
"Begini saja, rumah ini tidak perlu dijual. Kami akan tinggal disini. Kasihan anakmu masih kecil tidak punya bapak. Aku hanya iba, aku akan menjadikanmu istri kedua." Kata-kata dari mulut Dadang membuat semua orang menganga tidak percaya.
__ADS_1
"Tidak bisa begitu!"
"Tidak bisa begitu!"
Bentak Imanuel dan Lukman bersamaan.
Sedangkan Reina bertambah pusing saja, menghadapi kenyataan di hadapannya. Terkadang barang tiruan (Imanuel) memang lebih indah daripada yang asli (Dadang).
"Kenapa tidak bisa? Reina sudah merawat ibu dan keponakan saya. Saya hanya kasihan dia tidak ada yang menafkahi!" Ucap Dadang, dengan bangganya.
"Kayak kamu kerja saja," geram Wiwit dengan suara kecil. Sejatinya takut dengan kelakuan suaminya yang temperamental.
"Dasar benalu keluarga, tanah dan rumah seharga lebih dari lima miliar saja bisa habis. Apalagi rumah kecil bentukan seperti rumahku. Tidak sampai sebulan dia akan kabur meninggalkan banyak hutang." Batin Reina masih tersenyum, benar-benar memendam rasa geramnya.
"Tidak bisa begitu, Reina baru satu minggu ini jadi pacar saya. Saya bisa bawa ini ke jalur hukum!" Kali ini Imanuel tidak peduli Nobita melawan Giant lagi.
Kerah pakaian Imanuel ditarik.
Bug!
Bagian pipi kirinya di pukul, hingga mengeluarkan sedikit darah segar pada sudut bibirnya.
"Darah!?" gumam Imanuel dengan wajah pucat, pria lembek yang hampir menangis."Awas kamu! Aku akan mengadu pada sepupuku. Tunggu disini! Dia akan datang!" ucap Imanuel, meminjam phonecell dan kunci motor Reina.
Melajukan motor maticnya pergi, entah kemana.
"Dia kemana?" tanya Lukman.
"Paling memanggil saudaranya. Kalau berani datang lagi biar aku habisi, sekalian dengan sepupunya!" Ucap Dadang, membuat Lukman mengenyitkan keningnya. Mungkin yang lebih cocok dilaporkan polisi itu Dadang.
__ADS_1
Kekuatan keluarga konglomerat? Itulah yang akan terjadi. Imanuel untuk pertama kalinya menghubungi Raka setelah menghilang berbulan-bulan sambil menangis.