
Setelah semuanya beres, Hayley bergegas meninggalkan ruangan Aaron, dia bingung, dari mana dia akan mendapatkan uang untuk memberi sambutan kedatangan Aaron nanti malam.
"Upik abu!" teriak seseorang dari belakang, Hayley mengenal jelas suara dan panggilan itu.
"Tuan Alex, hah!" Hayley menoleh, menatap Alex yang menuju ke arahnya dengan sedikit berlari.
"Kamu ini budek, ya! di panggil-panggil bukannya noleh malah ngeluyur aja," maki Alex. "Ini, titipan Aaron untukmu."
Hayley tidak merespon makian Alex, ia menerima sebuah amplop coklat yang di berikan tanpa menatap di pemberi.
"Kami datang jam 7 malam, kalau bisa beli baju, calon istri presdir kok dekil!" Alex tersenyum sinis. "Bali baju, yang bagus!" ulangnya.
"Oke!" ujar Hayley singkat, lalu segera pergi meninggalkan Alex sebelum emosinya menjalar mendengar berbagai kalimat menjengkelkan yang Alex lontarkan.
"Dasar upik abu! nggak tau terimakasih," desis Alex. Dia semakin kesal ketika Hayley tidak membalas apapun yang ia ucapkan.
Di pinggir jalan raya, Hayley membuka amplop berwarna coklat, ia terkejut karena amplop itu berisi beberapa lembar uang berwarna merah.
"Hah, uang. Banyak banget!" gumam Hayley, dia segera memasukkannya ke dalam tas sebelum ada yang melihat.
Entah dia harus senang atau sedih, tapi dia cukup bersyukur karena dengan uang itu dia bisa membeli satu gaun baru untuk menyambut kedatangan Aaron nanti malam, ia juga akan membeli baju baru untuk ibunya.
🖤🖤🖤
"Aku pulang ...." Hayley membuka pintu rumah yang terbuat dari triplek tipis yang sudah menjamur.
"Loh, kok udah pulang, Nak?" tanya Andini dari dalam.
"Udah, Bu. Aku mau ngomongin sesuatu, penting!" seru Hayley, ia membimbing Andini untuk duduk di kursi bersebelahan dengannya.
"Ada apa? serius sekali," timpal Andini, tidak biasanya anaknya itu memasang wajah serius seperti ini.
"Emm ... Ada laki-laki yang mau lamar aku, Bu. Boleh?" tanya Hayley ragu-ragu.
"Hah? yang bener? siapa? Angga?" pertanyaan bertubi-tubi Andini lontarkan pada putrinya, ia tampak sangat terkejut dengan berita mendadak ini, apalagi selama ini Hayley tidak pernah menceritakan kedekatannya terhadap laki-laki manapun.
__ADS_1
"Bukan, Bu. Sama Mr. Aaron, bossku di kantor," jawab Andini.
"Tunggu! kamu tidak merebut suami orang kan, Nak?" selidik Andini. "Atau jangan-jangan ...."
"Nggak, Bu. Aku nggak mungkin seperti itu, ini semua murni karena dia mencintaiku, kami sepakat akan menikah," jelas Hayley, ia terpaksa berbohong demi mendapatkan restu ibunya.
"Menikah dengan orang kaya resikonya besar, Nak?" Andini menghela nafas panjang. "Apa orang tuanya juga setuju jika dia menikah dengan wanita miskin sepertimu?"
"Do'akan kami agar orang tuanya juga memberi restu, Bu. Nanti malam dia akan datang melamar," ujar Hayley. "Aku sudah beli baju buat kita, nanti kita akan belanja buah dan beberapa makanan sebagai hidangan."
Dengan perasaan yang tidak karuan, Andini setuju. Meskipun dalam hati kecilnya ia merasa ragu karena yang akan menikahi anak gadisnya adalah seorang boss besar dan orang kaya, ia tidak yakin jika laki-laki itu bisa menerima Hayley dengan lapang dada. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hatinya, tapi Hayley terus meyakinkan Andini bahwa semua akan baik-baik saja.
Siang menjelang sore, hampir semua masakan yang mereka pesan sudah sampai di rumah, Hayley memilih memesan catering agar tidak merepotkan ibunya.
🖤🖤🖤
Hampir pukul 7 malam, Hayley sudah berdandan sederhana dengan memoles lipstik tipis. Entah mengapa dia melakukan itu meskipun ia yakin Aaron tidak akan tertarik padanya, namun dia menghargai dirinya sendiri dengan memperbaiki penampilannya.
"Bu, apa aku cantik?" tanya Hayley pada ibunya.
Andini melongo, menatap anak gadisnya kini memakai gaun hitam polos tanpa lengan, di bagian bawahnya terdapat terusan semacam rok berwarna gold sampai ke lutut, rambutnya di gerai begitu saja, Andini kagum, mengagumi putrinya yang memiliki kecantikan yang terpendam.
Sayangnya, Hayley tau, jika apa yang ia lakukan saat ini hanya semata-mata demi meyakinkan ibunya dan menjunjung harga dirinya sendiri, bukan karena ingin di sanjung oleh Aaron.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Bu, sepertinya mereka datang. Aku buka pintu dulu," ujar Hayley, merapikan gaunnya, sedangkan Andini sudah berdiri tidak jauh dari pintu.
"Silahkan masuk." Hayley mempersilahkan dengan sopan.
Aaron mengangguk, lalu memberi salam pada Andini. "Selamat malam, Bu," sapa Aaron sopan.
Alex berdiri di belakang Aaron juga ikut memberi salam kepada Andini dengan ramah dan sopan.
Andini mempersilahkan tamunya duduk di kursi kayu yang sudah hampir lapuk, namun Aaron dan Alex tidak keberatan.
__ADS_1
"Maksud kedatanganku kemari, ingin melamar putri ibu, Hayley," ujar Aaron memulai pembicaraan serius. "Apakah ibu merestui hubungan kami?" tanya Aaron.
"Hmm, semua keputusan akan ibu serahkan pada Hayley. Dia yang akan menjalani semuanya, jadi dia yang berhak memutuskan." Andini menjawab dengan penuh penekanan. "Ibu hanya bisa mendukung dan memberi restu."
"Bagaimana, Hayley? kau mau menikah denganku?" tanya Aaron, ia mengeluarkan cincin berlian bermata merah delima dari sakunya, Aaron berlutut di depan Hayley.
Hayley ternganga, ia tidak percaya bahwa Aaron akan melakukan hal seromantis itu di depan ibunya, meskipun ia tau jika semua ini hanyalah sandiwara. "Aku ... aku mau," jawab Hayley.
"Bagus ... terimakasih sudah menerimaku, aku berjanji akan membahagiakanmu," ujar Aaron terlihat bersungguh-sungguh.
"Alex," bisik Aaron, ia memberi kode pada sepupunya yang hanya duduk santai sebagai penonton sandiwara ini.
"Oke, Bro!" Alex berdiri, keluar dari rumah dan memberi perintah pada beberapa pengawal yang ada di luar rumah.
Beberapa pengawal laki-laki masuk ke dalam rumah membawa berbagai hantaran lamaran yang mewah, baju-baju untuk Hayley dan ibunya, perhiasan, perlengkapan make up dan semua kebutuhan pribadi Hayley.
Tidak sampai di situ, para pengawal itu juga bolak-balik keluar masuk membawa berbagai makanan enak siap saji sampai buah-buahan segar.
"Mr. Aaron, ini terlalu banyak," ujar Andini takjub, karena ruang tamu rumahnya bahkan tidak cukup untuk memuat seluruh seserahan ini.
"Jangan panggil aku begitu, Bu. Cukup Aaron saja, aku ini calon menantumu," jawab Aaron sambil tersenyum simpul.
"Cih, manis sekali mulutmu, Mr. Ice. Giliran sama aku aja cuek bebek!" batin Hayley.
"Ini semua sebagai rasa terimakasih ku karena sudah menerima aku sebagai menantu di keluarga ini," lanjut Aaron.
"Baiklah, Nak. Tapi, kau harus tau, Hayley berasal dari keluarga miskin, apakah dia pantas bersanding dengan boss besar sepertimu?" tanya Andini, ia harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini nyata.
"Cinta itu tidak memandang harta dan tahta, Bu. Percayalah, aku mencintai Hayley apapun keadaannya," jawab Aaron tegas, benar-benar membuat Andini terharu.
Setelah perbincangan cukup lama, pukul 9 malam Aaron dan Alex kembali pulang, Hayley mengantarkan mereka sampai ke depan pintu, sedangkan Andini memilih untuk beristirahat.
"Kau menerima saranku, Upik abu!" desis Alex. "Kalau setiap hari kau memperhatikan penampilanmu, maka Aaron tidak rugi membayarmu 50 juta perbulan," lanjutnya.
"Cukup, Alex!" sergah Aaron.
__ADS_1
Jika saja Aaron tidak menyeret Alex dari hadapan Hayley, gadis itu ingin sekali melayangkan tinju di wajah tampan Alex.
🖤🖤🖤