Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Anne Sonya


__ADS_3

Menatap wajah sendu penuh rahasia gadis di depannya, Aaron mencoba tetap tenang mengendalikan keadaan.


"Kita makan dulu, setelah ini, kita akan membicarakannya," ujar Aaron lembut, ia berusaha menyuapi Hayley makanan, namun gadis itu menolak.


"Aku bisa makan sendiri."


"Baik, pastikan makanan itu habis, ya," pinta Aaron, lalu Hayley mengangguk patuh.


Sesi makan di atas kasur berjalan sangat lambat, Hayley sering melamun dan pada akhirnya ia tidak menghabiskan separuh dari makanan yang ada di piring.


Aaron kembali merapikan piring-piring bekas makan mereka dan berjalan menuju dapur. Beberapa orang pelayan berbisik pelan, membicarakan majikannya yang terlihat sangat langka membawa piring kotornya sendiri ke wastafel dapur.


"Ih, tuan sepertinya sudah di perbudak cinta sama non Hayley, ya!" bisik salah seorang pelayan wanita.


Yang lain, pasti meng-iyakan apa yang temannya sampaikan.


Mereka semua sangat mengenal Aaron, laki-laki yang jarang bersuara dan hanya sibuk dengan pekerjaan itu kini menjelma menjadi suami siaga.


"Apa nona hamil, sih?" bisik yang lain. Mereka kembali menggosip, bergumam tentang menikannya yang sejak awal menikah terlihat tidur dalam kamar yang berbeda.


Sampai Aaron melewati mereka, semuanya diam seribu bahasa


Berjalan dengan pikiran yang kacau, Aaron kembali menemui Hayley di kamarnya.


"Sudah malam, istirahatlah," ujar Aaron.


"Kamu belum menyanggupi permintaanku, Mr. Ice," sela Hayley tegas, rupanya gadis itu benar-benar menginginkan jawaban.


"Apa yang kamu minta, apapun, aku akan berikan semuanya, Hayley. Kecuali satu, berpisah!" tegas Aaron, ia mencoba menetralkan emosinya agar tidak mudah terpancing.


"Kamu melanggar perjanjian pranikah kita, Mr Ice. Aku berhak menuntut ganti rugi."


"Ganti rugi? baik, aku akan mempertanggung jawabkan perbuatan ku semalam."


"Aku ingin kita berpisah. Aku nggak mau hidup menjadi bayang-bayang mu."


"Beri aku pilihan lain selain membiarkanmu pergi, Hayley. Aku nggak bisa!" ucap Aaron. "Ibu masih sakit, dia berjuang melawan penyakit ganasnya, dan kamu akan menambah beban hatinya kalau kita bercerai."


Menunduk, Hayley kembali berpikir. Kemungkinan satu minggu lagi ibunya sudah bisa pulang, serangkaian operasi dan pengobatan sudah di lakukan secara maksimal, tinggal menyerahkan semuanya pada takdir Tuhan.


"Bisakah sementara kita nggak ketemu?" tanya Hayley. "Beri aku waktu."

__ADS_1


Menghembuskan nafas panjang, Aaron meraih telapak tangan Hayley, ia menggenggam erat tangan yang sedang berkeringat dingin itu.


"Baik, aku akan memberimu waktu," sanggup Aaron. "Pikirkan semuanya matang-matang."


"Aku akan pulang ke rumahku, mungkin sampai kontrak pernikahan kita berakhir."


"Itu terlalu lama, Hay. Menurutku, satu bulan adalah waktu yang cukup."


"Baik, satu bulan."


Kesepakatan berat terpaksa Aaron setujui demi hubungannya dan Hayley, ia tau jika gadis itu masih dalam kondisi syok dengan masalah ini, namun Aaron yakin, Hayley bukan gadis selemah itu.


Aaron akan tetap berusaha melakukan yang terbaik, namun dia tidak akan memaksa jika Hayley sudah bulat dengan keputusannya.


Cintanya, kini sudah terpatri bersama nama Hayley, namun jika berbagai daya dan upaya sudah di lakukan namun tidak berhasil, Aaron akan berpasrah.


Bukankah level tertinggi dalam mencintai adalah merelakan?


🖤🖤🖤


Pagi di hari senin, Aaron mengantar Hayley ke rumahnya di kawasan perumahan yang letaknya cukup jauh dari kediamannya.


"Kamu boleh libur, sehari, dua hari, atau berapa hari pun yang kamu butuhkan. Aku nggak keberatan," ujar Aaron.


"Please, jangan memanggilku seperti itu. Bukankah sikapku sudah banyak berubah?" tanya Aaron.


"Kamu mau aku memanggilmu apa?"


"Karena sikapku sudah menghangat, bisakah kamu memanggilku Mr. Warm?"


"Mr. Warm?" ulang Hayley, ia mengangkat sebelah alis sambil sedikit tersenyum


"Ah, aku cuma bercanda. Panggil aku apapun yang kamu suka, aku akan terima," jawab Aaron tersenyum senang. Paling tidak, ia sudah bisa melihat bibir mungil nan ranum gadis itu tersenyum manis.


Menggeleng pelan, Hayley kembali menatap ke arah luar kaca mobil.


Selama hampir seminggu sejak kepulangan Hayley, gadis itu hanya datang ke kantor sesekali saat ada pekerjaan darurat yang hanya dia yang mampu menyelesaikan.


Selama itu pula, Aaron selalu datang ke rumahnya untuk meletakkan hadiah-hadiah kecil di depan pintu rumah Hayley, ia membeli banyak barang-barang yang ia ketahui sebagai kesukaan Hayley, dari berbagai jenis makanan, camilan, bahkan kebutuhan pribadi Hayley.


Dua minggu berlalu, Hayley selalu menghindar saat bertatapan muka dengan Aaron, ada rasa malu dan sesuatu yang aneh saat mereka bertemu.

__ADS_1


Masih teringat dengan jelas di kepala Hayley, malam panjang yang mereka lalui. Meskipun saat itu dirinya sedang tidak terkendali akibat obat perangsang yang ia teguk, namun ingatannya cukup kuat untuk mengulang kejadian demi kejadian yang ia alami bersama Aaron.


Bayangan tentang rintihan, sentuhan, belaian, dan kecupan yang panas diiringi peluh yang menyatu, Hayley semakin resah, ia tidak mampu melupakan malam yang mengejutkan baginya, ia tidak tau, bagaimana bisa sebuah obat bisa membuatnya seperti bukan dirinya.


Bagi Hayley, mahkota keperawanan adalah harga mutlak yang tidak bisa di tawar, namun saat ini, ia sudah tidak memilikinya lagi.


"Hayley!" sapa Alex, ia datang lebih pagi ke ruangan gadis itu agar bisa menemuinya.


"Ada apa?" tanya Hayley cuek.


"Aku punya sesuatu," ujar Alex, ia mengeluarkan map coklat yang berisi beberapa lembar foto.


"Apa ini?" tanya Hayley sambil menerima amplop tersebut, ia membuka dengan cepat.


Tangan Hayley gemetar, ia bingung, ia tidak mengerti. Berlari mendekati cermin di pojok ruangannya, Hayley kembali menatap foto di tangannya.


"Marcel," gumamnya pelan.


"Kenapa? kamu terkejut?" tanya Alex. "Dia nggak cinta sama kamu, Hay. Dia punya alasan lain," lanjutnya.


Sebuah foto berukuran lumayan besar, Alex perlihatkan. Seorang laki-laki berkulit putih dengan rahang tegas yang menawan, sedang berfoto bersama seorang gadis yang memakai pakaian wisuda.


"Dia, mirip denganku," ujar Hayley lirih, ia terduduk lemas di kursinya.


"Benar. Namanya Anne, Anne Sonya. Mantan kekasih sekaligus tunangan Marcel," jelas Aaron singkat, bisa di lihat, wajah Hayley semakin pucat dan berubah pias.


"Anne sudah berpacaran dengan Marcel lebih dari 1 tahun, dan di tahun ke 2, Marcel melamarnya meski di usia yang masih muda."


"Wanita itu mirip sekali denganmu, bukan?" tanya Alex. "Jadi, kamu harus tau, dia hanya mencintai tunangannya, bukan seseorang yang mirip dengan tunangannya."


"Tapi ...." Tergagap, Hayley tidak mampu lagi berkata-kata.


Padahal, semakin hari, hubungannya dengan Marcel semakin dekat, mereka sudah saling memahami satu sama lain.


Meskipun Hayley tidak memberitahu tentang malam tragis yang ia alami bersama Aaron, namun gadis itu yakin jika Marcel tulus dan akan menerimanya.


Semakin pucat, Hayley mengingat sebuah lukisan besar yang terpampang di ruang kerja Marcel, lukisan itu masih terlihat terawat di bagian pinggirnya, hanya saja Hayley tidak pernah melihat gambar apa atau siapa yang terpajang di sana.


Marcel selalu menutup lukisan itu dengan kain batik, setiap kali Hayley bertanya, Marcel hanya menjawab kalau lukisan itu sudah lama, dan akan segera di ganti dengan lukisan baru yang lebih bagus.


"Apa lukisan itu, adalah Anne?" batin Hayley bertanya-tanya.

__ADS_1


🖤🖤🖤


Bersambung ....


__ADS_2