
Menjadi kekasih Nadila adalah hal yang terindah dalam hidupnya. Wajah pemuda itu tersenyum, dengan ragu menggandeng tangan Nadila.
Dua orang yang tersenyum simpul tertawa kecil. Apa cinta selalu indah? Apa pertengkaran tidak pernah terjadi? Tentu saja pernah.
Kala wanita itu turun dari mobil sedikit tertunduk. Berjalan ke arah kekasihnya yang menunggu di depan pintu gerbang, menyodorkan sekotak susu UHT, bergambar tokoh animasi.
Tidak bicara saat ini, menikmati kebahagiaan mereka. Kala saling bertukar surat cinta, mengingat sang pemuda yang tidak memiliki phonecell.
Seperti biasa, Dahlan mengantar kekasihnya sepulang sekolah, meskipun dengan berjalan kaki. Dunia ini terlalu indah jika dihabiskan untuk balas dendam. Merelakan segalanya, kini dirinya bahagia, hatinya menghangat.
Tangan pemuda itu ditariknya, menaiki sebuah angkot.
"Kita mau kemana?" tanya Dahlan.
"Ke tempat ibuku. Aku ingin minta maaf sekaligus memperkenalkan mu padanya." Jawaban dari Nadila. Sedangkan Dahlan hanya mengangguk menggenggam jemari tangannya.
Mengapa dirinya mencintai wanita dingin ini? Entahlah, mungkin segalanya berawal dari cerita teman-temannya tentang kehidupan Nadila. Dirinya perlahan mengetahui tidak sendirian di dunia ini. Ada juga orang yang sama kesepian sepertinya.
Hingga angkot terhenti, dua orang yang telah sampai di makam. Tidak membawa apapun, hanya membawa diri.
Tak!
Setangkai bunga asal dipetik Dahlan di pinggir jalan menuju makam."Aku tidak punya uang, jadi hanya bisa membawa oleh-oleh ini untuk ibumu."
"Aku yang akan membeli---" Kata-kata Nadila disela.
"Kesan pertama pada ibu mertua harus baik, jadi harus pemberian ku!" tegas Dahlan, mendahului jalan Nadila.
"Memang kamu tau makam ibuku dimana?" tanya Nadila mengikuti langkahnya. Sejenak Dahlan menghentikan langkah, pemuda itu terkekeh.
"Tidak tau," jawaban darinya, hanya dapat membuat Nadila tepuk jidat.
*
Akhirnya batu nisan itu terlihat, sedikit dibersihkan oleh sang kekasih. Kemudian meletakkan bunga diatasnya."Bibi aku memang tidak mengenalmu. Tapi, terimakasih sudah melahirkan dan membesarkan Nadila."
"Ibu, maaf aku tidak bisa membunuhnya. Karena aku ingin menghabiskan sisa waktuku dengan pemuda yang aku cintai. Ibu tidak marah kan?" tanya Nadila.
Dahlan tertawa kecil."Bibi sampaikan pesanku pada Tuhan. Aku ingin selalu bersama anak bibi."
"Kamu percaya Tuhan itu ada?" tanya Nadila.
Dahlan mengangguk."Beliau ada walaupun tidak terlihat. Semua perbuatan baik akan membawakan hasil yang baik juga. Seperti aku saat ini sudah mengumpulkan uang untuk---" Kata-kata pemuda itu terhenti merasa salah bicara.
"Untuk?" Nadila mengenyitkan keningnya.
"Bu...bukan apa-apa!" Dahlan mengalihkan pandangannya gugup, tidak ingin dua celengan anehnya ditertawakan.
"Sebenarnya ayah ingin aku melanjutkan kuliah di luar negeri. Bagaimana pun aku anak tunggalnya, harus meneruskan perusahaannya. Tapi aku menolaknya," Nadila tersenyum menginginkan pujian.
__ADS_1
Tapi apa bisa? Masa depan yang cerah jika kuliah di luar negeri. Mencintai? Dirinya menginginkan yang terbaik, kebahagiaan untuk kekasihnya.
"Lebih baik hubungan ini kita akhiri saja." Ucap Dahlan tersenyum, lebih tepatnya pura-pura tersenyum.
"Kenapa!? Kamu tidak menyukaiku? Bosan padaku?" tanya Nadila pada kekasihnya.
Sang pemuda dengan seragam putih yang telah menguning itu menggeleng."Aku hanya ingin masa depanmu---"
"Br*ngsek!" geram Nadila terbawa emosi.
"Aku tidak bermaksud," Dahlan mengejarnya, bingung bagaimana untuk menjelaskannya. Istilahnya putus enggan, tapi tidak ingin hubungan mereka menghalangi masa depan Nadila.
"Apa!?" bentak Nadila kala tangannya ditarik, tubuhnya dibawa dalam dekapan sang pemuda.
"Jika kuliah di luar negeri masa depanmu mungkin akan lebih baik. Aku juga akan berusaha disini, agar dapat mengejar langkahmu. Aku bingung harus bagaimana. Tidak ingin ini berakhir tapi---" Kata-kata Dahlan terhenti.
Wanita itu tiba-tiba melepaskan pelukan sang pemuda, menatap matanya, perlahan berjinjit mencium bibirnya.
Sang pemuda membulatkan matanya, memegang tengkuk kekasihnya. Ini benar-benar gila, dua remaja yang masih memakai seragam. Mungkin satu bulan lagi adalah ujian akhir. Hal yang pada awalnya mereka anggap menjijikkan, kini mereka lakukan lagi. Ini tidak menjijikkan, jantung mereka berdegup senada terasa nyaman. Benar-benar nyaman.
*
Perasaan yang semakin hangat kala angkot itu melaju. Berhenti di area pasar untuk menaikkan penumpang. Mengantar Nadila pulang adalah tujuan Dahlan kini.
"Kita jalan kaki saja," saran dari Nadila.
Bug!
Dengan cepat gadis itu berada di punggung kekasihnya. Hanya tertawa, menikmati kebahagiaan yang entah kapan berakhirnya.
Kala langit semakin gelap, hujan deras mulai turun. Kedua remaja berteduh di emperan toko, dekat dengan tempat tinggal Dahlan.
Benar-benar kedinginan."Sudah aku bilang tunggu angkot saja!" komat-kamit mulut sang pemuda mengomel. Tapi tetap memberikan baju olahraganya yang kering, ada dalam tas pada kekasihnya. Tidak mempedulikan tubuhnya yang menggigil.
Plak!
Nadila memukul bahu kekasihnya."Cerewet!" geramnya.
"Kita ke rumahku dulu, daripada kamu sakit." Dahlan mengusap-usap bahunya sendiri, kemudian menarik tangan kekasihnya. Kebahagiaan itu sederhana bukan? Bahkan dalam hujan pun ada sebuah kebahagiaan. Bagai anak kecil yang bermain air hujan.
Hingga suara petir menggelegar, membuat keduanya berteriak ketakutan memasuki rumah yang bagaikan gubuk itu dengan cepat.
"Penakut!" Nadila menertawakan kekasihnya.
"Memang," Dahlan ikut terkekeh.
Hubungan sepasang remaja yang tidak diketahui Jovi, ayah Nadila. Sesuatu yang akan menambah lebar luka hati putrinya.
Dua remaja yang tertawa dan bergurau. Meminum teh hangat, hingga mata gadis itu menelisik. Menatap Dahlan yang mengeringkan rambutnya sendiri. Tidak terlalu tampan, tapi entah kenapa begitu rupawan di matanya.
__ADS_1
Gadis yang takut kehilangannya. Pandangan matanya kembali teralih melihat dua buah kotak biskuit kaleng. Satunya bertuliskan 'Menjadi Pangeran' satunya lagi bertuliskan 'Menikahi Putri.'
Dengan cepat Nadila bangkit mengambil kedua buah kaleng."Ini apa?" tanyanya.
Dahlan benar-benar malu saat ini. Berusaha merebut kedua kaleng biskuit. Namun Nadila yang mundur kebelakang menabrak tempat tidur, ikut menarik Dahlan jatuh ke atas tubuhnya.
"A...aku..." Ucap wanita itu gugup, kekasihnya hanya tersenyum.
"Menjadi pangeran, karena aku belum pantas untukmu. Jadi aku menabung untuk kuliah dan mencari pekerjaan yang layak. Menikahi putri, aku ingin---" Kata-kata Dahlan terhenti, Nadila meraih tengkuknya mencium bibir kekasihnya.
Canggung? Tidak ada begitu nyaman. Dua remaja yang tidak mengerti apapun. Dingin, benar-benar terasa dingin, kala suara petir yang menakutkan itu terdengar dari luar.
Ciuman yang semakin dalam. Tanpa ijin atau apapun, sang gadis mengeratkan pelukannya. Pada awalnya bibir dingin itu hanya menjelajahi wajah, hingga sampai pada leher.
Respon tubuh yang aneh, sang gadis menonggakkan kepalanya, memejamkan matanya."Dahlan..." ucapnya lirih.
Mata mereka saling menatap sejenak, kemudian kembali saling berciuman.
Dua orang yang ingin menghentikan ini, namun terasa nyaman bagi mereka. Semakin banyak bagian tubuh yang saling menyentuh maka semakin nyaman. Saling melepaskan pakaian. Helai demi helai yang teronggok hingga tidak bersisa.
Rasa nikmat yang menjalar, kala tidak ada benang yang membatasi tubuh mereka. Hanya berpelukan dan berciuman di tengah suara hujan lebat berbenturan dengan atap seng. Sepasang mata yang saling menatap sejenak dengan deru napas tidak teratur.
"Temani aku hingga aku mati," pinta Nadila pada kekasihnya.
Pemuda itu mengangguk, tubuh mereka kembali berpelukan bergerak gelisah. Apa yang mereka cari? Entahlah, hingga setiap inci tubuh Nadila dijelajahi bibir sang pemuda.
"Agh..." pekiknya menginginkan ciuman itu lebih dan lebih merambat lagi. Menjambak pelan rambut sang pemuda.
Kapan? Entahlah hanya jeritan kecil kala tubuh itu menyatu.
"Ma ...maaf," sesal Dahlan.
Gadis itu menggeleng, menarik tengkuk sang pemuda, melanjutkan ciuman mereka. Ranjang tua itu berderit, dua remaja yang kesepian.
Air mata Nadila mengalir malam itu."Aku ingin memilikimu selamanya. Jangan pernah meninggalkanku."
Pemuda itu mengangguk."Ini salahku mengambilnya sekarang. A... aku,"
Wanita itu menggeleng."Berjanjilah kita akan bersama selamanya."
"Aku akan selamanya menjagamu," janji Dahlan.
Matanya menelisik menatap dua kaleng biskuit yang teronggok di lantai, uang koin dan uang kertas berhamburan. Tabungan yang mungkin hanya cukup membeli sepasang cincin emas campuran yang murah.
Segera setelah ujian akhir dirinya akan melamar Nadila. Menikah? benih yang ditanamnya dalam rahim kekasihnya. Apa akan tumbuh?
Tidak ada yang tau akan masa depan."Maaf dan terimakasih," ucap Dahlan dalam air mata yang mengalir. Pada akhirnya dirinya tidak akan hidup seorang diri lagi.
Sedangkan Nadila mengeratkan pelukannya, tersenyum tanpa beban. Apa Tuhan itu ada? Baginya ada Tuhan lah yang telah memberikan pemuda ini untuknya. Pemuda yang mencintainya dengan tulus, memberinya air dan makanan saat kelaparan. Membuat dirinya melupakan dendamnya.
__ADS_1