
Pesta pertunangan berjalan sangat meriah, dua perusahaan terkemuka menjadi besan adalah hal yang di mimpikan banyak keluarga, itu juga merupakan strategi agar bisnis terus berkembang dengan jaringan semakin luas.
Breanda dan Marcel melakukan tukar cincin di dampingi orang tua masing-masing, raut kebahagiaan terpancar dari semua yang berada di ruangan ini.
Pukul 9 malam saat para tamu sudah mualai surut, Aaron dan Hayley membawa Nick yang sudah sangat mengantuk ke kamar lama Aaron, namun karena suara pesta dan dentuman musik yang masih menyala keras, itu membuat Nick tidak nyaman dan mudah menangis.
"Kita harus pulang, Sweety. Kasihan Nick," ucap Aaron.
"Nggak enak sama mama papa, Sayang," ujar Hayley. Di tengah pesta yang masih meriah dan keluarga besar yang masih berkumpul lengkap, rasanya tidak etis bagi Hayley untuk pergi meninggalkan acara.
"Aku yang akan bilang sama mama," ucap Aaron, sesaat sebelum ia melangkah keluar dari pintu kamar, ponselnya berdering terus menerus.
"Halo, Alex. Ada apa?" tanya Aaron berbicara melalui ponselnya.
"Melanie harus segera di operasi, Aaron," ujar Alex, suara laki-laki itu terdengar sangat berat seperti baru saja menangis. "Dia tiba-tiba nggak sadarkan diri," lanjutnya.
"Apa? bagaimana bisa?" tanya Aaron tidak kalah panik, Hayley yang melihat suaminya berucap serius langsung menggendong Nick dan mendekat ke arah Aaron.
"Sore tadi dia masih bisa duduk di taman, tapi tiba-tiba dia pingsan, tekanan darahnya rendah, butuh tranfusi darah. Sedangkan bayinya kalau nggak cepat-cepat di operasi bisa gawat," jelas Alex.
"Kamu sudah menghubungi orang tuanya?"
"Kebetulan mamanya ada di sini, papa yang ada keperluan mendadak nggak langsung bisa datang."
"Lakukan apapun yang menurutmu terbaik, Alex. Kalau dokter menyarankan Melanie harus operasi dan bisa menyelamatkan keduanya, sebaiknya lakukan dengan cepat. Ini menyangkut dua nyawa," tegas Aaron.
Setelah memberi saran dan mencoba menenangkan sepupunya, Aaron menceritakan kabar ini pada Hayley.
"Kita harus ke sana," ucap Hayley.
"Nggak bisa, ini udah malam. Ingat, kamu hamil muda dan Nick nggak bisa di ajak naik pesawat malam-malam, ini terlalu mendadak, Sweety," tolak Aaron.
"Kita berangkat besok pagi. Sekarang ayo pulang, aku akan menyiapkan barang-barang kita," ujar Hayley, lalu mengambil tas dan perlengkapan Nick di meja. Aaron mengambil alih Nick dalam gendongan Hayley.
"Loh, loh. Kalian mau ke mana?" tanya Albern.
"Kami harus pulang, Pa. Nick nggak bisa tidur di sini, dan besok pagi-pagi kami akan ke Singapura," jelas Aaron.
__ADS_1
"Ada apa ke Singapura? Apa ada sesuatu terjadi?" sela Samantha.
"Melanie, dia tiba-tiba nggak sadar dan dalam kondisi kritis, bayinya harus segera di operasi."
"Udah mama bilang, 'kan. Alex itu ada-ada aja, cari istri kok penyakitan!" ketus Samantha. "Kalau gini, semua juga yang kena. Repot semua!"
"Ya Ampun, Mama!" desis Breanda. "Bisa nggak sih mama itu kalau ngomong yang baik-baik aja."
"Hah, bikin repot keluarga aja!" lanjut Samantha, masih tidak memperdulikan Breanda yang menegurnya.
Aaron dan Hayley yang melihat mamanya sama sekali tidak peduli dan hanya mengucapkan berbagai kalimat jelek, mereka memilih pergi tanpa berpamitan.
🖤🖤🖤
Pagi-pagi buta, Aaron sudah menyuruh beberapa orang menyiapkan jet pribadinya untuk langsung mengantarkan mereka ke Singapura. Jika mereka ingin naik pesawat ke bandar udara, waktunya terlalu mendadak untuk memesan tiket dan menunggu jadwal penerbangan di siang hari.
"Apa semuanya siap?" tanya Aaron.
"Sudah, Sayang. Bagaimana kondisi Melanie?" tanya Hayley.
"Bayinya sudah lahir, perempuan. Kondisinya belum stabil karena organ-organ tubuhnya belum benar-benar siap untuk di lahirkan. Sedangkan Melanie, masih belum sadarkan diri."
"Cium dulu!" pinta Aaron sambil menepuk pelan pipinya.
"Cium? keadaan genting begini minta cium?" ucap Hayley menatap tidak percaya pada Aaron. "Udah ayo, cepat!"
"Nggak mau, cium dulu!" rengek Aaron, melebihi rengekan Nick meminta susu.
Dengan lipstik merah menyala yang sudah menempel di bibir, Hayley mencium kedua pipi dan leher suaminya. Gemas memang, tapi tidak seharusnya Aaron meminta sesuatu di saat yang kurang tepat.
"Udah, Ayo!" tegas Hayley.
Melihat istrinya sudah hampir bertanduk dan bertaring, Aaron bergegas membawa barang-barangnya keluar dari kamar.
🖤🖤🖤
__ADS_1
Tidak sampai dua jam, mereka sudah berada di Bandar udara Singapura yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah sakit tempat Melanie di rawat.
Karena masih pagi, jalanan tampak sepi. Aaron sudah menyiapkan mobil beserta sopir yang akan mengantarkan mereka ke rumah sakit.
Karena rencana mereka di Singapura akan tinggal selama beberapa hari, atau paling tidak sampai situasi kondusif, Aaron juga sudah memesan hotel untuk tempat tinggal mereka sementara.
Mereka memilih untuk langsung menuju rumah sakit. Keduanya bertemu Alex di depan ruang rawat Melanie.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Hayley, ia langsung memeluk Alex yang terlihat sangat lemah dengan mata sembab, sedangkan Aaron menggendong Nick yang tertidur.
"Putri kecilku kondisinya semakin stabil, dokter sudah menanganinya. Dan Melanie, belum juga sadar," jawab Alex.
"Sabar, kita akan berdo'a yang terbaik. Semoga semuanya baik-baik saja."
"Ini salahku, ini salahku. Andai aku nggak setuju dia menjalani program hamil, mungkin keadaannya nggak akan seburuk ini," ucap Alex sambil terduduk di kursi, mata laki-laki itu menjadi merah dengan kucuran air mata yang mengalir deras.
"Tolong, jangan menyalahkan siapapun atas hal ini. Semua sudah takdir, Alex. Kamu sudah berani bertindak, dan kamu juga harus siap mengambil resiko," ucap Hayley. "Bukankah ini yang selama ini Melanie inginkan, seorang anak?"
Alex terdiam, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Hayley ikut duduk di sampingnya.
"Lihatlah, Melanie berjuang sampai sejauh ini karena kekuatan cinta kalian. Semua ini demi bisa menghadirkan hadiah besar untukmu, bayi kecil itu hadiah besar yang Tuhan berikan untuk kalian, itu bukan sebuah kesalahan, dan nggak ada yang perlu di sesali," tegas Hayley.
"Ayo, kita harus menenangkan dirimu di taman. Biarkan Hayley masuk untuk menunggu Melanie sadar," ucap Aaron pada Alex.
Aaron pun ke taman depan rumah sakit untuk membawa Alex menenangkan diri, sekaligus mengajak Nick berjalan-jalan.
"Apa kamu siap jika hal terburuk akan terjadi?" tanya Aaron.
"Ini sulit," lirih Alex.
"Apa kamu tau kenapa Melanie bersikeras untuk hamil di tengah kondisinya yang semakin hari semakin memburuk?" tanya Aaron, Alex hanya mengendikkan bahu tidak menjawab.
"Hayley benar, Melanie ingin memberimu sebuah hadiah, hadiah terbaik yang belum pernah kamu dapatkan, seorang bayi perempuan. Melanie ingin, jika dirinya mati, ada bagian dari dirinya yang masih hidup, yang akan terus bersamamu, bayi itu."
"Bayi itu adalah bukti cinta kalian, bayi itu sebagai saksi, bahwa kalian sangat saling mencintai. Dia datang ke dunia ini untuk menghiburmu, menggantikan hidup Melanie sebagai sosok yang baru. Kamu harus bahagia, Melanie akan pergi dalam damai, meskipun tidak terlihat, dia akan menemanimu sepanjang waktu, yaitu sesuatu yang ada dalam diri bayi kecil itu."
Sekilas, Alex tersenyum, ia mengingat bagaimana bayi merah itu terlihat sangat mirip dengan Melanie, bibir, hidung, bahkan warna mata bayi itu semuanya menurun dari Melanie.
__ADS_1
"Kamu benar," ucap Alex.
🖤🖤🖤