
Hayley tau, jika semua ini sudah pasti terjadi. Semakin hari, dia selalu mengamati perubahan yang Marcel tunjukkan. Laki-laki itu semakin terlihat jelas sifat aslinya.
"Dia istriku, itu adalah hak ku. Tanyakan pada semua orang di sini, bukankah tidur bersama adalah suatu kewajiban bagi setiap suami istri? lalu apa masalahmu?" tanya Aaron dengan tegas dan lantang, namun tetap berwibawa seperti biasa.
Marcel semakin frustasi, seluruh pengunjung resto kini berbisik sambil meliriknya. Laki-laki itu berbalik, menatap Hayley yang berdiri gemetar tidak jauh darinya.
"Hayley ... Hayley, dengarkan aku. Gugurkan bayi dalam kandungan mu itu, kamu pasti tidak menginginkannya, bukan?" Marcel berucap menggebu-gebu meminta persetujuan Hayley, ia memegang kedua pundak Hayley sambil menggoyangkannya.
PLAK!!!
Seketika, satu tamparan keras Hayley layangkan di pipi Marcel. Aaron yang berada di belakang Marcel pun terkejut dengan sikap Hayley tiba-tiba.
"Kamu gila!" pekik Hayley.
"Aku gila karena mu, Hayley. Katakan, kamu mencintaiku, bukan?"
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Sayangnya, aku akan mengubur rasa itu dalam-dalam, di antara kita, hanya aku yang mencintai."
"Nggak! aku juga mencintaimu, Hayley," kilah Marcel.
"Mencintaiku?" Hayley menyipitkan mata, lalu merogoh tas yang ia bawa. "Lihat, kamu nggak pernah mencintaiku, Marcel. Kamu hanya mencintai masa lalu mu!"
Hayley melemparkan beberapa lembar foto ke wajah Marcel, foto yang pernah ia dapatkan dari Alex beberapa waktu lalu.
"Hayley, ini nggak seperti apa yang kamu kira."
"Apa aku salah sangka? nggak! ini semua kebenarannya, Marcel. Lalu, lukisan di ruang kerja di rumahmu itu, pasti juga lukisan wanita ini, bukan?"
"Tidak, Hayley! Tidak!" Marcel berteriak frustasi, ia mundur beberapa langkah menjauhi Hayley. Mengamuk, ia membuang dan melempar berbagai benda di sekitarnya, Aaron bertindak cepat, memeluk Hayley dan menjauhkannya dari Marcel.
"Tunggu! tunggu!" teriak Marcel, ia berlari mengejar Hayley.
"Cukup, Marcel. Jangan lagi mengganggu Hayley," ucap Aaron, ia memeluk Hayley yang menangis tersedu.
"Aku mencintaimu, Hayley. Tolong, beri aku kesempatan," ujar Marcel mengiba, ia bersimpuh di dekat kaki Hayley.
"Seharusnya kau malu, Marcel. Meminta istri orang untuk bersamamu, menggugurkan kandungannya? sadar!" bentak Aaron.
"Jangan ikut campur, Aaron!"
__ADS_1
"Maaf, Marcel. Apapun yang menyangkut istriku, itu adalah urusanku."
"Tolong, menjauhlah dari hidupku, Marcel. Semua di antara kita, sudah berakhir," ucap Hayley, lirih, namun terdengar seperti sambaran petir di telinga Marcel.
Usai berucap itu, Hayley meminta Aaron untuk membawanya pergi dari tempat itu, meninggalkan Marcel begitu saja.
"Lihat saja, aku akan melakukan apapun demi mendapatkan mu, Hayley!" gumam Marcel, tangannya mengepal, memukul bebatuan kerikil yang ada di bawah kakinya. Tidak mengindahkan tatapan orang di sekelilingnya, Marcel berlalu pergi meninggalkan tempat yang sudah ia kacaukan.
Dalam perjalanan pulang, Hayley hanya diam dan menangis di dalam mobil. Tujuannya bertemu dengan Marcel hari ini hanya untuk memperjelas hubungan mereka dan cinta yang terjalin di antara mereka.
Hayley sadar, jika hanya dia yang mencinta, sedangkan Marcel, laki-laki itu sama sekali tidak mencintainya, ia hanya mencintai Anne Sonya, wanita di masa lalu yang kebetulan mirip dengannya.
Semua foto dan informasi lengkap yang Alex berikan padanya, sudah ia pikirkan matang-matang, ia semakin menyadari bahwa semua ini salah. Maka dari itu, malam ini adalah malam terakhir ia menyanggupi bertemu Marcel, dan malam ini juga, ia berharap laki-laki itu sadar dengan apa yang sudah ia lakukan.
Aaron menuntun Hayley kembali ke kamar, ia membantu Hayley melepas gaun yang ia pakai dan berganti dengan piyama panjang sebagai baju tidur.
"Kamu harus banyak istirahat, sudah cukup masalah ini. Semuanya sudah berakhir," ujar Aaron.
"Maaf, maafkan aku," ucap Hayley lirih, air matanya kembali lolos.
"Nggak ada yang perlu di maafkan." Aaron mengusap pipi Hayley yang basah, lalu mencium lembut pucuk kepalanya. "Istirahatlah, aku akan buatkan susu."
Hayley mengangguk, lalu berbaring di atas kasur, melihat Aaron keluar dari kamar meninggalkannya.
Namun, Hayley juga ingin, kalau Aaron menyaksikan sendiri dirinya mengakhiri hubungan terlarangnya bersama Marcel, rasanya itu sangat perlu, terlebih kini Aaron sangat mencintainya.
Memikirkan banyak hal yang membuat sakit kepala, Hayley terpaksa menunda tidurnya untuk menunggu Aaron dari dapur.
"Ini, minum susunya, lalu tidur. Aku akan ke ruang kerja sebentar," ucap Aaron, menyodorkan susu kepada Hayley.
"Aaron ...."
"Ya."
"Aku akan berusaha memperbaiki hubungan kita, terimakasih sudah begitu sabar menghadapiku," ujar Hayley, memegang tangan Aaron.
Tersenyum bahagia, Aaron langsung meletakkan kembali gelas berisi susu ke atas meja dan memeluk Hayley erat, ia mencium beberapa kali kening Hayley.
Harapan, Aaron selalu yakin jika dia akan memiliki harapan, tentang cintanya, rumah tangganya, dan tentang kehidupannya yang akan jauh lebih baik.
__ADS_1
"Aku akan bersabar, menunggu kamu benar-benar mencintaiku, Sweety. Saat ini, jangan memaksakan semuanya, aku akan tetap bersabar sampai kapanpun," ujar Aaron, masih belum rela melepaskan pelukannya.
"Tujuanku menemui Marcel malam ini ...."
"Nggak perlu di jelaskan. Aku paham. Sekarang dengarkan aku, hanya aku yang boleh mencintaimu, hanya aku. Tidak akan ada orang lain di antara kita, kita akan memulai semuanya dari awal," sela Aaron.
Hayley mengangguk, membalas pelukan Aaron. Kini ia sudah sadar, lebih baik bersama dengan orang yang mencintainya dari pada berjuang sendiri untuk orang yang ia cintai.
Cukup lama mereka berpelukan, menumpahkan segala rasa di dada yang tertahan.
"Cukup, jangan ada lagi air mata. Kamu harus bahagia, agar bayi kecil kita juga bahagia." Aaron melepas pelukan, dan memberikan kembali susu yang sudah ia buat. "Maaf, sudah dingin."
Hayley tersenyum simpul, lalu meneguk habis segelas susu di tangannya.
Aaron membaringkan kembali tubuh Hayley, lalu memasangkan selimut. Dia memastikan Hayley terpejam lebih dulu, sebelum meninggalkannya ke ruang kerja.
🖤🖤🖤
Di dalam ruangan kerja, ada Alex yang sudah sibuk di depan layar laptop. Laki-laki itu memang menjadi super sibuk sejak kehamilan Hayley.
"Apa semuanya baik-baik saja, Bro?" tanya Alex.
"Marcel, dia ternyata lebih gila dari yang aku pikirkan," ujar Aaron, lalu menghempaskan tubuhnya di kursi.
"Hah, dia memang gila."
"Kamu nggak akan percaya dengan apa yang terjadi malam ini, Alex. Laki-laki itu bahkan meminta Hayley menggugurkan kandungannya," ungkap Aaron.
"Seriously?" Alex menatap lekat sepupunya dengan raut muka tak percaya.
Aaron hanya mengangguk, lalu menarik nafas panjang.
"Baiklah, artinya dia memang gila. Lalu, apa yang terjadi?"
"Hayley mengakhiri hubungan mereka, dan menampar Marcel."
"Bagus, gadis pintar," puji Alex. "Lalu apa yang sekarang kamu khawatirkan? bukankah semua akan baik-baik saja?" tanya Alex.
"Aku berharap, apa yang ada di dalam pikiranku ini nggak akan terjadi. Kalaupun benar, maka kita harus menghadapinya bersama," ucap Aaron, memijat keningnya yang berdenyut. Sungguh, masalah ini tidak akan berakhir dengan mudah.
__ADS_1
***🖤🖤🖤
Bersambung*** ...