
Merasa tubuhnya bau asam karena baru saja bergelut dengan tepung dan berbagai macam adonan kue, Hayley memutuskan untuk mandi, ia tidak mau Aaron tau kalau dirinya baru saja sibuk di dapur.
Entah sudah berapa kali Aaron memperingatkan istrinya untuk tidak melakukan kegiatan apapun selain yoga dan senam hamil, namun wanita itu tetap saja diam-diam ingkar. Sekuat apapun para pelayan berusaha mengingatkan Hayley untuk tetap duduk diam, Hayley sama sekali tidak mengindahkan mereka.
Bagi Hayley, menghabiskan waktu dengan menonton tv dan membaca buku sudah cukup ia lakukan selama lebih dari 7 bulan. Dan ia sudah menamatkan hampir seratus novel karya penulis favoritnya, semakin hari, kegiatan itu semakin membosankan.
Bersenandung merdu di bath up, Hayley mendengar seseorang mengetuk pintu kamar mandinya, ia bergegas membilas tubuh dan bangkit untuk melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya.
Mengintip dari balik pintu kamar mandi, Hayley melihat Aaron sudah duduk di tepi ranjang memegang ponselnya.
Hayley berjalan keluar kamar mandi, ia hanya memakai handuk putih dan menggelung rambutnya tinggi.
"Sweetheart, jangan menggodaku," ucap Aaron, menatap lekat sang istri dalam balutan handuk yang berukuran sedang, bagian dada wanita itu tidak tertutup sepenuhnya, masih menyembulkan gundukan yang menggairahkan.
"Siapa yang menggoda, aku baru saja mandi, Sayang," jawab Hayley sambil berlalu, namun dengan cepat Aaron bangkit dan menyergap tubuh sang istri dari arah belakang.
"Kemarilah, nggak ada salahnya kita pemanasan dulu siang ini," ucap Aaron sensual, ia dengan nakal menciumi tengkuk leher istrinya, dan meraih ujung handuk yang menempel di depan dada.
"Jangan, Sayang. Hentikan!" seru Hayley. "Jatah kamu cukup 3 hari sekali. Jangan minta tambah!"
"Ah, Sweety. Ayolah, sekali saja."
"Nggak mau!" tolak Hayley mentah-mentah.
"Sweetheart ... ayolah," rayu Aaron, ia membalik tubuh Hayley dan membawa tangan wanita itu menyentuh bagian sensitifnya. "Rasakan, juniorku sudah meronta-ronta ingin di bebaskan."
"Nggak peduli. Sekali nggak tetap nggak, titik!"
"Ya ... Sweety."
"Nggak mau!"
Menghembuskan nafas kasar karena kecewa, akhirnya Aaron membiarkan istrinya pergi untuk memakai baju. Merasakan sesuatu di bagian bawahnya yang liar dan ingin menerobos keluar, Aaron kesal.
__ADS_1
Menunggu hampir lima belas menit, Hayley keluar dari ruang ganti sudah dengan pakaian rapi, wanita itu memakai dress putih dengan ikat pinggang pita merah yang senada dengan renda di bagian bawah ujung dressnya.
"Bagus nggak?" tanya Hayley.
"Bagus." Aaron menjawab singkat tanpa lebih dulu menengok penampilan istrinya.
"Ih, belum di lihat kok udah jawab sih," keluh Hayley, merasa Aaron enggan menatapnya.
"Udah lihat, tuh, di cermin." Ternyata Aaron melihat sekelebat bayangan Hayley dari cermin rias di dekatnya. Sebab kenapa dirinya sedikit cuek pada Hayley adalah karena wanita itu membiarkan dirinya tegang dan di anggurkan. Dalam hatinya menggerutu kesal, kenapa Hayley hanya memberikan jatah 3 hari sekali, padahal keinginannya bisa datang kapan saja dan berkali-kali.
Merasakan gerak gerik Aaron yang berbeda, Hayley p?un mendekati suaminya, ia mencoba merayu dengan duduk di pangkuan Aaron.
"Jangan marah, dong. Kok marah sih," ujar Hayley, ia menampilkan mimik wajah lucu sambil mengelus wajah Aaron.
"Nggak marah."
"Nggak marah? yakin?"
"Iya."
Seketika, Aaron pun kembali tersenyum dan membalas ciuman Hayley dengan nakal, mereka saling memagut cukup lama, hingga terdengar ketukan pintu nyaring dari pintu kamarnya.
Melepaskan diri dari Aaron, Hayley membuka pintu. Ternyata si pengetuk pintu adalah Laksmi, kepala pelayan di rumah ini.
"Ada apa, Bi?" tanya Hayley pada Laksmi.
"Emm, nona nggak lupa kan sama brownisnya?" tanya Laksmi sambil nyengir kuda.
"Ya Ampun, brownis kuuu!" berteriak histeris, Hayley hampir berlari menuju dapur. Laksmi ikut panik melihat Hayley berjalan cepat seperti lupa dengan kondisi tubuhnya, Aaron yang terkejut langsung menyusul sang istri.
"Ada apa ini, ada apa?" tanya Aaron bingung, ia menatap sang istri yang terduduk lemas di kursi dapur. "Ada apa, Sweety?" tanya Aaron, namun Hayley hanya diam menatap brownis di pangkuannya.
"Emm, itu, Tuan. Sepertinya nona mengatur suhu oven terlalu panas, dan waktunya juga terlalu lama Jadi, hasilnya ...." ucap Laksmi menjelaskan.
__ADS_1
"Gosong!" teriak Hayley sambil meneteskan air mata, wanita itu menangis tersedu memandang penampakan hitam di atas piring porselen di tangannya.
Aaron memberikan isyarat pada semua pelayan dan Laksmi yang berdiri di dapur, ia lalu duduk jongkok di depan istrinya yang menangis.
"Nggak papa. Rasanya juga mungkin masih enak. Kita belum mencobanya," ujar Aaron menenangkan sang istri. "Rupa belum tentu menentukan rasa bukan?"
Masih dengan mata berderai air mata, Hayley meletakkan brownis itu dan memeluk Aaron.
"Maaf, aku berniat membuat brownis ini untukmu, tapi ...."
"Nggak papa. Kita simpan dulu, nanti akan ku makan. Setelah kita pulang dari dokter, ya? jangan menangis."
Hayley mengangguk, lalu menyimpan brownisnya dalam kulkas, ia merasa sangat ceroboh karena nekat membuat sesuatu yang bukan keahliannya.
Setelah Hayley tenang, Aaron membawa istrinya ke meja makan untuk makan siang terlebih dahulu.
"Makan yang banyak, Sweety," ucap Aaron, yang di balas anggukan singkat eh istrinya.
Setelah makan siang, Hayley langsung bersiap dan membawa buku kehamilannya yang menjadi patokan analisa dokter.
Perjalanan dari rumah Aaron menuju rumah sakit memang cukup jauh, karena Aaron memilih rumah sakit besar yang di lengkapi dengan fasilitas mewah, maka pilihannya hanya rumah sakit ini. Dia juga sudah menyiapkan ruangan khusus yang sudah di pesan jauh-jauh hari untuk tempat Hayley di rawat saat ia melahirkan.
Orang seperti Aaron memang bebas melakukan apa saja, dengan uang, dia bisa mendapatkan segalanya dengan mudah. Namun tidak dalam mendapatkan cinta Hayley, ia berkorban cukup banyak untuk cintanya.
Jika sebelumnya, Aaron menganggap uang, kesuksesan, dan kemewahan adalah segalanya. Maka, kehadiran Hayley dan calon buah hatinya kini sudah merubah dirinya. Tidak ada yang lebih bernilai dan berharga, dari pada hidup kedua belahan jiwanya.
Setelah sampai di rumah sakit, petugas medis menyambut mereka dengan ramah. Semenjak mambaiknya kondisi perusahaan, Aaron menyumbangkan hampir lima puluh persen keuntungannya untuk rumah sakit ini, ia berkontribusi dalam penanganan pasien kurang mampu agar bisa mendapatkan perawatan yang maksimal tanpa terbebani biaya.
Setelah masuk di ruangan dokter, Hayley menceritakan semua keluhannya, ia sering sekali mengalami sakit di bagian pinggang dan punggung. Terkadang, hampir selama seharian penuh ia merasa tidak nyaman dalam posisi apapun.
"Hal itu memang sangat wajar, Nona. Melihat kondisi perut semakin membesar, maka tubuh akan semakin kurang nyaman, karena tubuh harus bekerja ekstra agar kuat dalam proses ini," jelas dokter. "Apakah nona sering melakukan pekerjaan rumah? karena biasanya untuk keluhan ini, kebanyakan di alami oleh ibu rumah tangga yang cukup sibuk."
"Hah, Ti-tidak, Dok. Saya tidak pernah sibuk melakukan apapun," jawab Hayley, ia melirik sang suami yang terlihat curiga.
__ADS_1
Aaron memang curiga, ia memang tidak pernah mendapatkan laporan apapun terkait kegiatan Hayley di rumah selain yoga dan senam hamil, istrinya hanya berenang kadang-kadang. Laksmi tidak pernah mengatakan apapun tentang Hayley, membuat Aaron semakin bertanya-tanya.
🖤🖤🖤