Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Berenang


__ADS_3

Musim hujan kali ini berlangsung lebih intens di bandingkan tahun-tahun sebelumnya, semenjak pagi sampai malam hari, matahari sama sekali tidak menampakkan sinarnya.


Hampir 3 hari Aaron tidak mengizinkan Hayley berangkat ke kantor, laki-laki itu hanya meminta Hayley untuk beristirahat dan memanjakan dirinya di rumah.


"Hai, kak. Kamu sakit?" tanya Breanda tiba-tiba yang masuk ke dalam kamar Hayley.


"Sudah membaik," jawab Hayley. "Kok tumben main kesini? nggak kuliah?"


"Kak Aaron yang nyuruh, katanya kakak sakit, jadi aku harus nungguin kakak di rumah."


"Hah, aku kan udah gede, Bre. Nggak perlu juga di tungguin," ujar Hayley.


"Namanya aja orang cinta, Kak. Meski kakak udah gede, pasti kak Aaron menganggap kakak itu anak kecil yang butuh ekstra perhatian," jelas Breanda.


"Hah, lebay!"


"Ih, seriusan. Orang cinta itu memang lebay," seloroh Breanda sambil terkekeh. "Oh ya, kak Aaron sudah tau berita tentang si Kathrine?" tanyanya.


"Sudah."


"Terus, reaksi kak Aaron gimana?"


"Nggak gimana-gimana," jawab Hayley berbohong, karena dari awal, Aaron sudah bilang kalau dirinya tidak memiliki hubungan lagi dengan Kathrine.


"Serius? Ah, syukurlah. Aku kira kak Aaron bakalan kesurupan lihat mantannya gitu." Breanda kembali tertawa. "Lagipula Kathrine itu mukanya aja yang cantik, tapi hatinya kotor. Jaman sekarang, punya duit banyak juga bisa cantik, tapi hati nggak bisa di rubah dengan harta."


Hayley mengangguk paham, benar apa yang di katakan adik iparnya, kalau punya banyak uang, cantik itu sangat mudah, hanya dengan menjentikkan jari, kulit hitam jadi putih, rambut keriting jadi lurus, cantik itu mudah asal punya modal.


Berbeda lagi dengan karakter dan hati, sebanyak apapun uang yang di miliki, itu tidak akan mampu mengubah pribadi seseorang.


"Oh ya, kak. Kakak kapan hamil?" tanya Breanda tiba-tiba.


"Hah, pertanyaan macam apa ini?" batin Hayley, ia menatap adik iparnya yang asik memasukkan kripik kentang ke dalam mulutnya.


"Memangnya kenapa kalau aku hamil, Bre?"


"Ya itu bagus, jadi mama sama papa bakalan nerima kakak jadi menantu sungguhan," ungkap Breanda. "Aku sih nggak peduli sebenarnya kakak hamil atau nggak, yang penting rumah tangga kalian bahagia. Tapi aku pengen kak Aaron kembali akur sama mama papa."


"Hmm." Hayley hanya menghela nafas, ia tidak tau lagi harus menjawab apa. Jika semua orang tau bahwa pernikahan ini hanya sebuah sandiwara, maka ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

__ADS_1


Breanda tetap tinggal dan menemani Hayley sampai Aaron pulang sore hari, selama hampir seharian, mereka hanya berada di kamar sambil mengobrolkan apapun tentang wanita, Breanda dan Hayley memiliki kecocokan dalam bertukar pendapat.


Belum sempat Aaron mengganti baju kerjanya dan membersihkan diri, ia langsung menghampiri Hayley ke kamarnya.


"Hayley, apa sudah membaik?" tanya Aaron, ia memperhatikan kembali tubuh Hayley yang sebelumnya masih merah-merah.


"Sudah."


"Kebetulan hujan sudah reda, kamu bisa ke lantai atas biar nggak bosan. Setelah ini aku susul," ujar Aaron.


"Baiklah."


Hayley membereskan majalah-majalah remaja yang berserakan di atas kasurnya lalu bergegas menuju lantai 3 lebih dulu, ia memang merasa sangat bosan berada di dalam kamar seharian penuh, untung saja Breanda mampu mengusir kebosanannya.


Setelah menunggu tidak sampai setengah jam, Aaron menyusul Hayley ke atas, laki-laki itu sudah membersihkan diri dan berganti pakaian dengan kaos putih polos dan celana pendek berbahan kain.


Aaron mengajak Hayley duduk di pinggiran kolam renang sambil menikmati coklat hangat yang ia bawa.


"Alex kemana?" tanya Hayley.


"Lagi makan, nggak tau kenapa dia ngeluh lapar terus dari siang, padahal udah makan."


"Mau renang?" tawar Aaron.


"Renang? nggak, Mr. Ice." tolak Hayley. "Airnya dingin, aku ...."


Belum sempat Hayley melanjutkan kata-katanya, Aaron langsung menggendong gadis itu dan menceburkan diri ke dalam kolam.


"Aahh ...." Hayley memukul dada Aaron berkali-kali, terkejut sekaligus senang ia rasakan.


"Dingin?" tanya Aaron.


"Kok airnya hangat, sih."


"Kolam ini bisa di setel khusus, mau pakai air dingin atau hangat tinggal rubah setelannya," jelas Aaron. "Mau ku gendong?" tawarnya, Hayley mengangguk, lalu memposisikan diri di belakang Aaron dan mengalungkan tangannya di leher laki-laki itu.


Aaron membawa Hayley berenang sambil menggengdongnya, keduanya bertukar cerita sambil menertawakan hal-hal lucu yang Aaron alami beberapa hari ini selama Hayley tidak masuk kerja.


Alex yang duduk sendirian sambil menikmati roti panggang berisi selai nanas di ruang tengah, menatap ke atas, kebetulan kolam ini berada pas di atas ruang tengah, dan dasar kolamnya adalah kaca transparan, jadi siapapun yang duduk di ruang tengah, akan dengan mudah melihat aktifitas orang yang sedang berenang di atas kepalanya.

__ADS_1


"Dasar si Aaron," gerutu Alex, ia terus memperhatikan Aaron yang asik berenang sambil menggendong Hayley.


Alex merasa sangat beruntung dengan keberadaan Hayley di rumah ini. Baginya, Hayley sudah seperti obat penenang untuk Aaron, kalau saja tidak ada Hayley, mungkin Aaron bisa masuk ke rumah sakit jiwa akibat kelakuan Kathrine.


Sedikit ada rasa penyesalan saat dulu Alex menentang keberadaan Hayley, namun nyatanya gadis itu mampu meluluhkan keras kepalanya Alex.


Saat Alex akan masuk ke dalam kamarnya, ia mendengar suara ponsel Hayley yang berdering terus menerus, karena rasa penasaran, Alex diam-diam masuk ke dalam kamar Hayley yang tidak terkunci, ia melihat ponsel tergeletak di atas kasur.


"Marcel?" gumam Alex, ia menatap layar ponsel milik Hayley yang menampilkan nama Marcel di sana.


"Kenapa dia nelpon terus?"


Tidak ingin mengganggu privasi Hayley, Alex meninggalkan ponsel itu tanpa menyentuhnya. Namun ada rasa penasaran dalam hatinya, tentang sejauh apa Hayley dan Marcel saling mengenal.


Di dalam kolam renang yang hangat, Hayley terus membenamkan diri ke dasar kolam, airnya yang hangat dan menenangkan membuat gadis itu betah berlama-lama berenang.


"Bagaimana tentang rencanamu ke Bali?" tanya Aaron.


"Nggak tau, Marcel belum ngasih kabar."


"Tapi, ini musim hujan, Hay. Kalau kamu sakit lagi gimana?"


"Iya, sih. Tapi, mama Marcel baik banget, aku nggak mau bikin beliau kecewa," ungkap Hayley, yang membuatnya tidak tega menolak ajakan itu adalah karena Sharaa memohon untuk ia ikut liburan bersama.


Merasa nyeri di ulu hatinya, Aaron memilih diam, ia tidak tau harus mengatakan apa untuk membuat Hayley tetap tinggal di rumah dan menolak ajakan Marcel.


"Hayley, apa kamu keberatan kalau aku ngomong terus terang ke semua orang bahwa kamu istriku?" tanya Aaron, ia merasa harus menanyakan hal ini, ia tidak mau membuat Hayley merasa tak nyaman.


"Aku memang istrimu, Mr. Ice. Tapi, pernikahan kita cuma ...."


"Cukup! aku tau apa yang akan kamu katakan," sela Aaron, ia menghentikan kalimat yang belum Hayley selesaikan, ia yakin jika Hayley akan mengungkit tentang pernikahan kontrak, istri bayaran, dan perceraian. Aaron merasa gerah setiap kali Hayley mengatakan hal itu.


Dia tidak benar-benar yakin dengan apa yang ia rasakan saat ini, perasaan nyaman dan takut kehilangan tiba-tiba saja muncul dalam benaknya, ia tau dirinya baru saja kehilangan Kathrine, namun ia merasa terlalu cepat jika hatinya berubah secepat ini, bahkan mendengar nama Kathrine pun tidak lagi menggetarkan hatinya.


"Kenapa? bukannya memang seperti itu?" tanya Hayley. "Kita menikah hanya atas dasar saling menguntungkan."


"Apa kamu benar-benar akan mengakhiri hubungan kita setelah pernikahan kontrak ini berakhir?" tanya Aaron.


🖤🖤🖤

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2