
"Aku tidak kaya, orang yang masih kekurangan. Tidak semua manusia dapat puas dengan apa yang dimilikinya kan?" gumam Raka tersenyum, menepuk bahu Barbara.
Barbara mengepalkan tangannya, menatap ke arah Pramana, seorang kakek berusia 72 tahun, memeluk Raka erat. Pemuda itu memang Raka cucu kebanggaan Pramana.
Mungkin dirinya memang harus keluar modal dulu hanya untuk menjadi nyonya di rumah ini. Berjalan dengan cepat mendekati Raka, kemudian kembali hendak merangkulnya. Ratusan juta bukan apa-apa dibandingkan dengan apa yang akan didapatkannya, kala Raka memberikan hatinya.
"Aku setuju, tapi aku ingin bersamamu tiga jam." Bisiknya pada Raka.
Apa yang ada di fikiran Raka saat ini? Mengumpulkan uang untuk anak istrinya yang entah siapa nantinya. Aroma uang yang tercium, membuatnya tersenyum.
"Baik, tiga jam. Setelah acara ini usai," Jawaban darinya. Bersamaan dengan Imanuel, turun dengan tunangannya. Seorang wanita yang menjadi selebgram. Cukup terkenal, memiliki koleksi tas bermerek yang lengkap.
Pernah ada kalanya stasiun televisi mendatangi rumah tunangan Imanuel tersebut. Hidup dimanjakan oleh Imanuel, bahkan memiliki banyak peliharaan kucing seharga ratusan juta, dengan biaya perawatan yang tidak sedikit.
Wanita cantik bernama Nadila, itulah tunangan Imanuel.
Saudara sepupu tapi berbeda sifat, itulah Imanuel dan Raka. Satunya bucin tingkat tinggi, satunya pelit tingkat tinggi. Namun dari segi aset, Imanuel tidak begitu banyak memiliki aset, selama ini hanya mengandalkan perusahaan keluarga, pemuda itu memiliki gelar magister, setelah menempuh pendidikan beberapa tahun di Kanada.
Sedangkan Raka yang pada dasarnya pelit, hanya lulusan SMU negeri. Memilih menggunakan uang untuk kuliah dari kakeknya membuka usaha.
Tiga tahun membuka usaha minimarket, kemudian beralih mencari sampingan ke bidang properti. Sekitar empat tahun, hingga pada akhirnya mulai membeli aset-aset bernilai tinggi, penuh perhitungan membeli saham hotel dan mengikuti beberapa investasi dengan resiko rendah selama setahun.
Selanjutnya, pemuda pengiritan itu memilih untuk hidup tenang. Mengontrak di kost-kostan murah, tidak ingin digunjingkan kala keluarganya berpakaian bermerek sedangkan dirinya memakai kaos kutang.
Investor pengiritan yang hanya mengawasi asetnya. Sesekali datang jika ada penyimpangan di perusahaan tempatnya berinvestasi.
Pemuda yang tidak habis fikir dengan cara hidup keluarganya. Bagaimana mereka dapat menghabiskan miliyaran rupiah hanya untuk pesta ulang tahun.
Dan lebih tidak mengerti lagi dengan Imanuel. Membelikan villa untuk kekasihnya, bahkan hewan peliharaan dengan biaya perawatan mahal. Baju yang dihiasi berlian tidak dapat dicopot begitu saja dan dijual kembali.
Jujur saja Fujiko bahkan jauh lebih cantik dari Nadila. Raka menghela napas pelan, belakangan ini tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Mengapa dapat menyayangi tetangga kostnya? Memasak untuknya padahal sejatinya Raka sibuk dengan data-data yang dikirimkan orang kepercayaannya, juga hobinya sebagai ghost writer yang dikejar target.
__ADS_1
Kembali menghela napas yang dapat dilakukannya. Wajahnya perlahan tersenyum, menyadari partner hidup yang sesuai untuknya. Tapi pemuda yang merasa dirinya belum cukup mapan untuk mengatakan segalanya.
Takut akan dituntut untuk memanjakan, selain itu bagaimana jika dirinya berbuat lebih menghamili kekasihnya. Dirinya harus menyiapkan aset yang cukup, berjaga-jaga jika mati di usia muda, kehidupan anak dan istrinya harus terjamin. Agar istrinya tidak menikah lagi, saat dirinya mati.
Pemuda aneh yang membayangkan masa depan. Dimana wanita yang dicintainya, segera menikah setelah kematiannya. Hanya untuk mencari kehidupan yang terjamin.
Karena itulah uang adalah tujuan utamanya.
"Kamu lihat pacar Imanuel! Kapan kamu punya pacar!" gerutu Adinda (ibu Raka).
"Aku punya pacar, bahkan pakaian dalamku bau parfumnya." Raka menghela napas kasar memijit pelipisnya sendiri.
"Tidak percaya! Sampai sekarang kamu masih perjaka kan?" Wanita itu sedikit mendekat berbisik pada putranya."Ibu dengar-dengar Nadila hamil, mereka melakukannya di luar nikah. Beberapa minggu lagi Imanuel akan menikah. Tiara (ibu Imanuel) akan menyombong, sedang ibu hanya dapat menangis di pojokan merutuki nasib yang tidak punya cucu,"
"Jadi ibu ingin aku menghamili wanita di luar nikah?" tanya Raka.
"Menikah! Jika pacarmu tidak bersedia menikah juga, lebih baik menikah dengan Barbara! B*kongnya cukup besar, bagian depan juga cukup besar, akan mudah untuk melahirkan dan menyusui cucuku," jawaban dari Adinda.
"Terserah mau menikah atau tidak. Dalam waktu kurang dari dua tahun, harus sudah ada wanita yang kamu hamili." Tegas Adinda tidak ingin dirinya menjadi cibiran Tiara (ibu Imanuel).
Raka menghela napas kasar bingung harus melakukan apa. Yang jelas dirinya belum bisa bertanggung jawab untuk membahagiakan wanita. Harga tas kulit ada dalam bayangannya, bagaimana jika wanita yang dicintainya meminta tas kulit limited edition, semua seri?
*
Hingga pada akhirnya dirinya makan malam bersama dengan Barbara. Restauran yang benar-benar elite. Hidangan paling mahal dipesan olehnya. Yang bayar? Tentu saja harus Barbara. Uang 300 juta sudah masuk di rekeningnya.
Tentu saja wanita itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Dalam desert manis dicampurkan obat kuat, agar pria di hadapannya kuat untuk menanam jagung di kebun. Mencangkul yang dalam.
Sesuai rencana, waktu tiga jam, 30 menit untuk makan. Selebihnya check in di hotel. Setelah itu entah hamil atau tidak meminta pria di hadapannya bertanggung jawab.
300 juta tidak akan menjadi sia-sia kan. Beberapa gaya sudah ada difikirkannya ingin membuat pri kikir tergila-gila padanya.
__ADS_1
Namun.
Setelah satu jam pemuda itu masih mengiris sedikit kentang. Satu jam berikutnya, memakan salad perlahan bagaikan ulat kecil menikmati daun. Hingga satu jam terakhir mengiris daging.
"Kenapa kamu makannya lama!" bentak Barbara yang entah telah berapa banyak menghabiskan makanan.
"Kan kamu menyewaku untuk makan malam 3 jam. Jadi untuk memenuhi jasa service aku makan pelan-pelan. Lain halnya kamu membayarku untuk makan 15 menit, aku akan menghabiskan tanpa mengunyah." Jawaban dari Raka.
Benar-benar kesal pada pemuda di hadapannya. Tapi jika difikir-fikir yang dikatakan Raka ada benarnya. Dirinya menyewa untuk makan malam tiga jam bukan untuk berkencan tiga jam.
"Waktu habis," ucap Raka, menatap jam tangan rolex pemberian ibunya.
"Tunggu! Habiskan dulu dessertnya!" pinta Barbara, tidak ingin kehilangan kesempatan terbaik baginya.
Mata Raka melirik sponge cake keju, mengenyitkan keningnya. Ini sudah hampir pukul 12 malam, perbatasan hari ulang tahun Fujiko. Jika ada sponge cake ini dirinya tidak perlu susah-susah membeli kue.
"Take a way (bungkus)" ucap Raka tersenyum tanpa dosa.
"Ta... take a way? Kamu harus menghabiskannya disini! Aku ingin melihat kamu memakan dessert---" Kata-kata Barbara terhenti.
Sponge cake milik Barbara disambarnya. Mulut pemuda yang tidak tahu malu itu makan dengan cepat."Sudah kan? Waiters!"
"Punyaku take a way!" perintah Raka pada pelayan.
*
Pemuda yang melajukan motor Fujiko pukul 12 malam. Dengan dua porsi makanan, serta satu sponge cake. Menuju tempatnya tinggal dua tahun ini. Berbagi makanan dengan sahabatnya.
Rencananya tidak akan begitu menguras kantong. Mengingat gaji kecil Fujiko.
"Sayang steak daging sapi Wagyu ini harus aku jual 20.000 padanya. Tapi mau bagaimana lagi, gajinya kecil," gumam Raka, yang sebelumnya singgah di warung, membeli lilin besar berwarna putih untuk diletakkan pada sponge cake, menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun pada Fujiko.
__ADS_1