
Setiap menit berlalu mendebarkan, kontraksi yang Hayley alami lebih sering dan lebih hebat dari sebelumnya. Wanita itu sama sekali tidak menangis, dengan peluh yang terus bercucuran dan tangan yang terus mengepal menahan nyeri, Aaron tetap mendampinginya.
Laksmi dan beberapa pelayan datang membawa beberapa koper barang berisi pakaian ganti untuk Hayley dan Aaron, termasuk pakaian dan perlengkapan calon bayi yang akan lahir. Kamar perawatan khusus dengan pelayanan VIP pun sudah mereka siapkan untuk di pakai setelah bayi lahir, semua sudah terencana dengan sangat matang, tinggal menunggu proses kelahiran.
Dokter kembali datang untuk memastikan kondisi Hayley dan memintanya berbaring di atas ranjang, Aaron langsung meminta Laksmi keluar dan menunggu di depan ruang persalinan.
"Periksa bukaan lagi ya, Mrs. Hayley. Tahan ...." Dokter kembali memasukkan jarinya untuk mengecek banyaknya pembukaan. "Sudah bukaan 9, sedikit lagi."
"Harus menunggu berapa lama lagi, Dok? rasanya nggak tahan lihat istriku kesakitan," sela Aaron, ia tidak hanya mencoba menguatkan Hayley, namun ia juga mengatur nafas agar tidak pingsan saat nanti melihat Hayley melahirkan.
Beberapa waktu yang lalu, Hayley sempat memperlihatkan video detik-detik saat seorang ibu melahirkan secara normal, teriakan dan tangisan memenuhi ruangan seakan-akan membuat seluruh persendiannya lemas, meskipun tidak memiliki trauma berlebihan pada darah, namun Aaron merasa hal itu lebih menakutkan dari apapun.
"Tunggu sebentar lagi, Mr. Aaron. Bukaan yang tidak lengkap akan mempersulit bayi keluar, si ibu juga akan merasakan sakit yang berlebihan," jelas dokter.
Mendengar jawaban dokter, Aaron menghela nafas panjang, lalu memperhatikan kembali istrinya yang sedang mengatus nafasnya yang ngos-ngosan.
Seorang perawat datang membawa bak kecil dengan air hangat, dokter menjelaskan pada Aaron untuk mengompres bagian perineum istrinya. Hal ini berguna untuk melemaskan otot sekitar perineum, karena kondisi hangat akan meningkatkan aliran darah di sekitarnya.
Saat semua perawat dan dokter keluar dari ruangan, Aaron segera melakukan saran yang di berikan, dengan hati-hati ia mengompres bagian-bagian intim istrinya memakai kain handuk yang sudah di basahi dengan air hangat.
Hayley sedikit menjepitkan kedua pahanya merasa malu karena Aaron melihatnya dengan mata terbuka lebar.
"Kenapa?" tanya Aaron.
"Malu," jawab Hayley pelan.
"Malu? aku bahkan sudah ratusan kali melihatnya, menciumnya, melakakan banyak hal yang aku suka di tempat ini, kenapa masih malu? apa kurang sering aku melakukannya?" ucap Aaron.
Hayley langsung diam seribu bahasa, memang benar, tidak ada satu inci pun dari bagian tubuhnya yang belum pernah di lihat oleh Aaron. Dan laki-laki itu membahas hal seperti ini di rumah sakit, di ruang persalinan, Hayley tidak habis pikir.
Setelah cukup lama, Hayley meminta untuk turun dari atas ranjang dan kembali duduk di ball birth, ia harus melakukan pergerakan agar bayinya semakin terdorong turun dan mempercepat proses persalinan.
Menit demi menit berlalu, bukan hanya Hayley yang bercucuran keringat di ruangan yang ber-AC, bahkan Aaron pun lebih parah, tangan dan kakinya berkeringat dingin, kepalanya terus berdenyut nyeri membayangkan hal-hal yang mengerikan.
"Ya Tuhan, aku bahkan kesulitan bernafas," gumam Aaron, ia menepuk dadanya berkali-kali meredakan kegugupan.
__ADS_1
Ponsel yang berada di saku celananya tiba-tiba berdering.
"Siapa?" tanya Hayley.
"Alex," jawab Aaron, lalu mengangkat telepon yang masuk.
"Ada apa?" tanya Aaron.
"Kalian sibuk? aku sedang di Jakarta, mengantar Melanie kemo," ucap Alex dari sebrang telepon.
"Kamu berada di saat yang tepat. Hayley akan melahirkan."
"Apa? melahirkan. Kalian di mana?"
"Tentu saja di rumah sakit."
"Aku tau, maksudku rumah sakit mana?"
"Rumah sakit tempat pertama kali kamu bertemu Hayley," jawab Aaron.
"Dasar anak kurang ajar. Tiba-tiba di matiin gitu aja," gerutu Aaron kesal.
Setelah mematikan ponselnya, Aaron berpamitan untuk ke kamar mandi sebentar pada Hayley, dan istrinya mengizinkan.
Entah sudah berapa kali Aaron bolak balik ke kamar mandi bahkan melebihi seringnya Hayley, ia merasa grogi karena menunggu momen-momen mendebarkan ini.
Saat sudah selesai, Aaron terkejut melihat Hayley bersimpuh di lantai dengan posisi bersujud.
"Sweetheart, ada apa?" tanya Aaron khawatir. "Apa semakin sakit? aku harus bagaimana?"
Hayley hanya menggeleng, namun posisi tubuhnya tidak berubah.
"Ayo, aku akan membantumu naik ke atas tempat tidur. Jangan seperti ini," ucap Aaron. Perlahan, Hayley bangkit, dan naik ke atas ranjang, ia terlentang sambil menekuk lututnya dengan tangan meremas sprei.
"Sepertinya bayi kita nggak bisa menunggu lebih lama lagi," ucap Hayley lemah.
__ADS_1
Aaron yang tidak mengerti maksud perkataan Hayley entah mendapat ide dari mana ia langsung membuka rok bagian bawah yang menutupi **** ***** istrinya, ia terkejut bukan main melihat sesuatu yang menyembul ingin keluar dari kewanitaan istrinya.
"Oh my god!" teriak Aaron histeris. "Dokter!"
"Lihat, lihat. Kepala bayiku sudah hampir keluar," ucap Aaron terbata-bata dengan tubuh gemetar.
Dokter kandungan segera melakukan tindakan, di dampingi beberapa perawat dan dokter anak, proses persalinan berjalan cukup mudah.
Hayley mengikuti arahan dokter saat dimana ia harus mengejan ketika kontraksi hebat datang, saat kontraksi kembali melemah, seorang perawat memberi rangsangan agar kontraksi kembali datang.
Aaron ketakutan, ia memejamkan matanya erat-erat, sama sekali tidak memiliki keberanian untuk melihat proses yang sungguh mengerikan baginya. Tangannya menggenggam tangan Hayley, seakan menyalurkan kekuatan pada sang istri untuk terus berjuang.
Aaron sama sekali tidak melihat, ia hanya menajamkan pendengaran untuk mengetahui bahwa istrinya akan baik-baik saja, rintihan dan erangan kesakitan terdengar nyaring di telinga Aaron, kakinya bahkan bergetar tidak sanggup lagi untuk berdiri.
"Kuat, Sweety. Aku di sini," bisik Aaron. "Kuat, Sweetheart."
Mulutnya memang selalu membisikkan kalimat-kalimat penyemangat pada istrinya, namun dirinya sendiri sudah menahan diri agar tidak pingsan di tengah-tengah situasi darurat ini.
Tidak membutuhkan waktu lama, suara tangisan bayi terdengar nyaring memenuhi seluruh ruangan. Ucapan rasa syukur dari bibir Hayley membuat Aaron membuka matanya.
"Apa bayi kita sudah lahir?" tanya Aaron, mata laki-laki itu memerah, ia mengkondisikan tubuhnya yang mati rasa.
Dokter langsung memotong tali pusar sang bayi dan meletakkannya di atas dada sang mama.
"Bayinya laki-laki, Mr. Aaron. Sangat tampan," ucap dokter.
Aaron langsung memeluk dan mencium istrinya dengan penuh tangisan haru, ia mengucapkan syukur dan rasa terimakasih berkali-kali pada sang istri karena sudah melahirkan bayi mereka dengan bertaruh nyawa.
Sambil menunggu dokter menjahit bagian kewanitaannya yang robek akibat dorongan bayi yang yang terlalu kencang, Hayley dan si bayi melakukan rangsangan pada payud*ra agar ASI lebih cepat keluar.
Setelah tindakan pembersihan pada bayi dan sang mama selesai, dokter meminta Aaron untuk menunggu di ruang perawatan yang sudah di siapkan.
🖤🖤🖤
__ADS_1