
Pemuda yang menggigit bagian bawah bibirnya sendiri merasa salah bicara. Sedangkan Reina menoleh padanya menajamkan matanya terlihat kesal, mungkin sejatinya omelan yang tertahan.
"Gawat!" batin Imanuel berusaha untuk tenang.
Bagaimana ini? Dirinya mengatakan akan menikahi Reina di depan orang banyak. Dunianya terasa akan runtuh, jika tidak menikah menanggung malu, sedangkan jika menikah dirinya akan diusir dari kediaman utama.
Apa ayah dan ibu Imanuel akan menerima Reina? Apa kakeknya akan setuju? Mungkin sampai rumah sudah akan ada pengacara yang mengeluarkannya dari kartu keluarga. Bagaimana ini?
"Jangan omong kosong! Kamu mengatakan asal kan?" cibiran dari mulut Lukman, dapat menebak pemuda ini asal bicara.
"Tidak serius!" perintah Reina dengan bahasa bibir. Tidak mengeluarkan suara, hanya gerakan bibir.
"Tidak menjawab? Aku benar kan? Kamu hanya asal bicara! Mana ada yang mau dengan janda beranak satu di tambah harus tinggal dengan manula." Kalimat tidak terbantahkan dari mulut Lukman.
Kali ini papa benar-benar terpancing. Masa bodoh! Yang penting menang berdebat dulu."Aku serius, aku mau."
Hingga pak Bachtiar, duda berusia 50 tahun datang menyela."Saya mau, kenapa tidak mau? Mantan istri saya bahkan masih mengirim uang untuk orang tuanya di desa seberang menggunakan uang saya dulu. Reina sudah tidak punya orang tua, mungkin dia menganggap Bu Lastri seperti ibunya! Kamu jangan sembarangan, mengatakan Reina tidak ada yang mau!" tegas bapak-bapak berkumis itu mengedipkan sebelah matanya pada Reina.
"Mentang-mentang anak pak Lurah seenak jidatnya saja ngomong! Saya juga mau, kalau Reina mau! Kalau tau permasalahan Reina tolak lamaran saya dulu cuma karena Bu Lastri tidak ada yang urus, saya sudah nikah sama Reina dari setahun lalu. Cuma urus Bu Lastri saja, lagian Egie juga jadi ada yang bantu asuh." Geram tetangga sebelah yang masih bujang, pemilik warung lalapan.
"Heh! Lukman! Mentang-mentang baru pulang dari kota! Seenaknya saja kamu bilang semua janda itu bibit pelakor! Saya sebagai janda tersinggung! Memang kemauan kami jadi janda!? 10 tahun saja menjanda, cuma konsentrasi urus anak dari warisan almarhum suami saya! Apa pernah saya ganggu suami orang! Apa pernah saya ganggu bapak kamu!" ceriwis seorang ibu-ibu berusia 40 tahunan.
"Nak! Kamu tenang saja tidak perlu berkorban untuk membantu kakak iparmu. Adik saya seminggu lagi pulang dari Palembang, sudah lama naksir sama Reina. Kalau cuma syaratnya Bu Lastri tinggal sama-sama, adik saya pasti setuju. Bu Lastri juga orangnya tidak boros, rajin, mau jagain cucu." Ucap penjaga warung depan pada Imanuel.
Gila! Benar-benar janda gatal, sudah berapa orang membelanya dan mengatakan ingin melamarnya. Tapi bukan perasaan lega yang ada di dada Imanuel tapi rasa sakit bagaikan dadanya benar-benar terasa berat.
"Aku kenapa?" batinnya, mengepalkan tangan, menatap bapak-bapak berkumis yang semakin menginginkan Reina, bahkan tetangga sebelah yang sering mengintip kala dirinya akan mengantar Reina ke pabrik.
Mereka adalah saingannya. Saingan apa? Saingan dalam hal ketampanan, karena sekali lagi, papa tidak sayang mama. Tidak sayang, tidak sayang.
Egie menarik ujung pakaian Imanuel."Papa, apa mama akan menikah?"
__ADS_1
Akan menikah? Kata-kata yang membuat Imanuel tertegun. Menghela napas berkali-kali menetralkan rasa sakit yang menghujam dadanya.
"Kami datang dengan niat baik-baik, maaf kalau kata-kata Lukman terdengar emosional." Ucap pak Lurah menatap tajam pada putranya.
Lukman menghela napas kasar menekan amarahnya. Matanya melirik sekilas perubahan ekspresi wajah Reina, wanita yang tadinya berusaha terlihat ramah, kini seakan-akan acuh. Dirinya menyadari satu hal, dalam hal ini dirinya salah bicara.
Seharusnya menjaga citra sebelum pernikahan. Setelah memilikinya, kata-kata apapun yang terlontar sah-sah saja. Dalam hal ini dirinya salah langkah, emosinya pada adik ipar Reina, dilampiaskannya pada sang pujaan hati.
"Reina, maaf aku salah bicara tadi. Aku tidak bermaksud---" Kata-kata Lukman disela.
Pada awalnya Reina yang ingin memberikan kesempatan membuka harinya, dengan syarat Lukman memberinya ijin mengurus Lastri, mengingat hubungan mereka di masa remaja, walaupun hanya sebatas cinta monyet. Tapi tidak pernah ada dendam ketika hubungan itu berakhir. Tapi kini? Benar-benar pria br*ngsek yang menyebalkan. Apa karena dia sekarang mapan? Tapi mungkin gajinya hampir sama dengan Reina bukan? Jika ditambah dengan uang lembur dan penjualan agar-agar.
"Maaf, sebelumnya saya menghormati pak lurah. Karena itu saya meminta maaf jika menyakiti hati bapak. Tapi saya tidak dapat menikah dengan Lukman, karena Egie takut dengan orang asing. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti. Jadi saya memutuskan untuk sendiri saja." Kata-kata yang selalu diucapkannya saat menolak pria-pria, yang melamarnya. Pertanda Reina menutup hatinya.
"Re... Reina aku bisa dekat dengan Egie. Aku sering bermain dengannya di rumah Bu Wati. Ayo kemari Egie..." Ajak Lukman tersenyum dipaksakan.
"Mama tadi nangis, papa Egie takut," Anak itu malah memeluk tubuh Imanuel semakin erat.
"Kamu!" Lukman menghela napas kasar. Kembali menatap ke arah Reina."Seandainya aku tidak pergi ke kota seharusnya kita sudah bersama."
"Syukurlah kamu pergi ke kota," batin Reina mengelus dada. Tidak bisa dibayangkan olehnya jika menikah dengan Lukman. Mulut yang begitu pedas merendahkan.
"Reina---" Kata-kata Lukman disela.
"Menikahlah dengan gadis, jangan menikah dengan janda. Kamu masih bujang, masih banyak gadis desa yang menginginkan suami seorang pegawai negeri sipil. Kamu terlalu berharga untukku. Ibaratnya aku bagaikan pengemis yang memakai mahkota raja." Kata-kata menusuk penuh senyuman dari mulut Reina. Menolak dengan sopan, tapi tetap saja terasa menyakitkan.
"Reina, aku sudah minta maaf. Aku---" Kata-kata Lukman kembali disela.
"Sudah, ayo kita pulang. Maaf, sudah membuat keributan. Bukan maksud putra saya yang merendahkan statusmu." Pak Lurah menarik putranya.
"Tapi bapak, Reina---"
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian. Kamu kalau bicara dijaga! Kamu itu pegawai negeri sipil!" bentak sang ayah, menarik paksa putranya pergi.
Sedangkan warga sekitar yang menjadi wartawan dadakan perlahan mulai bubar.
"Ingat! Jangan dekat-dekat dengan kakak iparmu!" peringatan keras dari pak Bachtiar.
"Kamu tidak perlu berkorban, menikahi Reina. Nanti saya bawa adik saya kemari. Tetap pisah kamar! Ingat!" tegas pemilik warung depan yang memang menginginkan Reina menjadi adik iparnya. Ingat! Bunga desa yang kini menjadi janda kembang mandiri.
Tidak pernah ada yang begitu banyak mencibirnya. Karena wanita itu hanya fokus mencari uang. Tidak pernah memiliki waktu untuk menggoda bapak-bapak di post ronda. Mengatakan seorang janda adalah bibit pelakor? Janda hanyalah status, tergantung pilihan hidup dan hati manusia yang ada di dalamnya.
*
Malam semakin larut. Ada yang aneh hari ini semenjak mereka makan malam, Lastri dan Egie tidak terlihat. Bahkan tidak biasanya pintu kamar Lastri terkunci.
"Ibu tidur dengan Egie malam ini!" teriak Lastri dari dalam kamar.
Reina hanya dapat menghela napas kasar. Namun ketika dirinya berbalik Imanuel berada di sana hanya dengan sehelai handuk yang melilit di pinggangnya. Rambutnya masih basah, aroma maskulin tercium menyengat. Wanita yang menelan ludahnya sendiri.
"Apa lihat-lihat!" bentak Imanuel.
*
Apa yang sejatinya terjadi di dalam kamar? Lastri memeluk tubuh Egie erat, mencoba menidurkan cucunya.
"Nenek Egie ingin tidur dengan mama papa." Gerutu sang anak.
"Tidak boleh, malam ini papa dan mamamu akan membuat adik. Nanti kalau saat Egie tidur ada gempa di tempat tidur bagaimana?" tanya Lastri menjelaskan dengan kata-kata ambigu.
"Gempa? Jadi kalau mama sayang papa. Papa sayang mama. Lalu mereka membuat adik, akan ada gempa?" tanya Egie takut-takut.
Dengan cepat Lastri mengangguk, senyuman aneh terlihat di wajah keriputnya.
__ADS_1
.