Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Masalah


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, hari ini Aaron mengantar Hayley ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan keduanya.


Meskipun Hayley belum sepenuhnya menerima Aaron, tapi dia sudah mulai merubah sikap dan kebiasaannya.


"Sudah siap?" tanya Aaron, Hayley duduk di depan cermin sambil mengelus perutnya.


"Sudah, apa aku terlihat jelek?"


"Hah? kenapa tanya begitu?" ucap Aaron terkejut. "Kamu cantik, Sweety. Selalu."


"Akhir-akhir ini, aku merasa berat badanku semakin naik. Lihat, pipiku jadi semakin chubby." Hayley memegang kedua pipinya sambil menatap Aaron.


"Kamu semakin cantik dengan tubuh berisi dan pipi chubby."


Hayley mengangguk samar, lalu Aaron memeluknya dari belakang sambil berbisik. "Aku semakin menginginkanmu kalau tubuhmu semakin berisi."


Menggigit nakal telinga Hayley, membuat wanita itu terkejut dan rona merah di pipinya muncul.


"Ayo berangkat. Dokter sudah menunggu, Sweety," ajak Aaron, laki-laki itu langsung mengambil tas jinjing favorit Hayley, kemanapun mereka pergi, bahkan Aaron tidak akan membiarkan Hayley membawa tasnya sendiri, meskipun beratnya tidak sampai setengah kilo, tapi Aaron tidak ingin Hayley repot.


Hayley berdiri dan berjalan di gandeng oleh Aaron. Sejak malam pertemuan terakhir dengan Marcel, Hayley memang mulai terbiasa dengan rayuan-rayuan nakal Aaron. Sayangnya, ia masih belum ingin Aaron menyentuhnya lagi.


Sampai di rumah sakit tempat mereka membuat janji dengan seorang dokter, Aaron tetap menggenggam erat tangan istrinya. Mereka bak pengantin baru yang masih kasmaran.


"Selamat pagi, Dok," sapa Aaron.


"Selamat pagi, Mr. Aaron. Senang anda mempercayai rumah sakit kami untuk menangani kehamilan pertama istri anda," ucap dokter wanita berusia empat puluhan.


"Tentu saja, Dok."


Setelah cukup berbasa-basi, dokter wanita tersebut meminta Hayley berbaring di ranjang untuk melakukan USG.


"Usia kandungannya sudah 13 minggu, Nona," ujar dokter, ia lalu menjelaskan dimana letak kepala dan kaki bayinya.


"Beratnya sekitar 23 gram dengan panjang 17,5 sentimeter."


"Apa itu normal, Dok?" tanya Hayley.


"Tentu saja normal, Nona. Bayi anda dalam keadaan sangat sehat dan aktif."


"Kira-kira, kapan saya bisa tau jenis kelamin bayi saya, Dok?" tanya Hayley lagi.


"Oh, ini sudah terlihat, Nona."

__ADS_1


"Tidak perlu, Dok. Kami ingin semuanya akan jadi kejutan nantinya," sela Aaron, lalu tersenyum ke arah Hayley.


Setelah melakukan banyak pemeriksaan yang begitu panjang, Hayley mendapatkan banyak vitamin dan obat sebagai pereda mual muntahnya.


"Aku akan mengantarmu pulang, Sweety. Tapi, aku harus kembali ke kantor, ada sesuatu yang sangat penting," ujar Aaron.


"Aku bisa ikut, 'kan?" rengek Hayley, ia sudah mulai bosan berbulan-bulan hanya berada di rumah, meskipun rumah itu besar dengan berbagai fasilitas, namun rasanya masih sangat membosankan.


"Nggak boleh! aku nggak mau kamu capek," tolak Aaron.


Hayley membuang muka lalu menampakkan bibirnya yang cemberut, ia berulang kali melirik Aaron berharap laki-laki itu peka padanya.


Sampai di lampu merah, Aaron menatap wanitanya yang fokus melihat ke luar kaca mobil. "Kamu kenapa? jangan marah," ucapnya.


Begitulah laki-laki, sudah tau kalau istrinya merajuk, dia pasti tetap akan bertanya 'Kamu kenapa?'


"Nggak papa!" jawab Hayley datar, tanpa sedikitpun melirik suaminya di belakang kemudi.


"Sweety, kamu marah?" tanya Aaron lagi.


"Ah ya Tuhan. Apa wajahku ini belum menunjukkan kalau aku memang sedang marah?" batin Hayley kesal.


"Baiklah, aku akan mengajakmu ke kantor, tapi dengan satu syarat."


"Emm ... bolehkan aku minta jatahku?" Aaron mengerlingkan mata nakal.


"Jatah? jatah apa?" tanya Hayley tidak mengerti.


Saat Aaron ingin mengatakan keinginannya secara terang-terangan, mobil-mobil di belakangnya sudah ramai membunyikan klakson. Lampu sudah berganti warna menjadi hijau.


Meskipun Aaron dan Hayley sudah tidur dalam satu kamar sejak beberapa bulan lalu, tapi mereka sama sekali belum pernah melakukan hubungan itu.


Aaron memang tidak pernah meminta, ia masih takut Hayley belum siap menerimanya. Namum sebagai laki-laki, ia sudah cukup kuat menahan godaan setiap malam karena istrinya.


Sesampainya di kantor, Aaron tetap menggandeng Hayley mesra di sampingnya. Semua orang yang melihat, akan merasa iri. Bagaimana beruntungnya wanita yang kini berada di samping Aaron, laki-laki tampan dengan kekayaan luar biasa.


"Kenapa semua orang melihatku seperti itu?" tanya Hayley.


"Karena kamu cantik, mereka semua pasti mengagumimu," jawab Aaron. Sejak kabar kehamilan Hayley, semua karyawan dan orang-orang terdekat Aaron sudah mengetahui semuanya, bahwa Hayley yang mereka kenal sebagai asisten Aaron, sebenarnya adalah istrinya.


🖤🖤🖤


Alex duduk dengan gelisah di depan layar laptopnya, ia berulang kali mengumpat dan memaki kesal.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Aaron bingung saat baru saja masuk ke dalam ruangan mereka.


"Lihat ini, orang itu benar-benar gila!" ucap Alex.


Menatap layar laptop yang menyala dengan data yang terpampang jelas, Aaron menggelengkan kepala pelan. Jika saat ini tidak ada Hayley di ruangan ini, mungkin dia juga akan mengumpat kasar dengan masalahnya.


"Bagaimana bisa secepat ini?" tanya Aaron.


"Dia bajing*n, Bro. Dia mempermainkan semua aset kita dan menurunkan harga saham secara drastis. Kerugian kita lumayan besar," keluh Alex.


"Apa semuanya baik-baik saja?" sela Hayley bingung, ia tau jika dua laki-laki di depannya sedang dalam masalah besar.


"Sweety, sebaiknya kamu duduk manis di sini, aku sedang ada perlu dengan Alex," ucap Aaron, menggandeng Hayley duduk di sofa panjang dekat jendela kaca.


Menghela nafas berat, Aaron kembali menghampiri Alex dan terduduk lemas di kursinya. Untungnya, beberapa minggu terakhir ia sudah mengamankan beberapa aset dan membuat perjanjian dengan banyak rekan bisnis yang lebih menjanjikan dari pada dari perusahaan PT.M-ral.


"Berapa persen kemungkinan kita aman?" tanya Aaron.


"30 persen, itu pun kalau beberapa rekan mau langsung turun tangan," jawab Alex.


Tidak bisa lagi di pungkiri, Marcel adalah salah satu orang berpengaruh di negara ini dalam dunia bisnis. Laki-laki itu dengan sangat mudah mampu mengendalikan perusahaan orang lain di bawah tekanannya.


Meskipun perusahaan Aaron adalah perusahaan besar, namun masih belum mampu jika di bandingkan dengan apa yang Marcel miliki.


"Kita harus bergerak cepat. Kalau tidak, dia bisa dengan mudah menggusur kita," ungkap Aaron.


"Aku akan menghubungi beberapa kolega dan rekan, semoga mereka siap membantu."


"Bagus. Aku akan menemui papa."


Bagaimanapun, perusahaan ini adalah milik keluarga, apapun masalahnya, Albern harus tau.


Entah harus menjelaskan dari mana, Aaron masih belum memikirkannya, yang terpenting, dia harus bertahan lebih kuat agar tidak kehilangan segalanya.


"Apa yang akan kamu jelaskan pada paman Albern?" tanya Alex.


"Aku akan mengatakan semuanya dengan jujur."


"Baiklah, mungkin paman akan mengerti keadaanmu. Aku sendiri tidak menyangka, orang itu akan senekat ini untuk menghancurkan mu," pekik Alex.


Memasang telinga cukup tajam, Hayley akhirnya mengerti, jika masalah ini datang karena dirinya.


🖤🖤🖤

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2