
Tidak ada satupun di ruangan tersebut yang tidak terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar dan mereka lihat saat ini.
Aaron nampak menampakkan wajahnya yang aneh dengan mulut menganga dan mata yang membulat.
"Seriously? nggak salah dengar, nih?" batin Aaron, ia menggaruk rambutnya, menatap istrinya yang ada di dekat Melanie yang juga nampak sangat shock.
Melanie terharu, air matanya kembali menetes, namun kali ini bukan lagi tangis kesedihan, melainkan tangis akan kebahagiaan yang selama ini ia nantikan.
"Kamu, serius?" tanya Melanie dengan suara serak bergetar.
"Tentu saja. Ada dua saudaraku yang menjadi saksi bahwa aku bersungguh-sungguh."
"Tapi, aku ...."
"Kita akan segera menikah, Mel. Secepatnya, jangan memikirkan apapun selain cinta dan kebahagiaan kita," ucap Alex, ia membuka sebuah kotak hitam yang berisi cincin berlian berwarna merah delima berukuran sedang, ada ukiran bunga di setiap sisi cincin itu yang terlihat sangat detail dengan inisial dua huruf, A&M.
Hayley yang tidak menyangka hari ini akan tiba, ikut terharu dengan sikap gentleman Alex yang mengagumkan. Laki-laki itu benar-benar memantapkan hatinya pada satu cinta.
"Yes, we are getting married," jawab Melanie dengan senyuman yang sungguh cantik.
Aaron dan Hayley seperti melihat sebuah drama romansa di hadapan mereka, keduanya saling pandang namun turut bahagia, masih ada rasa tidak percaya jika Alex akan melakukan hal seromantis ini.
Siapapun pasti tau, Alex adalah laki-laki yang tidak peduli tentang wanita selain hal tentang tidur bersama dan menghabiskan malam yang panjang untuk bersenang-senang. Alex adalah laki-laki yang selalu berpikir realistis tak berperasaan. Siapapun pasti tau.
Dan pada akhirnya, kini ia menjadi Alex yang benar-benar berbeda, Alex yang tidak di kenali, namun menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Alex bangkit dan memeluk Melanie, selama hidupnya, baru kali ini Alex merasakan kebahagiaan luar biasa, ada banyak bunga yang sedang bermekaran di dalam hatinya, ada perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan, sesuatu yang menakjubkan, sebuah cinta.
"Ah, akhirnya. Kini si playboy sudah tobat," seru Aaron sambil terkekeh. "Tadinya aku berpikir kalau kamu bakal jadi perjaka tua, Alex. Atau bisa-bisa jadi jomblo abadi," lanjutnya.
"Sayang, jangan meledeknya," sela Hayley.
"Aku nggak pernah nyangka. Aku bisa berada di sebuah situasi seperti ini. Cubit aku!" ujar Alex.
__ADS_1
Hayley mencubit lengan laki-laki berambut silver itu dengan sangat kuat.
"Aww, ternyata bukan mimpi. Kalian tau, aku bahkan berlatih melakukan hal ini selama berhari-hari," ucap Alex, lalu ia menatap tunangannya, dan mencium kening Melanie dengan lembut.
Pintu ruangan terbuka, sosok orang tua Melanie berdiri di ambang pintu. Tuan Gio dan istrinya datang dengan tersenyum penuh kebahagiaan.
Aaron dan Hayley bersalaman lebih dulu, di susul Alex dan Melanie.
"Ma, Pa. Apa kalian tau, Alex ...." Melanie menghentikan ucapannya saat tuan Gio meletakkan jari telunjuk di bibir putrinya.
"Papa tau, dan papa akan segera mengurus semua keperluan untuk pesta pernikahan kalian," sela tuan Gio. "Semuanya akan siap dalam beberapa hari."
"Beberapa hari? itu terlalu cepat, Pa," keluh Melanie. "Aku bahkan belum siap."
"Kamu pasti siap, Nak. Lebih cepat lebih baik, bukan begitu, Mr. Aaron?" ujar Tuan Gio.
"Ya, tentu saja, Tuan. Aku juga nggak yakin kalau Alex bisa bersabar menunggu beberapa hari itu," canda Aaron sambil melirik sepupunya.
Semuanya tertawa, kebahagiaan dan kehangatan sangat terasa di ruangan ini, keseruan bercanda terhenti saat baby Nick menangis.
"Sudah terlalu malam. Melanie, kamu ke kamar di antar mama, papa ada sedikit perlu dengan Alex dan Aaron," ucap tuan Gio.
"Ayo, Sayang." Nyonya gio mendorong kursi roda Melanie dan berpamitan pada semua orang di ruangan.
Setelah Melanie keluar dari ruangan, dan Hayley selesai memberikan ASI pada baby Nick, tuan Gio mengajak mereka bertiga duduk bersama.
"Ada apa, Tuan? ada yang serius?" tanya Aaron, melihat gelagat dan mimik wajah tuan Gio, laki-laki paruh baya itu sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat.
"Begini, Alex. Paman tidak keberatan kamu menikah dengan Melanie, paman sangat senang. Tapi, apa kamu yakin?" tanya Tuan Gio.
"Tentu saja yakin, Paman. Apakah paman meragukanku?"
"Bukan seperti itu. Paman percaya. Tapi, lihatlah kondisi Melanie, tidak ada yang tau berapa lama lagi dia hidup. Kamu harus memikirkan kedepannya, ini juga akan merenggut masa depanmu, Alex," ujar tuan Gio dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kami bahagia jika akhirnya Melanie bisa mendapatkan cintanya, kami bahagia atas semua yang kamu lakukan pada Melanie. Tapi, kamu juga harus memikirkan dirimu, pernikahan bukan sebuah permainan," lanjut tuan Gio.
"Sungguh, Paman. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagiku selain menikah dengan Melanie. Tolong restui kami, tolong izinkan kami menikah. Aku berjanji akan membahagiakan Melanie," jawab Alex sungguh-sungguh.
"Bukan, bukan seperti itu maksud paman, Alex."
"Aku tau, Paman. Aku paham, meskipun Melanie tidak bisa bertahan hidup lebih lama lagi, kami akan tetap menikah, apapun yang terjadi. Biarkan aku memberikan hadiah terbaik di akhir hidupnya. Aku mencintainya, tidak ada yang bisa memisahkan kami selain kematian," jelas Alex.
"Alex, bagaimana cara paman harus berterimakasih," ucap tuan Gio, ia menggenggam tangan Alex.
"Berterimakasih untuk apa? ini adalah keinginanku, Paman. Aku menikahi Melanie karena aku mencintainya, karena aku menginginkannya."
Tuan Gio cukup terharu dengan tekad kuat laki-laki muda di depannya. Menikah dengan wanita yang sekarat dan dekat dengan kematian, bukanlah hal yang mudah. Dan Alex memilih jalan yang belum tentu di pilih oleh orang lain.
Aaron dan Hayley hanya duduk dan mendengarkan, mereka akan menjadi saksi bagaimana Alex berubah menjadi Alex yang tidak terduga. Alex yang benar-benar berhati besar dengan sikap yang menakjubkan.
Mungkin, jika saja sebulan atau dua bulan setelah mereka menikah dan perjuangan Melanie akhirnya usai, mungkin Alex akan menjadi duda di usia muda, dan Alex tidak peduli tentang itu, ia hanya menginginkan dirinya sah bersama Melanie untuk saat ini, berapapun lama Tuhan membiarkan mereka bersama, itu adalah sesuatu yang masih rahasia.
"Mr. Aaron," sapa tuan Gio.
"Panggil saja Aaron, Tuan. Bukankah kita akan menjadi sebuah keluarga?" ucap Aaron.
Tuan Gio tersenyum. "Apakah keluarga kalian tidak keberatan dengan hal ini, mungkin Melanie akan menjadi beban di keluarga kalian."
"Mencintai dan menikah adalah hak pribadi. Kami sama sekali tidak keberatan dengan apapun keputusan Alex. Toh, dia bahagia. Kami semua akan mendukung apapun yang terbaik."
"Bagaimana dengan orang tuamu, Alex?" tanya tuan Gio.
Alex mendadak bungkam, selama ini, dirinya tidak pernah menjelaskan pada siapapun tentang keluarga intinya, papa maupun mamanya, tidak ada yang tau, bahkan Melanie.
"Aku akan segera memberi kabar pada tante Friska. Semoga beliau bisa hadir di pernikahan kalian," sela Aaron.
"Maaf, Tuan Gio. Alex adalah anak yatim, yang tersisa hanya ibunya. Tapi jangan khawatir, dia memiliki kami, keluarga yang juga sangat menyayanginya," jelas Hayley.
__ADS_1
🖤🖤🖤