
Obrolan di kolam renang membuat Hayley merasa bingung, apa yang sebenarnya Aaron inginkan, dia tidak mengerti.
Belum sempat Hayley menjawab pertanyaan Aaron, gerimis kembali turun, Aaron bergegas mengajak Hayley keluar dari air dan masuk ke ruangan fitnesnya.
Piyama panjang berbahan satin yang Hayley pakai sudah basah kuyup beserta rambut gadis itu, baju yang basah menempel ketat menampakkan lekuk tubuh dan lebih terlihat transparan, Aaron menelan ludah, ia berusaha mengontrol dirinya yang mulai gerah.
Aaron memperhatikan dari dekat pinggul dan dada yang terlihat lebih mencolok dari biasanya, kali ini Hayley begitu menggoda, ia hampir kehilangan kendali sampai junior di balik celananya menegang.
"Hayley," bisik Aaron lembut, ia sedikit menunduk di samping Hayley.
"Ya." Hayley menoleh dan wajahnya langsung pas berhadapan dengan Aaron, kedua tubuh dua manusia itu hampir tidak berjarak, bahkan Hayley mampu merasakan nafas Aaron yang memburunya.
Terkejut dengan sikap Aaron, Hayley bukannya menghindar, ia malah berdiri mematung sampai Aaron memposisikan tubuh mereka berhadapan.
Aaron mengusap pinggang Hayley yang basah, kedua mata mereka saling bertatapan seperti saling menginginkan. Tangan Aaron mulai turun dan menyentuh pinggul, ia lalu meremas lembut dan mendekatkan tubuh Hayley agar menempel padanya. Saat bibir mereka hampir saling menyentuh, pintu ruangan terbuka dan Alex hadir membuyarkan situasi panas yang terjadi.
"What? apa aku mengganggu?" tanya Alex tanpa rasa bersalah. "Baiklah-baiklah, aku akan pergi. Aku hanya memastikan kalau kalian tidak tenggelam," selorohnya.
Dua manusia yang hampir saja terbakar gairah, kini langsung melepaskan diri dan bersikap malu-malu.
Hayley melangkah cepat meninggalkan Aaron yang masih berdiri di tempatnya, ia melewati Alex di tangga tanpa menyapa.
Alex bersiul keras dua kali saat melihat Hayley masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa, entah apa maksud laki-laki itu, tapi Hayley yakin jika Alex sedang mengejeknya.
"Ah, apa yang baru saja terjadi, hah!" Hayley frustasi dengan dirinya, bagaimana bisa dia dengan pasrah menikmati sentuhan nakal Aaron.
Hayley menutup pintu kamarnya dengan kasar dan segera mengganti pakaiannya yang basah.
🖤🖤🖤
Sejak kejadian itu, Aaron dan Hayley lebih pendiam, saat makan malam pun mereka tidak mengobrol banyak seperti biasanya. Alex yang mengerti situasi ini selalu menjadi penengah, ia tidak tinggal diam dan hanya menyaksikan dua manusia itu saling bungkam.
"Hayley, aku dengar tadi sore ponselmu nyanyi terus," ujar Alex.
"Iya," jawab Hayley singkat, ia merasa malu jika Aaron melihatnya.
"Siapa?"
"Emm ... Marcel."
Aaron mendongak, kembali memperhatikan Hayley.
"Apa kalian sedang ada janji?" tanya Alex, sepertinya ia sengaja memancing perhatian Aaron.
"Dia ngajak liburan ke Bali bareng mamanya."
"Kapan?"
__ADS_1
"Minggu ini," jawab Hayley sambil melirik Aaron.
"Kamu sudah setuju?" Tidak kuasa dengan rasa penasarannya, Aaron akhirnya bertanya.
"Nggak bisa, minggu ini kita ada undangan pesta dan acara penting. Kamu nggak bisa ke mana-mana, Hay!" seru Alex.
"Apa aku harus ikut?" tanya Hayley.
"Tentu saja, kita kan sepaket." Alex terkekeh, lalu melirik Aaron yang sedang mengulum senyum.
Sepertinya Alex mulai memahami situasi yang terjadi di rumah ini, ia yakin jika Aaron menyembunyikan sesuatu darinya.
🖤🖤🖤
Hari ini Hayley mulai aktif bekerja, ia sudah benar-benar sehat dengan rutin mengkonsumsi obat pemberian dokter sebelum alerginya kambuh.
Di jam makan siang, ia di kejutkan dengan kedatangan Marcel yang tiba-tiba sudah berada di ruangannya, padahal saat itu Alex sedang sibuk mencari dokumen di lemari Hayley.
"Marcel," sapa Hayley.
"Kenapa nggak pernah angkat telponku, Cantik?" tanya Marcel.
"Beberapa hari ini aku sakit, jadi ...."
"Apa? kamu sakit? kenapa nggak bilang," ujar Marcel panik. "Tau gitu aku langsung ke rumahmu," imbuhnya.
"Serius? mau ku antar ke dokter?" tawar Marcel.
"Aku sudah sehat, Cel."
"Mamaku nanyain kamu terus, minggu besok jadi kan?"
"Ini musim hujan, dia alergi dingin. Jangan maksa!" seru Alex saat melewati mereka, Alex membanting pintu ruangan Hayley dengan kasar dan berlalu pergi.
"Hmm, demi kesehatanmu, nggak papa. Mungkin lain kali," ungkap Marcel kecewa.
"Sampaikan permintaan maafku pada mama Sharaa, ya." Hayley menangkupkan kedua tangan di depan dada. "Aku juga sebenarnya pengen kok ke Bali sama kalian."
"Nggak papa, aku ngerti. Kita makan, yuk," ajak Marcel. Meskipun perasaan kecewa begitu besar, ia lebih memilih untuk tidak mempersoalkan hal ini. Baginya, kesehatan Hayley lebih penting.
Belum sempat Hayley menjawab, Marcel sudah lebih dulu menarik tangan Hayley keluar dari ruangan, namun belum sempat keduanya melangkah jauh, Aaron berdiri dengan wajah sangar di depan lift.
"Mau ke mana?" tanya Aaron datar.
"Hai, Aaron. Bolehkan aku izin ngajak Hayley makan siang di luar?" tanya Marcel.
"Di luar hujan, dia alergi dingin." telak Aaron.
__ADS_1
"Tapi ...."
"Maaf, Marcel. Sepertinya lebih baik kamu kembali ke kantormu, Hayley nggak boleh kena hujan," ujar Aaron sedikit melemah, ia tidak mungkin menolak dengan kasar permintaan Marcel, karena laki-laki itu punya pengaruh besar terhadap perusahaannya, jadi dia berusaha sebaik mungkin menjaga perasaan rekan bisnisnya.
Melihat Aaron memberikan kode mata pada Hayley, ia langsung melepas genggaman tangan Marcel.
"Sebaiknya kamu balik dulu aja, Cel. Aku makan di kantin aja," ucap Hayley, ia mencoba membujuk Marcel agar tidak memiliki masalah dengan Aaron.
"Baiklah, mungkin lain kali." Lagi-lagi Marcel kecewa, ia tidak bisa memaksa Hayley untuk ikut dengannya, terlebih cuaca di luar memang sedang hujan.
Marcel masuk ke dalam lift sendirian, ia pergi dan kembali ke kantornya dengan penuh kekecewaan. namun setiap kali ia melihat Aaron dan Hayley, ia merasa ada sesuatu yang sangat mengganjal di hatinya.
Setelah kepergian Marcel, Aaron langsung mengajak Hayley masuk ke dalam ruangannya.
"Aku bawakan makan siang," ujar Aaron sambil meletakkan dua kotak makan di meja.
"Ini, buat aku?" tanya Hayley ragu, seumur-umur, Aaron tidak pernah seperhatian ini padanya.
"Ya, makan bareng, yuk. Aku juga bawa buat Alex, tapi udah di ambil tadi pas ketemu di lift," jelasnya.
Hayley tersenyum senang, entah makanan ini yang membuatnya senang, atau sikap Aaron, ia tidak tau, yang pasti dia merasa cukup di hargai saat ini.
"Jadi ke Bali?" tanya Aaron di sela-sela makan mereka.
"Nggak."
Sekejap Aaron hampir melonjak kegirangan, laki-laki itu tidak bisa lagi menyembunyikan kebahagiaannya.
Hayley menatap heran. "Kenapa?"
"Nggak, kalau kamu nggak jadi pergi, kita bertiga bisa datang ke pesta," ujar Aaron sambil menahan senyum, kemudian memperhatikan Hayley yang kembali makan.
"Hay!"
"Ya!" Hayley mendongak.
Aaron mengusap sudut bibir Hayley yang meninggalkan sisa nasi, namun bibir kecil kemerahan itu seakan begitu menggoda. Lagi-lagi Aaron terpikat, ia meraih dagu Hayley dan mendekatkan wajah mereka.
"Aa ... ron," ujar Alex tiba-tiba datang dari balik pintu.
"Hah! Sial sekali nasibku, kenapa harus di saat seperti ini aku datang," gerutu Alex kesal.
Sedangkan Hayley dan Aaron kembali berpura-pura makan seperti tidak terjadi apa-apa.
🖤🖤🖤
Bersambung ...
__ADS_1