Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Will you marry me?


__ADS_3

Breanda dengan gemas menggendong keponakannya yang baru lahir, ia menimang si bayi dengan sangat hati-hati.


Sedangkan Aaron, mencoba seramah mungkin berbicara dengan mantan rivalnya itu, ia berusaha agar kondisi tetap nyaman untuk menjaga Hayley berpikir positif.


Setelah pukul 5 sore, Marcel pamit untuk pulang lebih dulu, dia berkata jika sedang memiliki janji temu dengan seseorang.


"Terimakasih sudah mengantarku, Kak," ucap Breanda sambil mengerling jail ke arah Marcel, ia meletakkan baby Nick ke box bayi dan mengantarkan Marcel sampai ke depan pintu ruangan.


Saat kembali, Aaron yang melihat tingkah adiknya, langsung dengan sengaja memelototkan mata tanda tidak suka. Namun Breanda tetap cuek seakan-akan sikapnya tidaklah salah.


"Bre, apa yang kamu lakukan, hah?" ucap Aaron penuh penekanan, ia menyeret lengan sang adik untuk duduk di sofa dekat ranjang Hayley.


"Jangan kasar padanya, Sayang," sela Hayley.


"Dasar anak nakal. Ada hubungan apa kamu dengan Marcel?" tanya Aaron.


"Kami berteman. Apa salahnya," jawab Breanda enteng sambil menyilangkan kaki.


"Bre, kamu bisa dekat dengan laki-laki manapun, asal jangan dia. Apa kamu tau kalau dia itu ...."


"Dia mantan saingan kakak 'kan?" sela Breanda sambil terkekeh. "Tenang saja, aku akan membuatnya bertekuk lutut padaku dan melupakan semua tentang kak Hayley. Percayakan saja padaku," ujar Breanda penuh percaya diri.


"Breanda! kakak nggak main-main," sentak Aaron.


"Aku juga nggak main-main, Kak. Aku serius."


"Apa nggak ada laki-laki lain gitu?"


"Nggak ada. Cuma dia yang ada di hatiku."


"Dasar ABG labil. Paling juga sebentar lagi putus di tengah jalan," ejek Aaron.


"Nggak lah. Putus di tengah jalan nanti ketabrak dong. Kalau putus ya menepi, biar langsung bisa nyegat gebetan baru."

__ADS_1


Mendengar jawaban Breanda yang seenaknya, Aaron merasa kesal, ia mengusap wajahnya kasar sambil menatap sang istri. Aaron memang sudah sangat yakin jika perasaan Hayley tidak akan kembali goyah, ia sudah memastikan bahwa wanita itu hanya mencintai dirinya.


Namun pemikiran Aaron tertuju pada Marcel, ia curiga jika Marcel hanya memanfaatkan Breanda untuk mendekati Hayley lagi.


"Kakak," sapa Breanda mendekati Hayley. "Kakak nggak keberatan 'kan kalau aku dekat dengan kak Marcel?" tanya Breanda.


"Kamu bebas memilih laki-laki manapun, asal dia bisa membahagiakanmu, Bre," jawab Hayley sambil mengelus kepala adik iparnya.


"Tuh, kan. Kak Hayley setuju. Mama sama papa juga setuju loh. Kak Aaron aja yang cerewet!" seru Breanda, sambil melirik Aaron ketus.


Mendengar ucapan Breanda, Aaron dan Hayley seketika terkejut. Jadi, sejauh apa hubungan Breanda dan Marcel sampai-sampai orang tuan Aaron tau semuanya. Dan apakah ini juga alasan Samantha tidak lagi datang ke rumah dan menuduh Hayley yang bukan-bukan.


Semenjak kejadian Samantha yang datang ke rumah bersikap buruk pada Hayley, Aaron memang meminta Alex untuk menyelidiki orang yang berada di balik munculnya kembali cerita tentang hubungan Hayley dan Marcel.


Namun semua itu tidak terlaksana karena Melanie yang tiba-tiba bersikap aneh pada Alex dan menghilang tiba-tiba. Sampai saat ini, Aaron dan Alex di sibukkan dengan wanita mereka masing-masing, jadi tidak lagi mengurus hal lain yang kurang penting bagi mereka.


"Tunggu, Bre. Jadi, maksud kamu, mama tau kamu dekat dengan Marcel?" tanya Aaron.


"Yups!"


"Yes!"


Berpikir sejenak, Aaron mencerna situasi yang ada di sekitarnya saat ini.


Kalau memang benar Samantha dan Albern sudah merestui kedekatan Breanda dan Marcel, itu artinya mereka sudah tidak lagi mempermasalahkan atau meragukan bayi yang Hayley lahirkan.


"Mama dan papa sedang ke luar kota, Kak. Besok pagi mereka akan pulang, aku akan memberitahu mereka kalau cucunya sudah lahir," ucap Breanda, lalu Aaron hanya mengangguk.


Setelah cukup lama berbincang dan membahas hal-hal ringan, Breanda pamit untuk pulang.


"Aku nggak bawa hadiah buat baby Nick. Tapi semuanya akan aku siapkan nanti di rumah. Kalau kakak udah boleh pulang, jangan lupa kabari aku, ya, Kak."


🖤🖤🖤

__ADS_1


Tepat pukul 7 malam, Alex dan Melanie datang menjenguk, sebenarnya mereka berdua sudah berada di rumah sakit itu sejak siang, namun karena hari ini adalah jadwal Melanie melakukan kemoterapi, maka Alex berfikir untuk menunda menemui Aaron dan Hayley, ia lebih memilih menemani Melanie dalam ruang perawatan.


Saat tiba di ruangan Hayley, Aaron dan Alex memilih untuk menunggu di luar, banyak urusan pekerjaan yang harus mereka bicarakan, karena sudah beberapa minggu keduanya tidak fokus dalam bekerja.


"Hai, Mel. Bagaimana kabarmu?" sapa Hayley, Melanie masuk ke ruangan dengan posisi duduk di kursi roda, selang infus pun masih melekat di tangannya.


"Baik, Hayley. Syukurlah, kamu melahirkan dengan selamat. Siapa nama keponakanku?" tanya Melanie.


"Papanya yang memberi nama. Namanya Nick."


"Oh. Hallo, baby Nick. Maafkan aunty nggak bisa gendong, ya," ujar Melanie, ia hanya mengusap pipi baby Nick dalam gendongan Hayley.


"Nggak papa, Mel. Apa keadaanmu sudah lebih baik?"


"Beginilah. Aku rasa, nggak akan lama lagi, Hay. Kamu tau, penyakit seperti ini nggak bisa di sembuhkan, ini semua hanya usaha untuk menunda kematianku," jelas Melanie, wajahnya tampak sedih dengan genangan air di pelupuk matanya.


"Jangan mendahului kehendak Tuhan. Siapa yang akan tau jika Tuhan akan memberi keajaiban," ucap Hayley, ia tersenyum sambil menggenggam tangan Melanie.


"Aku sudah menyuruh Alex untuk pergi meninggalkanku, aku nggak mau dia membuang-buang waktu dengan wanita penyakitan sepertiku."


"Orang yang benar-benar sayang dan cinta sama kamu, nggak akan pernah pergi meski kamu berteriak memintanya pergi. Dia nggak akan pernah menyerah padamu meskipun kamu menyerah dengan nasibmu. Hargai ketulusannya, Mel. Kamu tau, Alex itu laki-laki seperti apa, dan ternyata cuma kamu yang bisa meluluh lantakkan hatinya."


Melanie menunduk, air matanya jatuh bercucuran. Sudah lama rasanya dia ingin menyerah, namun semenjak hari-harinya di isi dengan segala hal tentang Alex, ia mulai memiliki semangat hidup, ia mulai menjalani berbagai pengobatan demi bertahan, hingga tiba akhirnya, kondisinya mulai memburuk beberapa minggu lalu, itulah dimana dia memutuskan untuk pergi dan berpamitan pada Alex melalui surat.


Saat suasana tampak hening, Hayley meletakkan baby Nick dalam box bayi, dia turun dari ranjang dan mendorong kursi roda Melanie mendekati sofa.


"Dengarkan aku, Mel. Aku nggak akan tau seberapa besar cinta Alex buat kamu, tapi yang aku tau, dia takut setengah mati kehilanganmu," ujar Hayley.


"Benar. Dan aku nggak mau pergi kemanapun tanpamu, Mel," sela Alex yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan, diikuti oleh Aaron di belakangnya. "Kita akan bersama, selalu. Sedekat apapun kematian, aku akan tetap menemanimu, sampai kapanpun."


"Alex." Melanie menatap Alex, laki-laki berambut silver itu selalu tampak menawan dari sudut pandang manapun, pantas jika Melanie tergila-gila.


Alex berlutut di depan kursi roda tempat Melanie duduk, ia mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya.

__ADS_1


"Melanie Rendra, will you marry me?"


🖤🖤🖤


__ADS_2