
Sesuai perintah yang Aaron sampaikan, orang suruhannya hari ini menemui Aaron di sebuah cafe untuk memberikan seluruh informasi terperinci yang sudah mereka peroleh tentang Marcel.
"Marcellus Gerarld, ia tinggal bersama ibunya di negara ini, Tuan. Ayahnya, Leonard Gerarld sudah meninggal. Bisnis mereka ...."
"Apa dia punya kekasih?" sela Aaron sebelum laki-laki muda gagah di depannya melanjutkan kalimatnya.
"Dia, tidak punya, Tuan. Mantan kekasihnya cuma 1, Anna Shonya, sudah meninggal 5 tahun lalu, mengalami kecelakaan di Erdo street Pakistan."
"Ini semua laporan bisnis, saham dan keseluruhan tentang perusahaan yang ia kelola saat ini. Semuanya sudah lengkap, Tuan," lanjut pemuda itu.
"Kerja bagus, Har!" Aaron menepuk pundak pemuda yang di panggil Har. "Aku sudah mentransfer bonus untukmu, jika ada hal lain lagi, aku akan segera menghubungimu," imbuh Aaron.
Setelah obrolan singkat, Aaron langsung kembali ke kantor dengan membawa setumpuk berkas pemberian Har. Aaron sangat yakin, jika kedekatan Hayley dan Marcel bukanlah hal serius, pasti Marcel memiliki niat tersembunyi di balik kebaikannya.
Aaron datang ke ruangan Hayley, ia memperhatikan dengan seksama gadis berkemeja putih dengan rok biru selutut, gadis itu tampak sangat sibuk di depan komputernya sambil membolak-balik dokumen yang di letakkan di atas pahanya.
"Sibuk, Hayley?" tanya Aaron.
"Menurutmu bagaimana, Mr. Ice?" jawab Hayley tanpa melirik Aaron sedikitpun, dia sadar jika Aaron sudah berdiri di belakangnya hampir 10 menit.
"Apa semua keperluanmu untuk besok sudah siap?" tanya Aaron lagi.
"Sudah."
"Sudah pamit ibumu?"
"Sudah."
"Sudah pamit dengan teman-temanmu?"
Hayley melirik sekilas, menganggap pertanyaan Aaron hanya basa-basi.
"Kenapa? aku kan cuma tanya," ujar Aaron. "Siapa tau kamu lagi punya teman dekat yang bakalan nyariin kamu kalau tiba-tiba pergi," lanjutnya.
"Maksudmu apa, Mr. Ice?" tanya Hayley. "Jangan bertele-tele, to the point aja."
__ADS_1
"Oke, oke. Aku cuma mau bilang, kamu harus hati-hati sama Marcel, apa yang terlihat baik, belum tentu itu baik." Aaron memperingatkan.
Hayley langsung memutar kursinya dan menghadap Aaron, dia melihat laki-laki itu menampakkan wajah yang cukup serius.
"Dengar, Mr. Ice, pekerjaanku hari ini sangat banyak karena kamu memaksaku ikut ke Eropa besok, jadi jangan mengatakan hal yang bukan-bukan untuk merusak moodku hari ini," ujar Hayley.
"Aku nggak bermaksud begitu, Hayley. Aku hanya memperingatkan mu, mungkin Marcel mendekatimu hanya karena kamu adalah orang penting di kantor ini. Bagaimanapun, dia bisa saja membuatmu membuka mulut untuk membeberkan semua rahasia perusahaan."
"Cukup, Mr. Ice. Aku nggak suka kamu menjelek-jelekkan Marcel, lagipula aku nggak mudah percaya sama orang kok," bantah Hayley.
"Nggak mudah percaya? tapi buktinya kamu sering makan siang bareng Marcel kan?" tanya Aaron. "Aku sudah tau semuanya."
"Hahaha, memangnya kenapa? kamu cemburu?" Hayley terkekeh, ia kembali memutar kursinya dan menghadap layar komputer.
Aaron mulai salah tingkah, ia tidak sadar jika saat ini wajahnya bersemu merah.
"Aku cemburu?" Aaron mengulang kalimat Hayley. "Memangnya kamu siapa sampai-sampai aku cemburu," kilahnya.
"Baiklah, kalau begitu jangan membahas Marcel lagi, Mr. Ice. Lagipula gara-gara kamu memaksaku pergi besok, aku harus membatalkan janjiku untuk datang ke pesta ulang tahun mamanya besok," ungkap Hayley.
Hayley terlonjak dari kursinya, ia begitu terkejut dengan reaksi Aaron yang tiba-tiba.
"Maaf, Mr. Ice. Tapi dalam perjanjian pranikah kita, kamu nggak berhak mengatur urusan pribadiku, termasuk dengan siapa aku berteman. Asalkan tidak merugikan mu, aku rasa aku nggak salah." Hayley berdiri dari duduknya, menatap Aaron tajam.
"Benar, tapi aku pikir, kamu sama Marcel itu bukan sekedar teman!" seru Aaron tidak mau kalah.
"Kami cuma teman, Mr. Ice. Tolong jangan membuatku kesal, kalau kamu nggak percaya, tanya aja sama orangnya," bantah Hayley, kali ini Aaron langsung bungkam dan menyeret paksa kakinya untuk pergi dari ruangan Hayley, sebelum amarah menguasainya.
Meraba dadanya yang sedikit nyeri, Hayley terduduk lemas di kursinya, mengapa Aaron sampai berpikiran buruk tentang Marcel, padahal Hayley sendiri merasakan bahwa laki-laki itu memang tulus bersahabat dengannya.
Ya, kedekatan yang Hayley dan Marcel jalani hanya sebatas persahabatan bagi Hayley, ia sadar diri jika Marcel tidak mungkin memiliki perasaan lebih padanya, tidak mungkin seorang pengusaha hebat sepertinya menerima wanita rendahan seperti Hayley, begitu pikirnya.
Aaron kembali ke ruangannya, ia mempelajari semua berkas tentang Marcel, kehidupan, keuangan, bisnisnya, bahkan tentang identitas mantan kekasihnya. Tidak ada yang perlu di curigai, Marcel benar-benar tidak memiliki masalah dalam perusahaannya, keluarganya pun baik-baik saja, Marcel tidak dalam posisi buruk, bahkan dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan miliknya sudah meraih keuntungan melebihi perusahaan milik Aaron.
Aaron semakin geram, ia menebak-nebak tentang apa yang sedang Marcel rencanakan saat ini, untuk apa dia mendekati Hayley, dan keuntungan apa yang ingin ia peroleh dari kedekatannya dengan Hayley.
__ADS_1
Sungguh, semuanya hal ini membuat Aaron benar-benar frustasi.
🖤🖤🖤
Pagi ini, Hayley dan Aaron sudah bersiap dengan membawa koper mereka masing-masing, karena perjamuan yang akan mereka hadiri adalah perjamuan besar, maka Hayley juga mempersiapkan pakaian terbaiknya untuk menemani Aaron.
"Tuan rumahnya adalah tamu undangan di pesta pernikahan kita, dia datang dan pasti mengenalimu dengan baik. Jangan salah tingkah, bersikaplah sebagai istriku," ujar Aaron sebelum mereka berangkat.
"Iya," jawab Hayley singkat, lalu menyeret kopernya menuju mobil yang kan mengantarkan mereka ke bandar udara.
Setelah perjalanan beberapa jam dari Indonesia ke bandar udara Schipol Amsterdam, akhirnya mereka sampai ke negara tujuan.
Musim panas, Belanda.
Aaron sudah memesan segala pelayanan khusus bagi dirinya dan Hayley selama di Eropa, mereka langsung di sambut oleh sopir khusus yang sudah Aaron siapkan jauh-jauh hari.
Dari bandara, mereka langsung menuju sebuah hotel bernama Waldorf Astoria Amsterdam, hotel yang terletak di pusat kota Amsterdam dan termasuk dalam jajaran hotel terbaik dan termahal di kota ini.
"Apa kita menginap dalam satu kamar?" tanya Hayley saat Aaron membawanya masuk dalam kamar berukuran sangat kuas dengan berbagai ornamen cantik di dalamnya.
"Terpaksa, rencananya aku datang sendirian, hotel ini nggak bisa di pesan mendadak, jadi semua kamar sudah penuh," jawab Aaron.
"Carikan aku hotel lain saja, Mr. Ice."
"Nggak usah, lagipula aku nggak bakalan macam-macam kok!" seru Aaron.
"Janji?" Hayley mengacungkan jari kelingking di depan Aaron.
"Nggak percaya banget. Aku bukan laki-laki yang suka main begituan, beda sama Alex," ujar Aaron, lalu merebahkan dirinya di sofa. "Kalau kamu nggak mau kita tidur seranjang, aku tidur di sofa aja."
"Oke, kamu tidur di sofa." Hayley setuju.
🖤🖤🖤
Bersambung ...
__ADS_1