Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Sharaa


__ADS_3

Wanita paruh baya itu meraba dadanya yang sesak, ia tau bagaimana rasanya menjadi sang putra yang harus kehilangan cinta untuk yang kedua kalinya.


Entah benar-benar cinta atau bukan, namun hal ini mampu membuat sang putra hampir gila.


Sharaa, wanita paruh baya yang duduk itu menyesap perlahan greentea panas yang di hidangkan.


Menunggu, ia harus menunggu sampai ia memiliki kesempatan untuk mendekati Hayley, dan menanyakan kejelasan tentang semua ini.


Di taman tengah resto, Aaron begitu memanjakan sang istri, ia memesan beragam varian es krim dan makanan ringan dengan berbagai macam.


"Kamu suka yang mana?" tanya Aaron.


"Aku suka es krim rasa coklat ini. Rasanya nggak terlalu manis, pas."


"Oh, ya. Semua es krim di tempat ini memakai bahan-bahan yang bagus. Aku mengambilnya langsung dari perusahaan di Swiss."


"Wah, jauh sekali."


"Ada penghasil coklat berkualitas di negara itu," jelas Aaron.


Percakapan bergulir dari jenis-jenis makanan kemudian tentang asal muasal pembangunan resto ini. Aaron dengan sangat bangga menceritakannya pada sang istri.


Hari semakin sore, Hayley sudah mulai lelah dan ingin mengajak Aaron untuk kembali pulang. Namun, langkahnya terhenti tatkala ia saling pandang dengan Sharaa, seseorang yang sudah ia kenal begitu dekat.


"Ada apa?" tanya Aaron.


"Apa aku boleh menemui ibu itu?" tanya Hayley ragu, ia takut jika Aaron akan marah kalau dirinya masih berhubungan dengan keluarga Marcel.


Mengangguk setuju, Aaron hanya mengikuti langkah Hayley menuju meja nomor 20 tempat Sharaa duduk sendirian.


Melihat Hayley mendekat, Sharaa berdiri mencoba menyapa seramah mungkin.


"Apa kabar, Sayang. Lama tidak berjumpa," ujar Sharaa.


"Baik," jawab Hayley, ia sepertinya bingung harus memanggil Sharaa dengan sebutan apa, jika biasanya ia tidak pernah canggung memanggil wanita itu dengan sebutan 'Mama', maka kehadiran Aaron dan rumitnya masalah ini membuat panggilan itu akan terasa aneh.


"Duduklah, Nak. Aku ingin mengobrol," ujar Sharaa. "Kau juga silahkan duduk, Mr. Aaron."

__ADS_1


Aaron yang berdiri bingung di samping Hayley, ia tetap mengikuti istrinya duduk bersebelahan dengan wanita itu. Sejujurnya, ia sama sekali tidak mengenalnya, namun ia punya feeling jika Hayley sangat dekat dengan Sharaa.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Sharaa, ia menghela nafas berat sebelum mengungkapkan rasa penasarannya.


"Silahkan," jawab Hayley singkat.


"Tunggu, aku tidak mengerti, anda siapa, Nyonya? kenapa terlihat begitu dekat dengan istri saya?" tanya Aaron.


"Ah, ya. Maaf sebelumnya jika saya belum memperkenalkan diri, Mr. Aaron."


"Cukup panggil saya Aaron."


"Baik, Aaron. Saya Sharaa, mama Marcel. Tentu anda tau siapa Marcel bukan?" tanya Sharaa.


Aaron mengerutkan keningnya, ia menatap wanita paruh baya yang seolah-olah sudah lama dekat dan saling mengenal jauh dengan sang istri.


"Hayley," ucap Sharaa lembut, ia meraih tangan Hayley dan menggenggamnya. "Apa benar kamu dan Marcel sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi?" tanya Sharaa, ia menatap manik keabuan Hayley mencari kejujuran.


"Maaf, Nyonya. Maaf jika saya lancang menjawab. Hayley adalah istri saya, memang tidak seharusnya dia memiliki hubungan apapun dengan laki-laki lain," jawab Aaron tegas namun tenang.


Sekilas, Aaron menatap Hayley. Batinnya sedikit sakit, tatkala menyadari jika sang istri sudah memberikan harapan besar pada laki-laki lain setelah kontrak pernikahan mereka berakhir. Pantas saja Marcel sangat gila sampai berbuat sejauh ini, batin Aaron.


"Keadaan sudah berbeda nyonya. Pernikahan kami bukan sandiwara, pernikahan kami sah secara hukum dan agama. Hanya saja, niat awalnya yang salah," jelas Aaron.


"Mungkin apa yang nyonya dengar dari Marcel itu benar. Tapi sekarang, kami saling mencintai, kami tidak akan pernah mengakhiri pernikahan ini," lanjutnya.


Mengalihkan pandangan pada Hayley, Sharaa bertanya. "Benar itu, Hayley?"


Mengangguk, Hayley tak mampu menatap mana Sharaa, ia tau wanita di depannya sangat kecewa, namun semua sudah terlanjur, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.


"Aku kecewa, Hayley. Kecewa." Sharaa berucap sambil menggelengkan kepala pelan. Hatinya ikut sakit, saat mengetahui kebenaran yang tidak bisa ia percaya.


"Kamu datang ke kehidupan kami hanya untuk singgah dan memberi harapan besar, begitu? Kedatangan mu bak malaikat di hidup Marcel, tapi kamu pergi juga membawa seluruh dari jiwanya."


"Saat ini, dia kosong, Hayley. Dia tidak lagi seperti putraku yang dulu, kamu merenggut semuanya dari kami," ucap Sharaa berapi-api.


Di bawah meja, Aaron meraih sebelah tangan Hayley yang sedang meremas gaunnya, tangannya basah dan gemetar.

__ADS_1


"Sekali lagi, saya minta maaf, Nyonya. Anda tidak berhak menilai buruk istri saya sampai seperti itu, bukan salahnya."


"Bukan salahnya? lalu salah siapa?"


"Saya kira masalah ini cukup antara saya, istri saya, dan Marcel. Kami akan menyelesaikannya sendiri."


"Tidak bisa begitu."


"Maaf, Nyonya. Saya rasa, kami bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Dan tolong, berikan nasehat pada putra anda, jangan bermain secara curang dan licik demi sesuatu yang mustahil ia dapatkan."


Tidak menghiraukan perkataan Aaron, Sharaa kembali mengiba menatap Hayley, berharap wanita muda di depannya berubah pikiran.


"Hayley, aku menganggap mu seperti anakku sendiri. Kenapa kamu begitu ...."


"Maafkan aku, Tante. Sepertinya tante salah, tante hanya menganggapku sebagai calon menantu tante yang sudah tiada. Begitupun dengan Marcel, dia tidak mncintai ku, dia hanya mencintai Anne. Dan aku bukan Anne," ujar Hayley lembut, berusaha sebaik mungkin agar tidak menyakiti Sharaa.


"Maaf, itu bukan cinta. Melainkan nafsu dan obsesi," lanjut Hayley, ia berusaha tegar agar tidak sampai meneteskan air mata.


Sedikit terkejut mendengar pengakuan Hayley, Sharaa juga merasa kecewa Hayley memanggilnya dengan sebutan 'Tante'. Namun apa yang Hayley lakukan adalah demi menjaga perasaan sang suami.


"Kamu sudah tau semuanya?" ucap Sharaa.


"Kalau begitu, Marcel tidak menceritakan semuanya," jawab Hayley.


"Hayley, tapi ...."


"Cukup, Nyonya. Saya rasa semua sudah jelas, kesalahan ini ada pada Marcel, jadi berhenti berprasangka buruk pada istri saya," tegas Aaron, ia berdiri dan mengulurkan tangan membawa Hayley pergi.


"Hayley, tunggu," sela Sharaa, namun Aaron sudah tidak lagi peduli, ia merangkul pinggang sang istri dan meninggalkan resto secepat mungkin.


Aaron tidak mungkin bisa menahan amarahnya tatkala ada orang lain yang berpikir buruk tentang Hayley. Namun, kata-kata Sharaa tentang harapan besar yang Hayley berikan pada Marcel, membuat Aaron merasa sedikit teriris hatinya.


Aaron merasa lalai menjaga Hayley, dan ia juga menyesal pernah mempermainkan sebuah ikatan suci, ia tidak menyangka jika semuanya akan berakhir seperti ini, semuanya jauh dari apa yang sudah ia rencanakan.


Namun saat ini, ia bersyukur semuanya jauh lebih baik, bahkan jauh lebih baik dari yang dia inginkan. Ternyata Tuhan memberikan apa yang ia butuhkan, bukan apa yang ia inginkan.


🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2