Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Kamar


__ADS_3

Tok ... Tok ... Tok ....


Aaron mengetuk pintu kamar Hayley berkali-kali, entah mengapa gadis itu belum juga membuka pintu untuknya. Lelah berdiri hampir setengah jam di depan pintu, Aaron menuju dapur untuk menemui kepala pelayan yang tadi membantu Hayley di kamar.


"Laksmi, kemana Hayley?" tanya Aaron. "Kakiku hampir kesemutan ketok-ketok pintunya tapi dia nggak keluar juga."


"Nona Hayley tadi bilangnya mau mandi, Tuan," jawab Laksmi.


"Mandi? dari tadi?" tanya Aaron.


"Selesai lepas gaun dan bersihin make up tadi nona langsung mandi," papar Laksmi, ia sendiri bingung karena kalau di pikir-pikir, Hayley sudah di kamar mandi lebih dari satu jam sampai saat ini.


"Jangan-jangan gadis itu tenggelam di bath up, atau jangan-jangan dia ... bunuh diri," gumam Aaron, dengan perasaan was-was ia kembali berlari menuju kamar Hayley.


"Hayley, buka pintunya!" teriak Aaron. "Kamu ngapain sih? aku dobrak nih!"


BRAK!!!


Pintu kamar langsung di dobrak oleh Aaron, tepat saat Hayley keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk putih kecil yang menutupi area dada dan bagian intimnya.


"Aaaaaa ...." Hayley dan Aaron berteriak berbarengan, teriakan mereka menggema membuat beberapa orang pelayan berlari menaiki tangga, berpikir untuk menyelamatkan majikannya apabila terjadi hal-hal buruk yang menimpa.


Setelah menyadari suara kaki yang berlari ke arah kamarnya, Hayley langsung kembali masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Aaron masih berdiri mematung memperhatikan pintu kamar mandi yang kini sudah tertutup rapat bersama hilangnya Hayley.


"Ada apa, Tuan?" tanya pelayan laki-laki berseragam.


"Tidak ada apa-apa, kembalilah bekerja," perintah Aaron, ia berusaha menyembunyikan rasa malunya karena berteriak seperti orang melihat setan.


Sedangkan beberapa pelayan yang terlihat panik kini merasa lega, mereka pikir ada sesuatu yang buruk sampai mengakibatkan dua orang di dalam kamar itu saling berteriak.


"Mr. Ice, apa yang kau lakukan? kenapa kau masuk kamarku tanpa seizinku?" teriak Hayley dari dalam kamar mandi.


"Aku sudah mengetuk pintu lebih dari setengah jam, kamu nggak denger?"


"Nggak, aku kan mandi," jawab Hayley tanpa rasa bersalah.


"Cepat keluar! ada yang mau aku bicarakan," pinta Aaron.


"Nggak mau, aku belum pakai baju," jawab Hayley dari balik pintu. "Kamu keluar aja dulu, Mr. Ice, nanti aku nyusul," imbuhnya.

__ADS_1


"Nggak, aku mau tetap di sini," tolak Aaron.


"Nggak mau, pokoknya kamu keluar dulu, kalau nggak, aku juga nggak bakal mau keluar kamar mandi," seru Hayley.


"Oke, oke. Aku keluar, cepat!"


Hayley membuka pintu kamar mandi, mengeluarkan kepalanya terlebih dahulu untuk memastikan bahwa Aaron sudah benar-benar pergi.


"Hah, syukurlah dia sudah pergi," gumam Hayley.


Dia lalu membuka koper miliknya yang sudah sampai di rumah ini lebih dulu dari pada dirinya. Memilih dan memilah baju-baju yang cocok ia kenakan di rumah ini, rasanya tidak ada yang pantas.


Hampir semua baju milik Hayley adalah baju-baju yang sangat lama, hanya kaos-kaos lengan pendek dan celana pendek yang ia punya, beberapa rok pendek sedengkul juga sudah memudar warnanya.


"Ah, aku nggak punya baju," pekik Hayley.


Hayley mendesah berat, ia tidak ada pilihan lain selain memakai baju seadanya, meskipun kini tempat tinggalnya berbeda, ia tetaplah Hayley yang miskin, tidak perlu bersikap sok kaya dengan memakai baju-baju bagus, pikir Hayley.


Setelah selesai berganti baju dan merias wajah dengan sederhana, ia keluar dari kamar dan mencari keberadaan Aaron.


"Bi, lihat Mr. Ice nggak?" tanya Hayley pada Laksmi yang is temui sedang sibuk di ruang tengah.


"Oh, maksudku Mr. Aaron, hehehe."


"Oh, Tuan Aaron, mungkin sedang di kamarnya, Non," jawab Laksmi sambil menahan senyum.


"Emm, kamarnya yang sebelah mana, ya , Bi?" tanya Hayley sambil memperhatikan pintu-pintu yang berjejer.


"Yang paling ujung sana, paling besar," jawab Laksmi sambil menunjuk.


"Oke, terimakasih banyak, Bi." Hayley melenggangkan kaki menuju kamar yang di tunjuk oleh Laksmi.


Hayley kembali menoleh ke belakang, kamarnya berada di tengah, kamar paling ujung adalah kamar milik Aaron, lalu milik siapa kamar yang berada di sisi kiri kamar Hayley?


"Jangan-jangan, kamar si rambut putih itu," tebak Hayley membatin, hanya dengan mengingat nama Alex saja sudah membuat Hayley tampak kesal, ia sangat keberatan jika harus berada dalam satu atap dengan laki-laki menyebalkan itu.


Tok ... Tok ... Tok ....


Hayley mengetuk pintu dengan pelan, ia langsung membuka pintu tanpa menunggu pemilik kamar mempersilahkan masuk.

__ADS_1


"Eh, eh. Maaf, Mr. Ice, nggak sengaja," ujar Hayley sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, rupanya Aaron sedang bersiap ke kamar mandi, ia hanya memakai celana pendek dengan bertelanjang dada.


"Siapa suruh masuk kamar orang tanpa izin?" tanya Aaron dingin.


"Maaf." Suara Hayley bergetar, ia merasa sangat bersalah telah lancang masuk ke dalam kamar orang begitu saja.


"Mau apa?" tanya Aaron lagi, sedangkan Hayley kini membalikkan badan menghadap pintu.


"Katanya tadi mau ngomongin sesuatu," jawab Hayley.


"Sebentar lagi, aku mau mandi dulu." Aaron menghela nafas panjang, dalam hatinya ia cukup merasa jengkel dengan kelancangan Hayley, namun sikap gadis itu mampu membuat perasaan marahnya menguap entah kemana.


"Aku tunggu di luar, ya," pinta Hayley.


"Sini aja, aku cuma bentar. Nggak kayak kamu, mandi aja setahun," ejek Aaron sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Namanya aja cewek, maklum mandinya lama," gumam Hayley. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar Aaron, ternyata hampir keseluruhan rumah ini di dominasi dengan warna putih atau nude, dari sprei, bantal, guling, sofa dan kursi-kursi di ruang tamu semuanya berwarna putih, cat tembok juga variasi putih dan warna-warna nude yang begitu soft.


Hayley mendekati sebuah bingkai foto berukuran 4R di atas meja, ia melihat foto seorang anak laki-laki bersama dua saudara perempuannya. Anak laki-laki berambut pendek kecoklatan dengan warna mata biru keabuan itu sangat mirip dengan Aaron, anak itu tersenyum ke arah kamera menampakkan dua gigi bagian depannya yang ompong.


"Ngapain lihat-lihat fotoku?" suara Aaron mengejutkannya dari belakang.


"Eh, nggak. Apa ini fotomu, Mr. Ice?" tanya Hayley, lalu kembali meletakkan bingkai foto itu di meja.


"Hemm." Aaron hanya menjawab dengan deheman.


"Kamu kelihatan lucu banget, gigimu ompong," ujar Hayley sambil menahan senyum.


Hayley membalikkan badan, ia menemukan Aaron sedang membuka lemari pakaian.


"Eh, kenapa nggak pakai baju, sih?" tegur Hayley. Dia merasa wajahnya memanas melihat Aaron kembali bertelanjang dada di depan matanya, kini laki-laki itu hanya memakai handuk kecil yang di lilitkan di pinggangnya.


"Baru mau ambil baju," jawab Aaron datar, kemudian meraih baju dari dalam lemari dan kembali masuk ke kamar mandi untuk berganti.


Kini pikiran nakal Hayley berkelana membayangkan tubuh atletis Aaron dengan buliran bening menetes di punggungnya, ia hanya melihat bagian punggung laki-laki itu, namun sukses membuat jantungnya bertalu-talu.


🖤🖤🖤


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2