Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Pijat plus plus


__ADS_3

Dengan senang hati Hayley menunjukkan beberapa bagian tubuhnya yang terasa sedikit kram dan sering mengganggunya beraktifitas.


"Ini, Sayang," tunjuk Hayley di area belakang lehernya.


"Enak?" tanya Aaron, ia memijat lembut tengkuk leher sang istri, setelah puas di area tersebut, Hayley tidur terlentang, ia menunjukkan pahanya yang sering tiba-tiba kram saat tengah malam.


"Aku sering terbangun kalau tidur. Kadang, sebelah situ suka kram, sakit banget," keluh Hayley.


"Besok kita akan periksa, Sweety," ucap Aaron, ia memijat dan mengurut otot-otot kaki Hayley yang di rasa kaku.


"Jadwal kontrol kurang beberapa hari lagi. Sekalian aja."


"Kalau setiap malam sakit, bagaimana kamu bisa tidur nyenyak? kamu harus banyak istirahat dan jaga kesehatan. Pokoknya besok kita periksa!"


"Nggak! lagi pula, aku sudah banyak baca di internet. Kalau kram pada ibu hamil itu hal yang wajar, nggak terlalu mengkhawatirkan," jelas Hayley.


"Tapi, kan tetap saja kamu sakit."


"Kadang-kadang aja, nggak tiap malem kok."


"Serius?"


"Iya ... duarius!"


Terus memijat bagian paha sang istri dengan lembut, membuat Aaron semakin ingin menggoda Hayley. Perlahan, ia tangannya merambat naik dan semakin naik.


"Eh, eh. Katanya pijat, kok naik-naik, sih," keluh Hayley, ia menghentakkan kakinya karena merasa tangan Aaron terlalu naik hingga ke pangkal paha.


"Sebagai upah, kan boleh pegang sedikit."


"Dasar! mesum!"


"Mesum sama istri sendiri, boleh dong."


"Nggak boleh! sekali mesum tetap aja mesum!"

__ADS_1


"Kamu tau nggak, Sweety. Ada terapi mujarab untuk orang yang susah tidur nyenyak," ujar Aaron merayu, namun tangannya tetap fokus memijat sang istri.


"Terapi? memang ada?" tanya Hayley polos.


"Ada. Kebetulan aku bisa mempraktekkannya."


"Ah, Sayang. Aku mau dong ...." rengek Hayley, membuat Aaron semakin tidak bisa menahan dirinya.


"Boleh, kita praktekkan sekarang."


Aaron meminta Hayley untuk tidur miring berhadapan dengannya, satu kaki Hayley di angkat ke atas cukup tinggi dengan di topang oleh kaki Aaron.


Percaya dengan apa yang suaminya perintahkan, Hayley menuruti setiap permintaan Aaron untuk memposisikan tubuhnya. Dengan perut yang besar, tentu Aaron tidak bisa berada sangat dekat dengan Hayley, namun ia masih bisa meraih tubuh sang istri.


Setelah posisi mereka saling berhadapan dengan satu kaki Hayley terangkat dan di topang oleh kaki Aaron, laki-laki itu dengan tidak sabarnya langsung melum*t bibir sang istri dengan ganas, tangannya mengunci bagian kepala sang istri agar tidak menjauh.


Hayley yang mendapat gerakan tiba-tiba dari Aaron, langsung terkejut dan berusaha melepaskan diri. Namun sayang, tenaganya tidak sebanding dengan laki-laki yang kini sedang menikmati ranum bibirnya.


Ciuman panas dan ******* bibir sang suami membuat seketika tubuh Hayley merespon cepat, ia membalas cumbuan Aaron penuh hasrat.


Beruntung, saat kehamilan Hayley memasuki trimester kedua, wanita itu sudah rutin melakukan senam hamil dan yoga yang di pandu oleh staf ahli yang Aaron sewa, jadi Hayley cukup nyaman dengan kaki terangkat sebelah cukup lama.


Beberapa saat kemudian, Aaron merasakan sesuatu yang basah di tangannya, ia dengan lembut melepaskan kain-kain tipis yang menghalangi sentuhan kulitnya dari tubuh Hayley.


Pasrah, hanya pasrah yang bisa Hayley lakukan. Selelah apapun dirinya, saat Aaron mulai mencumbu dan merayu, tubuhnya selalu bereaksi cepat untuk mendamba. Tidak pernah bisa sekalipun ia mampu menolak pesona sang suami.


Pelan tapi pasti, Aaron kembali memposisikan tubuh saling berhadapan dengan sang istri, ia kembali mengangkat tinggi sebelah kaki Hayley dan dalam sekali hentakan, keduanya menyatu dan saling memasuki.


Desah nafas berbaur dengan rintihan dan erangan kenikmatan keduanya, Hayley melenguh panjang, tangannya berpegangan pada kedua pundak sang suami demi menyeimbangkan gerakan keduanya agar tetap seirama. Gerakan keduanya makin kuat dan cepat, hingga mereka mencapai puncak secara bersamaan.


Tidak pernah puas dalam sekali sentakan, Aaron meminta Hayley untuk berpindah posisi. Kini Hayley berpose dengan tubuh menungging sempurna, sang suami, berada di belakang untuk memandu sang junior memasuki kembali peraduannya.


Hayley merem*s kain sprei dengan kuat, ia menahan tubuhnya agar kuat mendapatkan dorongan dari arah belakang. Cukup lama, cukup intens. Aaron mengakhiri permainanya saat keduanya mencapai puncak untuk yang kedua kalinya.


Suatu hal yang paling Aaron sukai, Hayley tidak pernah sekalipun mengecewakannya soal urusan ranjang. Dalam keadaan hamil besar pun, Hayley selalu penuh gairah dan menggoda.

__ADS_1


Lelah, keduanya tertidur pulas hingga fajar menyapa.


🖤🖤🖤


Di meja makan, Hayley turut membantu sang kepala pelayan menyiapkan sarapan untuk penghuni rumah, akhir-akhir ini ia memang sangat suka memasak dan berada di dapur membantu para koki, hal itu membuatnya senang dan bersemangat setiap pagi.


"Kalau capek. Nggak perlu di paksakan, Nona," ujar Laksmi, kepala pelayan itu merasa tidak enak hati karena sang nyonya selalu membantu pelayan bekerja.


"Ah, nggak kok, Bi. Aku senang," jawab Hayley, ia merapikan peralatan makan di atas meja, lalu menyambut sang suami keluar dari kamar.


Aaron keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi, rambut laki-laki itu di biarkan basah begitu saja.


"Kenapa nggak pakai hairdryer?" tanya Hayley sambil berbisik.


"Biar pada tau, kalau semalam habis iya-iya," jawab Aaron santai.


Mencubit pinggang sang suami, Hayley merasa gemas dan juga kesal. Kini, di meja makan, beberapa pelayan mengamati dirinya dan Aaron yang sama-sama dalam keadaan berambut basah. Malu, Hayley merasa sangat malu jika pikiran orang-orang adalah tentang peristiwa malamnya.


Tidak hanya para pelayan, bahkan Alex terang-terangan menggoda keduanya.


"Perasaan, basah mulu nih tiap hari," celatuk Alex, mulutnya memang selalu ngegas tanpa rem.


"Perasaanmu aja kali," sela Hayley sinis. "Syirik aja jadi orang."


Mengangkat bahu sekilas, Alex tersenyum mengejek ke arah keduanya.


Aaron tidak terlalu ingin ikut menanggapi ejekan Alex, ia sudah terbiasa dengan sikap sepupunya yang seperti itu. Berbeda dengan Hayley, tinggal satu atap selama lebih dari setahun tidak membuatnya bisa memaklumi sikap jail Alex yang menyebalkan.


Sindiran demi sindiran Alex lontarkan sampai sesi sarapan berakhir. Berulang kali Hayley hampir melemparkan piringnya ke wajah orang berambut silver itu, namun ia cukup baik mengendalikan diri pagi ini karena kondisi hatinya yang sedang bahagia.


Aaron berpamitan pada Hayley untuk segera berangkat ke kantor, ia berjanji akan pulang di jam makan siang dan mengantar Hayley untuk memeriksakan keluhannya ke dokter.


🖤🖤🖤


__ADS_1


Ekspresi Alex saat Aaron memarahinya karena terlalu sering ngajak gelud Hayley.


__ADS_2