Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Kecelakaan


__ADS_3

Alex mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, amarah dalam dadanya bak gunung berapi yang hampir siap meletus. Tidak bisa lagi mengendalikan diri, Alex beberapa kali menerobos lampu merah hingga mendapat teguran keras dari pengguna jalan lain.


Sampai di sebuah pertigaan, Alex tidak melihat ada seorang gadis menyebrang di tengah jalan, sampai pada akhirnya, gadis itu tertabrak dan menjadi korban atas ketidak hati-hatian Alex.


Semua orang yang melihat kejadian tersebut langsung berkerumun menolong gadis yang tergeletak lemas di tengah jalan, sebagian orang lagi menggedor-gedor kaca mobil Alex penuh amarah.


"Keluar!!!" teriak orang-orang yang menghadang tepat di tengah jalan sambil menunjuk si pengemudi mobil.


Sesaat, Alex terkejut dan takut, ia menyadari kesalahannya.


"Baik, ini salahku. Dan aku harus bertanggung jawab," batin Alex, ia keluar dari mobil dan meminta maaf pada semua orang.


"Tolong bantu bawa dia masuk ke mobilku, aku akan membawanya ke rumah sakit," pinta Alex, beberapa orang langsung membantu Alex memindahkan gadis itu dari tengah jalan masuk ke mobilnya.


"Sial! ada-ada aja!" gerutu Alex di dalam mobil.


Secepat kilat, ia membawa gadis yang terbaring lemas itu ke rumah sakit terdekat. Dengan cekatan, Alex menggendong gadis itu sendiri dan membawanya langsung ke ruang IGD.


Menunggu dokter dan beberapa perawat melakukan pemeriksaan, Alex cukup kesal. Hari ini nasib baik tidak berpihak padanya. Pagi-pagi buta, Melanie sudah mengajaknya bertengkar, lalu tiba-tiba dia bertemu dengan seseorang yang sudah menyakitinya bertahun-tahun, lalu sekarang, dia mendapatkan masalah baru karena kecerobohannya.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Alex khawatir.


"Dia masih belum sadarkan diri, tapi kami akan melakukan rontgen untuk memastikan, di perkirakan pergelangan kaki gadis itu patah."


"Tidak ada pendarahan, hanya luka kecil dan memar di beberapa bagian tubuh," jelas dokter.


"Ya Tuhan, ini akan menyulitkanku!" pekik Alex, ia mengusap wajahnya kasar.


"Silahkan melakukan pendaftaran dulu, lengkapi berkas-berkas pasien termasuk data diri," ucap dokter, lalu berlalu pergi meninggalkan Alex yang kebingungan.


Alex menghampiri gadis berkulit putih yang terbaring di atas ranjang.


"Hei, bangunlah. Dari mana aku tau siapa namamu dan di mana rumahmu. Aku akan mendaftarkanmu agar cepat mendapatkan penanganan," ujar Alex.


Beberapa menit menunggu, gadis itu tidak juga membuka mata. Mengumpulkan segenap keberanian, Alex merogoh setiap saku baju dan celana gadis itu, namun ia tidak menemukan apapun.


Dokter kembali dan memberi teguran, gadis itu harus segera mendapatkan penanganan, namun Alex harus mendaftarkan dia terlebih dahulu.


"Aku tidak tau nama dan alamat dia, Dok. Tolong, lakukan apapun untuk membuatnya sadar, aku bertanggung jawab penuh sebagai walinya."


Dokter dengan berat hati menyanggupi permintaan Alex, karena kondisi pasien juga menghawatirkan.


Setelah memastikan gadis yang ia tabrak mendapatkan perawatan terbaik, Alex kembali ke tempat kejadian perkara dimana dia menabrak gadis itu.

__ADS_1


"Apa ada yang tau nama dan alamat gadis yang baru saja mengalami kecelakaan di sini? atau ada yang mengenal keluarganya?" Alex bertanya pada setiap orang yang terlihat berada di tempat itu.


"Kami tidak tau, tapi dia membawa tas. Ini," ucap salah seorang warga lalu menyerahkan sebuah tas kecil berwarna pink yang lusuh.


"Ah, baik. Terimakasih," ucap Alex, ia pun langsung kembali ke rumah sakit dan mengurus semua berkas-berkas pendaftaran untuk gadis yang tadi ia tabrak.


Hampir 2 jam menunggu, Gadis itu baru sadar.


"Hai, maaf, sudah menabrakmu," ungkap Alex. "Apa keadaanmu sudah membaik?" tanya Alex, yang hanya di jawab anggukan singkat.


"Kemana aku harus menghubungi keluargamu? setidaknya mereka harus tau," ujar Alex, namun gadis itu hanya menggeleng.


"Jangan hanya mengangguk dan menggeleng, bicaralah!"


"Hai, aku tanya, kamu nggak punya keluarga?" tanya Alex lagi.


Gadis itu kembali menggeleng.


"Ya Tuhan. Apa kamu nggak paham bahasa manusia?"


"Namamu Nora Arabella, bukan? Aku harus memanggilmu apa?"


"No-Nora," jawab gadis itu terbata-bata.


"Baiklah, Nora. Aku sudah mengurus semua keperluanmu di rumah sakit ini, bahkan sebagai permintaan maafku, aku sudah menyiapkan ruangan VIP selama kamu di rawat di sini. Jadi, jangan khawatir."


Nora mengangguk lemah.


🖤🖤🖤


Setelah meninggalkan rumah sakit, Alex langsung pulang ke rumah. Entah mengapa kesialan terus menimpanya hari ini.


Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Aaron menelpon.


"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Aaron.


"Kalau yang kamu tanyakan adalah keadaan kantor, maka semuanya baik," jawab Alex malas.


"Bagaimana denganmu? kamu kelihatan nggak bersemangat," ucap Aaron.


"Sial banget hari ini."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Pagi-pagi, Melanie ada di kantor dan marah-marah nggak jelas. Sore, aku ke rumah tante Samantha, dan ...." Kata-kata Alex terputus.


"Dan apa?"


"Dan mama ada di sana."


"Serius? tante Friska ada di sana?" tanya Aaron terkejut, pasalnya, ia juga sangat lama tidak pernah mendengar kabar tentang mama Alex.


"Ya, begitulah."


"Hmm, bagaimana perasaanmu?" tanya Aaron.


"Aku bahkan mati rasa saat melihatnya. Seperti bukan siapa-siapa bagiku."


Aaron terdiam cukup lama mendengar ucapan Alex, ia sangat tau bagaimana sepupunya itu melewati hari-harinya tanpa kasih sayang orang tua dan perasaan kosong dalam jiwanya. Tidak mudah menerima sesuatu yang sudah lama hilang, bahkan bekasnya pun sudah sirna dari ingatan.


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Lusa aku akan pulang," ungkap Aaron.


"Nggak usah buru-buru. Semuanya beres. Nikmati bulan madu kalian, Hayley juga pasti akan kecewa kalau kalian hanya pergi 3 hari."


"Hayley akan mengerti, jangan khawatir."


"Nggak perlu, Aaron. Aku baik-baik saja," ucap Alex, lalu memutuskan panggilan sepihak.


Kedatangan Friska tentu saja akan mengguncang perasaan Alex, dan Aaron tidak mungkin bisa menikmati liburan sedangkan Alex dalam keadaan tidak baik.


Di sebuah villa di dekat pantai, Hayley dan Aaron menikmati pemandangan malam sambil merencanakan tempat-tempat yang akan mereka kunjungi besok pagi.


"Apa Alex baik-baik saja?" tanya Hayley.


"Sepertinya tidak. Kamu tau, Sweetheart, Mama Alex datang menemuinya hari ini," ucap Aaron.


"Lalu, apa mereka berbaikan?"


"Nggak semudah itu. Akan sangat sulit bagi Alex menerima kembali tante Friska, luka yang di torehkan terlalu sakit. Entahlah, apa ini sebuah takdir, kenapa ada seorang ibu yang tega meninggalkan anak satu-satunya demi harta."


"Ada banyak macam dan jenis manusia di bumi. Kita nggak bisa menilai seseorang begitu saja tanpa tau alasan kenapa ia berbuat sedemikian rupa. Mungkin, tante Friska punya alasan yang nggak kita ketahui," ungkap Hayley.


"Apapun alasannya, meninggalkan seorang anak tanpa tanggung jawab adalah hal yang paling buruk."


Hayley dan Aaron hanya merenung, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Kalau begitu, kita balik pulang. Alex pasti membutuhkanmu, Sayang."

__ADS_1


"Nggak, kita balik lusa."


🖤🖤🖤


__ADS_2