
Hari ini, Aaron dan Hayley berangkat berbulan madu ke Bali. Dengan persiapan matang dari semua keperluan yang harus di bawa, obat-obatan, vitamin, dan seorang perawat khusus yang di minta untuk mendampingi Hayley selama liburan, semua sudah Aaron atur.
"Nggak akan lebih dari tiga hari kok," ujar Aaron menepuk punggung sepupunya.
"Untungnya perusahaan dalam kondisi baik, sekalipun kamu nggak balik seminggu juga nggak apa-apa," jawab Alex santai.
Alex sama sekali tidak keberatan dengan jadwal liburan Aaron yang mendadak, lagipula akhir-akhir ini pekerjaan memang sangat senggang.
Alex tidak mengantar Aaron dan Hayley ke landasan udara karena pagi ini dia ada jadwal pertemuan khusus dengan salah seorang rekan kerja, kemudian malam nanti ia berencana akan mengunjungi orang tua Aaron.
Alex memacu mobilnya dengan cepat menuju kantor, sedangkan Aaron dan Hayley bersiap untuk keberangkatan mereka.
Sesampainya di kantor, Melanie ternyata sudah menunggunya di lobi, gadis berperawakan tinggi ramping dengan lekuk tubuh yang sempurna itu duduk manis di sofa abu dekat meja resepsionis.
"Melanie," sapa Alex terkejut, ia tidak menyangka Melanie sudah berada di kantornya sepagi ini.
"Masih jam 7 pagi, ada apa?" tanya Alex.
"Ada yang mau aku sampaikan, Alex," jawab Melanie, ia tersenyum manis menatap laki-laki berambut silver di depannya.
"Ayo, kita ke atas," ajak Alex, ia merangkul pinggang Melanie dengan mesra lalu menggiring gadis itu menuju lift.
"Sepertinya ada yang sangat serius, sampai-sampai kamu datang sepagi ini," ujar Alex.
"Ah, ya. Cukup serius. Kemana Aaron?"
"Liburan, dia dan istrinya ke Bali. Baru berangkat pagi ini."
"Oh ...." Melanie mengangguk paham.
Sesampainya di ruang kerja, Alex membawa Melanie duduk di sofa panjang, Alex meminta seorang OB membawa dua cappucino ke ruangannya.
"Besok malam, sibuk nggak?" tanya Melanie.
"Aku nggak pernah sibuk, kalau urusannya tentang kamu."
"Ih, aku serius."
"Serius. Pekerjaanku memang lagi santai, aku udah bisa pulang sore dan malamnya nggak ada kegiatan."
Melanie mengangguk, ia menggigit ujung kukunya yang memakai kutek biru muda. "Kita makan malam, yuk."
__ADS_1
"Besok?"
"Iya, besok malam," jawab Melanie.
"Cuma soal itu? kita bisa janjian lewat telpon, kamu nggak perlu repot-repot datang ke sini," ujar Alex.
"Hmm, aku kangen," seru Melanie, ia bergelayut manja di lengan Alex, lalu mngecup lembut pipi laki-laki itu.
"Dua hari lalu, kita baru menghabiskan waktu semalaman penuh," ucap Alex. "Nggak biasanya kamu cepet kangen gini."
Melanie hanya tersenyum, ia lalu menyandarkan kepalanya di bahu Alex.
"Kenapa? ada yang kamu pikirkan?" tanya Alex.
"Hmm, boleh aku tanya sesuatu?"
"Silahkan."
"Apa kamu belum pernah jatuh cinta?" pertanyaan Melanie membuat Alex sedikit terkejut, tidak biasanya Melanie membahas urusan hati.
"Entahlah. Aku sendiri nggak paham apa itu cinta," jawab Alex.
"Lalu, yang selama ini kita jalani, menurutmu hubungan seperti apa?" Melanie kembali bertanya.
"Katakan terus terang, Melanie. Apa maksudmu?" ucap Alex.
"Seperti itu? bahkan kamu nggak paham makna dari pertanyaan yang aku sampaikan. Kamu anggap apa aku selama ini, Alex?" Melanie mulai terbawa emosi. "Apa aku sama seperti semua wanita yang menemanimu bergantian setiap malam, begitu?"
"Ini masih terlalu pagi untuk membahas hal ini, Mel. Aku ada pertemuan penting jam setengah sembilan." Alex mengalihkan pembicaraan, ia tidak tau lagi harus menjawab apa pertanyaan Melanie.
"Masih satu setengah jam lagi. Kita punya banyak waktu."
"Untuk apa kamu datang kesini? hanya untuk ini?"
"Ya, aku butuh kepastian untuk menentukan keputusan."
Melihat gadis di depannya mulai berapi-api, Alex menghela nafas panjang. Dirinya tau, Melanie berbeda dari wanita-wanita yang selama ini hanya sebatas seranjang dengannya. Namun ia tidak mau terlalu terobsesi hanya dengan satu wanita, Alex tidak mau menggantungkan perasaannya hanya pada satu hal.
Dua manusia saling bertatapan, Alex merasa bingung karena tidak memiliki jawaban apapun untuk Melanie, sedangkan gadis itu kesal karena laki-laki di depannya hanya diam.
Seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan membawa dua cangkir cappucino hangat, itu cukup membuat suasana tegang sedikit terjeda. Alex menyesap pelan minuman di tangannya, lalu menggenggam tangan Melanie lembut.
__ADS_1
"Jangan seperti ini. Aku tau, hubungan kita sangat rumit," ujar Alex, namun Melanie malah menepis genggamannya.
"Kamu yang membuat semuanya rumit. Aku bahkan nggak menginginkan ini." Mata gadis itu berkaca-kaca, sejak pertemuannya di private party beberapa bulan -yang lalu, hubungan mereka sangat dekat. Bahkan Alex sudah tidak lagi membawa wanita lain untuk menemaninya, karena Melanie berusaha selalu ada setiap laki-laki itu membutuhkannya.
Tidak ada satupun wanita di dunia ini mau menjalin suatu hubungan yang tidak pasti. Bagi Melanie, usianya sudah matang untuk segera mendapatkan pendamping hidup, belum lagi ia adalah pewaris utama di keluarganya, tentu saja orang tuanya selalu menanyakan tentang rencana hidup anak mereka satu-satunya.
Semakin lama, Melanie semakin terisak, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Alex bergeming, ia memang hebat dalam merayu, namun ia tidak pernah ada dalam situasi sesulit ini.
"Bagiku, kamu istimewa, Mel. Terimakasih karena selalu ada untukku selama ini," ujar Alex lembut.
"Hanya itu? hanya ucapan terimakasih?" tanya Melanie. "Aku melakukan semua ini bukan karena ingin kamu berhutang budi atau sekedar berterimakasih, Alex. Aku mengharapkan lebih!" sentak Melanie.
"Aku berharap hubungan kita lebih dari apa yang ada dalam kepalamu. Aku menginginkan kepastian, jangan menggantung perasaanku."
"Aku tau, selama ini kamu sudah menyuruhku untuk menjaga perasaan, aku tau kamu nggak mau menjalin hubungan serius dengan siapapun. Tapi aku berharap, ada pengecualian untukku," ucap Melanie.
"Mel ...." Alex mengusap air mata yang menetes deras di pipi Melanie, ia lalu membuat wajah gadis itu mendongak menatapnya.
Dengan gerakan lembut, Alex mengecup bibir ranum nan basah gadis itu.
"Jangan menangis, aku akan memperbaiki semuanya," ujar Alex, lalu memeluk Melanie erat.
"Aku memberimu waktu berpikir sampai besok malam. Aku menunggu di restoran XX pukul 7, jangan terlambat." Melanie melepas pelukan, ia bangkit dari duduknya, namun Alex dengan cepat meraih lengan gadis itu.
Dengan gerakan cepat, Alex sudah membuat Melanie duduk di pangkuannya, ia mengangkat kedua kaki Melanie di atas sofa.
"Jangan memberikan batas waktu padaku untuk menyatakan kepastian."
"Aku nggak punya banyak waktu lagi untuk menunggu," sergah Melanie.
"Benarkah?" tanya Alex, ia memegang dagu Melanie lalu ******* bibir gadis itu. Tangan Melanie merem*s rambut Alex tatkala ciuman laki-laki ith turun ke lehernya.
"Hentikan, Alex," rintih Melanie, namun Alex tidak memperdulikannya.
Tangan kiri Alex merogoh dari bawah gaun Melanie sampai menemukan sesuatu yang ia inginkan.
"Kamu bisa menolakku, tapi tubuhmu menginginkannya," ucap Alex sensual.
Rasa marah dan kesal Melanie menguap seiring sentuhan dan cumbuan panas Alex yang membuatnya ingin terbang tinggi bersama.
🖤🖤🖤
__ADS_1
Bersambung ...