
Deru tepuk tangan penonton terdengar, bahkan cenderung menjadi teriakan. Wajah yang cantik, penampilan mendukung ditambah dengan keahlian bernyanyi dan menari.
Kagum? Tentu saja, bahkan tidak ada yang tau nama group yang baru tampil. Jemari tangan Nadila mengepal dirinya menonton dari kursi VVIP, bersama selebriti-selebriti lainnya yang masuk nominasi.
Kru acara ajang penghargaan sekaligus ulang tahun stasiun televisi juga terlihat kagum. Ditambah dengan rating acara yang semakin tinggi. Berbagai ulasan positif di internet juga terlihat kala acara ini ditayangkan live.
*
Seorang pria baru saja mendaratkan pesawatnya. Berjalan melewati hiruk-pikuk ramainya bandara, menarik koper miliknya. Pemuda yang menghela napas berkali-kali, memikirkan akan memakan capung yang sudah dibelinya di Taiwan.
Seragam masih melekat di tubuhnya, wajah rupawan dari sang duda beranak satu. Pergi ke coffee shop bandara. Menghela napas berkali-kali, memikirkan betapa bahagianya memiliki kekasih cantik. Kecantikan yang tidak diketahui siapapun, siapa sangka seorang SPG rokok dapat begitu.
Selamanya dirinya akan menyembunyikan jika kekasihnya memiliki kecantikan yang dapat mengalahkan selebriti. Pernikahan mereka juga sudah dekat. Dapat dikatakan calon istri.
"Kapten," seorang pramugara, mengenyitkan keningnya.
"Apa?" tanya Anwar, pilot pesawat yang tengah duduk di coffee shop.
"Kapten, aku dengar pacar kapten seorang seles rokok ya? Lebih baik putus saja. Nanti aku kenalkan dengan yang lebih cantik, kakakku foto model, punya butik sendiri lagi!" ucap sang pramugara.
"Tidak! Aku tidak bisa putus dengannya." Pemuda berpakaian pilot itu tersenyum-senyum sendiri.
"Pertimbangkan saja! Ini fotonya, kakakku benar-benar cantik. Sales rokok itu tidak ada apa-apanya." Sang pramugara menyodorkan foto seorang wanita.
"Ini diedit habis-habisan kan? Aku tidak tergoda. Lagi pula pacarku punya inner beauty tersendiri, dan hanya aku yang tau." Ucapnya tidak ingin pria di sampingnya ini tertarik pada pacarnya tersayang. Sales rokok lulusan SMU.
Wajahnya menatap ke arah bunga di vas, membayangkan akan disambut ketika datang nanti.
Hingga semua orang tiba-tiba melihat ke arah televisi yang ada di coffee shop. Bahkan pramugara yang ada di sampingnya berteriak-teriak."Yang main piano tipeku! Tapi yang turun dari ayunan tinggi, terlihat tidak berdosa tapi menggoda." Ucapnya histeris.
"Kapten! Kapten! Kamu pilih yang mana?" tanyanya menunjuk ke arah televisi.
Lamunan Anwar yang tengah membayangkan kekasihnya terhenti. Sejatinya dirinya kesal dan marah. Hanya karena artis yang kecantikannya jauh dibawah pacarnya lamunannya buyar.
Dengan malas dirinya melirik ke arah televisi.
"Kapten! Sudah aku putuskan! Aku suka yang turun dari ayunan. Cantik dan terlihat polos!" ucapnya lagi histeris.
Anwar membulatkan matanya, dengan cepat mungkin panik karena bertambah orang yang mengetahui kecantikan pacarnya. Mata pramugara itu ditutup menggunakan tangan olehnya."Jangan lihat!" bentaknya.
__ADS_1
"Tapi semua orang juga lihat. Aku ingin nonton!" bentak sang pramugara, melepaskan tangan sang pilot yang menutup matanya.
Anwar melihat ke sekeliling, semua orang memang terpaku melihat ke arah televisi. Terpaku menatap Rosita yang ada di atas panggung. Dengan genitnya mengedipkan sebelah matanya ke penonton sambil bernyanyi dan menari.
Dengan cepat dirinya meraih phonecell, membaca komentar orang-orang yang menonton secara live di internet.
'Apa nama groupnya?'
'Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan yang bermain piano.'
'Yang turun dari ayunan lebih terlihat menantang.'
'Jujur yang keluar dari panggung kanan lebih cantik.'
'Yang dari panggung kiri sama cantiknya.'
'Bagaimana jika kita membuat fans club saja. Jujur aku ingin lebih dekat dengan mereka. Siapa tau ada kesempatan. Selebriti baru debut biasanya kan masih singgel.'
'Kalian akan kalah saing! Aku pengusaha batu bara! Fans nomor satu mereka. Sudah pasti calon suami masa depan salah satu dari mereka.'
Berbagai komentar dibacanya. Pilot itu duduk di kursi sejenak menenangkan fikirannya.
"Dia pacarku! Sales rokok! Dia pacar yang tidak pernah aku perlihatkan!" bentak Anwar, segera pergi menarik kopernya dengan cepat setelah membayar minuman. Tempat tujuannya? Tentu saja stasiun televisi.
*
Sedangkan di tempat lain, seorang dokter bedah tersenyum menatap ke arah pasiennya yang baru sadar pasca operasi.
"Setelah ini aku akan menceritakan pada Tari, hari ini aku berhasil mengangkat tumor yang lumayan besar. Memotongnya tapi tidak sengaja mengenai pembuluh arteri. Menyebabkan pendarahan, hingga seluruh pakaian operasi terkena cipratan. Di tambah ketika tumor diangkat, warnanya benar-benar putih." batinnya akan menceritakan pada kekasihnya penuh kebanggaan.
"Dok, pacar anda tampil di TV." Seorang perawat menghela napas kasar.
"Di TV? Mungkin kamu salah orang. Tari lebih suka bekerja di kantin rumah sakit." Ucap sang dokter, masih menunggu pasien sadar.
"Komentar-komentarnya di internet, wow! Ada yang bahkan sudah menyiapkan mahar 3 miliar jika salah satu dari mereka menerima lamarannya." Seorang perawat menyodorkan phonecellnya pada Jovanka.
Mata Jovanka membulat sempurna."A...aku harus pergi! Aku akan menghubungi dokter Ria untuk menggantikanku!" Ucapnya gelagapan menghubungi dokter lain untuk menangkap pacarnya yang bandel.
*
__ADS_1
Lalu apa yang dilakukan Raka dan Dwi? Mereka hanya duduk berdua menghela napas kasar. Sudah lelah rasanya dan enggan untuk cemburu. Duduk di area lorong tempat acara berlangsung, meminum kopi hangat.
"Kenapa tidak nonton?" tanya Raka.
"Tidak ingin sakit hati. Aku juga tidak akan membuka internet beberapa hari ini, kecuali untuk urusan pekerjaan." Jawab Dwi meminum kopinya.
"Kamu juga sering mengalaminya ya?" tanya Raka.
Dwi mengangguk."Dia digoda oleh berbagai macam pria walaupun pada akhirnya di tolak. Tapi tetap saja membayangkan banyak orang menginginkan pacarmu itu sulit, menyakitkan." Kata-kata dari mulutnya.
"Karena itu juga aku tidak menonton. Kami dulu sahabat, dia sering keluar masuk mobil pria yang berbeda. Terasa menyakitkan walaupun tidak berdarah. Walaupun Fujiko sekarang sudah jinak tapi tetap harus diikat." Kata-kata dari mulut Raka.
Pemuda itu sibuk mengetik phonecellnya dari tadi. Apa yang dilakukannya? Memerintahkan seseorang untuk mendata mulut kotor pria-pria yang berkata akan mengencani istrinya.
Prostitusi di kalangan artis? Beberapa orang membicarakannya. Ada yang menawar akan membeli mereka semalam dengan tawaran uang miliaran rupiah. Bodoh bukan?
Dengan cepat Raka mengetik, mengirimkan pesan pada Danu. Setelah mengirimkan screenshot komentar orang-orang yang menawar.
'Besok bawa mereka ke kantor ayahku! Sewa pengacara terbaik! Aku akan menuntut mereka hingga miskin!' Pesan yang dikirimkan oleh Raka, berniat membawa ini ke jalur hukum. Demi tebalnya kantong istri tersayang.
*
Pertunjukan yang diakhiri dengan derai tepuk tangan penonton. Wajah mereka berempat tersenyum. Segera turun dari panggung, duduk di kursi yang dekat dengan Nadila.
Wanita yang pada awalnya terlihat menjadi yang tercantik diantara artis-artis lain, sekarang tidak lagi. Dirinya dari yang paling cantik, terlihat jadi yang paling jelek. Ibarat bunga Kamboja, yang kini dikelilingi oleh bunga mawar segar yang indah. Kecantikan yang menjadi tertutup.
"Ke... kenapa kalian duduk disini?" tanya Nadila.
"Aku ingin numpang popularitas dari kakak ipar." Ucap sang adik ipar (Fujiko) tidak tahu diri.
"Nadila, kamu sebenarnya cantik." Pujian dari Tari. Nadila tersenyum senang, tapi hanya sesaat.
"Tapi sayangnya warna bajumu tidak serasi. Serba putih, kamu ingin menikah, memakai gaun putih?" lanjut Tari.
Perhatian beberapa artis yang duduk di sekitar mereka teralih berbisik-bisik membicarakan gaun Nadila. Wanita yang menghela napasnya tidak dapat berbuat apa-apa citra gadis baik harus dijaganya.
"Mungkin dia salah kostum saat memilih gaun di internet. Kita juga sering melakukannya kan? Memberi sepatu hak tinggi untuk mendaki gunung." Alasan dari Fumiko, terdengar membela Nadila. Tapi entahlah, malah aslinya menyudutkan.
Beberapa selebriti masih setia menahan tawa mereka.
__ADS_1
"Si*lan!" geram Nadila dalam hati. Hanya dapat mendengar dan tersenyum.