
"Ada apa?" tanya Reina dengan nada malas, mendapatkan waktu tambahan tidur 45 menit sudah cukup untuknya. Wanita yang menguap beberapa kali, melirik ke arah kantong belanjaan yang penuh.
"Kamu beli itu semua?" tanyanya menatap bahan makanan yang dibeli Imanuel.
Pemuda itu tidak menjawab, menatap tajam pada wanita nakal ini."Siapa itu anak pak Lurah?"
"A... anak pak Lurah? Oh... Lukman?" gumamnya mengingat-ingat cinta monyetnya yang terhalang ruang dan waktu. Kala pemuda itu harus kuliah di kota. Menyatakan putus dengan tegas, memilih jalan masing-masing. Hingga akhirnya bertemu dengan Rian, pemuda dengan keputusan kukuh. Kelebay-an tingkat tinggi, membuat syuting adegan romantis drama Korea dan India. Wanita mana yang dapat menolak, tapi Reina tidak menyesal walaupun usia suaminya pendek. Karena hingga akhir Rian pria yang bertanggung jawab.
"Iya! Mantanmu kan? Aku dengar-dengar dia mau datang melamarmu," Imanuel menatap sinis.
"Melamar? Aku mau dilamar? Kalau begini harus beli kain kebaya, atau beli online saja." Ucap Reina antusias.
"Kenapa kamu tidak merasa bersalah?" bentak Imanuel.
"Kenapa harus merasa bersalah? Tidak ada yang disakiti dalam hal ini. Selain itu aku seorang janda buluk, jadi tidak boleh pilih-pilih." Senyuman di wajah Reina, membuat Imanuel tidak dapat menjawab.
Wanita ini benar-benar membuatnya frustasi. Seharusnya dirinya yang marah, kemudian Reina tertunduk, mengangguk, meminta maaf dengan tulus. Mengemis kata maaf dari dirinya. Tapi kenapa dirinya yang malah tersudutkan?
Pemuda itu menipiskan bibir menahan rasa kesalnya. Hingga Egie menggeliat kemudian terbangun."Mama," ucapnya lirih.
Dengan cepat papa, maaf salah maksudnya Imanuel mengangkat tubuh Egie."Egie sayang, sama paman ya? Ayo ke kamar mandi," ucapnya penuh penekanan dengan nada kesal. Bagaikan seorang bapak-bapak ambekan. Mencari perhatian dan pembenaran dari bocah kecil di gendongannya.
"Aneh," Reina menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan tingkah anak konglomerat di hadapannya.
*
Hari-hari berjalan seperti biasanya. Hanya saja ada suatu perubahan yang berbeda. Kini dirinya diantar jemput oleh Imanuel.
Pemuda aneh yang bahkan mengantarnya ke warung-warung untuk membawa agar-agar.
"Siapa yang antar? Pacarnya ya?" tanya seorang ibu-ibu.
__ADS_1
"Bukan, ini adik almarhum Rian. Kebetulan baru pulang dari Sulawesi." Jawaban darinya canggung.
"Kalian nikah saja." Celetuk seorang ibu-ibu.
Imanuel mengenyitkan keningnya, sedikit melirik Reina. Sama juga dengan Reina. Dua orang yang pada akhirnya membuang muka.
Sudah sekitar satu bulan dirinya tinggal di tempat itu. Sembari memikirkan langkah selanjutnya. Namun, entah kenapa hanya jalan buntu yang tersisa, dirinya tidak bisa mendekati kediaman utama, karena Raka ada disana. Cukup sulit untuk bertemu dengan sang kakek.
Hari ini angin berhembus perlahan. Reina berkata akan ke tempat kost sahabatnya yang katanya jadi TKI. Tapi pulang dari luar negeri dengan cepat. Ini memang hari libur, tapi janda gatal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Sudah pasti yang ditemuinya seorang pria.
Hingga setelah melewati area pabrik yang tutup, motor melaju melewati area jembatan. Reina tersenyum entah apa yang ada di fikirannya saat ini.
"Aku ingin punya pacar!" teriaknya.
"Dasar janda gatal!" cibir Imanuel.
Tikungan mereka lalui hingga beberapa pepohonan rindang terlihat. Hingga pada akhirnya motor terhenti di area salah satu tempat kost tiga lantai.
Tempat yang dikenali oleh Imanuel, matanya menelisik. Menelan ludahnya sendiri, disinilah seharusnya si kikir tinggal.
"Iya! Aku bilang juga ini pembicaraan antara perempuan tapi kamu tetap memaksa ikut!" cibir Reina kesal.
"A...aku..." Imanuel meraih masker, enggan menutup helmnya. Pemuda yang mengetahui betapa kejam sebenarnya sifat saudara sepupunya. Sudah pasti salah satu kamar dihuni oleh Raka.
Hingga pada akhirnya Reina mendekati salah satu pintu. Mengetuknya beberapa kali."Fujiko!" panggilnya.
"Sebentar!" suara seorang wanita dari dalam sana. Hingga akhirnya pintu tiba-tiba terbuka.
Imanuel terpaku diam. Wanita yang benar-benar cantik, tidak berkedip sama sekali. Memakai mini dress berwarna hitam kontras dengan kulit putihnya.
"I... Imanuel," ucapnya gelagapan, memperkenalkan dirinya tanpa disuruh pada kecantikan yang hakiki.
__ADS_1
"Mata keranjang!" bentak Reina mencubit lengan Imanuel. Geram rasanya kala pemuda itu centil pada Fujiko. Sekali lagi, walaupun berkali-kali harus diingatkan. Mama tidak sayang pada papa. Hanya saja mama kesal, dengan kekuatan batin papa dapat mengendus wanita cantik.
"Kalian pacaran? Kamu akhirnya move on juga! Kalau kalian bertengkar berapa kali di ranjang?" tanya Fujiko menipiskan bibir menahan tawanya.
"Tidak banyak, hanya lima kali," dusta Reina. Membuat Imanuel membulatkan matanya.
"Aku tidak---" Kata-kata pembelaannya dipotong.
"Sudah ayo masuk! Anggap saja rumah sendiri!" ucap Reina bagaikan pemilik kost.
Ruangan yang begitu rapi. Beberapa barang mewah terlihat di sana dalam kost-kostan murah. Mata Imanuel menelisik mengamati cincin berlian di jari manis sang wanita yang katanya bernama Fujiko.
"Dia istri simpanan konglomerat." Batinnya bagaikan akun majalah gosip.
Fujiko mengambil minuman dari dalam kulkas. Kemudian menyajikan di hadapan dua orang di hadapannya. Kamar yang begitu sempit berukuran 3 kali tiga. Dari cincin berlian di jari tangan Fujiko, seharusnya konglomerat yang menjadikannya istri simpanan dapat membeli rumah atau apartemen dengan mudah. Tapi kenapa masih tinggal disini?
"Fujiko kenapa kamu pulang? Bukannya katanya si kikir akan menjadi TKI?" tanya Reina, matanya kembali menelisik. Tidak ada kipas angin lagi, yang ada hanya AC, TV analog telah berganti dengan TV digital sesuai anjuran pemerintah, bahkan ada beberapa pajangan mahal disana. Skincare milik sahabatnya juga berbeda, ini tidak seperti biasanya, tercium aroma uang yang menyengat.
"Sebenarnya, untuk sementara waktu aku menjadi istri simpanan," ucapnya tertunduk ragu bercerita.
"Sudah aku duga!" celetuk Imanuel tiba-tiba.
"Si kikir dimana? Dia meninggalkanmu?" tanya Reina.
Fujiko menggeleng."Keluarganya tidak setuju dan menjodohkannya dengan orang lain. Jadi---" Kata-kata Fujiko terpotong.
"Jadi kamu pasti sedih kan? Jangan mencari jalan pintas dengan menjadi wanita simpanan!" tegas Reina tidak ingin sahabatnya mengambil jalan sesat.
"Aku bahagia," gumam Fujiko tersenyum.
"Kamu bohong kan? Mana ada istri simpanan yang bahagia? Dasar si kikir, sudah pelit, celap-celup seperti daun teh berkwalitas! Lalu kabur." Geram Reina.
__ADS_1
"Aku serius, aku bahagia. Ibu mertuaku memenuhi isi kulkasku dengan makanan yang dimasakkan koki pribadi, katanya agar aku cepat hamil. Si kikir datang setiap ada kesempatan, katanya tidak akan membiarkan lahannya kering. Aku makan dan tidur seperti b*bi, siapa yang tidak bahagia," Fujiko tersenyum. Apa yang sebenarnya terjadi padanya di Singapura?
Sedangkan Imanuel mengenyitkan keningnya masih berjaga-jaga."Fujiko kamu sudah tinggal lama di tempat ini, apa ada psikopat kaya yang bersembunyi tinggal disini?" tanyanya masih ketakutan akan bertemu dengan sepupunya yang berselingkuh dengan tunangannya.