Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Terapi


__ADS_3

Hari ini Tita memakai seragam lengkap. Jantungnya berdegup cepat, sebenarnya dirinya tidak ingin hadir. Tapi hanya untuk mempermalukan Fujiko yang diyakininya melayani banyak pria, dirinya akan tetap hadir. Jika dirinya yang mendapatkan hasil tidak perawan, tidaklah mengapa, dirinya dapat beralasan mengalami pelecehan. Sedangkan Fujiko tidak akan dapat mengelak jika disudutkan sebagai wanita penghibur. Mengingat banyak karyawan pernah melihatnya memasuki mobil mewah milik pria tua.


Bagaimanapun tes ini hanya untuk menjauhkan kekasihnya Nolan dari sang wanita murahan. Sebenarnya cukup aneh, jika sang pria tidak setia, kekasih akan bertarung dengan pelakor. Padahal pelakor tidak bisa masuk jika sang pria tidak membukakan pintu.


Wanita itu bahkan menghubungi beberapa pekerja pabrik tukang gosip yang akan menyebar luaskan berita setelah ini. Kepala pabrik juga ada di rumah sakit entah kenapa. Bahkan terlihat seperti pesuruh Fujiko.


Meminta ijin sekitar satu jam, hanya untuk menyelesaikan urusan mora. Dengan syarat jam pulang mereka juga diundur satu jam menjadi pukul 6 sore.


Nolan tidak ada disana, padahal Tita ingin kekasihnya tau betapa murahannya sang wanita yang katanya tercantik di pabrik tersebut.


"Kalian lihat kan? Kepala pabrik saja digaet olehnya." Ucap Tita menatap sang kepala pabrik membawakan juice untuk Fujiko.


Padahal sejatinya sang kepala pabrik sedang membuat citra baik di depan kekasih bos dari bosnya."Apa Raka bertanya tentangku? Tolong ceritakan yang baik-baik tentangku padanya ya?" pinta kepala pabrik dengan senyuman yang dipaksakan.


Gadis yang tidak mengerti hanya menjawab seadanya."Aku usahakan,"


"Omong-ngomong kapan kalian akan menikah. Tolong undang aku beserta istriku ya? Hotel mana yang kalian sewa? Apa akan mengadakan bulan madu di kapal pesiar?" tanya sang kepala pabrik membayangkan pesta resepsi besar dengan souvernir pernikahan bernilai tinggi.


"Hotel? Kami hanya teman, lagi pula Raka bukan orang kaya. Dia---" Kata-kata Fujiko terpotong.


"Apa maksudmu bukan orang kaya? Investor---" Kali ini kata-kata kepala pabrik yang terhenti akibat kedatangan Tita.


"Mesranya," cemoohan Tita.


Fujiko meraih sesuatu dari dalam tasnya, menunjukkan secarik kertas berisikan nomor rekeningnya."Pacarku bilang uang taruhannya transfer langsung ke rekeningku," ucapnya menyodorkan kertas pada Tita.


Tita berusaha tersenyum."Kamu menyuap pegawai rumah sakit?"


"Petugas medis melakukan sumpah dan juga terikat kode etik profesi. Kamu fikir demi uang 20 juta mereka akan mempertaruhkan profesinya? Kamu takut jika aku perawan?" Fujiko mengintimidasi.


"A...aku," Tita tertunduk sejenak kemudian berfikir. Dari ganasnya sisa tanda di leher Fujiko tidak mungkin rasanya wanita itu masih perawan. Bagaimana pun Nolan seorang manager, memiliki profesi dengan gaji yang tetap. Dirinya tidak boleh melepaskannya begitu saja. Fujiko lah yang pasti menggoda Nolan.

__ADS_1


"Kalian dengar! Setelah hasil tes keluar sebarkan berita hasilnya pada teman-teman dipabrik agar tidak ada yang menganggapku wanita 100 ribu pinggir jalan," suara Fujiko penuh penekanan, menatap tajam pada tiga orang karyawan pabrik yang datang dengan Tita. Kemudian Fujiko memasuki ruangan terlebih dahulu.


Hanya pemeriksaan fisik, menelan waktu sekitar 10 menit. Hingga mendapatkan surat hasil pemeriksaan dari dokter, gadis keturunan Indo-Jepang itu kemudian keluar. Tanpa membuka amplop miliknya.


Tita mengepalkan tangannya. Kini gilirannya, seperti Fujiko pemeriksaan fisik yang hanya memerlukan waktu 10 menit kemudian keluar membawa hasil tes.


"Ayo cepat kalian buka bersamaan!" ucap seorang karyawati yang datang dengan Tita.


Tita menghela napasnya, sebelum hasil tes dibuka dirinya harus mengatakan pembelaan terlebih dahulu agar terlihat natural."Maaf sebenarnya aku pernah mengalami pelecehan ketika SMU, jadi hasil tes-ku tidak perawan."


Wanita yang membuka hasil testnya menunjukkan di depan tiga orang karyawan dan kepala pabrik."Tapi berbeda dengan Fujiko yang menjual dirinya. Aku tidak sengaja dan hanya melakukan---"


"Kamu masih perawan?" tanya salah seorang karyawati melihat hasil tes Fujiko.


"Tentu saja masih. Sudah aku bilang aku materialistis, tapi tidak menjual diri. Hanya menginginkan satu pria kaya untuk menjamin masa depan." Jawaban dari Fujiko.


Seketika ketiga karyawan yang hadir menipiskan bibir.


"Entah benar dilecehkan atau tidak. Sekarang aku tau arti istilah tong kosong nyaring bunyinya."


"Apa jangan-jangan Tita yang sebenarnya menjual diri ya? Tapi dia melimpahkan semuanya pada Fujiko, karena semua pria mapan di pabrik menyukai Fujiko?"


Berbagai cibiran dari tiga karyawan yang dibawanya, membuat Tita mengepalkan tangannya. Bukan ini kemauannya."Diam kalian! Aku dapat menuntut kalian atas pencemaran nama baik!"


"Biarkan mereka bicara, bukannya ini maumu?Ayo tuntut mereka ke pengadilan, maka aku juga akan menuntutmu atas pencemaran nama baik," Kata-kata dari Fujiko seketika membuat ketiga tukang gosip itu lega.


"Sudah mulutnya seperti si bacot kompor meleduk! Ditambah hatinya busuk. Seharusnya aku tau Fujiko yang benar. Kita sudah mengenalnya setahun lebih dibandingkan dengan orang baru,"


"Tidak tau malu!"


"Fujiko, jangan lupa tagih uang 20 jutanya. Jangan biarkan dia berhutang,"

__ADS_1


Ketiga karyawan itu kini mendekati Fujiko berpihak padanya.


"Orang miskin yang mengaku kaya. Mana mampu dirinya membayar uang taruhan," cibiran Fujiko.


Wanita yang naik pitam itu membuka kertas, mentransfer uang pada lewat handphonenya pada nomor rekening yang diberikan Fujiko.


"Sudah! Aku orang kaya! Ayahku punya peternakan sapi. Uang 20 juta tidak ada. artinya bagiku." Bentak Tita.


"Terimakasih, nanti malam aku bisa makan ayam panggang," Fujiko berlalu mengedipkan sebelah matanya.


"Wanita si*lan!" umpat Tita.


*


Memang benar-benar tiga tukang gosip, dalam waktu setengah hari semua karyawan pabrik sudah mengetahui tentang hasil tes yang sebenarnya tidak penting. Tapi tetap saja cukup mengejutkan Fujiko yang cantik memiliki bentuk tubuh menggoda, berciuman dengan Raka, bahkan dijemput oleh Om-om gemuk ternyata masih perawan. Sedangkan Tita si anak baru yang memberikan citra gadis desa bersahaja, sudah tidak perawan lagi.


Sebenarnya tes itu tidak penting. Namun hasilnya terlalu mengejutkan.


"Jadi kamu masih perawan?" tanya Reina pada Fujiko. Dijawab dengan anggukan olehnya.


"Raka impoten?" satu pertanyaan yang sukses membuat Fujiko terbatuk-batuk.


"Mana aku tau!" Jawaban darinya.


"Tapi aku fikir-fikir lagi, mungkin dia tidak normal. Tidur berpelukan denganmu, hanya mengenakan boxer, bahkan memelukmu ketika tidur. Jika dia pria normal maka tinggal buka boxernya. Kemudian menikmati ketika horm*n menguasai tubuhnya." Jawaban dari janda berpengalaman.


Fujiko berfikir sejenak, apa yang dikatakan Tita benar? Dirinya harus mengetahui kebenarannya. Mungkin memberikan terapi pada sahabatnya yang malang.


Terapi macam apa untuk pemuda impoten? Mungkin nanti malam akan difikirkannya.


*

__ADS_1


Tita melangkah perlahan menuju ruangan kepala pabrik menelan ludahnya sendiri. Bingung harus mengatakan apa nantinya.


__ADS_2