
Dua orang yang duduk di teras dalam diam. Mereka kini bahkan sudah mengenakan setelan piyama dengan warna senada, sandal bulu bermotif berjuang coklat. Canggung, menelan ludah mereka.
"Di... didalam panas," ucap Fujiko bingung.
"I...iya panas. Lebih baik kita di luar saja," Raka juga tidak kalah gugup kali ini.
Perlahan menghela napas kasar. Raka melirik ke arah Fujiko, wajahnya tiba-tiba tersenyum."Aku ada pekerjaan di Singapura. Sebaiknya kamu ikut," ucapnya, kata-kata yang sudah diketahui oleh Fujiko.
"Karena itu kamu ingin menikah? Ingin membawaku ikut menjadi TKI? Tidak apa, tapi tidak ada larangan untuk pasangan suami-istri kan? Besok aku akan mengundurkan diri dari pabrik," Fujiko tersenyum, menatap halaman tempat kost mereka.
"Fujiko, bagaimana jika aku adalah putra dari keluarga konglomerat?" tanya Raka tiba-tiba.
"Mati dulu, jika beruntung kamu mungkin akan terlahir di keluarga kaya." Jawab Fujiko tersenyum simpul, mengingat betapa kikir pacarnya satu tahun ini.
"Boleh kita mulai?" tanya Raka terlihat ragu, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Boleh," Fujiko tertunduk malu-malu.
Raka mendekatkan wajahnya, bibir itu mulai bersentuhan. Memejamkan matanya, dua orang yang mulai terpancing, saling memangut dalam ciuman.
Hingga sinar senter terlihat."Tertangkap kalian sekarang!" ucap seorang petugas kepolisian, diikuti beberapa hansip.
Rasa curiga yang pada akhirnya terkuak, tentang pasangan kumpul kebo ini.
"Mana KTP kalian!? Akan saya data karena pasangan yang belum menikah, tertangkap berbuat mesum!" petugas lainnya menagih KTP Fujiko dan Raka.
"Terlambat," ucap Raka tiba-tiba.
"Terlambat?" tanya sang hansip.
Raka memasuki kamar Fujiko, menunjukkan akte nikah mereka. Seketika semuanya terdiam sejenak, membaca baik-baik yang tertera.
"Kami terlambat menangkap kalian?" tanya sang hansip.
"Yap," jawaban polos dari Raka.
Sang petugas kepolisian mencoba bersabar, menghela napas berkali-kali. Setidaknya pasangan kumpul kebo ini sudah menikah. Rasa penasaran menyeruak dalam dirinya.
"Sebenarnya dimana saja kalian bersembunyi?" tanya sang petugas yang selalu gagal menangkap basah mereka.
__ADS_1
"Plafon kamar mandi, balik pintu, melompat dari jendela." Jawaban dari Raka.
"Sial!" gumam petugas lainnya.
"Kenapa cuma kalian berdua? Penghuni yang lain mana?" tanya hansip melihat tidak ada satupun sandal jepit disana. Hanya ada sepasang di depan kamar mereka saja.
"Tidak tau, mungkin mereka kumpul kebo berkelompok di tempat lain." Jawaban tidak logis dari mulut Fujiko.
30 menit berlalu, setelah petugas kepolisian dan hansip berkeliling mengadakan razia. Dari 23 unit kamar kost, tidak ada satu orang pun disana. Hanya ada mereka berdua.
"Benar-benar cuma kalian? Menurut data ada 22 orang termasuk kalian dan satu kamar yang masih kosong. Tapi mereka pergi bersamaan?" tanya sang petugas, menatap aneh.
"Jujur saja, kami tidak tau, kami baru datang 2 jam yang lalu. Kemudian melihat tumpukan hadiah di depan kamar kost. Mungkin saja mereka pergi, karena ingin memberikan waktu berdua untuk kamu." Kata-kata yang masuk akal dari mulut Fujiko.
"Kami ke tempat kost lainnya. Selamat atas pernikahan kalian." Sang petugas tersenyum, memberikan selamat pada Raka dan Fujiko.
"Iya! Terimakasih sudah merazia kami beberapa bulan ini. Kini kami sudah lulus dari razia," Raka tersenyum tanpa dosa.
Sang petugas menghela napas kasar, hendak memeriksa di gedung tempat kost lainnya."Entah kenapa, aku merasa sebagai guru kesepian yang melihat murid yang paling bandel telah lulus ujian nasional," gumamnya berjalan pergi.
*
Wanita itu kemudian memberanikan diri membuka kancing piyamanya sendiri."Buka juga punyamu!" bentaknya pada Raka.
Pemuda itu menurut membuka kancing piyamanya, kemudian melemparkannya ke lantai."Celana panjangnya! Cepat buka!" ucap Raka kali ini.
Fujiko membuka celana panjangnya sendiri, melirik Raka melakukan hal yang sama.
Dua orang yang hanya mengenakan pakaian dalam saja.
"Kita, aku, kamu---" Raka terlihat ragu untuk mendekat. Entah kenapa di saat seperti ini kentut pun tertahan.
"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Fujiko yang benar-benar gengsi. Tidak ingin dirinya yang memulai.
Raka menutup matanya sejenak, seorang pemuda yang hanya menggunakan boxernya saja.
"Daripada canggung begini, bagaimana jika kita bermain kartu?" tawaran dari Fujiko.
Tapi sekitar dua menit Raka memejamkan matanya. Hingga mata pemuda itu kembali terbuka, dengan raut wajah lebih tenang, namun terlihat dingin, bagaikan dua sosok yang berbeda.
__ADS_1
"Raka?" tanyanya, meyakinkan apa suaminya kesurupan.
"Em?" hanya itulah jawabannya, kala tiba-tiba merengkuh pinggang Fujiko, menjilat pelan leher wanita yang telah menjadi istrinya.
"Ra... Raka?" panggilnya lagi.
"Apa? Aku hanya sedikit menenangkan diri. Tenanglah seperti aku saat ini, biarkan semuanya berjalan," bisiknya membuat Fujiko terdiam, ini benar-benar nikmat untuknya. Dipeluk, sentuhan hampir tanpa pembatas dengan pemuda yang dicintainya.
Bibir yang terasa dingin tiba-tiba naik, menjilat bibirnya yang tertutup kemudian menerobos masuk.
Entah kenapa kali ini Raka terasa berbeda, pemuda yang lebih mendominasi. Tangan Fujiko mencoba menjaga keseimbangan, ditengah pertahanannya yang mulai goyah. Menyentuh otot-otot perut, dada, bahkan memainkan pusar suaminya.
Pengait pakaian dalam bagian atasnya terlepas, terjatuh di lantai. Suaminya tertunduk, menikmati lekuk tubuhnya, sedangkan Fujiko hanya dapat menjambak pelan rambut Raka. Bahkan mendorong kepalanya untuk lebih mendekat. Ingin pemuda itu melakukan lebih.
"Ra...Ra... Raka..." gumamnya, bagaikan kesulitan menghirup udara. Mengapa rasanya seperti ini? Tidak ada perasaan jijik sama sekali. Bahkan menawarkan tubuhnya untuk dinikmati lebih banyak.
Bug!
Tubuh Fujiko terjatuh, di tempat tidur sponge, berukuran singgel. Raka kini menguasai tubuhnya. Sesekali bibir pemuda itu memberikan ciuman, menatap lekat mata istrinya.
Deru napas yang beradu, menginginkan lebih.
"A...aku," Fujiko kembali gugup.
"Lupakan semuanya, ikuti keinginan tubuhmu. Kamu menginginkannya." Suara berat dari Raka.
Kepala pemuda itu kembali tertunduk, membuat Fujiko menjerit. Entah kenapa suara aneh keluar dari mulutnya. Ini benar-benar perasaan yang aneh tidak tertahankan lagi, satu tangannya berada di bahu Raka, mencekamnya kuat hingga meninggalkan bekas kuku disana.
"Ra... Raka..." paraunya, kala sang pemuda, tidak henti-hentinya, menggodanya. Wajah orang yang dicintainya itu terlihat. Dirinya tidak tau harus berbuat apa hanya menonggakkan kepala, memejamkan matanya.
Aliran darah di tubuhnya terasa beredar lebih cepat, menciptakan sensasi kebas yang aneh. Apa suaminya juga sama? Pemuda yang tiba-tiba terdiam menatapnya, perlahan Fujiko menyentuh dada kiri Raka.
Detak jantung yang mungkin senada dengan detak jantungnya saat ini. Mereka terdiam dan membisu beberapa saat. Hingga Raka tiba-tiba memeluk tubuh Fujiko erat. Benar-benar terasa nyaman, aneh, sepasang tubuh yang bersentuhan langsung.
"Awalnya aku tidak mencintaimu. Tapi perlahan aku mencintaimu," suara dari Raka.
"Hanya aku yang cukup gila menikahi si kikir," jawaban dari Fujiko.
Sepasang tubuh itu mendekap lebih erat, sesekali melonggar. Hingga boxer dan kain terakhir yang menutupi tubuh Fujiko teronggok di lantai.
__ADS_1