Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Harapan


__ADS_3

Karena tidak memiliki pakaian ganti apapun di rumah ini, Aaron terpaksa datang ke kamar Andini dengan memakai sarung dan kemeja putihnya yang sedikit basah akibat kehujanan tadi.


Aaron menyusul Hayley dengan langkah tergesa, karena ia tidak tau pasti dimana letak kamar ibu mertuanya itu.


"Bu," sapa Aaron ramah sambil mencium punggung tangan Andini, sedangkan Hayley sibuk di dapur membuat minuman untuk mereka.


"Kalian datang kenapa nggak ngasih kabar dulu," ujar Andini, kemudian terbatu-batuk.


"Apa ibu kurang sehat?" tanya Aaron khawatir.


"Beginilah, Nak. Operasi yang beberapa bulan lalu memang berhasil, tapi kanker payudara ibu sudah terlanjur menjalar ke paru-paru dan kelenjar getah bening, jadi ...."


"Aku bisa membawa ibu berobat ke luar negeri, pasti bisa sembuh," tawar Aaron. "Ibu juga ibuku, aku akan berusaha mencari pengobatan terbaik, Bu."


"Harapan sembuh ibu sudah sangat kecil, Nak. Karena penyakit ini sudah mengakar di tubuh," ungkap Andini.


"Tuhan menciptakan penyakit pasti juga menciptakan obatnya, Bu. Sebentar, aku akan segera kembali, Bu." ujar Aaron, ia lalu keluar dari kamar dan kembali menuju kamar milik Hayley untuk mengambil ponselnya.


Selama ini, Hayley tidak pernah menceritakan kondisi Andini pada Aaron dengan detail, gadis itu hanya sering mengatakan bahwa ibunya memiliki penyakit kanker payudara, itu saja.


Aaron kira, setelah operasi yang dilakukan beberapa bulan lalu, Andini akan membaik, namun keadaan ibu mertuanya sebenarnya sudah sangat parah.


Diam-diam, Hayley sendiri sudah ada niat untuk membawa ibunya berobat ke luar negeri, ia sudah berkonsultasi dengan dokter yang menangani ibunya di rumah sakit selama ini, dan biaya yang harus di siapkan tidaklah sedikit, bahkan gaji yang di berikan Aaron sebagai istri bayaran pun tidak cukup untuk mengcover seluruh biayanya.


Sebelumnya, Hayley berniat untuk meminjam uang lagi kepada Aaron ataupun Alex, namun akhir-akhir ini masalah terus saja datang kepada dua bersaudara itu, Hayley pun merasa sungkan karena mereka sudah banyak membantunya, akhirnya ia mengurungkan niat.


"Bu, apa suamiku nggak kesini?" tanya Hayley saat masuk ke dalam kamar ibunya, ia membawa nampan berisi 3 cangkir teh hangat.


"Barusan kesini, Nak. Tapi balik lagi ke kamar," jawab Andini.


"Oh ... kata bibi, asma ibu sering kambuh, kok nggak cerita?"

__ADS_1


"Ibu nggak mau kamu khawatir."


"Bu, tolong jaga kesehatan, ya. Akhir-akhir ini aku sering mimpi buruk," ungkap Hayley. "Ibu satu-satunya orang yang sangat menyayangiku, tolong bertahan dan lawan penyakit ini."


"Ibu akan berusaha sebisa mungkin, Sayang." Andini tersenyum haru.


Tiba-tiba Aaron sudah berdiri di depan pintu, ia memegang ponselnya lalu mendekat, duduk di samping Hayley.


"Bu, aku sudah menghubungi rumah sakit di Singapura, besok Hayley akan menyiapkan semua berkas-berkas tentang riwayat pengobatan ibu agar secepatnya aku bisa langsung membawa ibu kesana," ujar Aaron. "Kalau semua berkas lengkap dan kondisi ibu memungkinkan, kita bisa berangkat seminggu lagi," imbuhnya.


Hayley menatap laki-laki yang memakai sarung putih di sampingnya itu dengan tatapan haru dan kagum, ia tidak tau harus mengatakan apa, ia sudah terlalu sering mengucapkan terimakasih pada Aaron.


Aaron yang bisa mengartikan tatapan gadis di sampingnya, ia meraih tangan Hayley dan meremasnya lembut.


"Nak, semuanya butuh biaya yang sangat banyak, lagipula ibu ...."


"Bu, aku ingin jadi menantu yang berbakti, apa ibu nggak mau menghargai ku?" sela Aaron.


Andini tersenyum haru, satu tetes air mata lolos dari ujung matanya, ia meraih tangan Aaron dan berterimakasih.


"Setiap malam ibu selalu berdo'a, satu-satunya putri ibu akan mendapatkan seorang suami yang sangat baik dan penyayang, sedari kecil, Hayley kekurangan kasih sayang seorang ayah, dan ibu berharap ia bisa mendapatkan separuh jiwanya kembali dari suaminya," ungkap Andini.


Mendengar penuturan ibunya, Hayley terisak pelan. Sejak ia kecil, setiap kali ia mendengar ayahnya pulang malam dalam keadaan mabuk dan langsung bersikap kasar pada ibunya, ia menangis di sudut kamar, Andini selalu mengunci Hayley di dalam kamar, karena Hayley kerap mendapatkan pukulan dari ayahnya saat mabuk.


Kejadian memilukan itu terjadi hampir setiap malam, di saat itu pula, Hayley selalu mendengar ibunya berdo'a, jika suatu saat Hayley akan mendapatkan laki-laki yang sangat baik dan mampu menyayanginya dengan tulus, ia tidak akan pernah bernasib sama dengan ibunya.


"Aku berjanji, Bu. Hayley akan bahagia, jadi ibu harus sembuh, agar aku bisa membuktikannya," ucap Aaron sungguh-sungguh, ia lalu merangkul bahu Hayley dan berusaha menenangkan gadis di sampingnya.


Obrolan bergulir dari hal-hal yang serius sampai yang ringan, Aaron bersikap selayaknya ia benar-benar suami Hayley sungguhan, Hayley pun bersikap sama, ia bersandiwara dengan bersikap manja pada Aaron, semata-mata agar ibunya percaya bahwa mereka adalah pasangan yang bahagia. Setelah 3 cangkir teh sudah habis dan malam semakin larut, Aaron mengajak Hayley kembali ke kamar dan membiarkan Andini beristirahat.


"Bu, sebaiknya ibu beristirahat. Sudah malam," pinta Aaron.

__ADS_1


"Iya, Bu. Kami akan kembali ke kamar," pamit Hayley.


🖤🖤🖤


Di dalam kamar, Aaron dan Hayley sama sekali tidak mampu memejamkan mata, mereka tidak saling bicara, namun Aaron tau, Hayley sedang gelisah.


Mereka tidur dalam satu ranjang besar yang sama, namun terpisah guling yang berada di tengah-tengah keduanya.


"Apa kamu nggak berniat membangun keluarga bahagia, Hayley?" tanya Aaron tiba-tiba.


"Semua orang mengharapkan keluarga bahagia, Mr. Ice." Hayley tersenyum kecil. "Aku akan mencari sosok laki-laki yang bisa hidup bersamaku dalam keadaan apapun," imbuhnya.


"Apa kamu sudah menemukannya?"


"Semoga, ada seseorang yang sudah merebut hatiku," jawab Hayley secara terang-terangan, membuat Aaron menebak-nebak.


"Siapa?"


"Kamu akan tau nanti. Saat ini, aku belum siap bilang padanya tentang statusku yang sebenarnya, aku masih menunggu waktu yang tepat."


Ingatan Aaron langsung tertuju pada Marcel, pasti laki-laki itu yang sedang Hayley maksud. Menghembuskan nafas berat, Aaron tidak lagi ingin bertanya banyak hal, ia tau jika dirinya sudah sangat terlambat dalam hal ini, namun dia tidak akan menyerah begitu saja.


Ada sesuatu yang seakan menusuk hatinya, setiap kali mendengar Hayley membahas tentang pernikahan kontrak ataupun perceraian.


Jika dulu, ia akan sangat menanti satu tahun ini akan terlewati dengan sangat cepat, namun saat ini semuanya berubah, ia berharap beberapa bulan terakhir menjadi sangat lambat untuknya, agar semakin banyak waktu ia berusaha.


Sesaat setelah kehilangan Kathrine, Aaron merasa hidupnya berakhir dan hatinya hancur berkeping-keping, namun pada saat keterpurukannya itu, Hayley menjadi satu-satunya orang yang mampu membangkitkan semangat hidupnya.


Setiap kali gadis itu dengan sabar membujuk Aaron untuk makan, merawat diri, mengajaknya mengobrol dan bertukar pikiran, Aaron merasa sangat di cintai. Hayley selalu bersikap manis dan memperhatikan apapun tentang dirinya, mungkin bagi Hayley itu hanya sebatas sikap wajar yang memang menjadi kewajibannya sebagai seorang istri, namun Aaron menganggapnya berlebihan.


Terkadang, cinta yang selama ini ia anggap cinta, bukanlah cinta yang sesungguhnya, melainkan hanya nafsu sesaat yang melenakan, ia tidak pernah menyadari, bahwa seseorang yang ada di dekatnya dan yang rela berbagi suka dan duka, adalah sesuatu yang sebenarnya di sebut cinta.

__ADS_1


🖤🖤🖤


Bersambung ...


__ADS_2