
Mata Nadila terbuka lebar. Kenapa adik ipar br*ngseknya ada disini? Dan dimana Raka? Ini kamar Raka kan?
"Ke... kenapa kamu yang tidur disini?" tanya Nadila gugup.
"Habis celap-celup, ah nikmatnya..." batin Fujiko tersenyum.
"Kamu ketiduran semalam, kak Raka juga sepertinya ngantuk berat. Kakak yang memindahkan mu ke tempat tidur. Tapi dia terlalu ngantuk untuk mengangkat mu, ke kamarmu sendiri, jadi dia pergi ke kamarku dan mengusirku tidur di kamarnya denganmu. Katanya agar ada yang menjagamu. Dasar kakak tidak tahu diri! Dengan asas menjaga kehormatan wanita sebelum menikah dia mengusirku dari kamarku sendiri! Yang akan punya anak dia, tapi aku yang repot." Komat-kamit Fujiko mengeluh, bangkit dari tempat tidur berjalan pergi.
"Jadi Raka yang memintamu pindah tidur disini?" tanya Nadila dengan mata menyelidik.
"Iya! Tolong bantu usir dia dari kamarku! Kakakku itu kalau sudah tidur seperti kebo," geramnya, menyakinkan hubungannya hanya bagai kakak beradik.
Wanita yang berjalan beberapa langkah, kemudian...
Brot!
Gas beracun itu keluar lagi, segera melarikan diri dari kamar tanpa meminta maaf pada Nadila. Bau yang benar-benar busuk, membuatnya segera keluar. Matanya menyelidik, apa benar yang diceritakan Fujiko? Tapi jika dilihat dari hubungan kekerabatan memang cukup jauh.
Keponakan dari ipar sepupu ibunya. Cukup jauh bukan? Bahkan kita perlu berimajinasi beberapa menit untuk memilah hubungan mereka. Apa mereka benar-benar kerabat jauh yang akrab seperti adik kakak?
Dengan rasa curiga, Nadila memincingkan matanya, mengintip ke kamar Fujiko yang sedikit terbuka.
"Raka! Bangun!" teriak Fujiko menarik selimut.
"Lima menit lagi!" Raka malah kembali menarik selimut, menyembunyikan tubuhnya.
"Raka! Perutku sakit! Kalau kamu tidak bangun! Aku kentut sekarang!" Bentak Fujiko.
"Kentut saja! Sana ke kamar mandi! Aku tidak akan ganggu! Jangan lupa tutup pintu toilet!" Ucap Raka memasuki selimut lebih dalam menyembunyikan wajahnya.
Brot!
"Dasar kikir!" Fujiko berlari ke kamar mandi, tapi sama seperti kebiasaannya, pintu kamar mandi tidak ditutup rapat olehnya.
__ADS_1
Raka segera bangun, memasukan tangan ke celana pendeknya, menggaruk-garuk pant*tnya sambil menutup pintu kamar mandi yang terbuka. Kemudian kembali berbaring di ranjang Fujiko, mengingat betapa lelahnya dirinya kemarin. Membantu pindahan, mengontrol usaha milik ayahnya, tidak lupa memeriksa hasil audit yang dikirimkan Danu. Mungkin satu tugas lagi, berkembang biak.
Nadila menghela napas lega, mana ada sepasang kekasih atau pasangan selingkuh yang tidak menjaga gengsi seperti mereka. Bahkan pasangan suami istri pun akan ingin menunjukkan sisi terbaiknya di hadapan pasangan. Memang hanya satu kesimpulan, adik-kakak.
Hanya adik-kakak yang tidak menjaga gengsi, mengetahui kebobrokan masing-masing. Dirinya kini percaya, adik iparnya tidak genit pada sang kakak.
Jadi walaupun Fujiko cantik, bukanlah saingan berarti baginya. Tidak ada rasa cinta, berjalan pergi menelusuri lorong. Matanya menatapku ke jendela kaca besar dengan tirai besar yang terbuka. Dirinya merindukan kekasihnya yang meninggal di usia muda. Anak SMU yang tidak begitu tampan, tidak kaya, tapi selalu menunggu dan bersabar padanya. Tersenyum untuk terus bersamanya, mati bersimbah darah di hadapannya. Sejak saat itu hatinya yang menghangat kembali beku.
Setetes air matanya mengalir, adakah cinta sejati itu? Mungkin ada tapi tidak untuknya. Jika Tuhan begitu membencinya, maka dirinya juga akan membenci Tuhan.
Pemikiran yang buruk bukan? Menghabisi nyawa manusia untuk tujuannya. Wanita yang menghapus air matanya, jika Tuhan tidak memberinya kebahagiaan maka dirinya akan mencari kebahagiaan itu sendiri. Mengumpulkan uang, bukankah uang adalah sumber kebahagiaan? Semakin banyak maka akan semakin bahagia.
Psikopat? Dirinya bukan psikopat yang gila sepenuhnya. Hanya anak lugu biasa yang menjelma bagaikan predator, mengintai mangsa untuk mendapatkan dagingnya.
*
Seperti biasa, saat sarapan pagi semua orang akan berkumpul tanpa terkecuali. Susu ibu hamil dibuatkan oleh Fujiko yang telah berpakaian rapi. Siap dihidangkan untuk kakak iparnya tersayang, atau bisa dibilang calon adik madunya.
Pakaian yang dikenakannya? Rok selutut dengan kemeja lengan panjang berwarna putih. Rambut panjangnya ditata rapi bagaikan pramugari. Tapi benar-benar cantik tentunya, tidak memakai sepatu hak tinggi mengingat dirinya sudah mulai terlambat datang bulan.
Nadila menghela napas kasar, menatap minuman memuakan ini lagi. Namun, perlahan dirinya tetap meminumnya, menghilangkan kecurigaan orang-orang.
"Hari pertama bekerja, ingat ikuti perintah kakek! Jangan sampai tersesat! Jika ada masalah tanyakan pada kakek atau pegawai lainnya! Dan jangan centil! Mentang-mentang bertemu banyak eksekutif muda!" Raka menunjuk-nunjuk ke arah Fujiko menggunakan garpu nya.
"Dasar! Semalam aku diusir dari kamar! Harus menjaga wanita hamil! Dan sekarang malah diceramahi," komat-kamit mulut Fujiko mengomel, mengundang gelak tawa dari semua orang.
Kejadian yang diceritakan koki dan pelayan yang datang dari pagi-pagi buta.
Sedangkan Raka mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah. Di cap jelek tidak apa-apa, mendukung kebohongan Fujiko. Toh semalam mereka menikmatinya bukan?
Entah kapan akan memiliki kesempatan lagi, memiliki istri cantik tapi sayangnya belum bisa dinikmati sesuka hati. Oh... beratnya hidup ini.
Keluarga yang sepertinya tidak ada masalah. Hingga satu pertanyaan datang dari Heru, membuat semua orang menghentikan aktivitas makannya.
__ADS_1
"Adinda, Patra belum pulang juga?" tanya Heru.
Satu pertanyaan yang membuat semua orang terdiam. Wajah Raka terlihat tertunduk, menyembunyikan rasa sedihnya. Sedangkan Pramana masih berusaha mengunyah makanannya, berusaha menekan rasa bersalahnya. Ini demi Raka, lagipula Nadila yang berusaha menyingkirkan Patra. Anak yang tidak dapat dicintainya, karena perbuatan almarhum istri pertamanya.
Mungkin hanya satu yang mengingat nama itu dengan hati berdebar-debar. Mengingat malam panas yang dilaluinya di salah satu hotel. Tentu saja Adinda, betapa indahnya bulan madu, dirinya bisa sepuluh tahun lebih muda jika terus menerus seperti ini.
"Dia tampan saat memakai kimono biru," batin Adinda mengingat penampilan suaminya semalam.
"Adinda, sebenarnya Patra ada bisnis di kota mana?" tanya Heru, namun tidak mendapatkan respon."Adinda!?" Heru kembali bertanya membuatnya sedikit terkejut.
"Abang jahat memakai kimono biru!" ucap Adinda terkejut, berbicara latah mengungkapkan apa yang ada di fikirannya. Dengan cepat menutup mulutnya sendiri menggunakan tangan.
Heru mengangkat sebelah alisnya."Patra ada bisnis apa?"
"E... ekspor kimono buatan lokal. Dia mempunyai beberapa teman pemilik konveksi. Karena iba, dia bermaksud mengembangkan bisnis kecil mereka," ucapnya berusaha tersenyum gelagapan. Tangannya kembali memotong club' sandwich di hadapannya.
"Oh..." hanya itu jawaban dari Heru.
Sedangkan Nadila menatap calon ibu mertuanya yang berbohong. Aneh memang, tapi ini lebih menguntungkan untuknya. Setidaknya dirinya tidak perlu takut tertangkap polisi.
Raka memegang jemari tangan ibunya, menatap iba. Bagaimanapun sang ayah yang kikirnya tidak ketulungan adalah satu-satunya pria yang dicintai ibunya. Dirinya berkata dalam hati."Ayah akan aku temukan, ibu tenang saja. Ibu tidak akan kehilangan ayah."
Raka menahan pedih dalam hatinya, menatap ke arah ibunya yang terlihat biasa-biasa saja. Mungkin ibunya menangis diam-diam setiap malam memikirkan tentang ayahnya.
Rasa sakit yang menjalar dalam diri Raka. Ibunya terlihat memakai make up yang sedikit lebih tebal dari biasanya. Mungkin untuk menutupi matanya yang sembab. Tidak ingin putranya cemas.
Adinda mengeluarkan cermin dari dalam tasnya, usai menyantap sarapan. Memperbaiki sedikit make-upnya.
"Ibu akan pergi ke restauran, setelah itu ke pasar tradisional. Nadila, jangan cuma bersantai-santai ibu hamil harus banyak bergerak. Lebih baik bantu siapkan makan siang nanti." Tegas Adinda.
"Ke... kenapa pasar tradisional?" tanya Raka tiba-tiba.
Adinda tertawa sumbang."Jangan hanya membuat kaya pemilik minimarket atau mall saja. Kita harus lebih memikirkan nasib rakyat kecil!" semangat pejuang kemerdekaan yang ditunjukkannya.
__ADS_1
"Terutama nasib tukang parkir..." batin Adinda.