Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Alex


__ADS_3

Sepeninggal Alex dan Aaron, Hayley langsung menuju dapur dan meminta penjelasan pada Laksmi.


"Bi, apa yang sudah bibi katakan pada suamiku?" tanya Hayley.


"Saya, hanya mengatakan yang sebenarnya, Nona," jawab Laksmi gugup, kini dia tidak tau harus memilih yang mana, antara berkata jujur pada Aaron, atau membela Hayley dan merahasiakan kegiatan nyonya besar itu selama di rumah.


"Ah, Bibi. Kenapa mengatakannya," keluh Hayley.


"Maafkan saya, Nona. Saya terpaksa, tuan Aaron mendesak, dan saya tidak mau kalau kehilangan pekerjaan saya."


"Apa dia akan memecat bibi kalau ketahuan bohong?"


"Tentu saja, Nona. Tuan Aaron tidak akan pernah memaafkan saya jika saya berbohong. Karena kejujuran adalah pegangan hidup baginya."


"Ya Tuhan. Bibi, sungguh aku minta maaf, maaf karena sudah membuat bibi dalam masalah. Maafkan aku, ya," ucap Hayley tulus, ia memegang tangan Laksmi dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.


"Eh, Nona. Tidak perlu seperti ini, tidak perlu meminta maaf."


"Bi, aku sudah salah, jadi sudah seharusnya aku meminta maaf."


"Baiklah, Nona. Saya sudah memaafkan," ujar Laksmi, ia tersenyum menatap Hayley. Bagi Laksmi, Hayley sudah seperti anaknya sendiri, wanita yang tengah hamil besar itu seharusnya seumuran dengan putrinya yang sudah meninggal.


"Oh ya, Bi. Kenapa suara bibi serak? apa bibi sakit?" tanya Hayley, ia juga merasa jika Laksmi sedang kurang sehat karena suaranya yang serak dan lebih berat.


"Ah, anu. Saya ... cuma sakit tenggorokan biasa, Nona. Kalau begitu, saya pamit, saya banyak pekerjaan," pamit Laksmi, meninggalkan Hayley duduk di kursi dapur.


Tidak puas mengobrol dengan Laksmi, Hayley mencari teman lain, ia menunggu seorang wanita muda yang bertugas sebagai pelayan kebersihan di ruang tengah.


"Eh, Layla. Mau aku bantuin nggak?" tawar Hayley, ia biasanya senang sekali membantu pelayan-pelayan di rumah ini, selain menghilangkan kejenuhan di dalam kamar, ia juga punya teman bercerita.


"Ya Tuhan. Selamatkan aku," batin wanita yang Hayley panggil bernama Layla.


"Kok bengong, sih!"


"Eh, Nona. Saya bisa kerjakan semuanya sendiri, mulai hari ini, nona tidak perlu membantu apapun lagi. Saya bisa mengatasi semuanya," ucap Layla.


"Loh, kan biasanya aku nggak papa bantuin kamu."


"Nona, saya lebih senang jika nona duduk manis menonton tv. Dan saya akan menemani nona bercerita sambil membersihkan tempat ini."

__ADS_1


"Ah Layla. Nggak asik," protes Hayley.


"Dengan nona duduk manis tanpa menyentuh alat-alat kebersihan saya, nona sama dengan menyelamatkan hidup saya." Layla membatin, ia masih ingat bagaimana kemarahan Aaron semalam, bahkan ia harus ikut merasakan nikmatnya brownis gosong buatan Hayley gara-gara masalah ini.


"Eh, Layla. Suara kamu juga serak ya, kamu sakit tenggorokan juga? sama dong kayak bibi Laksmi," ucap Hayley, ia merasa cukup aneh, kenapa orang-orang mengalami sakit tenggorokan secara bersamaan.


"Anu, Nona. Salah makan," jawab Layla bohong, tidak mungkin dia akan mengatakan bahwa serak yang membuat tenggorokannya tidak nyaman ini di karenakan memakan sepotong brownis buatan Hayley.


"Salah makan kok massal," gumam Hayley.


"Gimana nggak massal, ini semua juga karenamu, Nona."


Mulai hari ini, semua pelayan mendapatkan peringatan keras dari Laksmi, satu pun dari mereka, tidak boleh ada yang membiarkan Hayley melakukan pekerjaan apapun. Mereka di haruskan membuat alasan yang bagus dan tidak mencurigakan, untuk menolak setiap tawaran dari Hayley untuk membantu.


🖤🖤🖤


Di kantor PT. Conan Dream, Aaron dan Alex melakukan meeting penting dengan beberapa dewan direksi, ini adalah meeting akhir bulan dimana semua keuntungan dan kerugian perusahaan di perhitungkan.


"Kita mencapai keuntungan fantastis, Mr. Aaron. Hampir semua anak cabang meroket," ucap salah seorang dewan.


"Bagus. Aku ingin kalian semua tetap mempertahankan posisi ini, jika keadaan ini berlangsung lama, aku tidak akan keberatan menaikkan bonus tahunan kalian," ujar Aaron yang di sambut suka cita oleh semua penghuni ruangan.


"Paket sudah di kirim?" tanya Aaron.


Selama 3 tahun terakhir, Aaron melakukan pengiriman paket berupa sembako, pakaian dan alat-alat sekolah ke berbagai wilayah terpencil. Semuanya langsung di urus oleh kantor pusat dengan pantauan langsung dari Aaron dan Alex.


Kesuksesan dan kekayaannya tidak hanya bersumber dari tekadnya dalam bekerja, melainkan juga dari do'a orang-orang yang telah terbantu karenanya.


Aaron sudah menyumbangkan kekayaannya lebih dari ratusan dollar, namun semua ini bersifat pribadi, hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya. Bahkan Hayley pun tidak pernah mengetahuinya.


Setelah meeting berlangsung cukup lama, Aaron dan Alex berjalan beriringan menuju ruangan.


"Aaron, aku penasaran, ada masalah apa semalam?" tanya Alex.


"Masalah sepele," jawab Aaron santai, mereka masuk ke dalam ruangan dan duduk di sofa sambil bersandar.


"Masalah sepele? sampai mengumpulkan semua pelayan di ruang kerjamu?"


"Aku nggak tau harus menyalahkan siapa. Yang jelas, setiap hari Hayley ikut membantu para pelayan melakukan pekerjaan mereka, nggak cuma bantu-bantu masak, Hayley bahkan membantu tukang kebun ngurus taman," jelas Aaron.

__ADS_1


"Lalu, masalahnya apa?" tanya Alex masih tidak mengerti, baginya, membantu pelayan bukan hal yang salah.


"Dasar blo'on! kamu nggak lihat apa kalau Hayley itu hamil besar?"


"Lihat, mataku kan normal," jawab Alex santai. "Dia kan cuma Hamil, Bro. Dia nggak sakit, lalu apa salahnya bantu-bantu pelayan," lanjut Alex tanpa rasa bersalah.


"Ya Tuhan, Alex. Makanya, Nikah! nikah! nikah!" pekik Aaron tidak tahan lagi mendengar bantahan sepupunya.


"Dih, marah!"


"Kamu itu harus nikah, biar tau rasanya jadi suami. Mau jelasin kayak apapun, kamu nggak bakal pernah paham. Ngerti? makanya nikah!"


"Hayley itu hamil besar, dia gampang capek, dia harus banyak istirahat, bukannya malah ikut-ikutan sibuk di dapur. Buat apa bayar pelayan mahal-mahal kalau istriku sendiri masih harus ikut ngurus pekerjaan rumah."


"Oh ... begitu." Alex mengangguk paham. "Artinya, yang salah kan istrimu, kenapa harus pelayan yang di hukum?"


Menghembuskan nafas kasar, Aaron tidak lagi ingin menjawab pertanyaan Alex. Baginya, Alex bak sebuah radio, mulutnya memang sangat sulit untuk diam.


"Semalam, waktu aku ke dapur, beberapa pelayan minum air kayak orang kesurupan, mereka kelihatan kayak nggak pernah minum. Kamu nggak kasih racun mereka kan?" tanya Alex lagi.


"Ya Tuhan, Alex. Aku masih waras, mana mungkin aku meracuni mereka."


"Terus, mereka kenapa?"


"Aku cuma suruh mereka makan kue brownis buatan Hayley, nggak banyak, semuanya dapat satu potong."


Akex tertawa terbahak-bahak, ia baru ingat, sore sepulang kerja, dirinya juga mencicipi sepotong brownis di kulkas, namun baru satu gigitan, ia sudah memuntahkannya kembali.


"Brownis hitam yang ada di kulkas? Ya Ampun, itu brownis buatan Hayley?"


"Jangan menertawakan istriku, Alex. Namanya juga belajar, gagal bukan masalah."


"Bukan masalah gagalnya, Bro. Kamu mau meracuni semua pelayan secara massal? kalau tiba-tiba mereka mati keracunan, gimana?" ucap Alex sambil terus tertawa, ia bahkan masih mengingat betapa pahitnya rasa makanan itu.


"Nggak mungkin. Aku juga makan."


"Berapa potong yang kamu makan? sepotong? dua potong?" tanya Alex, namun tidak di hiraukan oleh Aaron.


"Cepat periksakan dirimu sebelum terlambat, Aaron. Kamu harus segera ke dokter, kamu butuh pertolongan pertama," seloroh Alex.

__ADS_1


🖤🖤🖤


Bersambung ...


__ADS_2