
Sekilas ingatan Aaron tertuju pada Marcel, entah dari mana Samantha mengetahui rumitnya hubungan mereka bertiga waktu itu, yang pasti, semua ini harus di luruskan.
"Jangan memfitnah, Ma," sentak Aaron.
"Kamu nggak percaya sama mama? anak di dalam kandungan wanita ini pasti anak laki-laki lain. Kamu di khianati, Aaron!"
"Sudahlah, Ma. Aku yang lebih tau bagaimana kondisi rumah tanggaku, mama nggak perlu repot-repot mencampuri urusanku."
"Anak durhaka! kamu pasti menyesal karena lebih memilih wanita ini dari pada aku, mamamu sendiri!"
Samantha keluar dari rumah Aaron dengan amarah yang meledak-ledak. Selangkah dari pintu, ia berpas-pasan dengan Alex.
"Selamat sore, Tante," sapa Alex ramah sambil tersenyum.
"Jangan bicara padaku, suasana hatiku sedang buruk!" bentak Samantha, Alex yang tidak tau apa yang sudah terjadi pun hanya melongo menatap punggung tantenya.
Saat Alex ingin melanjutkan langkah masuk ke dalam rumah, Samantha kembali berlari mendekatinya.
"He, Alex. Kamu pasti tau kan? si wanita rendahan itu punya laki-laki simpanan?" tanya Samantha menggebu-gebu.
"Wanita rendahan?" Alex mengernyit heran, tidak mengerti maksud Samantha.
"Hayley! dia kan wanita rendahan," sinis wanita paruh baya itu.
"Jangan berbicara yang bukan-bukan, Tante. Dia itu menantu mu, lagipula sebentar lagi dia akan memberikanmu cucu," ujar Alex.
"Pasti anak dalam kandungannya itu bukan anak Aaron. Pasti hasil dari hubungan gelapnya bersama laki-laki lain," bantah Samantha. "Kamu pasti sudah tau kan, Alex? kamu tau kan?"
"Ya Tuhan. Jangan sembarangan ngomong, Tante."
"Dasar kamu juga, ya! anak durhaka! kalian semua, sama saja!" teriak Samantha keras sambil menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah Alex.
Menyaksikan sang tante berjalan tergesa-gesa meninggalkan rumah, Alex mengelus dadanya pelan.
"Mak lampir, ganas banget!" batin Alex mengeluh.
Saat masuk ke dalam rumah, ia melihat Hayley menangis sesenggukan di pelukan Aaron, Alex berpikir jika mereka pasti sedang memiliki masalah serius, sampai-sampai Samantha datang kesini.
Alex duduk tenang di kursi yang bersebrangan dengan Aaron, ia menatap sepupunya yang mencoba menenangkan istrinya.
"Tante Samantha, ada perlu apa ke sini?" tanya Alex.
"Sepertinya ada yang sengaja membeberkan masalah yang sebelumnya. Mama tau kalau Hayley pernah menjalin hubungan dengan laki-laki lain, pasti yang dia maksud adalah Marcel," jelas Aaron.
__ADS_1
"Dari mana tante tau?"
"Entahlah, pasti ada yang sengaja ingin menghancurkan hubungan kami."
"Gila, ya. Tante bahkan bilang kalau anak dalam kandungan Hayley itu bukan anakmu. Dari mana kira-kira dia tau," ucap Alex menerka-nerka.
"Kita akan segera mengetahuinya," ujar Aaron, ia lalu berpamitan pada Alex dan membawa Hayley masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar, Hayley terus menangis, ia tidak tau harus berkata apa lagi. Meskipun Aaron sangat mencintainya dan terus membelanya, namun tidak bisa di pungkiri, hatinya teriris tiap kali mendengar hinaan dan cacian mertuanya itu.
Serendah apa dirinya sampai-sampai orang tua Aaron begitu jijik meskipun hanya menatapnya.
"Jangan menangis, Sweetheart. Jangan dengarkan kata-kata mama, aku ada di sisimu, aku nggak akan membiarkan siapapun menyakitimu, termasuk orang tuaku," ujar Aaron, ia memeluk Hayley erat, mengelus rambut wanita berperut buncit itu dengan lembut.
"Aku tau, nggak akan semudah itu merebut hati kedua orang tuanku, tapi aku yakin, suatu saat mereka akan menerimamu."
"Untuk saat ini, aku hanya bisa memintamu untuk bersabar. Aku akan berusaha membuat mereka percaya, bahwa cinta kita nyata."
Hayley mengangguk, membalas pelukan sang suami. Menjadi orang yang sangat di cintai memang sebuah keberuntungan, Hayley sadar, kini cinta mereka semakin kuat, mereka selalu menguatkan satu sama lain tidak peduli badai dan angin yang menerpa, mereka akan tetap kokoh berdiri.
"Dengar, aku ingin membawamu berbulan madu. Bagaimana?" tanya Aaron.
Hayley menatap manik biru keabuan sang suami, memastikan apa yang baru saja dia dengar.
"Kamu ingin pergi kemana? kita akan mengunjungi tempat yang sangat ingin kamu datangi," lanjut Aaron.
"Jangan diam saja, Sweety. Katakan, kemana kamu ingin pergi?"
"Kemanapun asal bersamamu," jawab Hayley.
"Hmm, baiklah. Sekarang, jangan menangis, nanti bayi kecil kita juga akan sedih di dalam sana." Aaron menarik kedua sudut bibir Hayley dengan lembut, membuat garis senyum di bibir istrinya mengembang.
"Nah, begitu. Baru istriku." Aaron tersenyum senang lalu kembali memeluk Hayley.
Setelah memastikan istrinya tenang, Aaron berpamitan sebentar untuk mengerjakan sesuatu di ruang kerjanya.
Bersantai sambil membuka laptop di atas kasur, Alex mendapatkan pesan singkat dari Aaron.
"Ke ruang kerja. Sekarang!" Begitu isi pesannya.
"Hah, apa lagi. Dia memang nggak bisa membiarkan aku sedikit tenang," batin Alex.
Berjalan malas, Alex datang ke ruang kerja menemui Aaron.
__ADS_1
"Ada apa? aku baru saja meluruskan tulang punggungku yang bengkok, kenapa memanggilku?" tanya Alex dengan nada malas.
"Mana ada tulang punggung lurus. Semua juga bengkok!" seru Aaron.
"Hah, sekarang katakan, ada apa?"
"Apa kamu yakin Kathrine sudah nggak di sini lagi?" tanya Aaron mulai serius. "Aku curiga, dia masih menaruh dendam."
"Aku sudah memberinya banyak uang dan menyuruhnya pergi sejauh mungkin dari hidup kita," jawab Alex keceplosan. "Eh, nggak, bukan gitu."
"Apa? kamu memberinya uang? untuk apa?" tanya Aaron.
"Ah, ya Tuhan. Ini mulut kenapa nggak ada remnya, sih!" batin Alex, ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal, bingung harus memberikan alasan apa pada Aaron, karena Aaron sama sekali tidak mengetahui bahwa ia memberikan banyak uang pada Kathrine.
"Jawab aku, Alex!" bentak Aaron.
"Baik, baik. Aku memang sangat membencinya, tapi aku nggak tega membiarkan dia hidup susah terlilit hutang. Aku nggak perlu menjelaskan sebanyak apa hutang wanita ular itu, semuanya sudah berlalu. Aku menyuruhnya pergi sejauh mungkin dengan menggunakan uang itu, aku mengancamnya," jelas Alex.
"Dia licik, Alex. Dia bisa mendapatkan banyak uang dengan menjual tubuhnya. Jangan berbelas kasih padanya."
"Sudahlah, jangan membahasnya. Lagipula, itu uangku sendiri."
"Bukan masalah itu uang siapa, Alex. Jangan sampai dia memanfaatkan belas kasihmu, aku sangat mengenalnya."
"Hah, aku nggak pernah berbelas kasih untuk yang kesekian kalinya."
"Aku curiga, dia yang mengadukan semua masalah ini pada mama. Menurutmu bagaimana?" tanya Aaron.
"Nggak mungkin. Aku nggak pernah dengar kabar apapun tentangnya, itu sudah lama, Aaron. Dia pasti sedang mencari mangsa baru di luar sana," jelas Alex. "Kalau aku, lebih curiga ke Marcel. Pasti orang itu sendiri yang memprovokasi tante Samantha. Dia memanfaatkan peluang itu, peluang kalau orang tuamu tidak merestui hubungan kalian."
Aaron menangkap maksud Alex. Sekilas, dia juga berpikir bahwa yang sedang bermain di belakangnya adalah Marcel.
"Aku sama sekali nggak percaya kalau Marcel itu benar-benar berubah dan melupakan Hayley begitu saja. Mantan tunangannya, masih terkenang 5 tahun silam, bagaimana bisa melupakan Hayley dalam waktu beberapa bulan. Cih, mustahil!" lanjut Alex.
Benar apa yang Alex katakan, Marcel bahkan tidak bisa melupakan mantan tunangannya yang pergi selama bertahun-tahun, mana mungkin ia bisa melupakan Hayley dan merelakannya begitu saja dalam hitungan bulan.
"Baiklah, selama aku berlibur. Aku menyerahkan tugas khusus padamu, selidiki lebih jauh tentang Marcel," pinta Aaron.
"Sudah kuduga! kamu pasti menyuruhku." Alex mendengus kesal. "Kenapa selalu aku yang mengurusnya. Menyebalkan!"
"Kamu kan, detektif hebat. Aku percaya padamu, Alex!"
"Tukang rayu! nggak mempan!"
__ADS_1
🖤🖤🖤
Bersambung ...