Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Mencari Melanie


__ADS_3

Dua hari berlalu, Aaron dan Alex masih belum bisa mendapatkan titik terang mengenai keberadaan Melanie, orang yang bertugas untuk mengawasi tuan Gio dan istrinya pun tidak bisa memberi kabar apapun. Pasalnya, orang tua Melanie sekalipun tidak pernah keluar dari rumah sejak kepergian Melanie.


"Apa mereka sedang merencanakan sesuatu? apa mereka tau kalau sedang di intai?" tanya Alex kesal.


"Mungkin, bisa jadi," jawab Aaron.


Alex sudah mengutus seseorang untuk pergi ke tempat yang sesuai dengan petunjuk keberadaan Melanie, sebuah daerah dataran tinggi dengan hamparan kebun teh, hampir seluruh kabupaten di tiap kota sudah di telusuri, namun semuanya masih nihil.


"Bagaimana dengan salah satu daerah di kota XIX, bukankah itu adalah salah satu daerah perkebunan yang di miliki keluarga besar Melanie?" tanya Aaron, mereka sedang menikmati sarapan di rabu yang cerah.


"Aku sudah menyuruh seseorang ke sana. Dan mereka bilang nggak ada yang mencurigakan, perkebunan itu di daerah pedesaan yang lumayan jauh dari kota," jelas Alex.


"Melanie pasti di sana, kamu harus pergi sendiri," sela Hayley.


"Dari mana kamu tau?"


"Feeling aja!" jawab Hayley asal, namun ia cukup yakin jika Melanie tidak berada jauh dari daerah itu.


Beberapa saat Alex berpikir, akhir-akhir ini memang dirinya sangat patuh dengan segala perkataan dan nasehat Hayley, meskipun kadang menjengkelkan, sayangnya Hayley selalu berkata benar.


"Baik, aku akan pergi," ucap Alex.


"Kapan?" tanya Hayley, sambil mengunyah potongan roti di mulutnya.


"Nanti sore."


"Kenapa nunggu sore? perjalanannya hampir 4 jam dan kamu nunggu sore? pergi sekarang!" usir Hayley.


"Ada beberapa pekerjaan di kantor," ucap Alex.


"Nggak perlu. Kamu cuti!"


"Apa Aaron nggak papa?"


"Aku akan membantunya. Iya kan, Sayang?" tanya Hayley lalu melirik Aaron yang juga sibuk makan.


"Ya, pergilah. Aku bisa mengurus semuanya sendiri. Pastikan kamu kembali tidak dengan tangan kosong!" ucap Aaron tegas.


"Oke, terimakasih, Bro!"


"Oh, ya. Bagaimana dengan tante Friska? kalian sudah bertemu?" tanya Aaron.

__ADS_1


"Aku nggak peduli," jawab Alex sinis.


"Kenapa? dia mamamu. Aku kira kamu sudah belajar apa artinya kehilangan. Saat Melanie masih di sisimu, kamu anggap dia cuma angin lalu, sekarang dia terlanjur pergi, kamu gila mencari. Jangan sampai hal ini juga kamu rasakan kalau mamamu pergi," ujar Hayley menasehati.


Sudah ratusan pesan dan ratusan panggilan tak terjawab dari Friska yang ia abaikan selama beberapa hari sejak perginya Melanie, rasanya memang masih sangat sulit untuk memaafkan.


Namun apa yang Hayley katakan ada benarnya, Alex mulai berpikir. Sesaat, ia merenung, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


🖤🖤🖤


Setelah sarapan pagi selesai, Hayley tetap berada di meja makan sambil melanjutkan makan buah-buahan, sedangkan Aaron dan Alex masih bersiap di kamarnya masing-masing.


Saat Aaron dan Alex sudah siap dan akan berpamitan pada Hayley, sebuah mobil berwarna merah memasuki pekarangan rumah.


"Emm, siapa ya?" tanya Hayley pada Aaron.


"Nggak tau," jawab Aaron sambil mengangkat bahu, numun keduanya melihat Alex menatap seseorang yang keluar dari mobil dengan ekspresi terkejut dan tidak suka.


"Apa dia tante Friska?" tanya Aaron. "Aku bahkan sampai lupa wajahnya."


Menghela nafas panjang, Alex berbalik dan ingin kembali masuk ke dalam rumah, namun Hayley buru-buru menyambar lengan kemejanya.


"Mau kemana? nggak sopan!" ucap Hayley. "Temui mamamu dulu, kalian harus bicara."


"Baik, terimakasih, Aaron." Friska menyusul Alex yang sudah jalan lebih dulu dan duduk di kursi ruang tamu, di ikuti Hayley dan Aaron yang sama-sama gugup berada dalam situasi menegangkan seperti ini.


Aaron dan Hayley membiarkan Alex dan Friska berbicara empat mata, mereka meninggalkan keduanya untuk sementara.


"Untuk apa lagi mama datang?" tanya Alex sinis.


"Mama cuma mau pamit, mama harus kembali ke Amerika."


"Untuk apa pamit? bukannya sudah biasa mama pergi tanpa kabar?"


"Alex ...."


"Sudahlah, Ma. Jangan terlalu memaksakan diri untuk peduli padaku. Aku baik-baik saja selama 15 tahun terakhir."


"Apa kamu nggak punya keinginan ikut mama? kita bisa membangun bisnis bersama," tawar Friska.


"Aku sudah cukup hidup seperti ini, jangan libatkan aku dalam apapun urusan mama. Bukannya mama sendiri yang memilih untuk melepaskan aku dan mencari keluarga baru, itu keputusan mama sendiri."

__ADS_1


"Mama menyesalinya, Alex."


"Terlambat, aku terbiasa tanpa mama. Jadi, sekarang mama boleh pergi, aku senang mama sehat dan bahagia, semoga mereka yang lebih beruntung bisa mendapatkan kasih sayang mama yang seutuhnya nggak akan mengecewakan mama."


"Maaf kalau aku bersikap seperti ini, maaf aku menjadi anak yang durhaka. Tapi yang harus mama tau, aku tetap sayang sama mama seperti dulu, seperti lima belas tahun yang lalu," ungkap Alex, ia berkata tulus menatap sang mama yang berkaca-kaca.


Menghela nafas berat, Friska bangkit dari duduknya saat Hayley datang membawa minuman.


"Nggak perlu repot-repot. Terimakasih sudah mengizinkan saya bertemu Alex," ucap Friska, ia tersenyum pada Hayley.


"Duduk dulu, Tante. Minum dulu," pinta Hayley sambil meletakkan gelas di atas meja.


"Nggak perlu. Mama mungkin sudah rindu ingin segera menemui keluarganya, silahkan pergi, Ma," sela Alex.


"Alex, kok ngomongnya ...."


"Iya, Nak Hayley. Tante buru-buru, tante harus pergi ke bandara secepat mungkin."


"Hmm, baiklah."


"Terimakasih, ya. Kamu baik, semoga sehat sampai melahirkan dan mendapatkan anak yang tampan dan cantik," ungkap Friska.


"Terimakasih tante, hati-hati di jalan."


Hayley mencium punggung tangan Friska lalu di susul oleh Aaron. Sekilas, Friska menoleh pada Alex, berharap anaknya juga mau melakukan hal yang sama, tapi nyatanya Alex terlihat acuh dan memalingkan wajah.


Friska melangkah keluar dari rumah, pupus sudah harapannya untuk kembali hidup bersama Alex lagi, semua ini memang kesalahannya, jika saja dulu ia tidak serakah dan ingat untuk kembali pulang, maka semua ini tidak mungkin terjadi. Namun, terlambat, Alex adalah laki-laki keras kepala, tidak mudah bagi Friska untuk membujuknya.


Sepeninggal Friska, Hayley duduk di kursi tamu menemani Alex, Hayley tau jika laki-laki berambut silver di hadapannya tidak benar-benar membenci Friska.


"Menyesal?" tanya Hayley singkat.


"Aku nggak perlu menyesali sikapku. Ini bukan cuma soal perasaan, tapi menyangkut tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Dimana dia saat aku sakit, susah, menangis. Aku pergi sekolah sendiri, belajar sendiri, sampai menjalani kehidupanku sendiri, dia nggak pernah ada."


Hayley mengangguk paham. Alex memang memiliki hati yang keras, sekali tidak, maka jawabannya tetap tidak. Sebenarnya Alex adalah orang yang baik dan pemaaf, namun rasa sakit hati dan kekecewaannya lebih menguasai.


"Aku akan pergi," pamit Alex.


"Hati-hati," ujar Aaron.


"Jangan lupa beri kami kabar tentang Melanie. Kamu pasti bisa menemukannya, aku yakin dia nggak jauh dari daerah itu," jelas Hayley.

__ADS_1


Alex hanya mengangguk lalu pergi, sedangkan Aaron berpamitan pada Hayley dan mencium perutnya untuk segera berangkat bekerja.


🖤🖤🖤


__ADS_2