
Tidak ada yang menyangka pesta pernikahannya akan menjadi seperti ini. Raka menghela napas kasar menatap jumlah saldo rekeningnya. Alokasi dana untuk menikah sudah ada dan dikumpulkannya. Mengadakan pesta besar-besaran untuk membahagiakan istrinya. Tapi sayangnya takdir berkata lain, dirinya kini mengenakan jas yang dibelikan oleh kekasih Rosita.
Gaun pernikahan dibelikan oleh kekasih Fumiko, serta dekorasi disiapkan oleh Tari.
Sang pemuda menatap penampilannya di cermin, bahkan penampilannya saat menemui klien lebih baik daripada saat ini. Tapi sekali lagi, waktu untuk menikah hanya 2 minggu, jika diwarnai dengan pertengkaran karena kebohongan, dirinya akan pergi tanpa menikah. Kemudian Fujiko akan didekati oleh Sean.
Tidak! Itu tidak boleh terjadi, susah payah dirinya membuat patok, tapi lahan miliknya malah diambil alih, dibajak, diairi, bahkan ditanamkan bibit oleh orang lain. Ini adalah lahan miliknya.
Hingga di pintu yang terbuka lebar itu terlihat seorang wanita menggunakan gaun berwarna merah, menghela napas berkali-kali."Kapan kamu jujur pada adikku?" tanya Fumiko.
"Tidak lihat aku ditampar di hadapan umum? Setelah ini aku akan jujur, begitu aku membawanya ke kediaman utama." Jawab Raka, merapikan dasinya sendiri.
Mata Fumiko menelisik, mengapa orang dengan status tinggi dapat tinggal di tempat kost-kostan murah. Ini benar-benar aneh, disaat crazy rich lainnya memamerkan mobil, pemuda ini malah menumpang mandi di kamar adiknya dengan alasan sabunnya habis.
"Apa kamu diusir dari rumahmu?" tanya Fumiko mengambil kesimpulan.
"Tidak, aku sudah tidak tinggal di rumah dari dua tahun yang lalu. Mulai membuka sebuah minimarket di usia 18 tahun dengan modal dari kakekku. Selanjutnya selama 8 tahun aku mencari pengalaman dengan mencoba beberapa bidang usaha. Sampai akhirnya aku jenuh dan memutuskan meninggalkan rumah keluargaku." Jawaban dari Raka pada saudara iparnya.
"Pantas saja hanya lulusan SMU. Intinya, kamu akan menjadi adik iparku. Aku tidak meminta keuntungan apapun, aku hanya ingin kamu menjaga adikku dengan baik. Jangan pernah berselingkuh." Hanya itulah pesan dari Fumiko, berjalan meninggalkan ruang ganti.
Sementara itu Raka tersenyum simpul. Tertawa sendiri, jemari tangannya terangkat menatap pantulan wajahnya di cermin. Entah kenapa, sejak Fujiko membawanya ke tempat tersebut kenangannya kembali terlintas.
Suara tembakan yang terdengar jelas, kala dirinya hampir terbunuh. Hampir meregang nyawa, hanya karena mencoba melarikan diri. Kepalanya dibenturkan pada dinding bata. Tangan kecil yang gemetaran merebut senjata api dari pinggang penculik. Membuat jarak kemudian menembaknya, dirinya hanya ingin hidup kala itu, hanya ingin hidup.
Suara tembakan yang pada akhirnya menyelamatkannya. Warga desa yang mendengar mulai berdatangan, salah satu penculik telah mati. Sedangkan yang lainnya melarikan diri.
Dirinya gemetar saat itu, bahkan berlari, dengan bodohnya mengira dirinya akan dipenjarakan karena membunuh. Benar-benar takut, pada keluarganya maupun warga desa.
Pemuda yang kini berdiri, menunggu calon pengantinnya tiba. Pangeran? Dirinya memang pangeran bukan?
Gadis yang melangkah mendekat, perlahan hendak mengucapkan janji di hadapan Tuhan. Terkadang sebuah takdir tidak disangka olehnya. Kala tinggal di kost-kostan kecil. Seorang gadis cantik datang membawa koper, menyapa dirinya. Itulah gadis yang harus dilindunginya kini.
__ADS_1
*
Kala janji itu telah terucap, Sepasang mata kini telah berhadapan. Diiringi dengan sorakan dari orang-orang yang hadir.
"Cium!"
"Cium!"
"Cium!"
Suara orang-orang yang terdengar.
"Walaupun tadi sudah mengucapkannya, tapi aku ingin mengatakannya dengan cara berbeda. Aku akan mencintaimu, walaupun maut memisahkan kita," bisik Raka.
"Maksudnya kalau kamu mati kamu akan menjadi hantu gentayangan yang mengikutiku? Dan jika aku mati, kamu tidak akan menikah lagi?" tanya Fujiko dengan suara kecil. Dijawab dengan anggukan kepala oleh Raka.
"Bibirmu berlumuran gula!" Ucap Fujiko, berjinjit, mengalungkan tangannya yang masih membawa buket bunga di pundak suaminya. Dua orang tidak tau malu, jika biasanya ciuman di depan umum hanya sekedar kecupan bibir, mereka malah menutup matanya, melakukan hot kiss.
"Aaa..." teriak Cahaya, menutup wajahnya dengan tangan malu-malu.
Ada yang janggal, hanya ada tanda centang satu.
Phonecell yang sejatinya berada di laut dalam. Tepatnya di dalam jok belakang mobil yang telah tenggelam selama dua hari. Perairan yang gelap dan tenang, Tidak ada satupun orang di dalam mobil. Sebuah pesan yang tidak akan pernah terkirim pada suaminya.
*
Mobil milik kekasih Fumiko berhenti di depan tempat kost. Ini permintaan Fujiko, dirinya ingin berbulan madu di tempat kost. Benar-benar irit bukan?
Tapi ada yang aneh, ketika dirinya turun dari mobil tidak ada satu orangpun disana. Menghela napas berkali-kali, terdapat tumpukan kotak hadiah di depan kamar kostnya. Wanita yang tersenyum simpul, membawanya masuk bersama teman kumpul kebo. Maaf, salah yang mulia suami tercinta.
Pintu ditutup oleh mereka, satu persatu kado dibuka.
__ADS_1
"Apa saja yang mereka berikan?" tanya Raka memeluk Fujiko dari belakang.
"Frame foto," jawabnya membuka kado yang pertama.
Tangannya lebih cekatan lagi membuka kado yang kedua."Gaun tidur,"
Hingga pada kado ke-tiga, sebuah kejutan terlihat. Dengan cepat Fujiko kembali menutup isi kotak menelan ludahnya sendiri.
"Apa isinya?" tanya Raka merebut kotak tersebut. Pemuda yang mengenyitkan keningnya menatap ke arah Fujiko.
"Kamu ingin kita bermain-main dengan ini? Atau sewajarnya saja?" tanya Raka dengan senyuman merekah.
*
Sementara sang pemberi kotak hadiah pernikahan kini tengah tertawa. Kemana semua penghuni tempat kost? Semuanya mendapatkan jatah menginap selama dua hari satu malam di dalam hotel berbintang, serta paket makanan malam lengkap dari Adinda. Penghuni tempat kost itu sejatinya 20 orang, mengingat tempat kost yang memiliki tiga lantai.
"Evi, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Cahaya dengan mulut penuh, memakan sebanyak yang dia bisa. Mulutnya bahkan belepotan barbeque sauce.
"Hadiah kalian apa?" tanya Evi pada mereka.
"Frame foto," jawaban dari Cahaya.
"Senter, karena Raka sering meminjam senterku saat mati lampu. Padahal aku cuma punya satu senter." Jelas Ragil.
"Antara hadiah dari semua penghuni kost, hadiahku lah yang paling berguna," ucap Evi.
"Apa?" tanya Cahaya penasaran.
*
Apa yang sebenarnya ada dalam kotak milik Evi? Tentu saja jamu sari rapet, bahkan jamu kep*rkasaan pria. Permen aneh yang dibelinya dari toko online, pembersih daerah yang paling rawan bagi wanita, bahkan ada juga benda-benda aneh yang sejatinya tidak diketahui olehnya apa fungsinya.
__ADS_1
"Ini apa?" tanya Raka menatap aneh. Sama dengan Fujiko, dua orang lugu yang menatap benda kecil bergetar tidak menentu.
"Aneh," Fujiko menghela napas kasar tidak mengerti fungsi benda tersebut. Pada akhirnya benda itu masuk ke tempat sampah, dan masih bergetar bagaikan handphone mode silent.