Saldo Rekening Pacarku

Saldo Rekening Pacarku
Menghangatkan Hati Yang Dingin


__ADS_3

Sean menghela napas berkali-kali, mencoba menghubungi Barbara. Tapi hasilnya nihil, nomor wanita itu tidak dapat dihubungi sama sekali. Dirinya benar-benar bingung kali ini. Raka membawa Fujiko ke luar negeri, bahkan sudah menikahinya?


Misi gagal, tapi tidak ada kabar apapun dari Barbara. Total 500 juta, tidak semua uang muka sudah dipakainya. Tidak biasanya Barbara seperti ini.


Jemari tangannya mengepal, dirinya harus mencari tahu. Bagaimanapun, sebr*ngsek apapun kehidupan mereka, mereka adalah teman yang saling mengenal, tidak pernah memiliki masalah sama sekali. Ingin mencari tau bagaimana kenalannya menghilang.


*


Sementara itu seorang pria paruh baya keluar dari mobilnya. Dialah Adelio, ayah kandung Barbara, berjalan memasuki kediaman utama, terlihat benar-benar murka.


Tidak pernah ada sejarahnya Barbara kabur dengan seorang pria, apalagi pria modelan seperti Imanuel. Bukan standar putrinya yang mengidamkan pria mapan, cerdas, gigih dan sulit ditaklukkan.


Imanuel yang lembek dalam segala hal, kabur bersamanya? Jangan bercanda, karena hingga sebelum putrinya menghilang, Barbara masih sempat mengeluh betapa sulitnya menaklukkan Raka.


Adelio berjalan didampingi dua orang pengawal. Penampilan yang benar-benar heboh melewati beberapa pelayan yang tertegun memberi hormat padanya.


Tidak bisa seperti ini, dirinya sudah bersusah payah mengatur perjodohan Barbara dengan Raka. Tapi semuanya hancur hanya dengan satu langkah. Ada orang dibalik semua ini entah itu siapa, dirinya masih mempercayai putrinya, walaupun ada bukti pesan tidak senonoh di phonecell Imanuel, bagaikan kedua orang itu memang memiliki hubungan dan berniat kawin lari.


Matanya menelisik, ruang tamu yang cukup besar. Rumah luas dengan banyak pelayan, ini akan menjadi istana milik putrinya nanti. Pria yang beberapa hari ini sudah mengerahkan pengawal untuk mencari keberadaan Barbara.


Seorang wanita terlihat disana tengah menundukkan kepala sembari menangis, sedangkan di sampingnya berada Tiara (ibu Imanuel) dan Heru (ayah Imanuel). Serta Pramana, didampingi oleh Adinda dan seorang pemuda yang berdiri di belakangnya.


Dengan cepat Adelio duduk."Apa kalian sudah menemukan mereka?" tanyanya to the points.


"Belum, karena sudah seperti ini, tidak ada gunanya untuk mempertahankan perjodohan antara Barbara dan Raka. Kita putuskan saja perjodohan anak kita." Saran dari Adinda, sudah cukup puas dengan pilihan putranya. Namun, masih berbicara hati-hati mengingat ketidak beradaan Patra disini.


Dirinya mulai cemas, rekor terlama suaminya tidak menghubunginya adalah seminggu. Dan sekarang sudah lebih dari seminggu.


Imanuel dan Barbara melarikan diri, menghilangnya Patra. Ada yang mencoba untuk menahan atau kemungkinan yang terburuk mencoba membunuh suaminya.


Tapi entah siapa. Dirinya harus lebih berhati-hati, tidak akan membiarkan anak dan menantunya terluka sedikitpun, harus tegar berharap Patra segera pulang dengan selamat.

__ADS_1


Walaupun juga harus tetap bungkam, tidak mengatakan tentang menghilangkannya suaminya, mencari diam-diam, hanya berpura-pura menjadi ibu rumah tangga yang lemah.


"Sudah aku bilang, tidak mungkin Barbara melarikan diri dengan Imanuel. Atau ini rencanamu untuk memutuskan perjodohan sepihak!?" tanya Adelio mengintimidasi, tidak ingin perjodohan diputuskan begitu saja, walaupun dirinya mengetahui bukan Adinda dalang dari menghilangnya putrinya.


"Lalu bagaimana dengan kandunganku?" tanya Nadila menyela, menangis terisak dalam pelukan Tiara.


Tidak ada yang dapat menjawab, semuanya terdiam. Menatap ke arah wanita yang paling dirugikan disini.


"Semua orang akan menghujatku, aku hamil di luar nikah. Sedangkan tunanganku melarikan diri dengan wanita lain," gumamnya masih menangis tersedu-sedu.


"Nadila, kamu tenang ya? Ingat kandunganmu," pinta Tiara terlihat cemas.


"Tapi anak ini tidak memiliki status. Apa yang harus aku lakukan? Anak ini adalah cicit kakek, aku tidak tau harus apa lagi. Aku akan membawa anak ini pergi bersamaku. Lagipula aku tidak memiliki status di rumah ini. Biar aku membesarkannya sendiri diluar negeri." Ucap Nadila meninggikan nada suaranya.


Heru mengepalkan tangannya."Tidak bisa! Bagaimana jika wartawan tau!? Citra keluarga kami akan hancur! Lagipula itu adalah cucuku!" bentaknya.


"Lalu aku harus apa paman? Imanuel meninggalkanku untuk Barbara," tanya Nadila.


Menggiring opini, membuat opsi baru sebagai pilihan wanita yang tidak berdaya. Cerdas bukan? Hanya menghasut fikiran seseorang tanpa mengatakan permintaannya sebenarnya.


Pramana menghela napas kasar, melirik ke arah Adinda. Tidak memiliki pilihan lain, jika ingin cicitnya tetap berada di rumah ini, sekaligus menghindari nama baik yang tercemar. Hanya ada Raka sebagai harapannya.


"Adinda, bagaimana jika Raka---" Kata-kata Pramana terpotong.


"Tidak bisa!"


"Tidak bisa!"


Bentak Adinda dan Adelio bersamaan. Dua orang yang memiliki kepentingan berbeda. Kini Adinda mulai mencurigai Nadila, mengingat orang terakhir yang bertemu Patra sebelum berangkat ke luar kota adalah Nadila.


Seseorang yang pada awalnya tidak dicurigai sama sekali olehnya mengingat citra wanita lugu dan baik hati. Tapi, sifatnya saat ini membuat Adinda semakin yakin dengan asumsinya, ini semua perbuatan Nadila.

__ADS_1


Tidak ada bukti atau apapun. Wanita paruh baya itu mengepalkan tangannya. Wanita ular ini ingin menjadi menantunya? Jangan bermimpi.


Ini sudah biasa untuk seorang Adinda, wanita itu dulunya anak dari istri ke lima seorang saudagar kaya. Berebut perhatian ayah, saling menjatuhkan, bahkan ibu tiri yang berbuat kasar mencoba menyalahkannya. Semua sudah dialaminya di masa mudanya sebelum menikah dengan Patra. Dan kini, menghadapi wanita yang pandai memanipulasi?


Tidak semudah itu, dirinya dapat langsung mengetahui walaupun tidak memiliki bukti. Hingga Adinda menghela napas, berusaha tersenyum bertindak sewajar mungkin. Hanya dirinya yang mungkin menyadari karakter asli Nadila di ruangan ini.


"Nadila dari keluarga baik-baik, dia juga menyayangi ayah, apa yang kurang? Perasaan dapat dipupuk, kamu ingin keluarga kita menanggung malu? Jika Patra sudah datang dari luar kota dia akan---" Kata-kata Pramana disela.


"Aku tidak setuju karena Raka tidak mudah dekat dengan wanita. Tentu saja aku mencemaskan nama baik keluarga ini. Ayah tau sendiri sifat Raka kan? Jika dia dipaksa dia akan semakin keras, karena itu dia tidak kuliah dan membuka usahanya sendiri. Aku hanya ingin Nadila tinggal disini dengan kami, dua bulan saja, untuk mendekatkan diri denganku dan Raka," senyuman terlihat di wajah Adinda, tidak ada gunanya menentang mertuanya, sebelum semuanya terbongkar.


Ular? Dirinya akan menjerat ular ini, agar tau diri tidak bermain-main ingin memiliki mertua sepertinya.


Jemari tangannya mengepal, bibirnya bergetar, menyusun strategi, menyembunyikan pernikahan Raka, melindungi menantunya, sekaligus menemukan keberadaan Patra. Semua berawal dari wanita si*alan ini. Satu-satunya wanita berwajah lugu yang paling diuntungkan.


"Wanita s*alan!" Dendam sang calon ibu mertua.


Nadila yang menangis tertunduk, diam-diam tersenyum. Mengira Adinda akan memiliki sifat yang sama dengan Tiara. Tidak semua mertua itu baik, begitu juga dengan menantu tidak semua menantu itu baik.


Sedangkan Danu yang hari ini berada di belakang Adinda, segera permisi keluar. Berjalan menuju tempat yang lumayan sepi. Mengirimkan pesan pada majikannya.


'Ayahmu menghilang, ibumu ingin kamu mempunyai istri kedua. Lebih baik jangan pulang! Karena memiliki dua istri adalah sebuah pemborosan.' Pesan ambigu yang dikirim pada majikannya.


'Cari informasi tentang ayahku. Aku akan pulang segera setelah urusanku selesai. Satu lagi, jangan bilang karena Imanuel menghilang aku harus menikah dengan Nadila?' tanya Raka melalui pesan singkat.


'Iya,' balasan dari Danu.


'Kamu saja yang menikah dengannya! Aku tidak mau stroke di usia muda!' Pesan dari Raka kembali masuk ke handphonenya.


"Dasar kikir, tapi memang lebih baik begini." Gumam Danu menghela napas berkali-kali. Kemudian menghentikan pelayan yang lewat.


"Buatkan aku pop mie. Istriku kabur dengan pria lain. Jadi aku belum makan," perintahnya pada pelayan yang lewat.

__ADS_1


"Baik," sang pelayan kembali masuk ke dalam. Sementara Danu menanti pop mie hangat, berharap dapat menghangatkan hatinya yang dingin.


__ADS_2