
Tiga orang yang melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Hingga tiba-tiba mereka kembali menghentikan motornya.
"Ini dekat lokasi penemuan mayat," gumam Evi dengan wajah pucat.
Mata mereka menelisik, mengingat detail tempat ditemukannya mayat seorang pria yang mati kehabisan darah. Tiga orang yang menelan ludah mereka. Apa ini berhubungan? Hanya itulah yang ada di benak mereka mengingat fakta mayat yang mereka kira Patra adalah kakak tiri Adinda.
Masih dalam kasus yang sama dalam satu ruang lingkup keluarga. Sedangkan Sean menghilang saat ini, situasi benar-benar berbahaya.
"Kita lanjut atau udahan?" tanya Evi.
"Lanjut!" Jawaban dari Cahaya penuh semangat.
"Sudahan saja, lagipula hatiku sudah terlanjur sakit." Jawaban aneh dari Ragil, membuat kedua orang wanita itu menoleh pada sahabat mereka.
"Kamu kenapa?" tanya Cahaya.
"Galau, terkena virus patah hati. Jangan tanyakan mengapa, karena hati ini telah bicara." Jawaban dari Ragil, kembali melajukan motornya mengikuti jalan tanpa aspal menunju villa.
"Dia bilang lanjut apa sudahan?" tanya Cahaya pada Evi belum juga peka.
"Perjalanan dilanjutkan, tapi hatinya yang patah memutuskan untuk mundur." Jawab Evi ikut melajukan motornya mengikuti Ragil.
Cahaya hanya menghela napas kasar menganggap Ragil plin-plan antara melanjutkan perjalanan, atau putar balik. Kata-kata ambingu yang tidak dimengerti orang awam, diperlukan IQ tinggi bagaikan Albert Einstein untuk mengerti.
Misi mereka lanjutkan, tapi di tengah perjalanan Ragil menghentikan motornya. Menghela napas kasar, insting bertahan hidupnya mengatakan untuk mundur.
"Ada apa?" tanya Evi.
"Kita cari jalan lain," jawaban dari Ragil.
"Tapi sebentar lagi villanya terlihat. Jika---" Kata-kata dari Cahaya dipotong.
"Karena aku tidak mau kehilangan dirimu. Kita cari jalan lain saja. Akan ada jalan untuk menemukan kebahagiaan walau tidak bersama denganmu," ucapnya penuh didramatisir mungkin hanya Evi yang paham dengan kata-katanya.
"Yang sabar ya? Kamu akan menemukan jalan kebahagiaan yang lain." Evi memimpin jalan guna menyembunyikan motor mereka.
"Apa yang kalian bicarakan!? Kalian pacaran ya?" geram Cahaya murka, menatap dua orang yang hanya menghela napas kasar, membawa motor mereka memasuki area hutan jati lebih dalam.
Hingga pada akhirnya mereka memarkirkan motornya berjarak 1 kilometer sebelah barat laut villa. Tidak henti-hentinya Cahaya mengomel tentang kedua temannya yang berucap dengan kata ambingu.
Dirinya tidak mungkin cemburu pada Ragil. Mengapa? Karena hanya boleh Ragil yang mengejar dan cemburu padanya. Dirinya adalah wanita cantik berkelas, tidak mungkin menjadi budak cinta seorang Ragil.
__ADS_1
"Katakan! Sejak kapan kalian jadian?" tanyanya dengan aura mengintimidasi.
"Entah kenapa aku bisa jatuh cinta padanya. Bagaikan tidak pekanya dirinya. Hingga aku putuskan untuk melangkah pergi." Kata-kata puitis dari Ragil yang patah hati, tapi masih lanjut berjalan menuju villa.
"Bersabarlah, cinta yang lain mungkin akan lebih baik. Menerima dan menghargai mu," Evi menepuk pundak sahabatnya.
Sedangkan Cahaya membulatkan matanya, melihat tangan gadis itu ada di bahu Ragil. Dengan cepat Cahaya menyela diantara mereka, menyelip bagaikan kutu. Tidak membiarkan mereka bersentuhan.
"Kenapa kalian pegang-pegang!?" bentak Cahaya tidak terima.
"Aku sedang memberi kekuatan padanya sebagai sahabat." Ucap Evi, tidak bersalah.
"Tapi tidak juga harus pegang-pegang. Kalian itu berlawanan jenis! Pria dan wanita! Jaga batasan!" Cahaya bersungut-sungut, kini berjalan diantara mereka berdua.
"Kamu juga wanita, kenapa boleh berada di dekat Ragil?" Evi menyunggingkan senyumannya.
"I...itu karena kami hanya teman." Cahaya gelagapan.
"Hanya teman... memang selamanya hanya teman yang akan aku ceritakan pada anak istriku nanti," gumam sang pemuda patah hati.
Berjalan sekitar 300 meter menuju ke arah Utara villa. Evi menghentikan langkah mereka."Ada mobil!" ucapnya, memincingkan matanya.
Benar-benar aneh, sebuah mobil berada di tengah hutan. Mobil yang terlihat berharga ratusan juta? Untuk apa? Disembunyikan dedemit? Entahlah, tiga sekawan yang perlahan berjalan mendekat. Mata mereka menelisik, menelusuri, mobil yang tidak terkunci. Terlihat sudah lama ditinggalkan dari debu yang terdapat di badan mobil.
"Ini milik Sean!" ucap Evi menemukan STNK dan SIM di dalam mobil.
"Jadi Sean dimana?" Cahaya mengenyitkan keningnya.
"Terkubur di hatiku yang dalam, mungkin kehabisan darah usai jantungnya ditikam. Karena rasanya begitu menyakitkan," gumam Ragil, masih dalam keadaan galau.
"Maksudmu Sean mati? Tidak mungkin orang ganteng bisa mati!? Dalam film biasanya orang jelek dengan penampilan biasa-biasa saja yang akan mati!" Cahaya menghela napas kasar terlihat kecewa dengan kematian si tampan yang hanya diketahuinya dari foto.
"Ragil yang sabar ya? Kamu tidak akan mati kok, walaupun wajahmu standar menengah ke bawah. Kamu akan menemukan cinta yang lain." Evi menguatkan menegang tangan Ragil, sebagai sahabat dekat.
"Jangan pegangan tangan!" geram Cahaya lagi, memisahkan mereka.
*
Apa misi akan dilanjutkan? Tentu saja, tapi kali ini mereka mengatur strategi Evi akan menunggu di motor. Tempat yang ada sinyal handphonenya, menunggu kabar dari teman-temannya. Sedangkan Cahaya dan Ragil akan menyusup ke dalam villa.
Mengapa? Karena jika Cahaya dan Ragil tidak kembali dalam waktu 5 jam, maka Evi akan menghubungi petugas kepolisian. Itulah rencana mereka. Pada awalnya Cahaya yang akan menunggu di motor, sedangkan Evi dan Ragil yang menyusup ke villa. Tapi sayangnya, gadis yang tidak cemburu itu mengejar mereka. Menentang keras, pria dan wanita berduaan. Tapi apa bedanya? Jika dirinya dan Ragil yang menyusup? Sama-sama pria dan wanita kan?
__ADS_1
Itulah yang namanya tidak cemburu. Hanya merasa takut kehilangan saja. Penjagaan yang ketat, para penjaga terlihat bersenjata. Mungkin sedikit lebih diperketat.
"Bagaimana ini?" gumam Cahaya.
Perlahan Ragil menggenggam jemari tangannya sambil mengamati keadaan. Wajahnya terlihat serius, perlahan hujan menerpa tubuh mereka. Jantung Cahaya tiba-tiba berdegup cepat, dilihat dari dekat pria itu bertambah tampan saja.
"Ada aku..." dua kata dari mulut Ragil yang membuat Cahaya tertegun. Menghela napas berkali-kali, dirinya merasa sudah gila.
Menetralkan detak jantungnya. Para penjaga terlihat sudah mulai kembali ke dalam villa, mengingat keadaan hujan yang begitu lebat.
"Kamu tunggu di sini, aku akan masuk," ucapnya.
Dengan cepat Cahaya menggeleng."Aku tidak ingin kamu mati. Kamu kan jelek. Orang jelek cepat mati."
Pada akhirnya pemuda itu mengenyitkan keningnya. Bagaimana cara agar Cahaya tetap aman, sedangkan dirinya memastikan Sean dan Barbara ada di dalam.
"Kamu tunggu disini, nanti aku belikan mini Pao kalau misi ini berhasil." Ucap Ragil meyakinkan.
Dengan cepat Cahaya menggeleng."Kita masuk sama-sama."
"Nugget?" Bujuk Ragil lagi.
Gadis itu kembali menggeleng."Tidak ada yang akan meruntuhkan rasa kesetiakawanan ku."
"Jagung bakar? Aku mohon," pinta Ragil lagi.
Cahaya kembali menggeleng."Kita akan menjalankan misi ini bersama-sama."
"Sosis bakar jumbo dengan saus mayones." Tawaran Ragil lagi.
Cahaya membulatkan matanya, sedikit melihat ke arah lain."Aku jadi malu. Jangan melakukan itu sebelum menikah. Lagipula status kita kan teman,"
"Melakukan apa?" tanya Ragil.
"Kamu bilang sosis bakar dengan saus mayones kan? Tidak boleh sebelum menikah," Kalimat malu-malu dari Cahaya, membuat Ragil menepuk jidatnya sendiri. Kata-kata puitis begitu lambat dimengertinya, sedangkan kata-kata yang tidak erot*s diterjemahkan menjadi kata erot*s.
Dirinya bingung harus bagaimana menghadapi gadis ini."Kamu tunggu disini dulu ya?" pinta Ragil lagi.
Kali ini Cahaya mengangguk. Pemuda itu segera bergerak, melompati tembok dengan cepat mengingat teknik parkur yang pernah dipelajarinya sebagai hobi. Bergerak dengan cepat melalui area samping tanpa suara.
Jantungnya berdegup cepat saat ini, bersembunyi kala ada penjaga yang lewat. Hingga pundaknya di tepuk dari belakang rasa takut ada dalam dirinya, berdoa agar tidak mati.
__ADS_1
"Apa mereka di sekap di lantai atas?" tanya Cahaya yang entah bagaimana bisa berada di belakangnya. Apa mungkin wanita itu bisa mengikuti gerakan Ragil? Entahlah tapi yang jelas pemuda itu hanya dapat terdiam tidak mengerti.